NovelToon NovelToon
Di Balik Darah Yang Kucinta

Di Balik Darah Yang Kucinta

Status: sedang berlangsung
Genre:Zombie / Misteri Kasus yang Tak Terpecahkan / Sci-Fi
Popularitas:220
Nilai: 5
Nama Author: Phida Lee

Axel Bahng adalah dokter jenius yang percaya bahwa semua racun memiliki penawar — hingga satu kesalahan kecil mengubah cinta dalam hidupnya menjadi mimpi buruk yang tak bisa disembuhkan.

Tunangan yang paling ia cintai, Lusy Kim, tanpa sengaja meminum racikan eksperimen ilegal buatannya. Sejak hari itu, tubuh Lusy tak lagi mengenali rasa lapar seperti manusia. Saat kelaparan menyerang, kesadarannya hilang, digantikan naluri brutal yang hanya bisa diredakan oleh darah.

Demi melindungi Lusy dari dunia — dan dunia dari Lusy — Axel menyekapnya dalam ruang rahasia di bawah rumahnya, mempertaruhkan karier, moral, dan kewarasannya sendiri. Ia mencuri darah dari rumah sakit, membohongi keluarga, dan melawan hukum, yakin bahwa cinta dan sains akan menemukan jalan keluar.

Namun seiring waktu, kebohongan runtuh satu per satu. Ketika kebenaran akhirnya terungkap, tak ada lagi yang bisa diselamatkan — bukan reputasi, bukan keluarga, bukan bahkan cinta itu sendiri.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Phida Lee, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 14

Suara gedoran yang masih terus berdentum di pintu kamar mandi terdengar jelas seperti irama yang brutal dan tak terhenti, namun bagi Axel, semua itu seolah-olah tidak ada sama sekali—ia telah tuli pada segala suara di luar pikirannya yang sedang berusaha dengan sekuat tenaga untuk memahami apa yang sebenarnya telah terjadi.

Dengan jemari yang sedingin es dan terus bergetar hebat karena ketakutan dan kelelahan yang luar biasa, ia berlutut pelan di lantai ruang makan yang tadinya selalu bersih dan rapi. Jari-jari tangannya bergerak dengan sangat kaku, setiap gerakan dibayangi oleh bayangan kengerian yang tak terlukiskan yang terus menghantui benaknya.

Ia menyeka sisa-sisa cairan kuning keemasan yang pernah menjadi jus mangga dan kini telah tercemar zat kimia itu yang tumpah dari gelas tadi menggunakan pipet steril yang diambil dari kotak alat kecil di atas meja makan. Setelah itu, ia dengan hati-hati memungut sedikit sampel muntahan Lusy yang tercecer di dekat kaki kursi yang telah bergeser tempat akibat pergulatan tadi.

"Axel! Jelaskan pada Ayah! Apa yang sebenarnya terjadi dengan Lusy?!" Wajah Doni menunjukkan ekspresi yang penuh dengan keraguan dan rasa sakit yang mendalam.

Axel tidak bisa menjawab pertanyaan ayahnya itu dengan langsung—bahkan ia tidak bisa membuka mulut untuk mengatakan sepatah kata pun. Ia hanya bisa mengangkat kepalanya sebentar untuk memberikan isyarat dengan mata agar ayahnya mengikuti langkahnya. Dengan langkah yang sangat gontai dan tidak stabil akibat kelelahan fisik dan emosional yang luar biasa besar, ia berdiri perlahan dari lantai, kemudian bergerak ke arah sebuah lukisan besar yang tergantung di dinding ruang makan—lukisan yang sebenarnya adalah penutup dari pintu lemari rahasia yang hanya diketahui oleh dirinya dan ayahnya saja.

Ia membuka pintu lemari itu dengan hati-hati, kemudian menuntun ayahnya untuk turun melalui tangga sempit yang mengarah ke laboratorium bawah tanah yang telah ia bangun dengan rahasia beberapa tahun yang lalu.

Cahaya neon berwarna putih kebiruan menyambut mereka begitu saja saat mereka memasuki ruangan yang jauh lebih dingin daripada suhu ruangan di atas tanah, menyinari deretan peralatan canggih yang biasanya ia gunakan untuk melakukan berbagai penelitian ilmiah namun kini terasa seperti seperangkat instrumen kematian yang telah menciptakan bencana yang tak terhindarkan.

Di dalam laboratorium yang telah ia rawat dengan sangat baik itu, keheningan yang sangat dalam hanya dipecah oleh dengung mesin sentrifugasi yang sedang bekerja dengan stabil di sudut ruangan. Axel dengan hati-hati meletakkan kedua sampel yang telah ia ambil tadi di atas preparat kaca yang bersih dan steril, kemudian menempelkan matanya pada lensa mikroskop elektron yang sangat mahal dan canggih yang ia gunakan untuk mengamati struktur sel yang sangat kecil.

Di sana, di dunia mikroskopis yang biasanya selalu teratur dan memiliki pola yang jelas sesuai dengan hukum biologi yang telah diketahui manusia, Axel melihat sebuah kekacauan yang sangat mengerikan dan benar-benar tidak bisa ia pahami sama sekali. Dunia yang seharusnya teratur dan aman itu kini telah berubah menjadi medan perang yang penuh dengan kekerasan dan kehancuran.

Sel-sel darah yang diambil dari sampel muntahan Lusy tidak lagi berbentuk cakram bikonkaf yang tenang dan stabil seperti sel darah manusia normal pada umumnya. Mereka tampak membengkak dengan bentuk yang tidak teratur, tepian bagian luar sel mereka bergerigi dengan tajam seperti mata pisau yang siap untuk menyerang, dan bergerak dengan kecepatan yang sungguhan menantang hukum biologi yang telah ia pelajari selama bertahun-tahun di sekolah dan universitas.

Sel-sel itu tidak hanya bergerak dengan cepat—mereka juga terus membelah diri dengan kecepatan yang luar biasa besar, mengalami mutasi yang sangat cepat dan tidak terkendali, kemudian dengan sangat ganas memangsa sel-sel sehat yang ada di sekitarnya seperti predator yang sedang mengejar mangsanya.

Apa yang ia lihat di bawah lensa mikroskop itu bukan lagi sekadar reaksi kimia yang terjadi secara tidak normal dalam tubuh manusia—itu adalah sebuah invasi seluler yang sedang berlangsung dengan sangat cepat dan terus merombak ulang struktur biologis inangnya tanpa ada batasan apa pun. Setiap detik yang berlalu membuat sel-sel itu semakin banyak dan semakin ganas dalam menyerang sel-sel sehat yang masih tersisa.

"Tidak mungkin... ini tidak mungkin terjadi..." Bisik Axel lirih.

Ia tidak bisa melepaskan pandangannya dari layar mikroskop yang menampilkan gambar kekacauan seluler itu, matanya melotot dengan sangat lebar seolah tidak bisa mempercayai apa yang dilihatnya sendiri.

"Mutasi ini... kecepatannya seribu kali lipat dari jenis kanker paling agresif yang pernah ditemukan oleh dunia medis sekalipun. Zat kimia yang aku buat itu tidak hanya berfungsi untuk menetralkan racun seperti yang aku harapkan—zat itu malah memicu terjadinya rasa lapar seluler yang tidak terbatas dan tidak bisa dipuaskan sama sekali."

Doni melangkah maju dengan langkah yang sangat hati-hati ke arah meja kerja di mana Axel sedang berdiri, tangannya yang masih bergetar mencengkeram pinggiran meja lab dengan sangat kuat hingga jemarinya menjadi memutih.

Ia melihat dengan mata yang penuh dengan kebingungan pada layar mikroskop yang menampilkan gambar yang tidak bisa ia pahami sama sekali, namun ekspresi wajah Axel yang sangat putus asa sudah cukup untuk memberitahunya bahwa situasi yang sedang terjadi sangatlah serius dan tidak bisa dianggap remeh.

"Apa yang sebenarnya kamu maksud dengan kata-kata itu, Axel? Katakan pada Ayah dengan bahasa yang bisa Ayah mengerti!"

Axel akhirnya melepaskan pandangannya dari layar mikroskop dengan sangat lambat dan berat. Wajahnya yang tadinya hanya tampak pucat kini menjadi pucat pasi dan tanpa warna sama sekali, matanya yang biasanya penuh dengan kecerdasan dan semangat ilmiah kini hanya terlihat kosong dan penuh dengan kehampaan, serta basah oleh air mata yang tak bisa lagi ia bendung dan terus mengalir deras di pipinya yang ramping.

Ia menoleh perlahan ke arah ayahnya, bibirnya yang kering bergetar dengan sangat jelas saat ia mulai membuka mulut untuk berbicara.

"Zat kimia itu... racikan gagal yang aku buat untuk menjadi penawar dari berbagai jenis toksin yang berbahaya... dia sedang memakan tubuh Lusy dari dalam, Yah. Dia telah mengubah sistem metabolisme Lusy menjadi sebuah mesin penghancur yang terus-menerus membutuhkan asupan energi dalam jumlah yang konstan dan tidak terbatas. Itulah sebabnya Lusy merasa sangat lapar dan tidak bisa merasa kenyang sama sekali meskipun telah makan banyak makanan. Tubuhnya sedang mencari bahan bakar untuk mendukung proses mutasi yang tidak pernah berhenti ini."

Kesadaran akan segala kesalahan yang telah ia perbuat itu menghantam tubuh Axel seperti sebuah godam raksasa yang sangat besar dan kuat, membuatnya tidak bisa lagi menahan berat badan tubuhnya sendiri dan akhirnya jatuh terduduk di lantai beton yang sangat dingin dan kasar di bawah kakinya.

Logika medis dan ilmiah yang selama ini ia agungkan dan jadikan sebagai landasan hidupnya kini seolah berbalik untuk meludahi wajahnya dengan keras—semua pengetahuan yang ia miliki tidak bisa memberikan solusi apa pun untuk menyelamatkan wanita yang paling ia cintai di dunia ini.

Ambisinya yang besar untuk menciptakan sesuatu yang bisa bermanfaat bagi umat manusia telah malah menciptakan sebuah monster dari tubuh wanita yang selama ini ia puja dan cintai dengan sepenuh hati, mengubahnya menjadi sesuatu yang tidak bisa ia kenali lagi dan bahkan menjadi ancaman bagi orang-orang di sekitarnya.

Dengan tangisan yang tiba-tiba pecah menjadi raungan kecil yang sangat menyedihkan dan menusuk hati, Axel merangkak perlahan ke arah kaki ayahnya yang masih berdiri dengan wajah penuh dengan kesedihan dan kebingungan di dekatnya.

Ia kemudian bersujud dengan sangat rendah, menempelkan dahinya yang sudah berkeringat dingin ke permukaan lantai beton yang kasar itu, kedua tangannya yang masih bergetar meremas ujung celana ayahnya dengan sangat erat seolah ingin mencari perlindungan dan pengampunan yang tidak bisa ia temukan lagi di tempat lain.

"Maafkan aku, Ayah... Tolong maafkan aku yang telah melakukan kesalahan yang tidak bisa dimaafkan ini! Ini semua adalah salahku semata-mata. Aku yang membawanya ke rumah ini. Aku yang ceroboh dan tidak hati-hati dengan pekerjaanku. Aku telah menghancurkan Lusy yang baik dan cantik itu... aku telah membunuhnya dengan tanganku sendiri yang ceroboh itu!"

Doni hanya bisa mematung dengan tidak bergerak di tempatnya, matanya yang sudah mulai berkaca-kaca menatap punggung anaknya yang terus bergetar karena menangis dengan sangat deras itu. Ia ingin membantunya, ingin mengatakan kata-kata penghiburan yang bisa membuatnya merasa lebih baik, namun ia tidak bisa menemukan kata-kata yang tepat untuk dilakukan.

Di atas mereka, di kamar mandi yang terletak di lantai atas rumah itu, suara gedoran yang selama ini terus terdengar dengan ritmis dan brutal di pintu kamar mandi mendadak berhenti dengan tiba-tiba. Namun kemudian, kedamaian yang sangat singkat itu segera digantikan oleh suara cakaran panjang yang sangat memilukan dan menusuk hati saat kuku-kuku yang tajam itu menusuk permukaan pintu, diikuti oleh geraman rendah yang dalam dan sangat mengerikan yang seolah mampu menembus lantai beton yang tebal dari laboratorium bawah tanah itu.

"Bangunlah, Axel. Tangisanmu tidak akan bisa menyelamatkannya dari apa yang sedang terjadi padanya. Beritahu Ayah dengan jujur, apakah masih ada penawar yang bisa kamu buat untuk mengembalikannya seperti sedia kala?"

Axel hanya bisa menggelengkan kepalanya dengan sangat lemah dalam posisi sujudnya itu, merasakan seberapa dinginnya permukaan lantai beton yang seakan sedang menghakimi setiap dosa yang telah ia perbuat di dalam laboratorium rahasia ini.

Ia tidak bisa mengatakan apa-apa lagi—semua harapan untuk menyelamatkan Lusy telah sirna tanpa jejak, digantikan oleh rasa bersalah dan kehampaan yang mendalam yang membuatnya merasa seperti tidak punya alasan lagi untuk terus hidup.

.

.

.

.

.

.

.

ㅡ Bersambung ㅡ

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!