NovelToon NovelToon
Membuang Tunangan Sampah, Ku Nikahi Pamannya

Membuang Tunangan Sampah, Ku Nikahi Pamannya

Status: sedang berlangsung
Genre:Beda Usia / Pernikahan Kilat / Pengantin Pengganti / Nikah Kontrak
Popularitas:5.3k
Nilai: 5
Nama Author: Jeju Oranye

Di khianati tunangan sampah, eh malah dapat pamannya yang tampan perkasa!

Cerita berawal dari Mayra andini kusumo yang mengetahui jika calon suaminya Arman, berselingkuh dengan kakak tirinya sendiri.

Di hari pernikahannya mayra mengajak Dev-- paman dari Arman untuk menikah dengan nya, yang kebetulan menjadi tamu di pernikahan keponakannya. Dan mayra juga membongkar perselingkuhan arman dan Zakia yang di lakukan di belakangnya selama ini.


Cerita tidak sampai di situ, setelah menikah dengan Dev, Mayra jadi tahu sisi lain dari pria dingin itu.

Dapatkan mayra meluluhkan hati Dev yang sekeras batu?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Jeju Oranye, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

MENCARI GAUN BERSAMA

Malamnya, Mayra dan Dev duduk di sofa dengan laptop, mereview semua yang sudah diputuskan minggu ini. Di meja kopi di depan mereka ada dua cangkir teh hangat yang sudah mulai dingin, terabai karena mereka terlalu fokus.

"Tempat, sudah. Perencana pernikahan, sudah. Toko bunga, sudah. Katering, sudah. Fotografer, sudah. Band, Karina bilang sudah selesai. Kue, aku akan konfirmasi dengan temanku besok," Mayra menyebutkan satu per satu sambil mencentang di tabel yang ia buat di laptop.

"Kamu dan tabel-tabelmu," goda Dev dengan sayang, tersenyum melihat betapa terorganisirnya istrinya.

"Hei, organisasi adalah kunci untuk acara yang sukses," bela Mayra sambil melirik Dev dengan mata menyipit yang lucu. "Dan ini acara paling penting dalam hidup kita. Yah, yang paling penting kedua setelah yang pertama bulan lalu di kantor catatan sipil. Tapi yang ini akan jadi perayaan yang sesungguhnya."

Dev tertawa, suara lembutnya menghangatkan hati Mayra. "Benar juga. Oke, apa lagi yang perlu kita tangani?"

"Undangan. Kita perlu desain dan cetak kartu undangan," Mayra menggeser layar laptopnya. "Karina sudah merekomendasikan beberapa desainer alat tulis. Aku akan review portofolio mereka besok. Aku mau undangannya sederhana tapi elegan, tidak terlalu ramai."

"Dan aku perlu menyelesaikan daftar tamu dari pihakku," Dev menarik napas panjang. "Marco sudah jelas, beberapa rekan bisnis yang juga teman dekat, dan... aku sudah putuskan untuk mengundang Hendra."

Mayra menatap Dev dengan terkejut, alisnya terangkat tinggi. "Kamu yakin? Maksudku, setelah semua yang terjadi..."

"Aku yakin." Dev mengangguk mantap meskipun ada keraguan kecil di matanya. "Dia menghubungiku beberapa kali minggu ini, benar-benar terlihat menyesal. Dan meskipun hubungan kami rusak, dia tetap kakak kandungku. Darah daging yang sama. Aku rasa dia pantas dapat kesempatan kedua, setidaknya untuk hadir di pernikahan. Lagipula, ini hari bahagia. Aku tidak mau menyimpan dendam di hari seperti itu."

Mayra menggenggam tangan Dev dengan mendukung, memahami betapa sulitnya keputusan ini untuk suaminya. "Kalau itu yang kamu mau, aku sepenuhnya mendukung. Kamu tahu aku akan selalu di sampingmu."

"Terima kasih," Dev mengecup tangan Mayra dengan penuh kasih. "Tapi Puspita dan Arman tetap tidak diundang. Itu tidak bisa ditawar. Mereka sudah melewati batas dan aku tidak akan membiarkan mereka merusak hari kita."

"Dimengerti dan disetujui," Mayra mengangguk tegas. "Bahkan kalau kamu mengundang mereka pun aku akan protes keras."

Mereka melanjutkan perencanaan sampai larut malam, tapi tidak terasa melelahkan sama sekali. Justru sebaliknya, mereka menikmati setiap detiknya. Karena ini bukan sekadar perencanaan acara biasa. Ini adalah perencanaan untuk hari yang akan merayakan cinta mereka yang tulus dan nyata.

Dan setiap detail, setiap keputusan kecil, membuat hari itu semakin nyata.

Semakin dekat.

Dan Mayra tidak sabar untuk hari itu tiba. Hari di mana ia akan berdiri di hadapan orang-orang yang mereka cintai dan menyatakan cintanya pada Dev dengan resmi. Bukan di kantor catatan sipil yang dingin dan kaku, tapi di taman yang indah dengan suasana yang penuh cinta.

Hari di mana mereka akan memulai babak baru kehidupan mereka dengan cara yang benar.

...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...

Pagi itu datang dengan cerah, Mayra berdiri di depan cermin kamar mandi dengan perasaan campur aduk antara bersemangat dan gugup.

Hari ini dia akan mencari gaun pengantin, yang kedua kalinya, tapi kali ini dengan perasaan yang sangat berbeda.

Kali pertama, dia mencari gaun untuk menikah dengan Arman, dengan hati yang penuh harapan tapi juga keraguan yang tidak dia sadari. Dan pernikahan itu berakhir dengan skandal yang menghancurkan.

Kali ini, dia mencari gaun untuk menikah dengan Dev, lagi, tapi dengan cinta yang tulus dan masa depan yang jelas.

"Kamu siap?" tanya Dev yang muncul di belakangnya, sudah berpakaian rapi dengan kemeja putih dan celana jeans.

"Lebih dari siap," jawab Mayra sambil tersenyum. "Kamu yakin mau ikut? Bukankah ini membawa sial kalau calon pengantin pria lihat gaun sebelum hari pernikahan?"

Dev memutar Mayra untuk menghadap dia, tangannya di pinggang Mayra. "Kita secara teknis sudah menikah. Dan aku bukan tipe yang percaya tahayul. Lagipula, aku mau ada saat kamu menemukan gaun yang sempurna. Aku mau lihat matamu berbinar saat kamu tahu 'ini dia'."

Mayra merasakan dadanya hangat. "Kamu romantis sekali hari ini."

"Aku selalu romantis untukmu," goda Dev sebelum mencium kening Mayra. "Sekarang ayo, Dina dan Papa sudah menunggu di bawah."

"Tunggu, Papa ikut juga?" tanya Mayra terkejut.

"Aku yang mengundangnya. Aku pikir dia akan senang terlibat dalam momen penting ini," jelas Dev.

Mayra merasakan matanya berkaca-kaca. "Dev... terima kasih. Kamu selalu tahu bagaimana membuatku bahagia."

***

Di lobi, Bambang dan Dina sudah menunggu dengan bersemangat.

"Sayang!" Bambang memeluk putrinya dengan erat. "Papa senang sekali bisa ikut hari ini."

"Aku juga senang Papa bisa ikut," kata Mayra sambil membalas pelukan.

"Dan aku?" protes Dina dengan tangan di pinggang tapi senyum lebar di wajah. "Aku kan yang paling bersemangat dari semua orang di sini!"

Mayra tertawa dan memeluk sahabatnya. "Tentu saja kamu yang paling bersemangat, Din. Kamu kan sudah menunggu momen ini sejak aku cerita tentang Dev."

Mereka berempat berangkat ke butik pengantin yang sudah Mayra pesan, Maison de la Mariée, butik eksklusif yang spesialis dalam gaun pengantin custom dan siap pakai dengan desain yang abadi dan elegan.

Sesampainya di butik, mereka disambut oleh Madame Elise, pemilik sekaligus kepala desainer, seorang wanita Prancis berusia lima puluhan dengan selera yang sempurna.

"Bonjour, Mademoiselle Mayra," sapa Madame Elise dengan aksen Prancis yang kental. "Selamat datang. Saya sudah siapkan beberapa gaun berdasarkan preferensi yang Anda bagikan via email. Silakan, mari kita mulai."

Mayra dibawa ke ruang ganti yang luas dan mewah, dengan cermin besar tiga sisi, sofa nyaman untuk Dev, Dina, dan Papa, serta pencahayaan yang sempurna.

"Oke, jadi dari yang Anda jelaskan, pernikahan taman, romantis tapi modern, tidak terlalu berat, saya sudah pilih lima gaun yang menurut saya cocok," jelas Madame Elise sambil menunjuk ke rak dengan gaun-gaun yang sudah tergantung rapi.

Gaun pertama adalah A-line dengan korset renda yang rumit dan rok tulle yang mengembang lembut. Cantik, tapi saat Mayra pakai, rasanya terlalu seperti putri.

"Terlalu banyak tulle," komentar Mayra sambil berputar di depan cermin. "Aku merasa seperti Cinderella, tapi untuk pernikahan taman ini terlalu berlebihan."

"Setuju," kata Dina. "Kamu butuh sesuatu yang lebih... alami"

Gaun kedua adalah gaun ramping dengan lapisan renda dan punggung ilusi. Elegan dan seksi, tapi terasa terlalu sederhana.

"Cantik, tapi aku merasa kurang ada efek wownya," kata Mayra dengan ragu.

Bambang yang duduk di sofa sambil menahan air mata, setiap gaun membuat dia emosional, mengangguk. "Coba yang lain dulu, sayang. Papa yakin ada yang lebih cocok."

Gaun ketiga membuat Mayra terdiam saat melihat pantulannya di cermin.

Ini adalah A-line yang dimodifikasi dengan korset yang pas, detail renda yang halus tapi memukau, sabrina dengan lengan panjang dari renda yang lembut, dan rok yang mengalir dengan jumlah volume yang sempurna. Ada lapisan organza yang membuat gerakan gaun sangat romantis, dan punggungnya terbuka dengan kancing-kancing kecil yang turun sampai ke pinggang.

"Oh," bisik Mayra sambil menyentuh gaun dengan hati-hati.

Madame Elise tersenyum. "Ini salah satu desain favorit saya. Kombinasi klasik dan modern. Romantis tapi canggih."

Mayra berputar perlahan, melihat gaun dari berbagai sudut. Kalau dipikir memang benar.

"Mayra..." suara Dina bergetar. "Kamu terlihat sangat memukau."

Mayra menatap pantulan sahabatnya di cermin. Dina sudah menangis.

"Din, jangan nangis dulu dong. Masih ada dua gaun lagi yang harus dicoba," kata Mayra sambil tertawa, tapi matanya juga mulai berkaca-kaca.

"Aku tahu. Tapi kamu terlihat seperti pengantin yang sebenarnya sekarang. Bukan seperti dulu yang... yang tertekan dan dipaksakan. Sekarang kamu bersinar, bahagia, dan gaun ini sempurna untukmu," kata Dina sambil menghapus air matanya.

Mayra menatap Dev yang duduk dengan sangat diam, hanya menatap Mayra dengan tatapan yang intens.

"Dev? Pendapatmu?" tanya Mayra dengan gugup.

Dev berdiri dan berjalan mendekat, berhenti tepat di belakang Mayra sehingga mereka berdua terlihat di cermin.

"Kamu terlihat..." suara Dev sedikit serak. "Kamu terlihat seperti mimpi yang jadi kenyataan. Seperti persis bagaimana aku bayangkan kamu akan terlihat saat berjalan menujuku di altar."

Mayra berbalik untuk menghadap Dev langsung, dan dia melihat ada emosi yang sangat dalam di mata suaminya.

"Baiklah,jadi yang ini?" tanya Mayra dengan pelan.

"Yap," jawab Dev dengan yakin.

"Papa?" Mayra menatap ayahnya yang sudah menangis terisak.

Bambang berdiri dan berjalan menghampiri putrinya, memeluknya dengan hati-hati supaya tidak merusak gaun.

"Kamu cantik sekali, sayang. Cantik sekali. Mama pasti akan sangat bangga melihatmu," bisik Bambang dengan suara bergetar, merujuk pada almarhumah ibu Mayra.

Dan itu yang membuat Mayra akhirnya menangis juga. "Aku juga merindukan Mama, Pa. Aku berharap dia bisa ada di sini."

"Dia ada di sini, sayang. Di hatimu. Selalu," kata Bambang sambil mengecup kening putrinya.

Madame Elise yang menyaksikan momen mengharukan ini dengan lembut berkata, "Apakah Mademoiselle ingin mencoba dua gaun yang lain, atau sudah memutuskan?"

Mayra menatap pantulannya sekali lagi di cermin, gaun yang sempurna, dikelilingi oleh orang-orang yang dia cintai, dengan Dev berdiri di belakangnya sebagai penyangga.

"Aku sudah memutuskan. Ini gaun-nya," kata Mayra dengan yakin sambil tersenyum dengan mata dipenuhi krystal bening.

*****

BERSAMBUNG

1
arniya
mampir kak
Siti Maryati
enak alur ceritanya
Siti Maryati
👏👏👏👏
Ryn
lanjut thourr
Siti Maryati
aku juga siap .....
menunggu mu update lagi
Siti Maryati
Doble triple ya up nya
olyv
lanjut....
Siti Maryati
seru
Siti Maryati
ditunggu up nya ya
astr.id_est 🌻
😄😄 wahh karya baru lagi thor semangat terus ya
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!