Ikuti saya di:
FB Lina Zascia Amandia
IG deyulia2022
Setelah hatinya lega dan move on dari mantan kekasih yang bahagia dinikahi abang kandungnya sendiri. Letnan Satu Erlaga Patikelana kembali menyimpan rasa pada seorang gadis berhijab sederhana yang ia temui di sebuah pujasera.
Ramah dan cantik, itu kesan pertama yang Erlaga rasakan saat pertama kali bertemu dengan gadis itu. Namun, ketika hatinya mulai menyimpan rasa, tiba-tiba sang mama membawa kabar kalau Erlaga akan dikenalkan pada seorang gadis anak dari leting sang papa. Sayangnya, Erlaga menolak. Dia hanya ingin mendapatkan jodoh hasil pencariannya.
Apakah Erlaga pada akhirnya menerima perjodohan itu, atau malah justru berjodoh dengan gadis yang ia temui di pujasera?
Yuk, kepoin kisahnya di "Jodoh Sang Letnan"
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Deyulia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 17 Cincin Tanda Kekasih
Sore itu, kota Bandung diguyur hujan gerimis yang menyisakan aroma tanah basah yang menenangkan. Namun, ketenangan itu tidak mampir ke hati Syafina.
Sejak duduk di kursi samping kemudi, ia merasa ada yang berbeda dari gelagat Erlaga. Pria itu tampak jauh lebih rapi, wangi parfum maskulinnya memenuhi kabin mobil, dan sorot matanya menyimpan binar yang sulit dibaca.
Mobil Erlaga bukan mengarah ke rumah Dallas. Melainkan ke arah lain. Erlaga justru membawa Syafina ke sebuah restoran mewah di kawasan Dago Pakar. Restoran itu berdiri megah di ketinggian, menyuguhkan pemandangan lampu kota yang mulai menyala satu per satu.
"Kakak, kenapa kita ke sini?," tanya Syafina pelan, wajahnya tidak bisa menyembunyikan rasa kaget. Ia merasa sedikit tidak percaya diri dengan flat shoes dan tas kuliahnya di tengah kemewahan ini. Bajunya juga masih ala anak kuliahan.
"Kamu selalu cantik dengan apa pun yang kamu pakai, Dik. Kakak hanya ingin kita makan sore dengan tenang hari ini," jawab Erlaga lembut sambil membukakan pintu mobil untuknya.
Hidangan utama sudah selesai mereka nikmati, suasana mendadak hening. Hanya terdengar denting sendok dan alunan musik instrumen yang syahdu. Tiba-tiba, Erlaga merogoh saku celananya. Sebuah kotak kecil berbahan beludru biru tua diletakkan tepat di hadapan Syafina.
Klik.
Kotak itu terbuka, menampilkan sebuah cincin emas putih dengan mata berlian mungil yang berkilau terkena cahaya lampu temaram sore itu. Jantung Syafina seolah berhenti berdetak. Pikirannya langsung melayang pada ucapan sang kakak, Sakala, yang semalam menyinggung tentang lamaran resmi dan pernikahan. Apakah ini saatnya? Apakah Erlaga seberani itu langsung memintanya menjadi istri?
"Syafina," panggil Erlaga, memecah lamunan gadis di depannya. "Mungkin ini terasa mendadak. Tapi Kakak tidak mau buang waktu. Kakak ingin kita punya ikatan."
Syafina menahan napas. Ia sudah bersiap jika kalimat berikutnya adalah sebuah khitbah.
"Maukah kamu menjadi kekasihku?" ucap Erlaga dengan tatapan penuh harap.
Syafina terpaku. "Kekasih?" batinnya mengulang kata itu dengan rasa yang sulit digambarkan. Ada rasa lega karena ternyata Erlaga mencintainya, namun ada kekecewaan yang menyeruak karena status itu jauh dari apa yang ia harapkan. Syafina adalah tipe perempuan yang menjaga diri, ia tidak pernah berpacaran seumur hidupnya.
Baginya, meskipun ia masih muda, komitmen tertinggi saat ini yang diharapkan dari seorang laki-laki adalah ajakan menikah, bukan sekadar ajakan menjadi "kekasih" yang belum tentu berujung di pelaminan. Terlebih, Erlaga adalah tipe lelaki yang memang ia sukai, selain tampan, Erlaga menurutnya punya punya rasa tanggung jawab, terbukti selama di Sudan, ia menyimpan liontin separuh sampai ia kembali ke Indonesia.
Melihat Syafina yang hanya diam dan tampak bengong, Erlaga sedikit gugup. Ia mengira Syafina keberatan karena ia terlalu cepat bertindak.
"Syafina? Sekali lagi aku bertanya, maukah kamu menjadi kekasihku?" Erlaga mencoba mencairkan suasana, meski tangannya sedikit gemetar.
Lama Syafina berpikir. Logikanya ingin menolak karena status ini terasa "abu-abu", namun hatinya yang telanjur sayang tidak mampu berkata tidak. Ia ingin memberi kesempatan pada pria yang sudah menjaganya dalam doa selama setahun di Sudan ini. Perlahan, Syafina mengangguk kecil. Sangat pelan, hampir tak terlihat.
Wajah Erlaga langsung berseri-seri. Ia seperti seorang prajurit yang baru saja memenangkan pertempuran besar. Dengan gerakan hati-hati, ia mengambil cincin itu dan menyematkannya di jari manis Syafina.
"Terima kasih, Sayang. Kakak janji akan menjaga ini," ujar Erlaga bahagia, diimbuhi kata 'sayang' yang langsung menyetrum hati Syafina. "Mulai sekarang, kita sepasang kekasih," lanjutnya.
Syafina menatap cincin yang melingkar di jarinya. Cantik sekali. "Terima kasih, Kak. Cincinnya indah," jawab Syafina dengan senyum tipis yang dipaksakan. Ia berusaha menghargai usaha Erlaga, meskipun hatinya masih terasa belum puas.
Erlaga menjelaskan bahwa cincin itu hanyalah hadiah kecil, tanda bahwa kini mereka sudah resmi menjalin hubungan. Namun, di dalam hati, Syafina bicara pada dirinya sendiri.
"Sekarang statusku adalah kekasih Kak Laga. Tapi, ini bukan akhir. Aku ingin melihat usaha Kak Laga lebih keras lagi. Aku ingin lihat, apakah cincin ini hanya pengikat sementara, atau Kakak punya nyali untuk mendatangi Papa dalam waktu dekat dan mengubah status 'kekasih' ini menjadi 'kekasih halal'.
Malam itu, mereka pulang dengan status baru. Erlaga pulang dengan perasaan lega yang luar biasa, sementara Syafina pulang dengan sebuah tanda tanya besar yang ia simpan rapat-rapat di balik senyumannya. Ia sedang memasang waktu, sampai kapan Erlaga akan membuatnya menunggu di depan gerbang pernikahan?