"Duduk di sini." ujarnya sembari menepuk paha kanannya.
Gadis itu tak salah dengar. Pria itu menepuk suatu tempat yakni pahanya sendiri. Dengan ekspresi datar seolah itu tak mengagetkan dan sudah menjadi kebiasaan di sana. Orang-orang di sekelilingnya pun tampak sama. Tak bereaksi, seolah itu hanya salah satu hal biasa dari serangkaian acara. Namun, tidak bagi gadis itu. Bisa-bisanya pria itu bertindak tidak tahu malu seperti ini di hadapan semua orang? Ia benar-benar tak habis pikir!
"Tidak mau."
Reaksi semua orang yang ada di sana sangat terkejut. Semua berbisik, tetapi tidak ada yang berbicara langsung seolah segan dengan sosok yang duduk di kursi paling mewah seperti seorang raja itu.
Pedang mulai mengarah ke leher gadis itu. Bukan dari pria itu, tetapi dari orang-orang yang seperti prajurit ini.
"Beraninya kau." ujar pria itu penuh amarah seolah ini adalah penghinaan terbesar terhadapnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Indah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Ketenangan yang terganggu
Bai Ruoxue terduduk di lantai istana yang dingin.
Bukan dingin karena malam, melainkan karena dinding-dinding batu tua yang seolah menyerap sisa kehangatan hidup. Istana ini sunyi, terlalu sunyi untuk tempat yang disebut kediaman bangsawan. Udara lembap merayap dari sela-sela lantai, menembus kain tipis yang membungkus tubuhnya, membuat tulang punggungnya terasa kaku.
Ia mengangkat wajahnya perlahan.
Rembulan menggantung pucat di langit, sinarnya menembus jendela tanpa kaca—sebuah lubang persegi yang dibiarkan terbuka, seolah dunia di luar sengaja dibiarkan mengintip penderitaannya. Cahaya itu jatuh tepat di lantai, memantul pada debu-debu halus yang menari pelan di udara.
Indah, tapi menyakitkan.
Bai Ruoxue menatapnya lama, terlalu lama. Pikirannya kosong, lalu perlahan terisi oleh kebingungan yang tak kunjung menemukan jawaban.
Bagaimana ia bisa berada di sini?
Yang ia ingat hanyalah malam biasa. Tubuh lelah setelah hari panjang, layar menyala dengan adegan drama kolosal, suara musik latar yang samar. Ia tertidur. Seharusnya itu hanya tidur.
Namun ketika membuka mata, dunia telah berubah sepenuhnya.
Istana. Hanfu. Nama yang bukan miliknya.
Ia menghela napas panjang, dadanya terasa sesak.
“Hah…”
Suara itu nyaris tak terdengar, tenggelam di antara desah angin malam.
Nama ini—Bai Ruoxue.
Nama yang kini melekat padanya, entah bagaimana caranya. Nama yang asing, namun diucapkan oleh orang-orang dengan nada penuh hinaan, seolah pemiliknya tak lebih dari noda yang terselip di tempat suci.
Apakah ini dirinya sekarang?
Pertanyaan itu menggantung tanpa jawaban. Kelopak matanya terasa berat. Tubuhnya menyerah pada kelelahan yang tak hanya fisik, tapi juga batin. Ia menyandarkan punggungnya pada dinding tua yang kasar, menahan rasa perih di kulitnya, lalu tanpa sadar terlelap.
Hingga—
Brak!
Suara dentuman pintu tua mengguncang kesunyian.
Bai Ruoxue tersentak bangun. Jantungnya berdegup keras, napasnya tercekat. Pandangannya langsung tertuju ke arah pintu kayu yang terbuka kasar, engselnya berderit seperti jeritan panjang yang menyayat telinga.
Cahaya obor masuk bersamaan dengan langkah kaki.
“Oh? Kau terbangun rupanya.”
Suara seorang wanita terdengar, halus namun penuh racun.
Seorang wanita berbaju hanfu mewah melangkah masuk. Kainnya berlapis-lapis, berkilau diterpa cahaya, jelas berbeda jauh dari pakaian Bai Ruoxue yang kusam dan tipis. Rambutnya disanggul rapi, dihiasi perhiasan emas dan giok. Wajahnya cantik—cantik dengan cara yang dingin dan sombong.
Di belakangnya, beberapa wanita lain berdiri tertib. Dayang-dayang. Kepala mereka sedikit tertunduk, tapi mata mereka tak lepas dari Bai Ruoxue. Tatapan itu penuh rasa ingin tahu, sekaligus merendahkan.
Wanita itu tersenyum. Senyum yang sama sekali tak mengandung kehangatan.
“Kau memang bodoh, Bai Ruoxue.”
Tawa kecil keluar dari bibirnya. Bukan tawa gembira, melainkan tawa kemenangan—seperti seseorang yang tengah menikmati penderitaan orang lain.
Ia melangkah lebih dekat, sepatu lembutnya nyaris tak bersuara. Lalu, dengan gerakan anggun namun menghina, ia berjongkok, menyamakan tinggi tubuhnya dengan Bai Ruoxue.
Jari-jarinya terulur.
Dingin.
Sentuhan itu membuat kulit Bai Ruoxue meremang. Wanita itu menyentuh pipinya perlahan, seolah sedang mengamati barang antik. Jemarinya menelusuri garis rahang, turun ke dagu, lalu kembali naik.
“Kau memang cantik,” katanya ringan, nada suaranya seolah memberi pujian.
Bai Ruoxue menahan napas.
“Tapi…” bibir wanita itu melengkung lebih tajam, “…murahan.”
Sesuatu di dalam diri Bai Ruoxue pecah.
Tanpa berpikir, tangannya bergerak. Ia menyekal pergelangan tangan wanita itu, menggenggamnya erat, lalu memutarnya keras.
“Ah!”
Jeritan melengking memenuhi ruangan.
Wanita itu berusaha menarik tangannya, wajahnya berubah pucat oleh rasa sakit dan keterkejutan. Bai Ruoxue menatapnya dengan mata berapi-api—bukan mata seorang gadis lemah yang menunggu dihancurkan, melainkan mata seseorang yang tak sudi diinjak-injak.
Ia baru melepaskan genggamannya ketika merasa cukup.
Wanita itu mundur tergesa, tubuhnya oleng.
“Selir Mei!”
Para dayang langsung bereaksi. Mereka mengerumuni wanita itu, menopang tubuhnya, wajah-wajah mereka dipenuhi kepanikan. Salah satu dari mereka melangkah maju, matanya melotot penuh amarah.
“Beraninya kau!” serunya sambil mengangkat tangan, siap menampar Bai Ruoxue.
Namun gerakannya terlalu lambat.
Plak!
Suara tamparan terdengar nyaring.
Bukan Bai Ruoxue yang tertampar, melainkan dayang itu. Kepalanya terlempar ke samping, pipinya memerah seketika.
Keheningan sesaat menyelimuti ruangan.
“Bai Ruoxue! Beraninya kau!” teriak wanita yang kini jelas-jelas disebut sebagai Selir Mei.
Matanya membara oleh amarah dan rasa malu. Dayang-dayangnya membantu ia berdiri, sementara ia menatap Bai Ruoxue seolah ingin mencabik-cabiknya hidup-hidup.
“Lihat saja!” ancamnya, suaranya bergetar. “Aku tidak akan tinggal diam! Aku akan melaporkannya kepada Yang Mulia!”
Tanpa menunggu jawaban, ia berbalik pergi. Langkahnya tergesa, disertai amarah yang tak tersamarkan. Pintu ditutup kembali dengan dentuman yang lebih keras dari sebelumnya, seakan ingin menghancurkan apa pun yang tersisa di dalam ruangan itu.
Bai Ruoxue terduduk kembali.
Tangannya masih gemetar. Napasnya tak teratur. Amarah perlahan memudar, digantikan rasa kosong yang lebih dalam. Ia menatap lantai, mencoba mencerna apa yang baru saja terjadi.
Selir Mei.
Yang Mulia.
Istana ini bukan tempat yang aman.
Belum sempat ia menenangkan diri, pintu itu kembali terbuka.
Namun kali ini tidak dengan kasar.
Pintu itu bergerak perlahan, nyaris tanpa suara, seolah orang yang membukanya takut mengganggu.
Seorang gadis kecil melangkah masuk.
Pakaiannya sederhana, rambutnya dikepang rapi. Wajahnya polos, matanya membulat penuh kekhawatiran. Di tangannya, ia membawa nampan kecil berisi makanan.
“Nona…” suaranya lembut, hampir berbisik. “Anda tidak apa-apa?”
Bai Ruoxue mengangkat kepala, menatap gadis itu dengan kebingungan.
“Saya melihat Selir Mei datang ke sini,” lanjut gadis itu cepat. “Saya khawatir…”
Bai Ruoxue terdiam. Ia tak tahu harus berkata apa. Ia bahkan tak tahu siapa gadis ini.
“Siapa kau?” tanyanya akhirnya.
Alih-alih tersinggung, gadis itu justru tampak semakin cemas.
“Ah—Nona benar-benar baik-baik saja, kan?”
Ia melangkah lebih dekat. “Ini saya… Shuang Shuang.”
“Shuang Shuang?”
“Iya! Dayang Anda!”
Bai Ruoxue mengedipkan mata, lalu mengangguk pelan, berpura-pura mengerti. Jadi… ia punya dayang. Dan dari caranya diperlakukan Selir Mei, tampaknya ia bukan orang sembarangan—atau setidaknya, pernah menjadi seseorang yang berarti.
“Astaga, Nona,” Shuang Shuang berkata dengan wajah panik. “Entah apa yang terjadi pada Anda, tapi berurusan dengan Selir Mei itu sangat berbahaya.”
“Oh?” Bai Ruoxue bergumam pelan.
“Pasti akan ada masalah,” lanjut Shuang Shuang, suaranya nyaris bergetar.
Seolah menjawab kata-katanya, dari kejauhan terdengar suara langkah kaki yang ramai. Suara orang-orang. Terlalu banyak untuk sekadar kebetulan.
Bai Ruoxue mengangkat wajahnya perlahan.
Di balik rasa takut yang mulai merayap, ada sesuatu yang mengeras di dadanya.
Jika dunia ini berniat menghancurkannya, maka ia tak akan jatuh tanpa melawan.
sedangkan sang raja menaruh hati,yg tak bisa dia ungkapkan karna rasa gengsi