Setelah diselamatkan dari penculikan maut oleh Pratama, seorang penjual soto sederhana, Luna justru terjebak fitnah warga yang memaksa mereka menikah. Situasi kian pelik karena Pratama masih terikat pernikahan dengan Juwita, istri materialistis yang tanpa ragu "menjual" suaminya seharga Rp50 juta sebagai syarat cerai.
Demi menolong pria yang telah menyelamatkan nyawanya, Luna membayar mahar tersebut dan memilih menyembunyikan identitas aslinya sebagai putri tunggal seorang CEO kaya raya. Ia rela hidup dalam kesederhanaan dan mengaku hanya sebagai guru TK biasa. Di tengah rasa bersalah Pratama yang berjanji akan bekerja keras membalas kebaikannya, ia tidak menyadari bahwa istri barunya memiliki kuasa untuk membalikkan nasib mereka dalam sekejap mata.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon my name si phoo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 17
Pagi itu, udara masih sangat dingin. Pratama sudah bersiap dengan gerobaknya.
Sebelum melangkah keluar, ia menyempatkan diri mengirim pesan singkat pada istrinya, sebuah kebiasaan kecil yang menjadi penyemangatnya.
"Dik, Mas berangkat dulu. Assalamualaikum. Sehat-sehat di sana ya."
Di Bandung, Luna masih terlelap karena kelelahan setelah rapat maraton hingga larut malam.
Ponselnya tergeletak di meja nakas dalam mode getar, tak terdengar saat pesan suaminya masuk.
Pratama mendorong gerobaknya dengan semangat menuju ruko di depan rumah sakit. Namun, suasana pagi yang tenang itu pecah seketika.
Saat ia baru saja akan membuka pintu ruko, tiga orang pria bertubuh besar dengan masker hitam tiba-tiba muncul dari balik tembok.
Bugh!
Satu pukulan mentah mendarat di rahang Pratama.
Bugh!
Satu tendangan keras mengenai perutnya hingga ia tersungkur menabrak gerobak sotonya sendiri.
"Siapa kalian?! Apa mau kalian?!" teriak Pratama menahan perih.
Melihat para preman itu mulai mengeluarkan balok kayu untuk menghancurkan gerobak dan rukonya, insting melindungi miliknya bangkit.
Ia berdiri dan membalas serangan itu dengan sisa tenaganya.
Ia berhasil memukul mundur salah satu preman, namun jumlah mereka yang lebih banyak membuatnya terdesak.
Beruntung, suara gaduh itu terdengar oleh satpam rumah sakit yang sedang berpatroli.
"Woi! Berhenti! Polisi!" teriak satpam sambil berlari membawa pentungan.
Melihat bantuan datang, para preman itu panik dan segera melarikan diri menggunakan motor tanpa nomor polisi.
Ruko dan gerobak Pratama selamat, tapi tidak dengan pemiliknya.
"Ayo Pak, kita ke IGD dulu. Bapak terluka parah ini!" ucap satpam itu panik melihat darah mengalir dari pelipis Pratama.
Pratama mencoba berdiri, namun pandangannya mengabur.
Dunia seolah berputar dan detik berikutnya, ia langsung jatuh pingsan di pelukan sang satpam.
Orang-orang di sekitar ruko segera membopong tubuh kurus itu masuk ke ruang unit gawat darurat.
Sementara itu di hotel dimana ponsel Luna berdering nyaring. Bukan pesan dari Pratama, melainkan sebuah panggilan dari nomor asing.
Dengan nyawa yang belum terkumpul sepenuhnya, Luna mengangkat telepon itu.
"Halo?" suara Luna serak khas orang bangun tidur.
"Selamat pagi, apakah ini benar dengan Ibu Luna? Istri dari Bapak Pratama?" tanya seorang petugas medis terdengar di seberang sana.
Luna seketika terduduk tegak. Jantungnya berdegup kencang.
"I-iya, saya sendiri. Ada apa dengan suami saya?"
"Ibu, Pak Pratama sedang berada di IGD Rumah Sakit Medika. Beliau menjadi korban pengeroyokan di depan rukonya. Kondisinya saat ini sedang ditangani dokter karena sempat tidak sadarkan diri."
Wajah Luna seketika pucat pasi dengan air mata langsung luruh tanpa bisa dibendung.
"APA?! I-IYA, SAYA SEGERA PULANG!"
Luna melempar ponselnya dan berteriak memanggil Arini di kamar sebelah.
Arini membuka pintu dan melihat Luna yang ketakutan.
"Kita pulang sekarang, Arini. Ada yang mengeroyok Mas Pratama."
Arini menganggukkan kepalanya sambil membantu Luna.
Ia tidak peduli lagi dengan citra CEO atau rapat lanjutan. Di kepalanya hanya ada satu nama yaitu Pratama.
Mobil Alphard hitam itu membelah jalanan tol Bandung-Jakarta dengan kecepatan tinggi.
Sopir pribadi Luna terus menekan pedal gas, berusaha mengejar waktu seolah setiap detik adalah nyawa bagi suami atasannya.
Di kursi belakang, suasana begitu mencekam, hanya terdengar suara isak tangis yang memilukan.
Luna menutup wajahnya dengan kedua tangannya sampai membuat tubuhnya bergetar hebat.
Bayangan Pratama yang tersenyum lembut saat memberikan uang saku kemarin kini berganti dengan bayangan suaminya yang terkapar bersimbah darah.
"Siapa yang tega melakukan ini, Arini? Siapa?!" tangis Luna pecah.
"Mas Pratama orang yang sangat baik. Dia tidak punya musuh. Dia hanya penjual soto yang jujur. Kenapa ada orang yang sejahat itu?"
Arini, yang juga merasa sedih melihat kondisi bosnya, mencoba tetap tenang.
Ia mengambil sebuah tumbler berisi susu coklat hangat yang selalu ia siapkan dan menyodorkannya pada Luna.
"Tenang dulu, Bu. Ibu harus kuat untuk Pak Pratama. Kalau Ibu panik seperti ini, nanti siapa yang akan mengurus semuanya di sana?" ucap Arini lembut, mencoba menenangkan.
"Minum ini dulu sedikit, Bu, supaya Ibu tidak lemas."
Luna menerima gelas itu dengan tangan gemetar, namun ia tidak sanggup meminumnya. Namun, di tengah tangisnya, sebuah kilatan amarah mulai muncul di matanya.
"Noah atau Dirga?" gumam Luna pelan. Suaranya kini terdengar bergetar karena dendam.
"Jika sampai salah satu dari mereka yang melakukan ini, aku bersumpah akan menghancurkan hidup mereka sampai tidak ada yang tersisa."
Arini hanya bisa terdiam melihat sisi gelap Luna yang mulai bangkit.
Ia segera mengirim pesan singkat kepada tim keamanan Jati Grup di Jakarta.
"Lacak kejadian pengeroyokan di depan RS Medika pagi ini. Cari rekaman CCTV di sekitar lokasi segera!"
Mobil terus melaju kencang, meninggalkan kota Bandung di belakang.
Luna menatap ke luar jendela dengan tatapan kosong, meremas erat uang tiga ratus ribu pemberian Pratama yang masih tersimpan di saku jasnya.
"Tunggu aku, Mas. Aku akan datang dan tidak akan ada lagi yang berani menyentuhmu," bisik Luna dalam hati.
Luna segera melepas jas mewahnya dan menggantinya dengan kemeja sederhana serta.
Ia harus kembali menjadi "Guru Luna" sebelum melangkah masuk ke area rumah sakit.
"Arini, cari orang terpercaya untuk menggantikan Mas Pratama jualan soto sementara waktu. Pastikan gerobak dan rukonya dibersihkan. Aku tidak ingin Mas Pratama kepikiran soal dagangannya saat dia sadar nanti," perintah Luna dengan nada rendah namun penuh penekanan.
Arini mengangguk patuh. "Baik, Bu. Saya segera atur semuanya."
Dengan langkah terburu-buru dan jantung yang berdegup kencang, Luna melangkah masuk ke ruang UGD.
,Bau antiseptik yang menyengat menyambutnya, namun matanya hanya fokus mencari satu sosok.
Di sebuah ranjang dengan tirai setengah terbuka, ia menemukan suaminya.
Luna terpaku. Air matanya kembali luruh saat melihat Pratama terbaring lemah dengan mata terpejam rapat akibat pengaruh obat pereda nyeri.
Wajah yang biasanya selalu tersenyum teduh itu kini dipenuhi memar biru di bagian rahang dan pelipis.
Ada perban yang melingkari kepalanya, dan sudut bibirnya pecah.
Luna duduk di kursi samping ranjang, perlahan meraih tangan suaminya yang kasar karena kerja keras, lalu menciumnya dengan penuh isak tangis.
"Maafkan aku, Mas. Maafkan aku yang tidak ada di sampingmu saat ini," bisik Luna lirih.
Ia mengusap pelan pipi Pratama yang memar dengan ujung jarinya.
Rasa sedihnya perlahan berubah menjadi amarah yang dingin.
Di dalam hatinya, ia berjanji bahwa siapa pun yang telah menyentuh suaminya hingga seperti ini, mereka akan membayar harganya dengan sangat mahal.
Luna Jati tidak akan tinggal diam melihat suaminya dianiaya.
Kelopak mata Pratama bergerak perlahan, terasa sangat berat seolah ada beban yang menahan.
Bau obat-obatan yang menusuk dan suara bising samar dari mesin monitor perlahan membawa kesadarannya kembali.
Saat pandangannya mulai fokus, hal pertama yang ia lihat adalah wajah cantik istrinya yang sembap dan mata yang memerah karena tangis.
"A-apakah, aku sedang bermimpi?" suara Pratama terdengar parau, hampir seperti bisikan.
Ia mencoba menggerakkan tangannya yang terasa kaku untuk menyentuh wajah Luna, memastikan bahwa ini bukan sekadar halusinasi akibat rasa sakit.
Luna segera menggenggam tangan suaminya dengan erat, seolah takut jika ia melepaskannya, Pratama akan menghilang. Ia menciumi jemari Pratama berkali-kali.
"Mas, ini aku. Ini Luna, Mas. Mas tidak sedang bermimpi," ucap Luna dengan suara bergetar, mencoba memberikan senyum paling menenangkan meskipun hatinya hancur melihat kondisi suaminya.
Pratama meringis sedikit saat mencoba mengubah posisi kepalanya.
"Dik, bukankah kamu sedang di Bandung? Kenapa sudah ada di sini? Pelatihannya bagaimana?"
Luna tertegun sejenak saat mendengar perkataan dari suaminya.
Bahkan dalam kondisi penuh luka seperti ini, Pratama masih mengkhawatirkan pekerjaan istrinya.
Rasa bersalah kembali menusuk Luna, namun ia segera menenangkan diri.
"Pelatihannya sudah selesai, Mas. Tadi aku langsung pulang begitu mendengar Mas masuk rumah sakit," bohong Luna demi menenangkan pikiran suaminya.
"Mas jangan banyak bicara dulu ya, Mas butuh istirahat. Siapa yang jahat sekali melakukan ini pada Mas?"
Pratama mencoba mengingat kejadian pagi tadi. Ingatannya samar tentang pria-pria bermasker itu.
"Mas juga tidak tahu, Dik. Tiba-tiba saja mereka datang. Mas merasa tidak punya musuh..."
Pratama menatap Luna dalam-dalam, ada rasa aman yang menyelinap di hatinya melihat sang istri ada di sampingnya. Namun, ia tidak tahu bahwa di balik hijab dan penampilan sederhana Luna, istrinya baru saja memerintahkan tim keamanan untuk melakukan perburuan besar-besaran terhadap para pelaku.