Di puncak Gunung Qingyun yang berkabut, gerbang Sekte Aliran Abadi telah miring dimakan rayap. Tidak ada teknik dewa, tidak ada tumpukan batu roh, tidak ada ribuan murid yang bersujud. Hanya ada Su Lang, pemuda biasa dengan tulang kultivasi rata-rata, dan sebuah plakat kayu tua warisan mendiang gurunya.
Su Lang memiliki sebuah "Sistem Pondasi Sekte". Benda itu tidak memberinya kekuatan instan. Sistem itu hanya sebuah panduan kaku yang menuntut keringat darah. Ingin beras? Cangkul tanah di belakang gunung. Ingin teknik pernapasan dasar? Perbaiki atap aula utama dengan tangan sendiri. Ingin menjadi kuat? Latih satu gerakan pedang sepuluh ribu kali di bawah air terjun musim dingin.
Ini bukan kisah tentang penaklukan dunia atau pembantaian musuh yang arogan. Ini adalah catatan harian seorang pemuda yang menolak membiarkan api sektenya padam membangun kembali kejayaan dari serpihan genting pecah satu napas , satu langkah satu hari pada satu waktu
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon 𝐍𝐞𝐳𝐮𝐤𝐨 i, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
bab 21 panji abadi di lembah obat
Asap tipis masih mengepul dari tanah hangus tempat Mu Wanli dan para elit Sekte Lembah Hijau meregang nyawa. Bau ozon dari sisa sambaran Api Roh Langit Biru bercampur dengan aroma amis darah yang mulai mengering, menciptakan parfum kematian yang membuat siapa pun yang menciumnya gemetar ketakutan.
Su Lang berdiri di tengah kawah dangkal itu, menarik napas dalam-dalam. Energi di tubuhnya telah stabil. Qi Condensation Tingkat 5. Di dunia kultivasi wilayah perbatasan ini, tingkat 5 adalah batas pemisah antara "murid senior" dan "tetua yang dihormati". Namun, dengan kualitas Qi Nadi Naga dan Api Roh di tubuhnya, kekuatan tempur Su Lang yang sebenarnya mungkin setara dengan Tingkat 7 atau bahkan menyentuh ambang Tingkat 8.
Dia membungkuk, memungut cincin penyimpanan milik Mu Wanli yang entah bagaimana selamat dari pembakaran massal tadi. Cincin itu terbuat dari Kayu Roh Besi, sangat tahan api.
"Sistem, bobol segelnya."
[Memproses... Segel mental tingkat rendah dihancurkan.]
Isi cincin itu tumpah ke dalam inventaris mental Su Lang.
25.000 Batu Roh Rendah.
3.000 Batu Roh Menengah.
Sertifikat Tanah Lembah Seribu Obat (Dokumen Resmi Kekaisaran).
Kunci Gudang Herbal Utama.
Manual Teknik: Penjara Akar Seribu (Tingkat Kuning Puncak).
"Kekayaan yang lumayan untuk penguasa lokal," gumam Su Lang. Dia tidak terlalu terkejut dengan jumlah batu rohnya, tetapi Sertifikat Tanah itu menarik perhatiannya. Di dunia ini, meskipun kekuatan adalah hukum utama, memiliki legalitas di mata Kekaisaran—yang berkuasa jauh di dataran tengah—bisa mencegah masalah birokrasi yang tidak perlu.
Su Lang berbalik menghampiri murid-muridnya. Li Yun sedang duduk bersila, membalut luka di lengannya dengan kain robekan jubahnya. Lin Yue berdiri membelakangi mereka, menatap ke arah hutan dengan waspada, sementara Chen Ling dan kakeknya, Tabib Chen, masih gemetar melihat kehancuran yang diciptakan Su Lang.
"Guru..." Chen Ling memberanikan diri mendekat, matanya menatap Su Lang dengan campuran rasa takut dan kekaguman yang fanatik. "Apakah... apakah kita menang?"
Su Lang tersenyum tipis, aura pembunuhnya mereda seketika, digantikan oleh kehangatan seorang kakak. "Kita tidak hanya menang, Ling'er. Kita baru saja mengambil alih rumah baru."
Dia menatap Tabib Chen. "Pak Tua Chen, kau pernah bermimpi memiliki kebun obat sendiri?"
Tabib Chen terbelalak. "Tuan... maksud Anda?"
"Sekte Lembah Hijau sudah tamat. Tapi tanah ini, tanaman di sini, dan formasi alam yang menyuburkan herbal... sayang jika dibiarkan begitu saja. Mulai hari ini, Lembah Seribu Obat adalah Sekte Aliran Abadi - Cabang Herbal."
Perjalanan menuju markas utama Sekte Lembah Hijau tidak memakan waktu lama. Markas itu dibangun secara unik di atas pohon-pohon raksasa purba yang saling terhubung oleh jembatan gantung dari anyaman rotan.
Saat Su Lang dan rombongannya tiba di gerbang utama markas, ratusan murid luar dan pelayan yang tidak ikut bertempur sudah berkumpul. Berita kematian Mu Wanli dan putranya menyebar lebih cepat daripada angin. Ketakutan terpancar jelas di wajah mereka.
Beberapa tetua tingkat rendah yang tersisa mencoba mengorganisir pertahanan, tetapi begitu mereka melihat Su Lang berjalan santai dengan Pedang Naga Hitam yang masih berasap di punggungnya, lutut mereka lemas.
"Siapa yang berkuasa di sini sekarang?" suara Su Lang menggema, diperkuat oleh Qi, menembus setiap sudut hutan.
Seorang pria tua bungkuk dengan jubah tabib lusuh maju ke depan, bersujud hingga dahinya menyentuh tanah. "Hamba adalah Kepala Logistik... Tuan Mu Wanli sudah tiada. Kami... kami menyerah. Mohon Tuan mengampuni nyawa kami yang rendah ini."
Su Lang menatap lautan manusia di depannya. Membunuh mereka semua tidak ada gunanya. Dia bukan maniak pembantai. Dia membutuhkan tenaga kerja.
"Dengarkan baik-baik!" Su Lang mengangkat suaranya. "Mulai hari ini, nama Sekte Lembah Hijau dihapus dari sejarah. Tempat ini sekarang berada di bawah bendera Sekte Aliran Abadi."
Su Lang mengangkat tangannya, dan Api Roh Langit Biru melesat ke langit, membentuk naga api biru yang meraung, menerangi senja yang mulai turun.
"Mereka yang ingin pergi, silakan pergi sekarang. Tapi tinggalkan semua harta kultivasi kalian. Mereka yang ingin tinggal, kalian tidak lagi menjadi murid sekte, melainkan pekerja bayaran. Aku akan membayar kalian dengan adil, memberi perlindungan, dan jika kalian setia... aku akan memberikan teknik kultivasi yang jauh lebih baik daripada sampah yang diajarkan Mu Wanli."
Keheningan melanda. Tawaran itu terlalu bagus untuk menjadi kenyataan, namun ancaman di baliknya juga nyata.
Satu per satu, orang-orang mulai bersujud. "Kami bersedia melayani Tuan Abadi!"
Dunia kultivasi itu sederhana. Siapa yang kuat, dialah yang diikuti. Kesetiaan pada Mu Wanli yang sudah mati tidak bisa mengisi perut atau memperpanjang umur mereka.
Malam harinya, Su Lang duduk di kursi besar bekas singgasana Mu Wanli. Ruangan itu mewah, dindingnya dihiasi kulit binatang langka dan lantainya dari kayu cendana wangi. Namun, Su Lang tidak peduli pada kemewahan itu. Dia sedang membuka antarmuka [Sect Management].
[Mendirikan Cabang Baru: Sukses.]
[Nama: Aliran Abadi - Divisi Herbal.]
[Pengelola: Kosong.]
[Sumber Daya: Sangat Kaya (Herbal Tingkat 1-4).]
[Pertahanan: Lemah (Formasi Lama Hancur).]
"Chen Mo, Chen Ling, maju," perintah Su Lang.
Kakek dan cucu itu melangkah maju. Chen Ling tampak gugup, meremas ujung bajunya.
"Aku tidak bisa tinggal di sini selamanya. Puncak Qingyun adalah pusat kekuatanku," kata Su Lang. "Aku membutuhkan seseorang yang bisa dipercaya untuk mengelola tempat ini. Chen Mo, dengan pengalamanmu, kau akan menjadi Kepala Divisi Herbal. Tugasmu mengawasi produksi dan distribusi."
Chen Mo gemetar, air mata menetes di pipinya yang keriput. "Tuan... Hamba hanyalah tabib keliling..."
"Dan sekarang kau adalah Kepala Divisi dari sekte yang akan mengguncang dunia," potong Su Lang. Dia melempar sebuah cincin penyimpanan—milik salah satu tetua musuh—kepada Chen Mo. "Di dalamnya ada modal awal 5.000 Batu Roh. Gunakan untuk memperbaiki fasilitas dan menggaji pekerja."
Su Lang kemudian menatap Chen Ling. Gadis itu memiliki Tubuh Roh Tanaman. Membiarkannya di sini adalah pilihan terbaik untuk perkembangannya, meskipun Su Lang merasa sayang melepaskan bakat sebaik itu dari sisinya.
"Chen Ling. Kau akan menjadi Murid Inti Divisi Herbal. Aku meninggalkanmu di sini bukan karena aku membuangmu, tapi karena tanah ini membutuhkanmu. Bakatmu akan sia-sia di puncak gunung salju."
Su Lang mengeluarkan sebuah gulungan giok hijau. Itu adalah Manual Alkimia Kayu Abadi—hadiah sistem dari misi penaklukan.
"Pelajari ini. Dalam sebulan, aku ingin kau mengirimkan pasokan herbal pertamamu ke Puncak Qingyun. Bisakah kau melakukannya?"
Chen Ling memegang gulungan itu erat-erat, matanya berkaca-kaca namun penuh tekad. "Ling'er tidak akan mengecewakan Guru! Ling'er akan menumbuhkan tanaman terbaik di dunia untuk Guru!"
[Ding! Loyalitas Chen Ling mencapai MAX. Status berubah: Pemuja Fanatik.]
Su Lang mengangguk puas. Dia kemudian beralih ke Li Yun dan Lin Yue yang berdiri di sampingnya.
"Kalian berdua, pergilah ke gudang harta karun mereka. Ambil apa pun yang menurut kalian berguna untuk kultivasi kalian. Sisanya biarkan untuk modal divisi ini."
"Baik, Guru!"
Setelah semua orang pergi, Su Lang tinggal sendirian di aula besar itu. Dia memijat pelipisnya. Mengelola sekte ternyata lebih melelahkan daripada bertarung.
Tiba-tiba, dia merasakan hawa dingin yang familiar di sampingnya. Lin Yue tidak pergi. Dia kembali setelah memastikan Li Yun aman menuju gudang.
Lin Yue membawa nampan berisi teh herbal hangat. Dia meletakkannya di meja, lalu tanpa diminta, dia berjalan ke belakang kursi Su Lang dan mulai memijat bahu gurunya.
"Kau tidak pergi menjarah?" tanya Su Lang, memejamkan mata menikmati pijatan tangan dingin Lin Yue yang kontras dengan tubuhnya yang masih terasa panas akibat efek sisa Api Roh.
"Saya tidak butuh harta musuh," jawab Lin Yue lembut. "Saya hanya butuh memastikan Guru tidak memaksakan diri."
Tangan Lin Yue turun sedikit, menyentuh dada Su Lang di balik jubahnya. Dia bisa merasakan detak jantung Su Lang yang kuat dan panas yang memancar dari kulitnya.
"Api Roh itu... masih belum sepenuhnya jinak, bukan?" bisik Lin Yue.
Su Lang menghela napas panjang. "Kau selalu tajam, Lin Yue. Nadi Naga dan Api Roh Langit Biru bertarung di dalam diriku untuk dominasi. Rasanya seperti terbakar pelan-pelan."
"Biarkan saya memadamkannya."
Lin Yue bergerak mengitari kursi, lalu dengan berani duduk di pangkuan Su Lang. Dia menatap mata gurunya. Tidak ada nafsu murahan di sana, hanya ada keinginan murni untuk menyembuhkan dan melayani.
Dia meletakkan telapak tangannya di dada Su Lang, dan keningnya menempel pada kening Su Lang.
Resonansi Yin-Yang.
Energi dingin dari Tubuh Yin Murni Lin Yue mengalir masuk, membelai meridian Su Lang yang meradang. Sensasi itu seperti air sejuk yang menyiram besi panas. Uap spiritual tipis muncul di sekitar mereka.
Su Lang melingkarkan lengannya di pinggang Lin Yue, menahannya agar tidak jatuh. Dia membiarkan pertukaran energi ini terjadi. Itu adalah momen keheningan yang intim di tengah kekacauan perang dan penaklukan.
"Terima kasih, Yue'er," bisik Su Lang, tanpa sadar mengubah panggilannya menjadi lebih akrab.
Pipi Lin Yue merona merah mendengar panggilan itu, tapi dia tersenyum bahagia. "Istirahatlah, Guru. Besok kita pulang."
Keesokan paginya, Su Lang tidak membuang waktu.
Dia menghabiskan 50 Poin Dedikasi untuk membeli Formasi Pasak Kayu Ilusi dari sistem dan memasangnya di sekeliling lembah. Formasi ini tidak sekuat formasi di Puncak Qingyun, tapi cukup untuk membunuh kultivator Tingkat 4 yang mencoba menyusup dan membingungkan Tingkat 5.
"Chen Mo, kendali formasi ada di tanganmu. Jika ada musuh yang tidak bisa kau tangani, hancurkan giok ini. Aku akan tahu," pesan Su Lang.
"Hati-hati di jalan, Tuan!"
Dengan perpisahan singkat, Su Lang, Li Yun, dan Lin Yue meninggalkan Lembah Seribu Obat. Mereka tidak membawa banyak barang fisik, tapi cincin penyimpanan Su Lang kini penuh dengan benih langka dan bahan alkimia yang nilainya tak terhitung.
Perjalanan pulang terasa lebih cepat. Reputasi "Iblis Api Biru" yang menghancurkan Sekte Lembah Hijau belum menyebar sepenuhnya, jadi perjalanan mereka relatif aman.
Namun, saat mereka mendekati wilayah Kota Awan Putih—jalur wajib untuk kembali ke Puncak Qingyun—Su Lang merasakan sesuatu yang aneh.
Suasana kota sangat tegang. Penjagaan diperketat tiga kali lipat. Poster-poster buronan ditempel di setiap dinding kota.
Dan di poster itu, terdapat sketsa wajah yang mirip dengannya.
[DICARI: Iblis Su Lang]
[Kejahatan: Membunuh Tetua Mo dari Balai Tujuh Bintang, Membantai Sekte Lembah Hijau.]
[Hadiah: 50.000 Batu Roh & Posisi Tetua Kehormatan di Balai Tujuh Bintang.]
[Pemberi Perintah: Ketua Besar Zhao (Seven Stars Hall).]
Su Lang berdiri di depan papan pengumuman dengan tudung jubah menutupi wajahnya. Li Yun membaca poster itu dengan gigi gemeretak.
"Guru, harga kepala Anda naik drastis," bisik Li Yun.
"Lima puluh ribu batu roh... mereka benar-benar menghargai nyawaku," Su Lang terkekeh dingin.
Namun, yang membuat Su Lang waspada bukan poster itu. Melainkan aura yang dia rasakan dari arah alun-alun kota. Ada tiga aura kuat yang tidak disembunyikan.
Tingkat 6. Tingkat 6. Dan... Tingkat 7.
"Balai Tujuh Bintang tidak main-main. Mereka mengirim pasukan pemburu," gumam Lin Yue. "Kita harus memutar jalan."
"Tidak," kata Su Lang tiba-tiba. Matanya menatap ke arah Rumah Lelang Paviliun Langit.
Di sana, indera Pecahan Kuali Penempa Surga miliknya bergetar lagi. Bukan getaran resonansi tarik-menarik seperti sebelumnya, melainkan getaran peringatan bahaya.
Fragmen ketiga ada di kota ini. Tapi fragmen itu sedang digunakan sebagai umpan.
"Mereka tahu aku menginginkan logam aneh itu," Su Lang menyadari strateginya. "Mereka menggunakan fragmen ketiga untuk memancingku keluar."
"Guru, itu jebakan," kata Li Yun cemas.
"Aku tahu. Tapi jebakan hanya berbahaya jika mangsanya lemah," Su Lang menyentuh gagang Pedang Naga Hitam di balik jubahnya.
Dia menatap kedua muridnya. "Kalian berdua, kembali ke Puncak Qingyun lewat jalan tikus. Bawa semua hasil jarahan dari Lembah Obat. Aku ada urusan sebentar di kota ini."
"Guru! Kami tidak akan meninggalkan Anda!" tolak Lin Yue tegas.
"Ini perintah!" suara Su Lang menajam. "Kalian membawa masa depan sekte di tas kalian. Jika kalian tertangkap, usaha kita membangun Divisi Herbal sia-sia. Aku bisa bergerak lebih bebas sendirian."
Lin Yue menggigit bibirnya, menatap Su Lang dengan pandangan terluka namun patuh. Dia tahu Su Lang benar. Dengan Langkah Bayangan Awan dan Jubah Awan Perak, Su Lang hampir mustahil ditangkap jika dia ingin lari. Kehadiran mereka justru akan menjadi beban.
"Berjanjilah Anda akan pulang untuk makan malam," kata Lin Yue, suaranya bergetar.
"Aku janji. Mungkin sedikit terlambat, tapi aku akan pulang."
Setelah memastikan murid-muridnya pergi dengan aman, Su Lang berbalik menghadap gerbang kota. Dia menurunkan tudung jubahnya sedikit, membiarkan seringai percaya diri terlihat.
Dia berjalan langsung menuju alun-alun kota, tempat aura Tingkat 7 itu berada.
"Kalian ingin memancing naga?" batin Su Lang. "Hati-hati, kalian mungkin akan dimakan bulat-bulat."
Di tengah alun-alun, di atas sebuah panggung eksekusi kayu, sebuah kotak kaca dipajang. Di dalamnya, Fragmen Kuali ketiga melayang, dikelilingi oleh jimat peledak.
Duduk di kursi kehormatan di belakangnya adalah seorang pria tua dengan rambut merah menyala—Tetua Agung Api dari Balai Tujuh Bintang.
"Datanglah, tikus kecil..." gumam pria tua itu, matanya terpejam namun indera spiritualnya menyapu seluruh kota seperti radar.
Su Lang melangkah masuk ke alun-alun. Dia tidak bersembunyi. Dia melepaskan sedikit aura Api Roh Langit Biru-nya.
Seketika, mata Tetua Agung Api terbuka. "Ditemukan!"
Namun, sebelum dia bisa bergerak, Su Lang melakukan sesuatu yang gila.
Dia tidak lari ke arah panggung. Dia lari ke arah Gudang Penyimpanan milik Balai Tujuh Bintang cabang kota itu yang terletak di sisi lain alun-alun.
"Jika kalian sibuk menjagaku di sini, siapa yang menjaga rumah kalian?"
Su Lang melepaskan tebasan pedang jarak jauh.
Seni Naga: Angin Kiamat Biru!
Sabit api biru melesat, bukan ke arah musuh, tapi ke arah gudang logistik musuh.
BOOOOM!
Ledakan dahsyat mengguncang Kota Awan Putih. Gudang itu meledak dalam bola api biru yang indah.
"BAJINGAN!" Tetua Agung Api meraung, wajahnya merah padam. Dia harus memilih: mengejar Su Lang atau menyelamatkan aset sekte yang sedang terbakar.
Su Lang tertawa keras di tengah kekacauan itu, sosoknya melesat di atas atap-atap bangunan, memprovokasi seluruh kekuatan kota untuk mengejarnya.
Malam ini, Kota Awan Putih tidak akan tidur. Dan legenda Su Lang akan bertambah satu babak lagi: Sang Pengacau yang membakar kota demi sebuah senyuman.