Di khianati tunangan sampah, eh malah dapat pamannya yang tampan perkasa!
Cerita berawal dari Mayra andini kusumo yang mengetahui jika calon suaminya Arman, berselingkuh dengan kakak tirinya sendiri.
Di hari pernikahannya mayra mengajak Dev-- paman dari Arman untuk menikah dengan nya, yang kebetulan menjadi tamu di pernikahan keponakannya. Dan mayra juga membongkar perselingkuhan arman dan Zakia yang di lakukan di belakangnya selama ini.
Cerita tidak sampai di situ, setelah menikah dengan Dev, Mayra jadi tahu sisi lain dari pria dingin itu.
Dapatkan mayra meluluhkan hati Dev yang sekeras batu?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Jeju Oranye, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Valerie meminta bertemu dengan Dev
Sementara itu, di sisi lain kota, Dev mengalami pesta bujangan versinya sendiri.
Marco membawanya ke ruang cerutu eksklusif di kawasan Kuningan, tempat yang tenang dan canggih dengan interior kayu gelap dan pencahayaan yang redup.
Di sana sudah menunggu beberapa teman dekat Dev. Ada Rendra dan Fajar, dua rekan bisnis yang sudah menjadi teman baiknya selama bertahun-tahun ini, plus Vian, sepupu Dev dari pihak ibu yang masih menjaga hubungan baik dengannya.
"Dev! Akhirnya!" sapa Rendra sambil berdiri untuk bersalaman. "Selamat untuk pernikahan yang akan datang. Atau haruskah aku bilang pernikahan kedua?" guyonnya.
Dev tertawa sambil duduk di sofa kulit yang empuk. "Pernikahan yang sebenarnya, lebih tepatnya."
"Aku masih tidak percaya cerita kamu," kata Fajar sambil menyalakan cerutu. "Menikah sebagai kontrak balas dendam, lalu jatuh cinta beneran. Ini seperti alur sinetron."
"Tapi ini nyata. Dan aku tidak mengubah apapun," kata Dev sambil menerima segelas wiski dari pelayan. "Murni kisah nyata. " imbuhnya.
"Jelas terlihat," komentar Vian sambil menatap sepupunya. "Kamu berubah total, Dev. Dulu kamu seperti robot, semua duniamu tentang bisnis, tidak ada emosi. Sekarang kamu bahkan tersenyum lebih sering."
"Mayra membuat aku ingat bagaimana rasanya hidup, bukan hanya bertahan hidup," kata Dev dengan jujur.
Marco, yang duduk di samping Dev, tersenyum. "Aku sudah bilang kan? Mayra itu spesial."
Lalu mereka menghabiskan beberapa jam berbincang tentang berbagai hal, bisnis, kehidupan, pernikahan, masa depan. Tidak ada kegilaan atau hal-hal berlebihan, hanya waktu berkualitas dengan teman-teman terdekat.
"Jadi Dev," mulai Rendra setelah beberapa gelas wiski. "Apa rencana setelah pernikahan? Bulan madu kemana?"
"Maladewa. Dua minggu di resor pulau pribadi. Mayra sudah sangat bersemangat sejak aku menyebutkan rencana itu," jawab Dev.
"Romantis sekali," goda Fajar. "Siapa sangka Dev Armando yang dingin bisa seromantis ini."
"Untuk orang yang tepat, semua orang bisa romantis," jawab Dev dengan santai.
"Kata-kata bijak," ujar Vian sambil mengangkat gelasnya. "Bersulang untuk Dev dan Mayra. Semoga pernikahan kalian penuh dengan cinta, tawa, dan kebahagiaan."
"Bersulang," kata mereka semua sambil minum.
Sekitar pukul sepuluh malam, mereka pindah ke restoran steik untuk makan malam. Pembicaraan berlanjut dengan lebih santai, sesekali diselingi tawa dan lelucon.
"Kamu gugup untuk hari pernikahan?" tanya Marco sambil memotong steiknya.
"Sedikit," jawab Dev jujur. "Bukan karena ragu, tapi karena aku ingin semuanya sempurna untuk Mayra. Dia pantas mendapat yang terbaik."
"Dari semua yang sudah kalian persiapkan, aku yakin akan sempurna," kata Marco dengan yakin. "Dan yang terpenting, kalian berdua saling mencintai. Itu yang paling penting."
Dev tersenyum. "Kamu benar. Selama Mayra di sisiku, apapun yang terjadi, aku akan baik-baik saja."
***
Pukul sebelas malam, Dev dan Mayra akhirnya kembali ke penthouse masing-masing dari pesta bujangan mereka.
Mereka bertemu di ruang tamu, keduanya terlihat lelah tapi bahagia.
"Bagaimana hari kamu?" tanya Dev sambil menarik Mayra ke dalam pelukannya.
"Luar biasa. Dina dan teman-teman benar-benar memanjakan aku. Spa, makan siang, foto-foto, makan malam. Aku merasa sangat dicintai," jawab Mayra sambil bersandar di dada Dev.
"Kamu memang dicintai. Oleh banyak orang. Terutama oleh aku," kata Dev sambil mengecup puncak kepala Mayra.
"Bagaimana dengan kamu? Ruang cerutunya bagaimana?" tanya Mayra.
"Tenang dan menyenangkan. Waktu berkualitas dengan teman-teman. Banyak pembicaraan tentang betapa beruntungnya aku mendapatkan kamu," kata Dev.
Mayra mengangkat kepalanya untuk menatap Dev. "Aku yang beruntung mendapatkan kamu."
"Kita berdua beruntung," kata Dev sebelum mencium Mayra dengan lembut.
Mereka menghabiskan sisa malam itu meringkuk di sofa, berbagi cerita tentang hari mereka, tertawa tentang hal-hal lucu yang terjadi, dan merasakan rasa syukur untuk kehidupan yang mereka bangun bersama.
Dua minggu lagi menuju pernikahan yang sebenarnya.
Dan keduanya tidak sabar untuk hari itu tiba.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Pagi itu, Mayra sedang duduk di kantornya, menyelesaikan proposal untuk klien baru, saat resepsionis menelepon.
"Nona Mayra, ada seseorang yang ingin bertemu dengan Anda. Namanya Nyonya Valerie Sutanto. Dia bilang ini mendesak," kata resepsionis dengan suara ragu.
Mayra membeku. Valerie. Mantan tunangan Dev yang meninggalkannya sepuluh tahun lalu. Ada apa tiba-tiba wanita itu ingin menemuinya?
"Tolong katakan padanya aku sedang sibuk dan tidak bisa bertemu," jawab Mayra dengan tegas.
"Saya sudah bilang begitu, Nona. Tapi dia bilang dia akan tetap menunggu di lobi sampai Anda bersedia bertemu. Dia terlihat putus asa," jelas resepsionis.
Mayra menghela napas panjang. Dia bisa saja tetap menolak dan membiarkan Valerie menunggu sia-sia. Tapi sisi lain dari dirinya penasaran, apa yang wanita ini mau?
"Baiklah. Tapi hanya lima belas menit. Bawa dia ke ruang rapat kecil," kata Mayra akhirnya.
Beberapa menit kemudian, Mayra sudah duduk di ruang rapat berhadapan dengan Valerie.
Wanita yang dulu terlihat sempurna dengan riasan dan pakaian mahal kini terlihat berantakan. Riasan tidak rapi, mata sembab, bahkan tas desainernya terlihat kusam. Ini bukan Valerie yang pernah Mayra lihat sebelumnya.
"Terima kasih sudah mau bertemu," kata Valerie dengan suara serak. "Aku tahu kamu pasti membenciku."
"Aku tidak membencimu," jawab Mayra dengan tenang. "Aku bahkan tidak kenal kamu. Tapi aku tahu apa yang kamu lakukan pada Dev sepuluh tahun lalu, dan aku tahu kamu sudah mencoba mengganggu kami beberapa kali. Jadi ya, aku tidak suka kamu."
Valerie meringis mendengar kejujuran Mayra. "Aku pantas mendapat itu."
"Apa yang kamu mau, Valerie? Aku sibuk dan waktuku terbatas," kata Mayra langsung pada intinya.
Valerie menarik napas dalam sebelum bicara. "Aku dengar kamu dan Dev akan menikah lagi. Upacara yang sebenarnya kali ini. Dan aku datang untuk meminta maaf. Dan memohon."
"Memohon apa?" tanya Mayra dengan waspada.
"Memohon untuk satu kesempatan terakhir bertemu Dev. Untuk bilang semua yang perlu aku bilang. Untuk closure yang benar," jawab Valerie dengan mata berkaca-kaca.
Mayra menatap wanita di hadapannya dengan hati-hati. "Dev sudah jelas menolak semua usahamu untuk bertemu. Dia sudah melanjutkan hidup. Kenapa aku harus mengabulkan permintaanmu?"
"Karena aku tahu kamu wanita yang baik," kata Valerie dengan putus asa. "Aku sudah mencari tahu tentang kamu. Kamu bahkan bersedia mengunjungi mantan tunanganmu yang mencoba bunuh diri untuk memberikan closure. Kamu punya hati yang besar. Dan aku mohon gunakan hati itu untuk membantuku juga."
Mayra terdiam. Valerie benar. Mayra memang sudah membantu memberikan closure untuk Arman, meskipun itu sulit. Tapi situasi ini berbeda.
"Valerie, aku tidak bisa membuat keputusan ini sendirian. Ini soal Dev. Hidupnya. Masa lalunya. Kalau dia tidak mau bertemu denganmu, aku tidak akan memaksanya," kata Mayra dengan tegas.
"Aku mengerti. Tapi bisakah kamu tanyakan padanya? Setidaknya sampaikan permintaanku?" pinta Valerie dengan putus asa.
Mayra menatap jam di dinding. Lima belas menit sudah habis.
"Aku akan bicarakan dengan Dev. Tapi aku tidak menjanjikan apapun. Keputusan ada di tangannya sepenuhnya," kata Mayra sambil berdiri, menandakan pertemuan selesai.
"Terima kasih. Terima kasih banyak," kata Valerie sambil berdiri juga. Dia mengeluarkan kartu nama dari tasnya. "Ini nomorku. Kalau Dev bersedia bertemu, tolong hubungi aku."
Mayra menerima kartu itu dengan ragu, lalu mengantar Valerie keluar dari ruang rapat.
Setelah Valerie pergi, Mayra kembali ke kantornya dengan kepala pusing. Haruskah dia memberitahu Dev tentang kunjungan ini? Atau haruskah dia diamkan saja?
Tapi Mayra tahu, dalam pernikahan mereka, tidak ada rahasia. Keterbukaan adalah fondasi yang mereka bangun.
Jadi dia mengambil ponselnya dan mengetik pesan untuk Dev.
******
BERSAMBUNG
pembelajaran juga .. komunikasi yg baik adalah solusi dr setiap masalah yg datang.
👍👍
menunggu mu update lagi