Julius Randle Seorang Laki-laki yang Memiliki aura yang mampu membekukan ruangan, namun seketika mencair hanya oleh senyum satu wanita.
Jane Mommartre, Seorang Gadis Yang menganggap dirinya Hanya Figuran Dan Hanya Debu yang tidak Terlihat Dimata Julius Randle, Dengan segala kekaguman dari jarak Tiga Meter, Dia Sudah menyukai Julius Randle Sejak Lama.
Dibalik Layar seorang Mr A dan Ms J sebagai pelengkap, yang ternyata Mr A adalan Julius Yang Tak tersentuh, Dan Ms J adalah Jane Si gadis Tekstil.
Cinta mereka tumbuh di antara jalinan Kerja sama Tekstil. Julius yang kaku perlahan mencair oleh Jane si Ms J, menciptakan momen-momen manis yang puncaknya terjadi di malam penuh kenangan.
Kekuatan cinta mereka diuji oleh manipulasi kejam Victoria Randle, Yang merupakan ibu Dari Julius Randle . Fitnah mendorong ibu, pesan singkat palsu, hingga tuduhan perselingkuhan membuat Julius buta oleh amarah. Jane diusir dalam keadaan hancur, membawa rahasia besar di Rahimnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Daena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kenyataan yang Terkunci
Realitas menghantam seperti badai es yang membekukan segalanya.
Pagi ini di kampus, suasana hangat di gunung dan aroma kayu bakar seolah hanyalah fragmen dari mimpi buruk yang indah. Begitu kaki Jane menginjak koridor fakultas, ia merasa kembali menjadi figuran yang tak kasatmata.
Henry berjalan melewati Jane sambil merangkul pacar barunya yang memakai pakaian sangat minim, hanya memberikan anggukan kecil tanpa minat, seolah mereka tidak pernah tertawa bersama di depan api unggun. Lucia yang biasanya cerewet kini berjalan dengan langkah angkuh, wajahnya tertutup kacamata hitam besar, memancarkan aura dingin yang menolak siapapun untuk mendekat.
Dan Julius... pria itu berjalan di tengah mereka dengan jas yang sangat rapi, ekspresinya kembali seperti patung marmer mati dan tak tersentuh. Saat mata mereka tidak sengaja berpapasan di depan tangga, Julius hanya menatapnya dengan pandangan kosong, lalu membuang muka seolah Jane hanyalah butiran debu di sepatunya.
Tiba-tiba, suasana koridor yang tenang pecah oleh teriakan melengking.
"KAU PIKIR KAU BISA BERMAIN DI BELAKANGKU?!"
Jane merinding. Itu suara Grace Liberty. Gadis itu datang dengan langkah menghentak, wajahnya merah padam karena amarah. Di depan semua mahasiswa, Grace langsung menghampiri Julius dan melingkarkan tangannya dengan sangat erat di lengan pria itu, seolah sedang menandai wilayah kekuasaannya.
"Julius, kau sudah berjanji padaku dan Ayah akan menghadiri acara malam ini! Jangan coba-coba menghilang lagi dengan alasan riset bodoh itu!" seru Grace dengan nada yang menghina, matanya melirik tajam ke arah Jane yang berdiri tak jauh dari sana.
Julius hanya diam. Rahangnya mengeras, namun ia tidak melepaskan tangan Grace. Dengan suara yang sangat dingin suara yang dulu membuat Jane takut ia akhirnya berbicara.
"Aku akan datang, Grace. Jangan berlebihan. Itu hanya perjalanan lapangan biasa untuk mengumpulkan data. Tidak ada yang spesial."
Tidak ada yang spesial.
Kata-kata itu menghujam jantung Jane lebih tajam dari sembilu. Tatapan hangat terakhir di dalam mobil, ciuman lembut di bibir, dan pijatan di kakinya... semuanya baru saja diklasifikasikan sebagai "tidak ada yang spesial" oleh mulut Julius sendiri.
Jane berjalan menuju kantin dengan kaki yang terasa berat. Ia duduk di pojok, menatap kalung kristal yang ia sembunyikan di balik kerah bajunya. Ia merenung, apakah ia benar-benar hanya dimanfaatkan atau apakah hantu gunung itu memang hanya imajinasinya.
Ia mengeluarkan ponselnya, berharap ada keajaiban dari Mr. A. Setelah sekian lama menghilang tanpa kabar, akhirnya ada notifikasi masuk. Namun, pesan itu bukan lagi ramalan manis atau godaan hangat.
Mr. A: Fokuslah pada bukumu, Ms. J. Ujian tengah semester akan segera tiba. Jangan biarkan perasaan mengganggu logikamu. Belajar adalah satu-satunya hal yang tidak akan mengkhianatimu saat ini.
Jane tersenyum pahit. Mr. A yang biasanya penuh misteri kini terdengar seperti instruktur yang kaku. Bahkan si peramal pun sepertinya sudah menyerah pada naskah yang kembali ke jalurnya.
Di meja utama kantin, Julius duduk bersama Grace. Ia tampak sibuk dengan laptopnya, mengabaikan ocehan Grace yang sedang memamerkan cincin tunangan barunya.
Julius tidak pernah lagi menoleh ke arah pojok kantin. Namun, di bawah meja, jemarinya terkepal begitu kuat hingga buku-buku jarinya memutih. Ia tahu Jane sedang di sana, hancur dalam diam. Julius merasa separuh jiwanya mati saat mengucapkan kata-kata dingin tadi, namun ia tidak punya pilihan. Naskah keluarga Randle tidak membiarkan ada celah untuk cinta yang tulus.
Sedangkan Jane, merasa sendirian lagi, terkunci dalam kasta yang tidak pernah ia minta.
🌷🌷🌷🌷🌷🌷
Happy Reading Dear 😍😍😍