Setelah enam tahun tak bertemu, Senja kembali bertemu mantan kekasihnya Arsean.
Pertemuan kembali mereka, mengingatkan luka dan rasa sakit pada dirinya Senja.
Karena di saat itu dia tengah hamil anaknya Sean, namun Sean tak tau. Kedua orang tua Sean pun seolah bungkam dan menginginkan anak dalam kandungannya Senja.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Tika Despita, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kamu Sebegitu Miripnya Denganku, Anakku
Sean berjalan meninggalkan warung makan Buk Asni, tiba-tiba..
Brukkk!!!
Angkasa tak sengaja menabrak tubuh Sean membuat bocah itu hampir jatuh, namun Sean dengan sigap menahan tubuhnya.
"Kamu enggak apa-apa?" Sean menatap bocah itu dan sedikit terkejut jika dia bocah yang ia temui di warung makan tempo hari.
"Maaf om, Angkasa tak sengaja!"
Sean berjongkok dan menatap bocah yang berdiri polos di depannya.
"Iya.. Enggak apa-apa!" Sean tersenyum sambil mengusap lembut kepala Angkasa membuat bocah itu heran.
"Kamu anak Senja, ya?"
Angkasa mengangguk.
"Om kenal sama ibuk?" Tanyanya penasaran.
"Hmmm.." Sean mengangguk.
"Syukurlah.. Padahal kata ibuk, dia gak punya teman. Ternyata ibuk ada teman, mana temannya tampan kayak gini." oceh bocah itu mengagumi pria dewasa di depannya.
Entah mengapa tak terasa mata Sean terasa hangat. Ada air mata yang ia tahan.
"Boleh, om peluk kamu?"
"Hah?" Angkasa menatap bingung.
" Om punya anak seumur kamu, cuma om gak bisa bersamanya. "
Angkasa langsung memeluk Sean, bahkan dia menepuk-nepuk pelan pundak Sean, seperti orang dewasa yang menangkan seseorang dalam kesedihan.
Sean mengeratkan pelukannya, ada rasa sesak membuncah di hatinya memeluk bocah itu. Bocah yang sejatinya adalah darah dagingnya. Bocah yang selama ini tak pernah ia tau kehadirannya.
Sean melepas pelukannya dan menatap wajah Angkasa.
"Kamu selembut ibuk kamu! Ibuk kamu memang hebat mendidik kamu!"
"Ibuk orang yang paling hebat di dunia ini, om. Meski kami hanya berdua, tetapi ibu sudah memberikan kasih sayang yang cukup buat Angkasa. Makanya Angkasa tak merasa kekurangan kasih sayang, meski Ayah Angkasa sudah meninggal dan pergi ke langit!"
Sean semakin merasa sesak di hatinya.Air matanya akhirnya tumpah juga. Dia tak menyangka dirinya benar-benar sudah dianggap mati oleh Senja. Bahkan dia membuat anaknya percaya, kalau dirinya sudah tak ada lagi di duni ini.
"Om, mengapa menangis?" Angkasa mengusap lembut air mata di pipinya Sean.
" Gak apa-apa,sayang." Sean menggeleng.
" Yaudah,kalau begitu Angkasa balik dulu ya! Nanti ibuk cariin Angkasa." Ucap Angkasa pamit.
Sean mengangguk sambil tersenyum.
" Angkasa! "Panggil Sean lagi.
" Iya, om. " Angkasa menoleh lagi.
" Besok-besok, Om boleh lagi gak bertemu dengan kamu? "
" Boleh, Om." Angkasa mengangguk dan berlari kecil menuju warung makan buk Asni.
Sean masih berdiri di sana menatap anak laki-laki itu yang semakin menjauh.
"Kamu sebegitu miripnya denganku, anakku." lirih Sean dalam hati.
***
Keesokan harinya Senja sudah bersiap-siap dengan pakaian rapi untuk berangkat kerja. Hari ini, adalah hari pertama dia bekerja di perusahaannya Sean. Untungnya dia hanya karyawan biasa yang sepertinya tak akan langsung berkomunikasi dengan Sean, yang seorang wakil direktur.
" Angkasa.. Ibuk berangkat kerja dulu. Kamu yang baik-baik di tempat Nini."
" Iya, buk. Ibuk juga hati-hati kerjanya. Cari uang banyak, supaya ibuk bisa beli motor dan gak capek-capek lagi pulang kerjanya jalan kaki."
Senja tersenyum mendengar ocehan anaknya itu sambil mengecup lembut kening anaknya.
Untuk pagi ini,Senja memilih naik ojol ke perusahaan.Dia tak mau telat karena ini hari pertama dia kerja.
Setelah membayar ongkos ojek, Senja berjalan masuk ke dalam lobby perusahan. Rasa kagumnya terpancar dari wajahnya saat melihat beberapa karyawan sudah berlalu lalang sepagi ini di lobby perusahaan.
Senja pagi ini harus menemui bagian HRD dulu untuk menerima name tag dan di lantai mana dia akan bekerja.
" Senja Diandra,ini name tag kamu!" Ucap bagian HRD memberikan Name tag ke Senja.
" Terimakasih buk!" Ucap Senja dengan akta berbinar saat melihat name tag yang bertuliskan namanya dan ada fotonya.
"Kamu langsung saja menuju lantai enam. Bagian pemasaran dan perencanaan ada di lantai itu. Nanti sampai di sana,kamu cari saja pak Rudi. Nanti dia akan tunjukkan meja kerja kamu!"
"Baik,buk!" Senja mengangguk paham.
Dari ruangan HRD,Senja langsung menuju lift. Saat pintu lift terbuka,Senja langsung masuk ke dalam dan hendak menekan tombol angka enam. Namun seseorang dengan cepat menahan pintu lift dan masuk ke dalam.
Pria dingin dengan sorot mata tajam tersebut berdiri di samping Senja. Dia adalah Dirgantara,sepupunya Sean.
Dirgantara sempat menoleh ke arah Senja yang memencet angka lantai yang akan dituju.
Senja sedikit gugup karena ini hari pertamanya kerja. Bahkan dia tiap sebentar meremas tangannya sendiri.
Dirgantara terus menatap Senja. Dia merasa seolah pernah bertemu dengan perempuan tersebut.
"Dia?" gumamnya dalam hati.
Dia jadi teringat saat dirinya dan mamanya pernah membantu seorang wanita hamil yang hidup di jalanan dan membawanya ke yayasan perempuan kala itu. Bahkan dia ingat betul,kalau perempuan di sampingnya ini adalah perempuan itu. Perempuan yang pernah menangis terisak di dalam mobilnya menceritakan mengapa bisa hidup di jalanan ketika hamil.
Bahkan Dirgantara juga ingat, bagaimana dia sempat melihat perempuan di sampingnya lahiran sendirian dan merawat anaknya sendiri waktu masih tinggal di yayasan milik mamanya itu.
Senja merasa kalau pria di sampingnya terus menatapnya dan membuat dia sedikit risih.
"Maaf,pak..ada yang aneh sama saya?" Senja memberanikan diri menatap pria di sampingnya.
"Kamu gak ingat saya?" Tanya Dirgantara dingin membuat Senja bingung. Tatapan mereka pun bertemu seiringnya pintu lift terbuka. Di luar pintu lift,Sean melihat mereka berdua yang masih saling tatap -tatapan.
"Apa kita saling kenal?" Tanya Senja bingung.
Dirgantara hanya mengangkat sudut bibirnya dan keluar begitu saja dari dalam lift tanpa menjawab pertanyaannya Senja. Bahkan dia hanya melewati Sean yang di depan lift tanpa menyapanya.
Senja kemudian ikutan keluar dan sedikit terkejut dengan keberadaan Sean. Dia hanya menunduk saat berjalan layaknya rasa hormat ke atasan,karena di sampingnya Sean ada beberapa karyawan. Senja meneruskan langkahnya menuju ruangan kerjanya,meski dia cukup bingung dengan pria yang bersamanya di lift tadi.