Ash adalah pria dari dunia lain yang datang tanpa misi heroik. Ia bercanda, bertarung, dan bertahan hidup dengan cara yang terasa terlalu santai untuk dunia yang penuh perang dan kebohongan. Namun di balik tawanya, ada sesuatu yang tersegel di dalam dirinya kekuatan purba yang mulai bangkit setiap kali ia kehilangan. Saat konflik antar kerajaan, malaikat, Naga, dan iblis memanas, Ash terjebak di pusat siklus kehancuran yang jauh lebih tua dari peradaban mana pun. Semakin kuat ia menjadi, semakin tipis batas antara manusia dan monster. Pada akhirnya, dunia tidak hanya bertanya apakah Ash bisa menyelamatkan mereka, tetapi apakah ia masih Ash yang sama.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Varss V, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
# BAB 19 - GERBANG KRISTAL
Gerbang Lunaria lebih megah dari yang Ash bayangkan.
Dua pilar kristal ungu setinggi lima meter berdiri di kedua sisi, dengan lengkungan cahaya yang menghubungkan keduanya seperti pelangi padat. Di atas lengkungan itu, terukir simbol simbol rumit yang bersinar samar, bergerak perlahan seperti air yang mengalir.
"Barrier deteksi," jelas Razen sambil berjalan melewatinya. "Setiap orang yang masuk akan dipindai. Kalau ada niat jahat atau sihir terlarang, alarm akan berbunyi."
"Dan kalau alarm berbunyi?" tanya Ash sambil menatap lengkungan itu dengan was-was.
"Penjaga akan langsung tangkap. Interogasi. Kalau terbukti berbahaya, penjara atau eksekusi." Razen mengangkat bahu. "Lunaria tidak main-main soal keamanan."
Ash menelan ludah. "Dan kalau misalnya... ada sesuatu dalam tubuhku yang... tidak normal? Apakah itu dianggap berbahaya?"
"Tergantung niat." Razen menatapnya. "Barrier ini baca niat, bukan kekuatan. Selama kau tidak berniat jahat, seharusnya aman."
Seharusnya, ulang Ash dalam hati. Kata yang sangat tidak menenangkan.
Eveline sudah lebih dulu melewati gerbang tanpa masalah. Dia menoleh ke belakang. "Ayo. Jangan buat penjaga curiga dengan berdiri terlalu lama."
Ash menarik napas dalam dan melangkah maju.
Begitu dia melewati lengkungan, dia merasakan sesuatu seperti air dingin yang menyapu seluruh tubuhnya. Bukan dingin fisik, tapi dingin yang merasuk sampai ke dalam jiwa. Seperti ada yang menyentuh intinya.
Cahaya barrier berkedip. Sekali. Dua kali.
Ash membeku.
Lalu cahaya itu kembali normal.
Salah satu penjaga, seorang wanita muda dengan jubah biru dan tongkat kristal di tangan, menatap Ash lebih lama dari yang seharusnya. Matanya menyipit.
"Kau," panggilnya. "Tunggu sebentar."
Ash merasakan keringat dingin mengalir di punggungnya. Razen dan Eveline langsung siaga.
Penjaga itu berjalan mendekat, mengamati Ash dari atas ke bawah. "Rambutmu. Warna yang tidak biasa."
"Aku... aku lahir seperti ini," jawab Ash, mencoba terdengar santai meski jantungnya berdebar keras.
"Dan barrier bereaksi padamu." Penjaga itu mengangkat tongkatnya, ujungnya bersinar. "Apa yang kau sembunyikan?"
Sebelum Ash bisa menjawab, suara lain muncul dari balik gerbang.
"Dia bersamaku."
Semua orang menoleh.
Seorang wanita dengan jubah putih dengan bulu di leher, trim perak dan emas yang rumit, berjalan keluar dengan langkah tenang namun penuh wibawa. Rambutnya hitam diikat ketat, matanya biru tajam seperti es, dan di dadanya terpasang lencana berbentuk bulan sabit dengan bintang tiga di tengahnya.
Lyra.
Anggota Lunar, yaitu divisi elit setara LightOrder Varnhold.
Penjaga di gerbang langsung membungkuk hormat. "Nona Lyra. Maaf, kami tidak tahu—"
"Mereka adalah tamu Yang Mulia Ratu Violet," potong Lyra dengan suara datar tapi tegas. "Barrier bereaksi karena salah satu dari mereka membawa energi yang tidak biasa, tapi bukan ancaman."
Penjaga itu ragu sebentar, tapi akhirnya mengangguk dan mundur. "Baik, Nona."
Lyra menatap Ash sebentar dengan tatapan yang sulit dibaca, lalu berbalik. "Ikuti aku. Yang Mulia sudah menunggu."
Mereka berjalan mengikuti Lyra masuk ke dalam kota.
---
Ash tidak bisa berhenti melihat ke segala arah.
Lunaria ibu kota adalah keajaiban arsitektur dan sihir. Bangunan-bangunan tinggi terbuat dari batu putih yang halus, dengan jendela jendela kristal yang memantulkan cahaya matahari dalam ribuan warna. Jalan-jalan dipenuhi oleh lampu-lampu kristal yang melayang-layang tanpa tali atau penyangga, bergerak perlahan seperti ikan di air.
Orang-orang yang berjalan di jalan mengenakan pakaian yang bervariasi. Ada yang memakai jubah penyihir tradisional, ada yang memakai pakaian biasa, ada yang bahkan memakai armor ringan dengan ukiran sihir di permukaannya.
Dan yang paling menakjubkan di beberapa tempat, ada platform melayang yang naik turun, membawa orang dari satu tingkat kota ke tingkat lain tanpa tangga.
"Lift sihir," gumam Ash tanpa sadar. "Mereka punya lift sihir."
Lyra mendengar dan menoleh sedikit. "Kau tahu tentang itu?"
"Di... di tempat asalku, ada sesuatu yang mirip," jawab Ash hati-hati. "Tapi bukan pakai sihir."
"Teknologi?" Lyra terdengar sedikit tertarik. "Seperti Selvire."
"Apa itu Selvire?"
"Sebuah negara dengan teknologi asing" Jawab Lyra tanpa menoleh.
Mereka terus berjalan melewati jalan-jalan utama, lalu berbelok ke gang yang lebih sepi. Lyra membawa mereka melalui jalur yang jelas sengaja menghindari keramaian.
"Kenapa kita tidak lewat jalan utama?" tanya Razen.
"Karena Yang Mulia tidak ingin kedatangan kalian menarik perhatian," jawab Lyra tanpa menoleh. "Terutama kau, Razen. Mantan LightOrder yang desersi akan jadi gosip besar kalau terlihat berjalan bebas di ibu kota."
"Dan aku?" tanya Ash.
Lyra meliriknya. "Kau lebih rumit. Rambutmu saja sudah cukup menarik perhatian. Ditambah dengan... energi yang kau bawa. Lebih baik kau tetap tersembunyi untuk sementara."
Ash menyentuh rambutnya. Mungkin Violet benar. Dia makin percaya ia seharusnya menutupinya dengan topi atau kerudung.
Mereka berjalan sekitar dua puluh menit, naik beberapa platform melayang, melewati jembatan kristal yang transparan sampai Ash bisa melihat sungai mengalir jauh di bawah kakinya, dan akhirnya tiba di sebuah gerbang besar yang dijaga oleh empat anggota Lunar dengan armor lengkap.
Gerbang itu terbuat dari logam perak dengan ukiran bulan dan bintang, dan di baliknya, Ash bisa melihat halaman luas dengan taman yang tertata rapi.
Istana Lunaria.
Tidak semegah yang dia bayangkan. Tidak ada menara berlapis emas atau dinding berlian. Tapi ada keanggunan di sana. Bangunan putih tiga lantai dengan jendela- jendela tinggi, taman dengan air mancur kristal yang airnya bersinar ungu lembut, dan aura sihir yang begitu pekat sampai membuat kulit Ash sedikit kesemutan.
"Tunggu di sini," ucap Lyra kepada penjaga gerbang. "Mereka tamu Yang Mulia."
Penjaga mengangguk dan membuka gerbang.
Mereka masuk, dan begitu melangkah ke halaman istana, Ash merasakan perbedaan udara. Lebih sejuk. Lebih tenang. Seperti ada barrier tak terlihat yang memisahkan dunia luar dengan tempat ini.
Lyra membawa mereka masuk ke dalam istana melalui pintu samping, bukan pintu utama. Mereka melewati koridor-koridor panjang dengan dinding yang dihiasi lukisan dan patung-patung kecil yang sepertinya punya makna historis.
Akhirnya, mereka berhenti di depan pintu kayu besar dengan ukiran rumit.
Lyra mengetuk tiga kali dengan pola tertentu.
"Masuk," suara Violet terdengar dari dalam.
Lyra membuka pintu dan memberi isyarat agar mereka masuk.
---
Ruangan di dalam adalah ruang kerja yang luas namun tidak mewah. Ada meja besar di tengah dengan tumpukan perkamen dan buku, rak-rak buku di dinding, dan jendela besar yang menghadap ke taman belakang.
Violet berdiri di depan jendela, membelakangi mereka. Jubahnya yang ungu panjang bergerak sedikit tertiup angin dari jendela yang terbuka.
"Kalian terlambat," ucapnya tanpa berbalik. "Aku kira kalian akan tiba kemarin sore."
"Kami mengambil rute alternatif," jawab Razen. "Nightshade ada di Lumenvale."
Violet akhirnya berbalik. Wajahnya terlihat lebih lelah dari terakhir kali Ash melihatnya. Ada lingkaran hitam tipis di bawah matanya, dan ekspresinya lebih tegang.
"Aku tahu," ucapnya. "Aku sudah dapat laporan. Lima korban sebelum kalian tiba. Lalu dua Nightshade mati dan satu kritis. Ulah kalian?"
Ash mengangguk pelan. "Mereka... mereka menyerang kami."
Violet menatapnya lama. "Dan kau menggunakan kekuatan itu lagi."
Bukan pertanyaan. Pernyataan.
Ash tidak bisa menjawab. Dia hanya menunduk.
Violet menghela napas panjang. "Lyra, kau boleh pergi. Terima kasih sudah membawa mereka."
Lyra membungkuk dan keluar, menutup pintu di belakangnya.
Sekarang hanya tinggal Ash, Eveline, Razen, dan Violet di ruangan itu.
Violet berjalan ke mejanya dan duduk. Dia mengisyaratkan mereka untuk duduk juga di kursi-kursi yang ada.
"Ceritakan," ucapnya. "Dari awal. Apa yang terjadi di Lumenvale."
Razen yang menceritakan sebagian besar. Tentang rumor Nightshade. Tentang ancaman. Tentang Eveline yang keluar sendirian. Tentang pertempuran.
Dan tentang Ash yang kehilangan kontrol.
Violet mendengarkan tanpa memotong, matanya fokus. Sesekali dia mencatat sesuatu di perkamen.
Setelah Razen selesai, Violet menatap Ash. "Apa yang kau rasakan saat itu?"
"Amarah," jawab Ash jujur. "Aku... aku melihat Eveline terluka. Razen juga. Dan sesuatu dalam diriku... meledak."
"Dan kau ingat apa yang terjadi setelahnya?"
"Tidak banyak. Cuma... samar-samar. Seperti mimpi." Ash menggenggam tangannya. "Tapi Eveline bilang aku... aku membunuh orang dengan brutal."
"Dan kau merasa bersalah."
Ash mengangguk.
Violet terdiam sebentar, lalu berdiri dan berjalan ke rak buku. Dia mengambil sebuah buku tua dengan sampul kulit lusuh dan membukanya di halaman tertentu.
"Ini adalah catatan kuno tentang mahluk mahluk Tier Satu," ucapnya sambil membaca. "Ditulis oleh peneliti ribuan tahun lalu. Di sini disebutkan bahwa mahluk-mahluk seperti Uroboros, Naga, Malaikat, dan Iblis memiliki kesadaran yang berbeda dari mahluk fana."
Dia menatap Ash. "Mereka tidak mengenal konsep moral seperti kita. Bagi mereka, membunuh bukan dosa. Itu hanya tindakan untuk mencapai tujuan. Melindungi diri. Melindungi yang mereka anggap penting."
"Apa maksudnya tier satu?" tanya ash dengan polos
Violet tersenyum sedikit, seperti melihat anak kecil yang penasaran dengan cerita dongeng.
"Jika mengacu pada pengetahuan kuno, semua mahluk di dunia ini di bagi menjadi 'Lima Tier' berbeda yaitu satu sampai lima, Tier Satu adalah mahluk kosmik, Anak dari dewa pencipta, Tier Dua adalah mahluk yang tinggal di dimensi lain contohnya adalah spirits, Tier Tiga adalah mahluk fana seperti Manusia, Elf, Dwarf, Beskind dan lainnya. Tier Empat adalah monster tanpa akal, dan terakhir Tier Lima adalah mahluk tanpa kekuatan special."
"Lalu apakah itu berbeda dengan rangking dari guild yang di mulai dari F sampai S?" Ash semakin penasaran, namun Razen mengentikannya dengan berkata
"Ash, jangan terlalu membebani yang mulia Ratu"
Violet hanya tertawa,
"Tak apa, aku tak merasa di bebani, dan Ash, sistem guild itu berbeda dengan Sistem Tier Dunia, singkatnya sistem guild hanya menilai kekuatan dan kontribusi, sedangkan Tier Dunia adalah hierarki absolut, jadi mau sekuat apapun petualang Class S dia akan tetap berada di Tier Tiga."
Ash seperti kaget menerima semua informasi ini, namun masih ada satuhal yang membuatnya penasaran.
"Lalu di Tier barapa Dewa pencipta?"
"Nol. Absolut Zero" Ruangan seketika menjadi hening ketika Violet mengatakan nya, bahkan seakan udara tak mau segan untuk mengganggu.
Razen yang sadar lalu mencoba mengalihkan pembicaraan.
"Jadi... Uroboros membunuh Nightshade karena mereka mengancam kami?"
"Bukan Uroboros sepenuhnya. Tapi bagian darinya yang ada dalam Ash. Bagian yang sudah mulai menyatu dengan jiwanya." Violet menutup buku. "Dan masalahnya, semakin sering dia menggunakan kekuatan itu, semakin besar pengaruh Uroboros terhadap cara berpikirnya."
Ash merasakan dadanya sesak. "Jadi... aku akan jadi seperti dia? Dingin? Tidak peduli nyawa orang lain?"
"Tidak harus," jawab Violet. "Itulah kenapa kau di sini. Untuk belajar kontrol. Untuk memisahkan dirimu dari Uroboros sambil tetap bisa menggunakan kekuatannya saat dibutuhkan."
"Apakah itu mungkin?"
"Aku tidak tahu," jawab Violet jujur. "Tidak ada catatan tentang seseorang yang jadi vessel Uroboros sebelumnya. Kau adalah yang pertama. Jadi kita akan mencari tahu bersama sama."
Dia berjalan kembali ke mejanya dan duduk. "Mulai besok, kau akan latihan denganku setiap pagi. Aku akan ajarkan kau cara merasakan dan menggunakan mana biasa, tanpa menyentuh kekuatan Uroboros."
"Dan kalau aku gagal?"
Violet menatapnya dengan tatapan yang sangat serius. "Maka aku akan menguncimu di menara tertinggi istana ini, dengan barrier yang bahkan bisa menahan kekuatan lima segel pecah tidak bisa tembus, sampai kita menemukan cara lain."
Hening.
Ash menelan ludah. "Anda... Serius?"
"Sangat serius. Aku tidak akan biarkan kekuatan Uroboros lepas kendali dan menghancurkan kota ini. Atau dunia." Violet berdiri. "Tapi aku percaya kau bisa. Karena kau punya sesuatu yang Uroboros tidak punya."
"Apa?"
"Keinginan untuk melindungi orang lain, bukan karena insting, tapi karena kau peduli." Violet tersenyum tipis. "Itu senjata terbesarmu."
Ash tidak tahu harus bilang apa. Dia hanya mengangguk pelan.
Violet menoleh ke Eveline dan Razen. "Kalian berdua juga akan latihan. Lyra akan atur jadwal dengan anggota Lunar lainnya. Eveline, aku akan pastikan kau dapat pelatihan lanjutan dalam seni assassin dari ahli terbaik kami. Razen, kau akan dapat pelatihan strategi dan combat lanjutan."
"Terima kasih, Yang Mulia," ucap Razen sambil membungkuk.
Violet mengangkat tangan. "Tidak perlu formal. Di sini, kita semua hanya orang orang yang mencoba bertahan hidup di dunia yang semakin kacau." Dia berjalan ke pintu. "Lyra akan tunjukkan kamar kalian. Istirahat hari ini. Besok, latihan dimulai."
Dia membuka pintu, tapi sebelum keluar, dia menoleh ke Ash sekali lagi.
"Dan Ash, kalau Morgana datang mencarimu... berhati hatilah. Dia mungkin terlihat main-main, tapi.. Dia tidak bisa di perdiksi."
Ash merasakan punggungnya merinding. "Dia... sudah bilang itu."
Violet mengangguk. "Bagus. Setidaknya kau sudah siap mental."
Lalu dia pergi, meninggalkan mereka bertiga di ruangan itu.
Beberapa saat kemudian, Lyra masuk kembali. "Ikuti aku. Aku akan antar kalian ke sayap tamu."
Mereka mengikuti Lyra keluar dari ruangan, melewati koridor-koridor lain, naik tangga spiral yang indah, dan akhirnya tiba di sebuah koridor dengan beberapa pintu kayu.
"Tiga kamar bersebelahan," ucap Lyra sambil membuka pintu satu per satu. "Kamar mandi ada di dalam. Pakaian ganti sudah disiapkan. Makan malam akan diantar ke kamar sekitar satu jam lagi."
"Terima kasih," ucap Razen.
Lyra mengangguk, lalu menatap Ash. "Besok pagi, jam tujuh, aku akan jemput kau untuk latihan dengan Yang Mulia. Jangan terlambat."
"Aku tidak akan," janji Ash.
Lyra pergi, meninggalkan mereka di koridor.
Razen menoleh ke Ash dan Eveline. "Kalian istirahatlah. Besok akan jadi hari yang panjang."
Mereka masuk ke kamar masing-masing.
---
Ash menutup pintu kamarnya dan langsung jatuh ke kasur.
Kamarnya sederhana tapi nyaman. Kasur empuk, jendela yang menghadap ke taman, meja kecil dengan lilin yang sudah menyala, dan lemari pakaian di sudut.
Dia menatap langit langit kayu yang diukir dengan pola bulan dan bintang.
"Besok," bisiknya pada dirinya sendiri. "Besok aku mulai belajar kontrol."
Dari dalam dadanya, dia merasakan getaran samar. Ash tau Uroboros mendengar.
"Aku tidak melawanmu," jawab Ash pelan. "Aku hanya ingin... kita bisa hidup berdampingan tanpa salah satu dari kita harus hilang."
Hening sejenak.
Lalu jawaban datang. Bukan dengan kata. Tapi dengan perasaan.
Ragu. Tapi juga... harapan kecil.
Ash tersenyum tipis. Mungkin Uroboros juga tidak ingin kehilangan Ash.
Mungkin mereka berdua sama sama takut kehilangan diri.
Dan mungkin, dengan latihan yang benar, mereka bisa menemukan jalan tengah.
Ash memejamkan mata, membiarkan kelelahan menariknya ke dalam tidur.
Besok adalah awal dari segalanya.
Dan dia akan hadapi dengan sepenuh hati.