NovelToon NovelToon
Mengejar Cinta Istri Pengganti

Mengejar Cinta Istri Pengganti

Status: sedang berlangsung
Genre:Pengantin Pengganti Konglomerat / Romansa / Konflik etika
Popularitas:6.6k
Nilai: 5
Nama Author: Veline ll

"Kau hanyalah pemeran pengganti dalam hidupku, Shena. Jangan bermimpi lebih!"

Shena berhenti bermimpi dan memilih pergi. Tapi justru saat itulah, Devan baru menyadari bahwa rumahnya terasa mati tanpa suara Shena. Sang CEO arogan itu kini rela membuang harga dirinya hanya untuk memohon satu kesempatan kedua.

Bagaimana jadinya jika sang pembenci justru berubah menjadi pemuja yang paling gila? Masih adakah tempat untuk Devan di hati Shena yang sudah beku di Hati nya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Veline ll, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 11 Di bawah langit yang Sama

Matahari Jakarta Utara terasa lebih menyengat, membawa aroma garam dan peluh dari pelabuhan yang tak jauh dari tempat Shena berada. Di sebuah warung makan kecil bernama "Warung Bu Siti", Shena sibuk membungkus nasi uduk dengan gerakan yang semakin cekatan. Keringat membasahi dahi dan lehernya, namun ada binar di matanya yang tidak pernah ada saat ia mengenakan gaun desainer ribuan dolar.

"Shena, ini antaran untuk gudang nomor empat di dermaga. Bisa tolong antarkan?" teriak Bu Siti dari balik kuali besar.

"Bisa, Bu!" jawab Shena lantang.

Shena mengambil kantong plastik besar berisi kotak-kotak nasi dan mulai berjalan menyusuri trotoar yang retak. Ia mengenakan sandal jepit dan kaos oblong yang sudah agak pudar warnanya. Di sini, ia bukan lagi "Shena si pengganti", melainkan "Shena si tukang antar nasi". Tidak ada yang menatapnya dengan penuh selidik, tidak ada yang berbisik tentang hutang keluarga.

Kebebasan ini terasa manis, meski kaki dan punggungnya mulai protes karena kelelahan.

Namun, di tengah perjalanannya, ia berhenti di depan sebuah toko elektronik yang memajang televisi di etalase depannya. Berita siang itu menampilkan wajah yang sangat ia kenal.

“Pewaris tunggal Adiguna Group, Devan Adiguna, dikabarkan menghentikan sementara beberapa proyek besar perusahaan. Sumber internal menyebutkan sang CEO sedang fokus pada 'urusan pribadi' yang mendesak...”

Shena menatap layar itu dengan dada berdegup kencang. Wajah Devan di televisi tampak lebih tirus, matanya cekung, dan ekspresinya terlihat kalut—sangat berbeda dengan Devan yang angkuh yang terakhir kali ia lihat di bandara.

"Apa yang kau lakukan, Mas? Kenapa kau justru menghancurkan dirimu?" bisik Shena lirih. Untuk sekejap, instingnya sebagai istri ingin kembali dan merawat pria itu, namun ia segera menepisnya. Ia ingat rasa dingin dari kalung safir itu, ia ingat tatapan jijik Devan saat menyebutnya "aset".

Shena membuang muka dan melanjutkan langkahnya. "Dia bukan urusanku lagi," tekadnya dalam hati.

Sementara itu, di sebuah gedung pencakar langit di pusat kota, Devan sedang mengamuk. Meja kerjanya berantakan. Ia baru saja mendapatkan laporan bahwa timnya kehilangan jejak di terminal Jakarta Barat karena rekaman CCTV yang terhapus secara misterius.

"Seseorang sengaja menghapus jejaknya, Pak," lapor Rian dengan suara rendah. "Ini bukan sekadar pelarian biasa. Ada pihak lain yang ikut campur."

Devan berdiri tegak, rahangnya mengeras. "Maksudmu, ada yang menyembunyikan Shena dariku? Siapa? Bramantyo tidak punya kemampuan untuk melakukan ini."

"Bukan Pak Bram, Pak. Tapi..." Rian ragu sejenak sebelum menyerahkan sebuah foto hasil jepretan intelijen mereka. "Mobil ini terlihat di sekitar terminal tak lama setelah Nyonya Shena sampai di sana. Itu mobil milik keluarga Mark, tunangan Sarah."

Gelas kristal di tangan Devan nyaris pecah karena cengkeramannya. Jadi, Sarah belum puas menghancurkan hidupnya? Sekarang wanita itu ikut campur dalam pelarian adiknya?

"Sarah..." desis Devan. Ia meraih kunci mobilnya dan keluar dari ruangan tanpa kata.

Devan mendatangi hotel tempat Sarah dan Mark menginap. Tanpa mempedulikan prosedur keamanan, ia menerobos masuk ke dalam suite mewah tersebut. Sarah sedang duduk santai di balkon sambil menyesap sampanye, sementara Mark tidak terlihat di sana.

"Di mana dia?" tanya Devan tanpa basa-basi. Suaranya rendah dan mematikan.

Sarah menoleh, memberikan senyum kemenangan yang membuat Devan ingin berteriak. "Wah, lihat siapa yang datang. CEO kita yang hebat tampak seperti gelandangan sekarang. Mencari istrimu yang malang, Dev?"

"Jangan bermain-main denganku, Sarah! Aku tahu kau atau tunanganmu terlibat dalam menghilangnya Shena dari terminal. Di mana kau menyembunyikannya?"

Sarah tertawa, suara tawa yang sangat mirip dengan Shena namun terasa begitu palsu bagi Devan sekarang. "Aku tidak menyembunyikannya, Devan. Aku justru membantunya. Kenapa kau begitu terobsesi mencarinya? Bukankah kau membencinya? Bukankah dia hanya 'cadanganku'?"

Devan melangkah maju, menjulang di depan Sarah dengan kemarahan yang meluap. "Dia bukan cadangan siapa-siapa! Dia istriku! Dan jika terjadi sesuatu padanya karena permainanmu, aku tidak akan segan-segan menyeret Mark dan seluruh bisnis keluarganya ke pengadilan!"

Senyum Sarah sedikit memudar. Ia bisa melihat bahwa Devan kali ini tidak main-main. Obsesi Devan bukan lagi tentang dendam padanya, tapi tentang keputusasaan kehilangan Shena.

"Dia ingin bebas, Devan," ujar Sarah, kali ini dengan nada yang lebih serius namun tetap dingin. "Dia tidak mau jadi bayanganku lagi, dan dia jelas tidak mau jadi sansak tinju emosimu. Aku hanya memberi instruksi pada sopir Mark untuk menjatuhkannya di tempat yang tidak bisa kau lacak dengan mudah. Itu saja."

"Di mana tempatnya?"

"Aku tidak akan memberitahumu. Biarkan dia hidup sebagai manusia untuk sekali saja dalam hidupnya. Kenapa kau tidak kembali ke pelukanku saja? Mark hanya sementara bagiku, kau tahu itu kan?" Sarah mencoba menyentuh pipi Devan.

Devan menepis tangan Sarah dengan kasar, seolah tangan itu adalah racun. Ia menatap wanita yang selama ini ia puja itu dengan rasa muak yang mendalam.

"Kau tahu apa bedanya kau dan Shena, Sarah?" Devan bertanya dengan suara yang bergetar karena emosi. "Kau merasa dunia berputar di sekitarmu, tapi Shena... dia adalah dunia yang tanpa aku sadari membuatku tetap berpijak di bumi. Kau cantik, tapi hatimu kosong. Shena mungkin tidak seberani kau, tapi cintanya adalah satu-satunya hal nyata yang pernah aku miliki dalam hidupku yang busuk ini."

Devan berbalik pergi, meninggalkan Sarah yang terpaku di balkon dengan wajah merah padam karena terhina.

Malam itu, hujan turun membasuh Jakarta Utara. Shena sedang duduk di teras kos-kosannya yang sempit, memperhatikan tetesan air yang jatuh dari atap seng yang bocor. Ia memeluk lututnya, merasa kedinginan.

Tiba-tiba, sebuah mobil hitam mewah berhenti di ujung gang sempit itu—sebuah pemandangan yang sangat tidak lazim di pemukiman kumuh tersebut. Shena menahan napas. Jantungnya berdetak liar. Apakah Devan menemukannya?

Pintu mobil terbuka, namun yang keluar bukan Devan. Seorang pria dengan payung hitam melangkah menuju arahnya. Saat cahaya lampu jalan yang redup mengenai wajah pria itu, Shena terbelalak.

"Tuan Adrian?" bisik Shena.

Adrian, rekan bisnis Devan yang sempat menyapanya di pesta, tersenyum ramah. "Akhirnya aku menemukanmu, Shena. Devan mungkin mencari di tempat yang salah, tapi aku tahu persis tipe tempat yang dicari seseorang yang ingin menghilang sementara."

Shena berdiri dengan waspada. "Apa Mas Devan mengirimmu?"

"Tidak," Adrian menggeleng. "Dia tidak tahu aku di sini. Aku datang karena aku ingin menawarkan bantuan yang sesungguhnya. Bantuan untuk membawamu jauh dari Jakarta, jauh dari Devan, dan jauh dari keluargamu. Kau ingin mulai hidup baru, bukan? Aku punya tempat untukmu di Singapura."

Shena terdiam. Tawaran itu sangat menggiurkan. Kebebasan total. Namun, di sudut hatinya yang paling dalam, ada rasa sakit yang menusuk saat menyadari bahwa pelariannya mungkin akan benar-benar berakhir dengan perpisahan selamanya dari pria yang—meski sangat ia benci—masih menguasai setiap mimpinya.

Di saat yang sama, Devan sedang berada di dalam mobilnya, mencengkeram kemudi di tengah hujan badai. Ia teringat sketsa yang ia temukan di paviliun. Ia teringat janji Shena untuk menjaganya sampai "musim semi" tiba.

"Tunggu aku, Shena... jangan pergi dulu. Musim semiku belum dimulai karena kau adalah bunganya," bisik Devan sambil memacu mobilnya ke arah pelabuhan, mengikuti satu-satunya petunjuk kecil yang ia dapatkan dari daftar pengiriman nasi warung yang ia lacak secara manual.

Dua pria kini mencari Shena. Satu untuk menebus dosa, satu lagi dengan maksud yang masih misterius. Di bawah langit yang sama, takdir mereka mulai bersinggungan kembali.

...****************...

1
Kostum Unik
🤭🤭🤭...
Kostum Unik
🤣🤣🤣
MayAyunda
keren 👍👍
😍
Marine
semangat author! ceritanya bagus
Veline: makasih 🔥🔥🔥
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!