NovelToon NovelToon
Jodoh Sang Letnan

Jodoh Sang Letnan

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta pada Pandangan Pertama
Popularitas:35k
Nilai: 5
Nama Author: Deyulia

Ikuti saya di:
FB Lina Zascia Amandia
IG deyulia2022

Setelah hatinya lega dan move on dari mantan kekasih yang bahagia dinikahi abang kandungnya sendiri. Letnan Satu Erlaga Patikelana kembali menyimpan rasa pada seorang gadis berhijab sederhana yang ia temui di sebuah pujasera.

Ramah dan cantik, itu kesan pertama yang Erlaga rasakan saat pertama kali bertemu dengan gadis itu. Namun, ketika hatinya mulai menyimpan rasa, tiba-tiba sang mama membawa kabar kalau Erlaga akan dikenalkan pada seorang gadis anak dari leting sang papa. Sayangnya, Erlaga menolak. Dia hanya ingin mendapatkan jodoh hasil pencariannya.

Apakah Erlaga pada akhirnya menerima perjodohan itu, atau malah justru berjodoh dengan gadis yang ia temui di pujasera?

Yuk, kepoin kisahnya di "Jodoh Sang Letnan"

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Deyulia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 27 Suasana Pagi Di Hari Pertama Suami Istri

     ​Cahaya matahari pagi yang menerobos masuk dari celah gorden terasa jauh lebih hangat dari biasanya. Syafina mengerjap, merasakan beban berat namun nyaman di pinggangnya. Sebuah tangan kekar, yang semalam begitu menguasainya, kini melingkar posesif, seolah takut Syafina akan menghilang jika pegangannya terlepas sedikit saja.

     ​Syafina menahan napas. Memorinya berputar pada kejadian beberapa jam lalu di bawah temaram lampu kamar. Bayangan lingerie hijau sage yang kini tergeletak di lantai, suara bariton Erlaga yang memanggil namanya penuh pemujaan, hingga rasa sakit yang akhirnya luluh menjadi penyatuan yang sakral.

     ​Wajah Syafina seketika memanas. Ia mencoba bergeser pelan, namun gerakan sekecil itu justru membuat pelukan di pinggangnya mengencang.

     ​"Mau ke mana, hmm? Masih pagi," gumam sebuah suara serak khas orang bangun tidur.

     ​Erlaga tidak membuka mata. Ia justru menyurukkan wajahnya ke ceruk leher Syafina, menghirup aroma sisa semalam yang masih tertinggal di sana. Syafina merinding, jemarinya meremas selimut yang menutupi tubuh mereka.

     ​"Kak... sudah siang. Fina mau... mau mandi," cicit Syafina. Suaranya hampir hilang karena tenggorokannya mendadak kering.

     ​Erlaga akhirnya membuka mata. Sorot matanya yang biasanya tajam saat memakai seragam, kini terlihat begitu sayu dan penuh kasih. Ia menatap wajah istrinya yang berantakan, rambut yang kusut. Namun di mata Erlaga, Syafina adalah pemandangan paling indah yang pernah ia miliki sepanjang hidupnya.

     "Apa kita ulang kembali yang semalam?" goda Erlaga. Tangannya semakin kokoh menahan tubuh Syafina yang terasa masih kaku sisa selmalam.

     Syafina menjengit dan langsung menggeleng. Untuk mengulangnya di pagi buta begini, rasanya sisa sakit semalam saja belum hilang, apalagi kalau pagi ini kembali diulang.

     "Kenapa? Masih sakit?"

     "Iya...." Syafina mencoba mengurai tangan Erlaga.

     ​"Ok. Kalau begitu gimana kalau kita mandi bareng?" goda Erlaga dengan seringai nakal.

     ​"Kak Laga!" Syafina memukul pelan dada bidang suaminya yang tidak tertutup sehelai benang pun. "Jangan mulai. Fina masih... masih pegal semua."

     ​Erlaga terkekeh rendah. Suara tawanya yang dalam itu terdengar sangat maskulin di keheningan pagi. Ia mengecup dahi Syafina lama. "Maaf ya, semalam Kakak sepertinya terlalu bersemangat. Habisnya, siapa suruh kamu begitu menggoda dengan pakaian dinas hijau sage itu? Kamu begitu mempesona dan rasanya nggak mau Kakak lepas."

​ Syafina tersenyum malu, wajahnya memerah. Perlahan ia mengurai tangan kekar Erlaga. Ia ingin segera bangkit dan terlepas dari singa yang sepertinya masih lapar. Terlihat dari pergerakannya yang mulai agresig.

     "Uh... Sayang...." Erlaga menahan kecewa, ketika Syafina berhasil melepaskan diri dari cengkramannya.

     Syafina segera menjauh, dan akhirnya berhasil terbebas dari cengkraman erat tangan singa yang lapar. Syafina "melarikan diri" ke kamar mandi. Lalu segera membersihkan sisa percintaannya semalam.

     Beberapa saat kemudian, Syafina kini sudah berada di dapur rumah pribadi Erlaga. Rumah yang kini jadi tempat masa depan mereka. Ia Mengenakan daster batik yang kontras dengan status barunya, yang baginya masih terasa sedikit asing. Pertama kali memasuki rumah ini ia seperti tamu di sini, tapi mulai hari ini, ia adalah ratunya.

     ​Ia membuka kulkas, melihat stok bahan makanan yang sudah disiapkan Erlaga sebelumnya. Tangannya masih sedikit gemetar saat mengambil telur dan beberapa sayuran. Syafina memutuskan untuk membuat sarapan sederhana, mencoba membiasakan diri menjadi seorang istri.

     ​"Kamu masak apa, Sayang?"

     ​Syafina terlonjak kaget. Erlaga sudah berdiri di belakangnya, hanya mengenakan kaos santai dan celana pendek, namun wangi sabunnya langsung mendominasi ruangan. Tanpa permisi, Erlaga melingkarkan lengannya di pinggang Syafina, dagunya menumpu di pundak sang istri.

     ​"Cuma nasi goreng, Kak. Kak Laga tidak masalah sarapan pagi kita pagi ini nasi goreng? Dan maaf, kalau nanti rasanya nggak seenak masakan Mama, harap maklum," ujar Syafina malu-malu.

     ​Erlaga mencium pipi Syafina sekilas. "Apapun yang kamu masak, buat Kakak itu hidangan paling istimewa. Tapi, Sayang... Kakak lebih suka kamu duduk manis saja. Biar Kakak yang bantu."

     ​"Nggak usah, Kak. Ini kan tugas Fina sekarang," protes Syafina lembut.

     ​Erlaga tersenyum, lalu memutar tubuh Syafina agar menghadapnya. Ia menatap dalam mata bening sang istri. "Di rumah ini, tidak ada aturan kaku siapa yang harus di dapur. Kakak ingin kamu merasa nyaman, bukan merasa terbebani. Kita urus rumah ini sama-sama, ya?"

     Syafina mengangguk, menyetujui semua ucapan suaminya.

     ​Sore harinya, suasana intim itu sedikit berubah menjadi serius. Syafina berdiri di depan cermin besar di kamar mereka. Ia mengenakan seragam Persit pertamanya yang berwarna hijau. Karena sore ini ada pertemuan pertama dengan seluruh anggota Persit. Ia merasa aneh melihat pantulan dirinya di cermin. Syafina terlihat jauh lebih dewasa, lebih berwibawa, namun hatinya masih dag-dig-dug.

     ​Hijabnya ia tata serapi mungkin, memastikan sisa-sisa "jejak" semalam tertutup sempurna di balik kain hijau itu. Erlaga masuk ke kamar, sudah dengan seragam dinas harian lengkap. Ia berdiri di belakang Syafina, menatap istrinya dengan bangga.

     ​"Kamu sangat cantik dan...terlihat lebih dewasa. Kamu siap, Sayang?" tanya Erlaga.

     ​Syafina menarik napas panjang. "Fina takut salah ngomong, Kak. Fina kan paling muda di pertemuan nanti. Fina takut nggak bisa bawa diri di depan istri-istri senior Kakak."

     ​Erlaga memegang kedua bahu Syafina, memijatnya pelan untuk meredakan ketegangan. "Ingat satu hal, Sayang. Di sana kamu bukan cuma Syafina anak Papa Dallas, tapi kamu adalah pendamping Kapten Erlaga Patikelana. Bawa dirimu dengan anggun, tapi tetap rendah hati. Kakak akan antar sampai depan aula, dan Kakak akan tunggu sampai selesai."

     ​Erlaga kemudian mengambil sebuah tas tangan kecil dan menyerahkannya pada Syafina. Di dalamnya, ada sebuah kunci cadangan rumah mereka yang dipasangi gantungan kunci berbentuk peluru perak.

     "Wowww... Cantik sekali. Tas itu menandakan kamu benar-benar Persit sejati. Kakak bangga bisa menggandengmu."

     ​Syafina terharu, matanya mulai berkaca-kaca. Ia menyadari bahwa pernikahan ini bukan sekadar urusan malam pertama, tapi awal dari sebuah perjuangan panjang menjadi istri seorang abdi negara. Ia sekarang adalah penyangga bagi punggung seorang pria yang memikul beban besar.

     "Fina juga lebih bangga memiliki Kak Laga," batin Syafina jujur.

     ​Sambil menggandeng lengan kokoh Erlaga, Syafina melangkah keluar dari rumah itu. Ia tahu, di depan sana ada tatapan mata yang mungkin menilai, ada aturan organisasi yang ketat, dan rindu yang harus ia tabung jika suatu saat Erlaga harus pergi bertugas. Namun, menatap senyum tipis Erlaga yang hanya ditujukan untuknya, Syafina merasa ia sanggup menghadapi apapun.

     Mobil Erlaga mulai melaju, membelah jalanan yang muali dipadati pengendara mobil dan motor, serta penjual kami lima.

1
Esther
gak ada capeknya Laga....habis latihan langsung ngerjain istri😄
Lina Zascia Amandia: Lagi hangat2nya pengantin baru, heheh....
total 1 replies
Ayudya
lanjut kak
Ikaaa1605
Kiw kiw😅
Nice1808
romantis bnget🤣🤣lanjut thor
@💤ιиɑ͜͡✦⍣⃝కꫝ🎸🇵🇸
😍😍😍😍😍😍😍😍😍😍😍😍😍😍😍😍
@💤ιиɑ͜͡✦⍣⃝కꫝ🎸🇵🇸
sabar shafina. erlaga juga kangen kamu
Kasandra Kasandra
lanjut
Nar Sih
sabarr ya fina,tiga hri gk lama kok ,pasti nanti stlh suami mu pulang puas,,in deh lepas rinduu
Supryatin 123
lnjut thor 💪💪
Patrick Khan
ahhhh apa q aja yg di tinggal suamik kerja luar kota malah seneng gk karuan🤣🤣🤣🤣
Patrick Khan: hahaha.. iya kak
total 4 replies
Nice1808
sabar fina cuma 3 hari ntar laga pulang rindu nya menggebu2😃😃😃
Ayudya
sabar Fina hanya 3 hari ntar kalau Uda pulang peluk yg erat jangan lepaskan🤣🤣🤣🤣🤣
Eva Tigan
persiapkan diri ..jiwa dan raga saja Syafina..ini Pak Kapten pulang pasti rindunya menggebu gebu,harus siap segera digempur entah sampai berapa Ronde..😄
Eva Tigan: yup benar.. kekuatan prajurit pasti ekstra kuat di darat ,laut dan udara ..bahkan di atas ranjang sekalipun 😄
total 2 replies
@💤ιиɑ͜͡✦⍣⃝కꫝ🎸🇵🇸
shafina, semangat tunjukkan prestasimu yaa
@💤ιиɑ͜͡✦⍣⃝కꫝ🎸🇵🇸
semangat yaw😊
Nar Sih
sabarr fina ,jgn dgr kata ibu,,persit yg lain nya ,💪
Nar Sih
semagatt fina 💪jdi ibu persit 👍
Esther
dimana2 ya kalau yang senior itu selalu sok berkuasa.
Esther
Memakai seragam persit pertama kali....semangat Fina
Supryatin 123
lnjut thor 💪💪 double up nya
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!