Perjodohan itu bukan untuknya. Hanya saja, dia terpaksa pergi ke desa untuk menikah dengan pria desa yang sama sekali tidak ia kenali sebelumnya. Semua gara-gara adiknya kabur karena tidak ingin dinikahkan dengan pria desa tersebut. Dan yang paling menyakitkan adalah, sang adik kabur bersama pacar yang seharusnya akan menjadi tunangan Airin dalam waktu dekat.
Akan kah kepergian Rin bisa menciptakan kebahagiaan setelah badai besar itu datang padanya? Lalu, bagaimana dengan sambutan Mbayung atas kehadiran Rin yang datang untuk menikah dengannya? Bagaimana pula kehidupan adik dan mantan pacar yang telah mengkhianati Rin selanjutnya? Ayok! Ikuti kisah mereka di KETIKA KOTA BERTEMU DESA.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
KKBD Part *28
Mela pun langsung membulatkan mata karena tak percaya akan apa yang baru saja telinganya dengar. Pria yang dulunya tidak terlalu menghiraukan omongan orang lain. Tidak suka ikut campur urusan orang. Bahkan, tidak pernah mencari masalah dengan siapapun. Tapi sekarang, hanya karena gadis asing yang datang dari tempat yang berbeda dengan mereka, pria tersebut bisa berubah begitu nyata.
"Bayu. Kamu .... "
Mela kembali menggantungkan kalimatnya. Sungguh, perasaan tak percaya itu sangat nyata. Dia benar-benar seolah sedang bermimpi akan sifat baru sahabat kecilnya saat ini.
"Kamu. Bayu, kamu ... sungguh?"
"Kenapa? Apa aku, terlihat sedang bercanda, La?"
"Bercanda? Aku berharapnya begitu, Yu. Kamu, beneran bercanda, bukan?"
Tatapan Mela penuh harap. Sedangkan yang di tatap malah semakin memperlihatkan wajah serius dengan sangat jelas.
"Apa aku, terlihat benar-benar terlihat begitu?"
"Aku rasa-- "
"Mereka membicarakan istriku saat ini. Haruskah aku tetap diam? Padahal, aku rasa, istriku tidak mengganggu siapapun. Mengapa mereka menganggu istriku?"
Pertanyaan Bayu tentu saja tidak bisa Mela jawab. Bukan karena dia tidak punya kata untuk menjawab pertanyaan tersebut. Sebaliknya, itu karena bibirnya terlalu berat untuk ia gerakkan.
Obrolan keduanya berakhir begitu saja. Mela melangkah pelan sesaat setelah Bayu beranjak meninggalkan petak sawah miliknya setelah dia melontarkan beberapa pertanyaan pada Mela.
Ternyata, cinta bisa mengubah orang terlalu jauh. Mela baru menyadari hal itu sekarang. Cinta Bayu untuk gadis kota yang saat ini telah menjadi istri, ternyata mampu mengubah Bayu yang dikenal cukup cuek jadi sangat agresif.
'Bayu. Apakah kamu mencintainya terlalu dalam sampai kamu lupa bagaimana karakter kamu yang sebenarnya?' Mela bertanya pada dirinya sendiri dalam hati.
'Kamu lupa padaku, Yu. Kamu lupa bahwa kita sudah lama bersama. Saat itu, aku tidak pernah sadar kalau kamu juga punya sifat yang berbeda.'
'Ternyata, perbedaan cinta dengan tidak itu sangat jauh berbeda ya. Orang yang kamu cintai bisa kamu lindungi dengan sekuat tenaga. Tapi yang tidak kamu sukai, bisa kamu abaikan begitu saja.'
'Kenapa manusia begitu?' Mela menyeka air matanya dengan punggung tangan. Hatinya sedih bukan kepalang.
Detik itu juga dia berjanji untuk menghapus semua rasa suka yang ia miliki untuk Bayu. Cinta sebelah pihak yang dia punya, tidak mungkin bisa ia perjuangkan. Karena orang yang dia cintai, sedikitpun tak memberikan dirinya harapan untuk berjuang.
Sementara itu, Bayu pulang ke rumah dengan hati yang sedikit kesal. Saat melewati warung yang ada di persimpangan menuju rumah, bisik-bisik itu terdengar oleh telinganya.
Seperti yang telah Mela katakan beberapa saat yang lalu, kalau orang-orang sedang sibuk membicarakan Rin. Hatinya yang kesal, kini akhirnya tidak bisa menahan lebih lama lagi. Lagipula, dia memang ingin mencari orang yang sudah sibuk membicarakan istrinya di belakang mereka.
Bayu menatap tajam para penggosip itu sambil terus berjalan mendekat. Tentu saja obrolan mereka sudah berhenti sesaat setelah mereka melihat kedatangan Bayu.
"Eh, Bayu. Baru pulang dari sawah ya, Yu?" Salah satu ibu-ibu mulai berbasa-basi untuk menyapa Bayu.
Wajah Bayu tidak berubah. "Iya. Baru pulang."
Hening sesaat. Lalu, Bayu angkat bicara kembali. "Ibu-ibu, sedang apa? Sedang membicarakan orang lain di belakang ya?"
Ibu-ibu itupun saling bertukar pandang. Wajah manis yang mereka ukir sebelumnya, langsung berubah seketika. Tapi Bayu tidak ingin memikirkan hal tersebut. Karena hatinya sudah sangat jengkel akan ulah orang-orang itu. Orang-orang yang sangat suka mencampuri kehidupan orang lain. Yang sibuk membicarakan orang lain tanpa memikirkan perasaan orang yang sedang mereka bicarakan.
"Ibu-ibu, saya tidak ingin mencari masalah. Tapi tolong, jangan bicarakan istri saya di belakang kami."
"Bayu. Kenapa kamu jadi tiba-tiba menuduh kami begini?" Akhirnya, salah satu ibu-ibu angkat bicara.
Karena ibu itu bicara, maka yang lain ikut berucap. "Benar. Kenapa tiba-tiba menuduh. Padahal, kami tidak melakukannya."
"Saya mendengarnya dengan jelas. Kalian telah membicarakan istri saya akhir-akhir ini."
"Ibu-ibu, apa salah istri saya pada kalian semua? Sampai-sampai, kalian terus saja menjadikan kami sebagai bahan omongan kalian. Kami tidak pernah menganggu kalian selama ini. Tapi kenapa, kesalahan kami, selalu saja kalian cari."
Ibu-ibu itu kembali terdiam. Mungkin, ucapan Bagu dengan nada tenang itu langsung menyentuh hati mereka. Benar kata beberapa orang. Marah, tidak seharusnya selalu dengan nada tinggi. Marah juga bisa dengan nada santai. Tapi kata yang diucapkan, langsung menusuk ke dalam hati.
Setelah hening beberapa saat, salah satu ibu langsung berucap. "Kami tidak akan bicara jika tidak ada bukti. Kami-- "
"Bukti apa? Katakan padaku dengan sangat jelas. Bukti apa yang kalian maksudkan?"
"Istrimu datang dari kota, Bayu. Kamu tidak tahu apa saja yang telah ia lewati di sana. Pergaulan orang kota dengan orang desa itu berbeda, Yu. Istrimu-- "
"Ibu-ibu. Tolong, masa lalu istriku, kenapa harus kalian perdebatkan? Lagipula, yang menikah dengannya adalah aku, bukan kalian kan?"
"Dan, aku rasa, kalian memang benar. Pergaulan anak desa dengan anak kota memang berbeda. Karena lingkungan mereka juga berbeda. Tapi, apakah gadis desa lebih baik dari pada gadis kota?"
"Ibu-ibu, jangan salah. Orang kota tidak buruk. Orang desa juga tidak sepenuhnya baik. Pikirkan, berapa banyak anak desa yang salah langkah. Berapa banyak pula anak kota yang punya jasa."
"Singkatnya, kesalahan itu bukan ada pada lingkungan. Tapi, pada diri orang itu sendiri."
"Istriku memang datang dari kota. Tapi dia tidak seburuk yang kalian kira. Malahan, dia lebih istimewa dari pada aku dalam segala hal. Tuturnya baik, pergaulannya tidak pernah menyinggung orang lain. Dan, dia adalah yang terbaik bagi aku."
Bayu berucap panjang lebar menjelaskan segalanya pada orang-orang tersebut. Pria itu benar-benar melindungi istrinya dengan sekuat tenaga. Sungguh, pembelaan itu adalah perlindungan yang sangat membahagiakan hati Rin.
Kebetulan, Rin mendengarkan pembelaan itu dengan sangat jelas. Beberapa saat yang lalu, Rin ingin ke warung untuk membelikan beberapa bumbu dapur yang sudah habis. Saat itulah, dia mendengar percakapan Bayu dengan beberapa ibu-ibu di sana.
Langkah kaki Rin terhenti. Matanya menatap ke punggung Bayu dengan tatapan penuh haru. Dia di bela dengan sangat nyata. Untuk pertama kalinya, ada yang membela Rin tanpa di minta. Tidak pula untuk mencari muka. Sebaliknya, membela dengan setulus hati.
"Bayu." Tanpa terasa, bibir Rin memanggil nama sang suami dengan nada lembut.
Jantung Bayu tiba-tiba berdetak sedikit lebih cepat. Pria itu tidak menjawab, tapi langsung menoleh secara perlahan. Mata keduanya langsung bertemu.
"Rin."
"Bayu. Ayo pulang!"
Bayu berjalan cepat mendekati istrinya. Buliran bening jatuh perlahan melintasi pipi Rin. Sigap, tangan kekar itu menghapusnya dengan lembut.
"Iya. Ayo pulang, Rin."