Perjalanan mendaki gunung sebuah rombongan, mengantarkan mereka untuk mengalami hal mistis. Niat ingin bersenang-senang, harus merasakan perasaan mencekam sepanjang perjalanan.
Namun, di akhir kisah mendaki. Salah satu dari rombongan, ternyata merupakan takdirnya salah satu anggota Zandra.
Penasaran?? yuk kita simak ceritanya...
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nike Julianti, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Gunung Sumbing
"Samperin jangan?" tanya Haris, Anggun mengangguk.
Mereka berempat berjalan menuju ke arah perempuan itu, karena kebetulan memang arah jalur mereka memang melewatinya. Begitu mereka berada di depan perempuan itu, keempatnya berhenti.
"Boleh ikut duduk mbak?" tanya Bara
"Boleh" jawab perempuan itu singkat
Karena cukup lelah, Bara dan ketiga temannya memilih untuk duduk sebentar. Anggun memulai percakapan, dengan bertanya.
"Sendirian mbak, atau ada temannya?"
"Eh enggak, aku ndaki sendiri" jawabnya ramah
"Mau balik apa mau naik?" tanya Bara
"Baru mau naik" mendengar jawaban itu, keempatnya saling tatap. Mereka seolah berbicara, perempuan tapi berani naik sendirian.
Anggun berinisiatif mengajak perempuan itu, untuk bergabung dengan mereka. Karena mereka juga kan hendak naik, dengan tujuan agar perjalanan makin rame. Perempuan itu tersenyum, lalu mengangguk mengiyakan ajakan Anggun. Dari situ, mereka pun berkenalan dengan bersalaman. Dengan menyebutkan nama masing-masing, perempuan itu menyebutkan namanya adalah Sustrini.
"Mbaknya tinggal dimana?" tanya Doni
"Aku tinggal ga jauh dari sini, masih sekitaran gunung." jawabnya, namun dia tak menyebutkan alamat pastinya. Keempat orang itu mengangguk, pantas saja berani mendaki sendirian, pikir mereka.
Namun saat tadi Anggun bersalaman dengan Sustrini, entah kenapa dia merasa gugup. Seperti ada yang aneh, tapi dia tak tau apa. Setelah sesi perkenalan, mereka melanjutkan perjalanan mereka. Dengan perempuan yang bernama Sustrini, berjalan paling belakang.
Di perjalanan, Anggun sesekali melihat ke belakang. Tak lama, ia pun meminta tukar tempat dengan Haris. Sekarang dia berada di belakang Bara, pelan-pelan Anggun berbisik.
"Bar, mbak Sus aneh ya?" Bara mengerutkan dahi
"Aneh kenapa?" tanya nya pelan, namun masih lanjut berjalan
"Waktu tadi salaman, tangan mbak Sus dingin banget, terus lembab juga." jelas Anggun
"Masa sih? Perasaan biasa aja, tadi gue salaman ga ngerasa kaya gitu." jawab Bara
Anggun terus meyakinkan Bara, tentang apa yang ia rasakan. Tapi Bara tidak terlalu menanggapi, hingga akhirnya Anggun memilih diam. Sepanjang perjalanan, masih aman tentram dan damai. Tak ada yang aneh, ataupun janggal.
Setelah melewati medan yang cukup menanjak, sampailah mereka di pos bayangan yang di sebut Seduplak Roto. Di situ, mereka memilih duduk beristirahat dan minum.
Saat tengah istirahat, Anggun mendudukkan dirinya tepat di sebelah Sustrini. Dia sempat melihat pada Sustrini, Anggun mengerutkan dahinya. Gadis itu tidak terlihat kelelahan, bahkan tak terlihat adanya keringat. Padahal perjalanan tadi cukup jauh, tambah lagi medan yang di tempuh harus menanjak.
Melihat ini, Anggun merasa semakin aneh.
'Padahal tadi medannya nanjak, tapi mbak Sus ga keliatan cape sama sekali. Buset dah, gue aja ngos-ngosan gini. Persiapan dakinya kek mana ya?? Bisa sesantai itu..' ucap Anggun dalam hati, seraya sesekali melirik Sustrini. Yang sejak duduk tadi, menundukkan kepalanya.
Anggun menoleh dan melihat Sustrini, saking fokus memperhatikan gadis di sebelahnya. Tiba-tiba Sustrini menegakkan kepala, ia melirik ke arah Anggun. Seraya tersenyum sinis, lebih ke menyeringai. Anggun langsung mengalihkan pandangannya, ia memilih untuk pindah tempat duduk. Sekarang Anggun berada di sebelah Doni, yang jaraknya cukup jauh dengan Sustrini.
Sebenarnya Anggun ingin mengatakan, apa yang baru saja ia rasakan pada ketiga temannya. Tapi ia merasa tak enak pada Sustrini, akhirnya ia pun memilih memendamnya dulu. Sampai nanti ada waktu yang tepat, untuk membicarakannya.
Istirahat pun selesai, mereka kembali melanjutkan perjalanan.
Sebelum memulai perjalanan, Bara mendekati Sustrini.
"Mbak jalan di tengah barisan aja" pinta Bara
"Nggak apa-apa mas, aku di belakang aja." jawabnya
Bara mengiyakan, ia tak ingin membuat Sustrini merasa tak nyaman bila ia paksa.
Selama perjalanan, Anggun masih memikirkan Sustrini. Tapi semakin dia memikirkannya, tubuhnya malah merasa merinding. Karena ia mengingat, bagaimana saat Sustrini tadi tersenyum sinis. Sedangkan yang sedang di pikirkan Anggun, selama di perjalanan ini. Ia diam, tak mengeluarkan suara sama sekali.
Di tengah perjalanan menuju pos 3, Anggun yang waktu itu berjalan di depan Haris. Tiba-tiba mencium bau aneh menurutnya, baunya ini wangi kembang melati. Tetapi bau itu, hanya selintas. Saat mencium bau itu, anehnya Anggun. Dengan spontan ia menoleh ke belakang, pandangan nya tertuju pada Sustrini. Yang bahkan, jaraknya berada jauh di belakang sana.
Entah pemikiran dari mana, Anggun merasa bila bau tadi berasal dari Sustrini. Anggun menggelengkan kepalanya, menepis pikiran konyol itu.
"Lu kenapa? Pusing?" tanya Haris, karena melihat Anggun menggelengkan kepala
"Hah? Nggak kok, nggak apa-apa" jawab Anggun
"Yakin? Kalo lu ngerasa ga enak badan, kita bisa rehat dulu." ucap Haris lagi
"Nggak, gue ga papa. Serius" Anggun meyakinkan temannya itu, Haris pun mengangguk.
Tapi tak lama, Anggun bertanya pada Haris.
"Ris, lu tadi sempet kaya nyium bau wangi ga?" tanya Anggun pelan
"Iya sebentar, tapi sekarang udah ga." jawab Haris
"Mmm... Ris.. Gue kok ngerasa ada yang aneh ya, ma cewek itu." ucap Anggun, seraya melihat ke belakang
"Aneh kenapa?" tanya Haris bingung
"Lu ga ngerasa aneh? Dari tadi dia diem mulu, terus terkesan jaga jarak ma kita. Itu... jauh banget jaraknya, meski kita masih bisa liat keberadaan dia." jawab Anggun, Haris menoleh ke belakang. Mereka berdua melihat Sustrini yang berjalan santai, namun kepalanya menunduk ke bawah.
"Iya juga ya, kok aneh gitu." ucap Haris
"Tuhkan... terus tadi waktu kita istirahat, dia tuh senyum sinis ma gue. Senyumannya itu, kaya seringaian." balas Anggun
"Dahl ah, ga usah di pikirin. Mungkin emang udah gitu sifatnya, positif thinking aja." Haris mencoba untuk mengajak Anggun, berpikiran baik. Anggun menghembuskan nafas panjang, ia pun kembali fokus ke depan.
Singkat cerita, mereka sudah tiba di pos 3. Sekitar pukul setengah 6 sore, di pos itu suasananya sangatlah sepi. Hanya ada satu rombongan pendaki lain, itupun jarak nya cukup jauh dengan mereka.
Setelah berdiam diri sebentar, mereka pun gegas mendirikan 2 tenda. Anggun sendirian, sedang yang satu tenda untuk bertiga. Biasanya memang seperti itu, sedangkan Sustrini juga. Dia mendirikan tenda sendiri, tetap berjarak dengan Bara dkk.
Mereka lanjut memasak, di depan tenda. Ketika mereka sedang memasak, Sustrini berada di dalam tenda miliknya. Melihat hal itu, Bara berinisiatif untuk mengajak Sustrini. Untuk bergabung, dengan yang lainnya. Tapi Sustrini bilang, bila nanti ia akan menyusul. Bara pun pergi, meninggalkan Sustrini.
Ketika mereka tengah sibuk memasak, tiba-tiba Anggun mencium bau wangi lagi seperti tadi. Karena mencium bau yang sama, Anggun spontan berbicara...
"Guys... ini bau apa ya? Kok wangi.." mendengar ucapan Anggun, Bara dan yang lainnya. Langsung fokus, pada indra penciuman mereka. Setelah beberapa saat, apa yang di ucapkan Anggun ternyata benar. Kini yang mencium bau itu bukan hanya Anggun, tapi ketiga temannya juga.
...****************...
...HAPPY READING ALL...
Jangan lupakan like, komen, gift sama vote nyaaa🥰
ganbate kak
votenya emak😘