Ceni yang tak lama ini baru kehilangan sang sahabat untuk selamanya, kini ia harus menelan pahit nya kehidupan karena harus kehilangan untuk yg ke sekian kali nya yaitu sang kakek tercinta.
Sebelum kematiannya, sang kakek sempat memberikan sebuah giok dan cincin dengan ukiran rumit dan kuno, yg kata nya warisan turun temurun.
Bagaimana kah kisah kelanjutan nya.?
Nantikan kisah Ceni di cerita ini.😘
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon astiana Cantika, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Mengenang Sahabat Lama
Ceni dan Zeno saling pandang lalu menatap lama ke arah petugas tersebut.
"Apa yang ingin kalian lakukan di dalam hutan itu.?" Tanya petugas awan dengan nada penuh tanya.
"Kami berencana akan mencari tempat sedikit rimbun untuk mendirikan tenda, sebab tenda-tenda yang tersedia sudah tidak ada yang kosong untuk kami." ucap Ceni jujur.
"Mohon maaf nona, tuan, hutan ini memang berada di perbatasan perguruan awan tapi tidak ada yang boleh memasuki hutan tersebut." Ucap petugas awan.
Dahi Ceni mengernyit dalam begitu pula Zeno yang penasaran.
"Memang nya ada apa di dalam hutan itu tuan.?" Tanya Ceni.
"Saya hanya mengingatkan nona, tuan, selebihnya ada apa di hutan itu hanya tetua sekte yang tau, saya harap nona dan tuan dapat memaklumi, ini sudah menjadi peraturan atasan saya." Ucap petugas awan lalu pergi dari hadapan Ceni dan Zeno yang masih penasaran sesekali melirik ke arah belakang yang mana batas hutan belantara itu berjarak sekitar 50 meter dari kedua nya yang sebelum nya 100 meter dari tenda.
"Memang bisa seperti itu,? Cuma hutan doang kok ku lihat."Ucap Zeno menatap jauh ke arah hutan.
"Tapi sebaiknya kita gak boleh nyari perkara Zen, kita tidak tau hal berbahaya apa di dalam sana, lagipula ini kawasan asing bagi kita, ayo kita ke ujung tenda sana, mendirikan tenda di sana bukan ide buruk kayak nya." Ucap Ceni lalu menarik tangan Zeno.
"Eh eh eh." Zeno pun hampir limbung kala di tarik Ceni dengan paksa, tapi mau tak mau dia tetap mengikuti langkah Ceni.
.
Sesampainya di tanah kosong ujung Ceni pun mengeluarkan tenda camping untuk nya dan juga untuk Zeno, lengkap dengan tikar busa dan bantal nya.
Kedua nya pun memasang tenda masing-masing yang bersebelahan.
Ceni yang sudah selesai dengan tenda nya pun langsung merebahkan tubuhnya di dalam tenda tak lupa menutup tenda nya dengan rapat.
"Hah, enak nya setelah berbaring." Ucap Ceni lalu seketika memejamkan mata nya dengan damai.
Hal serupa pun di lakukan Zeno, tubuh nya yang letih pun tak menolak ketika di ajak istirahat lalu tidur dengan pulas nya.
.
Di tenda umum, bibi Siu pun menoleh ke sana kemari dengan dahi berkerut.
"Bibi ada apa.?" tanya Dien.
"Bibi hanya penasaran kemana nona cantik itu pergi bersama teman nya, sedari tadi kan mereka ada bersama kita." Ucap Bibi Siu.
"Mungkin mereka memisahkan diri bi, biarkan saja, mereka pasti dari kalangan bangsawan yang sudah tentu akan memiliki tempat istirahat yang lebih bagus dari ini." Ucap Dien menerka-nerka.
Bibi siu pun hanya mengangguk mengira apa yang di ucapkan keponakan nya ialah benar.
Padahal yang sebenarnya ialah, Ceni dan Zeno sama sekali tidak mendapatkan tenda, beruntung Ceni memiliki ruang penyimpanan yang memiliki apa saja yang di butuhkan Ceni selama berada di dunia antah berantah.
Sedangkan Yayan dan Yeyen karena kedua nya ialah peserta, kedua nya memiliki tempat khusus di paviliun awan yang mana rata-rata sudah terisi oleh para peserta perwakilan masing-masing perguruan dan akademi.
.
Malam hari nya Ceni pun terbangun ketika mendengar di luar sana sibuk memasak.
Ceni pun keluar tenda dan benar saja, Ceni dapat melihat orang-orang memasak di depan tenda nya masing-masing yang hanya menggunakan alat sederhana dan juga tungku darurat yang mereka buat sendiri.
Setelah melihat sekitaran, Ceni pun menutup kembali tenda bagian depan lalu membuka tenda bagian belakang yang menghadap langsung ke arah hutan.
Lalu Ceni pun mengeluarkan kompor portable serta lilin untuk menerangi sedikit tenda nya supaya ia dengan mudah memasak untuk makan malam, tanpa membangun kan Zeno, Ceni pun mulai masak nasi, merebus sayuran, ngulek sambal tak lupa memanggang daging secara bergantian, setelah masakan nya siap santap, Ceni pun mulai merebus air untuk bikin kopi susu, karena cuaca yang sudah memasuki musim dingin ini enak nya minum yang hangat-hangat, begitu lah pikir Ceni, dirinya tak cuma bikin satu gelas tapi dua gelas yang satu nya akan ia berikan pada Zeno.
Ceni tersenyum kala melihat masakan sudah tersaji di hadapan nya, hal itu juga mengingatkan nya pada sosok sahabatnya yang mana semasa kuliah dulu, Ceni dan sahabat nya pasti akan memilih camping di area pegunungan ketika cuti sekolah.
Sebulir air mata pun meluncur di mata indah Ceni, lalu Ceni pun tersadar dan buru-buru menghapus jejak air mata nya.
Ceni pun mulai makan dengan nikmat, baru akan menyuap nasi, ia di kejutkan oleh kedatangan Zeno.
"Nona, kau jahat sekali, makan enak tidak mengajak ku." Ucap Zeno cemberut sambil bersedekap dada.
"Siapa suruh kau tidur di saat semua orang sedang sibuk masak Zen." Ucap Ceni mendelik tapi ia tetap saja menyodorkan sebuah piring pada Zeno.
Dengan Senang hati Zeno menerima nya lalu duduk makan di dalam tenda milik Ceni.
"Aku kelelahan tadi nona, dan bablas ketiduran." Ucap Zeno cengengesan.
Ceni pun memutar bola mata nya malas lalu melanjutkan memakan makanan nya yang tertunda tadi.
Kedua nya makan dengan diam sebab sudah sangat kelaparan karena siang tadi mereka hanya memakan buah-buahan tidak sempat masak di karenakan waktu istirahat yang singkat semasa di hutan.
"Nama nya di zaman kuno, tapi kita serasa camping di area pegunungan tak jauh berbeda di Zaman modern." Ucap Zeno di sela-sela makan nya.
"Kau benar Zen, seandainya saja sahabatku masih hidup, sudah pasti camping ini sangat menyenangkan." Ucap Ceni tersenyum simpul.
"Memang nya apa yang terjadi pada sahabat mu nona." Tanya Zeno.
"Dia mengalami kecelakaan beruntun Di jalan tol, saat itu aku sedang berada di Jepang karena urusan bisnis, kami hanya sering berkomunikasi lewat video call selama 2 tahun itu, karena lulus kuliah aku langsung terbang ke negara jepang, setelah aku mendengar berita kematian nya, aku pun langsung terbang ke Indonesia tanpa memikirkan apapun lagi, karena tujuan ku hanya untuk bertemu dengan sahabat ku walaupun hanya tinggal raga tanpa nyawa." Ucap Ceni tergugu.
"Seandainya saja sahabat mu seperti ku nona, bereinkarnasi ke Zaman ini." Celetuk Zeno.
Tapi hal itu sontak membuat Ceni menatap Zeno dengan tatapan rumit.
Sejujurnya ia juga berharap demikian, karena Ara adalah sahabat satu-satunya bagi nya begitu pula Ara yang hanya memiliki sahabat dirinya seorang tanpa ada yang lain.
Semenjak Ceni tak ada di samping sahabatnya, sahabat nya itu hanya lebih banyak menghabiskan waktu di restoran peninggalan almarhum ibu nya, walaupun Ceni dan Ara beda agama, tapi persahabatan mereka tak pernah saling membedakan dan selalu menjaga toleransi masing-masing.
Bersambung.
lanjut up yg bnyak thor💪💪💪💪
3 hari aja kering tak berbekas... tapi gak pake garem
lanjut up lagi thor💪💪💪💪💪