Novel ini lahir dari rasa ingin mengeksplorasi kisah cinta remaja yang unik, tentang dua orang yang dijodohkan sejak SMA dan bagaimana mereka belajar mengenal satu sama lain. Penulis ingin menampilkan bahwa cinta sejati tidak selalu hadir dengan cara yang mudah atau instan, melainkan tumbuh melalui proses memahami, menerima, dan memilih satu sama lain setiap hari.
Melalui cerita ini, penulis ingin menggambarkan perjalanan emosi remaja yang realistis, mulai dari kebingungan, rasa penasaran, hingga perasaan hangat yang perlahan tumbuh menjadi cinta yang dewasa. Kisah ini juga menekankan bahwa di balik setiap tawa dan momen manis, ada nilai penting tentang keluarga, persahabatan, tanggung jawab, dan kesabaran yang membentuk karakter seseorang.
Cerita ini diharapkan bisa menjadi inspirasi bagi remaja untuk menyadari bahwa hubungan yang baik tidak hanya tentang perasaan, tetapi juga tentang saling menghargai, membangun kepercayaan, dan berani membuat pilihan yang tepat.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Tama Dias, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 1~Calon suami di kelas sebelah
Pagi itu, matahari baru saja naik ketika Mama mengetuk pintu kamarku dengan keras, seolah aku punya janji penting dengan presiden. Padahal hari itu cuma Senin biasa, dan aku sudah cukup stres karena ada ulangan matematika pertama di semester dua.
“Alya! Bangun!”
Suara Mama terdengar nyaring dari balik pintu.
“Lima menit lagi, Ma…” gumamku malas. Aku menarik selimut dan berusaha pura-pura tidur lagi, tapi pintu tiba-tiba terbuka dan Mama muncul dengan ekspresi yang terlalu serius untuk ukuran pagi hari.
“Bangun sekarang. Mama mau bicara penting.”
Nada suaranya bikin aku langsung duduk. Biasanya kalau Mama ngomong dengan nada seperti itu, cuma ada dua kemungkinan: entah aku dapat nilai jeblok, atau ada sesuatu yang gawat. Tapi aku baru sadar, aku belum sempat ujian apa pun minggu ini.
“Kenapa, Ma?” tanyaku dengan suara serak.
Mama menarik napas panjang, duduk di tepi tempat tidurku, lalu berkata dengan tenang, “Sore ini kita akan ke rumah keluarga Pak Arka. Mereka ingin mengenal kamu lebih dekat. Soalnya… kamu akan dijodohkan dengan anaknya.”
Aku membeku. Otakku berusaha memproses kata-kata itu satu per satu. Dijodohkan? Dengan siapa? Di umur segini? Aku bahkan belum bisa menentukan mau kuliah jurusan apa!
“Ma, aku masih SMA!” seruku spontan.
Mama tersenyum tipis, seolah aku baru saja protes karena disuruh makan sayur. “Iya, Mama tahu. Ini cuma pertemuan keluarga, bukan langsung menikah. Keluarga Pak Arka itu teman lama Papa, mereka cuma ingin mempererat hubungan.”
“Pererat hubungan? Dengan cara menjodohkan anak mereka?”
Aku menatap Mama tidak percaya.
“Coba kamu pikir, Ly. Cowok itu anak yang baik, sopan, dan pintar. Lagipula, siapa tahu kalian cocok,” katanya sambil berdiri dan meninggalkanku dengan kepala yang penuh tanda tanya.
Aku menatap ke arah jendela, berusaha mencerna semuanya. Dijodohkan. Kata itu terasa aneh di kepalaku, seperti istilah dari sinetron zaman dulu. Aku bahkan belum pernah pacaran, dan sekarang malah dijodohkan?
Hari di sekolah berjalan seperti biasa, meskipun aku merasa aneh sepanjang pagi. Setiap kali melihat cowok lewat, aku langsung berpikir: jangan-jangan yang dijodohin itu kayak dia? Tapi tentu saja aku nggak tahu siapa anak Pak Arka itu.
Sampai jam istirahat tiba.
Aku sedang duduk di kantin bersama sahabatku, Lina, ketika segerombolan cowok dari kelas sebelah lewat. Salah satunya menoleh sekilas ke arahku — tinggi, rambut agak berantakan tapi rapi, pakai kacamata hitam tipis. Semua orang di kantin seperti langsung memperhatikannya.
Lina bersandar ke arahku dan berbisik, “Eh, itu Raka. Anak kelas sebelah. Ranking satu terus dari semester satu. Dengar-dengar anaknya cool banget, tapi jarang ngomong. Semua cewek di sekolah kayaknya naksir dia deh.”
Aku melirik cepat, lalu balik lagi menatap nasi gorengku. “Oh… iya?”
“Kenapa? Kamu nggak tertarik? Dia cakep banget, loh!”
Aku hanya mengangkat bahu. “Aku nggak kenal juga.”
Padahal dalam hati, aku harus mengakui — iya, dia memang cakep. Tapi yang lebih aneh, nama “Raka” terasa familiar. Aku baru sadar sore itu.
Sore hari, aku sudah duduk di mobil bersama Mama dan Papa. Aku masih setengah nggak percaya ini terjadi. Aku bahkan sempat nanya ke Mama di mobil, “Jadi ini beneran? Aku dijodohin sama orang yang bahkan aku nggak kenal?”
Papa tertawa kecil. “Tenang, Nak. Ini cuma pertemuan keluarga. Anggap aja kenalan baru.”
Begitu sampai di rumah besar berwarna putih dengan halaman luas, aku semakin gugup. Aku menatap rumah itu dari kaca mobil — rapi, elegan, dan kelihatan mahal. Aku merasa seperti karakter tambahan yang salah masuk film.
Kami disambut oleh sepasang orang tua ramah, Pak Arka dan Bu Dinda. Mereka tersenyum hangat, dan suasananya terasa cukup akrab. Tapi jantungku makin kencang saat Bu Dinda memanggil seseorang dari dalam rumah.
“Raka! Ayo sini, Nak, kenalan dulu.”
Langkah kaki terdengar dari arah tangga. Saat aku menoleh, aku hampir menjatuhkan gelasku.
Itu dia.
Cowok yang tadi lewat di kantin.
Anak kelas sebelah.
“Ini Raka,” kata Bu Dinda sambil tersenyum bangga. “Kebetulan kalian satu sekolah, ya.”
Aku menatapnya dengan gugup. Raka hanya menatap balik dengan wajah datar, tapi matanya sedikit melebar seolah dia juga baru sadar siapa aku. Kami sama-sama terdiam selama beberapa detik yang terasa seperti selamanya.
“Eh… hai,” kataku canggung.
“Hai,” jawabnya pelan, dengan nada datar tapi sopan.
Bu Dinda tertawa kecil. “Wah, masih malu-malu, ya. Lucu sekali.”
Aku ingin menenggelamkan diri ke dalam sofa.
Setelah pertemuan itu, malamku diisi dengan pikiran yang campur aduk. Mama terlihat senang karena katanya keluarga Arka orangnya baik dan terhormat. Sementara aku… yah, masih mencoba mencerna kenyataan bahwa aku dijodohkan dengan cowok paling populer di sekolah.
Keesokan harinya, sekolah terasa lebih canggung dari biasanya. Setiap kali aku lewat depan kelasnya, aku bisa merasakan tatapan beberapa teman cewek yang suka bisik-bisik. Mungkin karena aku sempat ngobrol sebentar dengan Raka di depan gerbang saat pagi tadi.
“Eh, Ly,” panggilnya pelan waktu itu.
Aku hampir nggak percaya dia memanggilku. “Hmm… iya?”
Dia menggaruk tengkuknya pelan, wajahnya sedikit kaku. “Tentang kemarin sore… maaf kalau Mama aku terlalu bersemangat. Aku juga baru tahu pagi itu.”
Aku menghela napas lega. “Oh, jadi kamu juga kaget?”
“Iya,” jawabnya singkat. Lalu ia tersenyum samar — senyum pertamanya yang aku lihat dari dekat. “Tapi sepertinya nggak buruk juga, dijodohin sama kamu.”
Jantungku langsung berdetak tiga kali lebih cepat. “A-apa?”
Dia hanya terkekeh kecil lalu pergi meninggalkanku yang masih mematung di depan gerbang, mencoba menenangkan diri.
Hari itu aku belajar satu hal: hidup bisa berubah dalam semalam.
Kemarin aku cuma siswi biasa yang stres karena ulangan matematika.
Sekarang aku tiba-tiba jadi tunangan rahasia cowok paling populer di sekolah.
Dan yang lebih parah, setiap kali aku menatap wajahnya — entah kenapa — aku mulai merasa jantungku berdetak sedikit lebih cepat dari biasanya.
Aku menatap keluar jendela kelas sambil tersenyum kecil.
Mungkin, hanya mungkin… ini bukan awal yang seburuk itu.
✨ Bersambung ke Bab 2!