Greta Hildegard adalah bayangan yang memudar di sudut kelas. Gadis pendiam dengan nama puitis yang menjadi sasaran empuk perundungan tanpa ampun. Baginya, SMA bukan masa muda yang indah, melainkan medan tempur di mana ia selalu kalah. Luka-luka itu tidak pernah sembuh, mereka hanya bersembunyi di balik waktu.
namun mereka tidak siap dengan apa yang sebenarnya terjadi oleh Greta.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon spill.gils, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Aethelgard Chemical Corp
Lampu kristal di atas kepala mereka seolah memancarkan cahaya yang semakin tajam, menyoroti perbedaan kontras di meja makan tersebut. Begitu Eleanor duduk, beberapa pelayan berseragam rapi muncul tanpa suara, menyajikan hidangan pembuka yang terlihat sangat mewah dan asing bagi Greta.
Eleanor Vanderbilt memulai gerakannya dengan sangat anggun. Ia mengambil penjepit perak, lalu dengan gerakan tangan yang presisi dan lambat, ia memindahkan potongan wagyu carpaccio dan beberapa helai daun arugula ke atas piring porselennya. Setiap denting halus antara logam dan piring keramik itu terdengar seperti lonceng peringatan bagi Greta. Eleanor melakukannya tanpa sedikit pun suara napas yang terdengar, benar-benar mencerminkan etiket kelas atas yang sempurna.
Di sisi lain, Norah yang tadi cemberut kini mulai bergerak. Meski wajahnya masih tampak kesal, ia mengambil makanan dengan gerakan yang lebih tegas dan sedikit kasar, menunjukkan rasa tidak nyamannya. Ia menusuk potongan sayuran di piringnya dengan garpu perak, seolah-olah ia sedang meluapkan kekesalannya pada makanan tersebut, namun tetap tidak berani mengeluarkan suara di hadapan ibunya.
Sementara itu, Greta hanya terduduk kaku. Kedua tangannya yang disembunyikan di bawah meja saling meremas satu sama lain. Keringat dingin mulai terasa di telapak tangannya. Ia menatap deretan sendok dan garpu di samping piringnya yang begitu banyak—ia bahkan tidak tahu harus menggunakan yang mana terlebih dahulu.
Rasa gugup itu menyumbat tenggorokannya, membuatnya merasa seolah-olah hanya untuk mengambil sepotong roti saja ia bisa melakukan kesalahan fatal yang akan membuat Eleanor mengusirnya saat itu juga. Greta melirik ke arah Eleanor, lalu ke arah Norah, mencoba meniru bagaimana mereka memegang peralatan makan, namun tangannya justru semakin gemetar.
Eleanor yang menyadari kegugupan tamunya, meletakkan kembali alat makannya sejenak, lalu menatap Greta dengan senyuman yang masih terpatri di wajahnya.
"Kenapa tidak dimakan, Greta? Apakah makanannya tidak sesuai dengan seleramu?" tanya Eleanor lembut, namun matanya mengunci mata Greta dengan sangat intens.
Greta memaksakan sebuah senyum tipis, meski bibirnya terasa kelu. Dengan tangan yang sedikit gemetar, ia meraih sendok penyaji. Ia berusaha sekuat tenaga agar peralatan perak itu tidak berdenting keras melawan piring porselennya—sebuah suara yang pasti akan terdengar seperti ledakan di ruangan sesunyi ini. Ia hanya mengambil porsi kecil, sekadar agar tidak terlihat tidak sopan di hadapan sang nyonya rumah.
Situasi di meja makan itu terasa begitu mencekam, dibalut dalam kemewahan yang menyesakkan. Hanya terdengar suara denting halus pisau dan garpu yang beradu dengan piring—sebuah simfoni ruang makan kelas atas yang sangat tertib.
Eleanor duduk dengan punggung tegak sempurna. Setiap kunyahannya pelan dan terukur. Ia tidak memandang makanannya, melainkan sesekali melirik ke arah Greta dengan tatapan yang seolah sedang membedah isi pikiran gadis itu.
Norah di sisi lain, tampak sangat tidak menikmati makan malamnya. Ia memotong daging di piringnya dengan tekanan yang lebih kuat dari yang seharusnya, menunjukkan protes dalam diam. Matanya sesekali melirik tajam ke arah Greta, namun ia tetap bungkam di bawah pengawasan ibunya.
Greta merasa seperti sedang mengunyah pasir. Rasa makanan yang begitu mewah di lidahnya sama sekali tidak terasa karena rasa cemas yang mendominasi. Ia berusaha menjaga postur tubuhnya, duduk di ujung kursi, dan memastikan sikunya tidak menyentuh meja, persis seperti yang pernah ia baca di buku-buku tentang tata krama yang tak pernah ia bayangkan akan ia gunakan secepat ini.
Udara di ruangan itu terasa berat, seolah oksigen di sana hanya diperuntukkan bagi mereka yang memiliki nama besar. Greta bisa merasakan detak jantungnya sendiri di telinga, berpacu dengan detak jam besar di aula.
Tiba-tiba, Eleanor meletakkan garpunya dengan posisi jam empat—tanda bahwa ia telah selesai dengan tahap awal makan malamnya. Ia menyeka sudut bibirnya dengan serbet linen putih bersih, lalu memajukan tubuhnya sedikit ke arah meja.
"Jadi, Greta," suara Eleanor memecah kesunyian, begitu tenang namun sanggup menghentikan gerakan tangan Greta di udara. "Bagaimana rasanya hidup sendirian di kota sebesar ini? Pasti sangat sulit... tanpa orang tua yang mengawasi."
Greta tertegun dengan garpu yang masih tertahan di depan mulutnya. Sepotong daging wagyu yang seharusnya terasa nikmat kini terasa hambar karena rasa gugup yang menyumbat tenggorokannya. Ia hanya bisa membalas ucapan Eleanor dengan senyuman kaku dan anggukan kecil, tak berani bicara dengan mulut yang masih penuh.
"Kalau begitu, jika sudah selesai makan, ke ruanganku ya..." ucap Eleanor dengan nada final yang tidak menerima penolakan.
Wanita itu berdiri dengan keanggunan yang sempurna, merapikan sedikit gaunnya yang tak berkerut. Sebelum melangkah pergi, ia menoleh ke arah putrinya yang sejak tadi hanya memasang wajah masam.
"Norah... Jangan diam begitu, ajak Greta ngobrol dong," ucap Eleanor sambil memberikan senyuman manis yang penuh perintah.
Norah tidak menjawab. Ia hanya makin cemberut, menatap punggung ibunya yang mulai menjauh dan menaiki tangga menuju lantai atas. Setelah gema langkah sepatu hak Eleanor menghilang di ujung lorong lantai dua, suasana di ruang makan itu berubah seketika.
Kini hanya ada mereka berdua. Norah perlahan menoleh, menatap Greta yang masih berusaha menelan makanannya dengan susah payah. Pipi Greta yang masih sedikit menggembung karena daging membuatnya terlihat kontras dengan kemewahan di sekelilingnya.
Norah meletakkan garpunya dengan denting perak yang tajam di atas piring porselennya.
"Cepat habiskan makannya, Greta... Jika sudah, aku akan antarmu ke ruangan ibuku," ucap Norah ketus.
Greta menatap piringnya sejenak, lalu memberanikan diri menatap mata Norah. "Norah... Maafkan aku tentang kejadian tadi siang, aku gak bermaksud..."
"Sudah, sudah, gak usah dibahas! Aku sedang tidak mood!" potong Norah cepat. Ia membuang muka, menghindari kontak mata dengan Greta. Ada sesuatu yang berbeda dari nada suaranya—bukan hanya kemarahan, tapi ada semacam kegelisahan yang tertahan.
Greta terdiam, perlahan menyuap sisa makanannya. Kenapa tingkah laku Norah aneh sekali hari ini? batin Greta heran. Biasanya dia akan meledak-ledak atau terus menghinaku, tapi sekarang dia seolah ingin pembicaraan ini cepat berakhir. Ada apa sebenarnya?
Hingga akhirnya, makan malam yang terasa amat panjang itu pun usai. Norah berdiri tanpa suara, memberikan isyarat agar Greta mengikutinya.
"Ayo aku antar," ucap Norah pendek.
Mereka berdua berjalan bersisian menaiki tangga melingkar yang dilapisi karpet beludru merah. Suasana di lantai atas jauh lebih sunyi daripada di bawah. Lorong itu diterangi oleh lampu-lampu dinding yang temaram, memberikan kesan misterius pada deretan pintu kayu ek yang berjejer.
Mereka berjalan lurus menyusuri lorong panjang hingga berhenti tepat di depan sebuah pintu ganda berukir megah di ujung lorong. Norah berhenti tepat di depan pintu itu, tangannya sempat ragu sebelum menyentuh gagang pintu emasnya. Ia menoleh sedikit ke arah Greta, matanya memberikan tatapan yang sulit diartikan.
"Ini ruangannya. Masuklah," ucap Norah dengan suara yang hampir berbisik.
Greta menarik napas dalam-dalam, mencoba menenangkan jantungnya yang berdebar kencang, lalu perlahan mendorong pintu besar itu.
Pintu besar di belakang Greta tertutup dengan suara debuman pelan yang terasa sangat final. Begitu Norah pergi, suasana di ruangan itu berubah total—jauh lebih menyesakkan daripada di ruang makan tadi. Udara di sini tercium seperti campuran kayu tua, aroma tembakau mahal, dan wangi parfum Eleanor yang kuat.
Di tengah ruangan, Eleanor Vanderbilt duduk dengan tenang di balik meja kerja raksasa yang terbuat dari kayu jati gelap yang dipolir mengkilap. Di hadapannya, terdapat beberapa tumpukan file tebal dan map-map berwarna cokelat yang tampak sangat rapi namun mengancam. Cahaya lampu meja yang kekuningan menyoroti jemarinya yang sedang membolak-balik selembar kertas.
"Silakan duduk, Greta," ucap Eleanor tanpa mengangkat pandangannya dari kertas itu. Suaranya rendah, namun bergema di setiap sudut ruangan yang luas itu.
Greta melangkah perlahan, merasa seolah setiap langkahnya di atas karpet tebal itu sedang diawasi oleh mata-mata tak kasat mata. Ia duduk di sebuah kursi kulit mewah yang berhadapan langsung dengan Eleanor. Kursi itu sangat nyaman, namun Greta merasa seolah ia sedang duduk di atas kursi pesakitan.
Eleanor akhirnya menutup file yang sedang dibacanya, lalu menyatukan kedua tangannya di atas meja. Ia menatap Greta lurus-lurus, sebuah tatapan yang sangat tajam, seolah sedang memindai kebenaran di balik wajah gadis di depannya.
"Aku sudah membaca riwayatmu, Greta. Dari panti asuhan di Seoul hingga tiba di Jarvis High School," Eleanor memulai pembicaraan, suaranya terdengar sangat tenang namun penuh tekanan. "Sangat impresif untuk seorang gadis sebatang kara. Tapi ada satu hal yang tidak masuk akal bagiku..."
Ia kemudian mengambil salah satu file dari tumpukan itu dan mendorongnya perlahan ke arah Greta.
"Siapa sebenarnya yang membayar seluruh biaya sekolahmu yang luar biasa mahal itu? Dan kenapa namamu muncul dalam daftar pengawasan khusus yayasan yang bahkan aku—sebagai dewan penyantun sekolah—tidak bisa mengaksesnya dengan mudah?".
Greta perlahan meraih map cokelat itu. Jantungnya berdegup kencang saat ia membuka lembar demi lembar. Namun, kerutan di keningnya semakin dalam. Di sana, ia hanya menemukan profil yayasan panti asuhan tempatnya dibesarkan di Seoul. Ada foto bangunan beton dua lantai yang tampak kusam dan biasa saja—persis seperti yang ia ingat.
"Aku tidak mengerti Nyonya," ucap Greta dengan suara yang bergetar. "Ini hanya yayasanku yang memberikan tempat setelah orang tuaku meninggal beberapa tahun kemudian."
Greta menatap Eleanor dengan tatapan bingung dan jujur, seolah mencoba meyakinkan wanita di hadapannya bahwa tidak ada rahasia besar yang ia sembunyikan. Baginya, Namsan Orphanage Foundation hanyalah sebuah tempat bernaung yang menyelamatkannya di masa sulit, bukan sebuah organisasi misterius seperti yang dituduhkan Eleanor.
Eleanor Vanderbilt hanya terdiam mendengar jawaban itu. Ia tidak membantah, namun sorot matanya tetap tajam, seolah sedang menimbang-nimbang apakah Greta benar-benar lugu atau sedang bersandiwara dengan sangat rapi.
"Begitu ya..." gumam Eleanor pendek.
Eleanor mengambil sebuah map hitam yang tampak lebih tebal dan eksklusif dari tumpukan sebelumnya. Ia menyodorkannya perlahan di atas meja mahoni itu hingga berhenti tepat di depan Greta.
"Lalu bagaimana dengan ini...?" ucap Eleanor dengan nada suara yang merendah, namun penuh penekanan. "Ini adalah file yang sangat sulit didapatkan oleh detektif swasta utusanku."
Greta mengernyitkan dahi, merasa dadanya semakin sesak oleh rasa ingin tahu yang bercampur takut. Ia meraih map itu dengan jemari yang dingin, lalu membukanya perlahan.
Matanya langsung tertuju pada sebuah logo besar di lembar pertama—sebuah simbol geometris modern yang sangat dikenal di seluruh dunia. Itu adalah profil dari perusahaan kimia terbesar di dunia bernama Aethelgard Chemical Corp.
Perusahaan ini dikenal sebagai raksasa industri yang bergerak di bidang farmasi dan bio-kimia global. Di dalam file yang disodorkan Eleanor, terlihat bahwa Aethelgard Chemical Corp memiliki catatan aliran dana yang sangat spesifik dan tersembunyi ke yayasan tempat Greta dibesarkan.
Greta menatap logo Aethelgard Chemical Corp di hadapannya dengan tangan yang mulai gemetar.
"Aethelgard...?" gumam Greta pelan. "Saya tahu perusahaan ini, tapi... saya tidak pernah memiliki hubungan apa pun dengan mereka. Kenapa mereka ada di file saya?"
Eleanor Vanderbilt sedikit memajukan tubuhnya, cahaya lampu meja membuat bayangannya terlihat sangat besar di dinding.
"Itulah yang menarik, Greta. Perusahaan sebesar Aethelgard tidak akan membuang waktu untuk membiayai seorang anak yatim piatu di Seoul secara anonim jika anak itu tidak 'berharga' bagi mereka," ucap Eleanor dengan nada dingin. "Sekarang katakan padaku, apa yang sebenarnya dikerjakan orang tuamu sebelum mereka meninggal? Apakah mereka benar-benar hanya pegawai biasa seperti yang tertulis di dokumen Namsan?"
Greta terdiam, ia mencoba menggali ingatan masa kecilnya yang samar, namun kepalanya terasa sakit saat mencoba mengingat lebih jauh.
oke lanjut thor.. seru ceita nya