NovelToon NovelToon
ISTRI UNTUK SUAMIKU

ISTRI UNTUK SUAMIKU

Status: sedang berlangsung
Genre:Romantis / Cintamanis / Wanita perkasa / Cinta Seiring Waktu / Keluarga / Romansa
Popularitas:1k
Nilai: 5
Nama Author: Alvaraby

"Mencintai bukan hanya soal memiliki, tapi soal memastikan duniamu tetap berputar saat kamu tak lagi ada di sana."

Canida punya segalanya: karir cemerlang sebagai penulis best-seller, suami suportif seperti Alfandy, dan dua anak yang menjadi pusat semestanya. Namun, sebuah amplop putih mengubah hidupnya menjadi nightmare dalam semalam. Vonis kanker serviks stadium lanjut datang tanpa permintaan maaf, merenggut semua rencana masa depannya.

Di tengah rasa sakit yang mulai menggerogoti tubuhnya, Nida tidak takut mati. Ia hanya takut akan satu hal: Kekosongan. Ia takut anak-anaknya kehilangan arah, dan suaminya kehilangan pegangan akidah.

Maka, Nida mengambil keputusan paling gila dan paling menyakitkan yang pernah dipikirkan seorang istri: Mencarikan calon istri untuk suaminya sendiri.

Di satu sisi, ada Anita, ipar ambisius dan manipulatif siap mengambil alih posisinya demi harta. Di sisi lain, ada Hana, wanita tulus yang Nida harap bisa jadi "pelindung surga" bagi keluarganya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Alvaraby, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 2 Rahasia dalam Sujud

Malam kian merambat dewasa, namun kantuk seolah menjadi tamu yang enggan singgah di pelupuk mata Nida. Di sampingnya, Fandy telah terlelap, napasnya teratur dan tenang—sebuah ritme kehidupan yang biasanya menjadi musik pengantar tidur paling damai bagi Nida. Namun malam ini, suara napas itu terdengar seperti detak jam dinding yang menghitung mundur sisa kebersamaan mereka. Nida menatap langit-langit kamar yang temaram, membiarkan pikirannya berkelana pada lorong-lorong rumah sakit yang dingin, pada aroma disinfektan yang tajam, dan pada wajah dokter yang menyampaikan vonis itu dengan nada datar, seolah kematian hanyalah angka-angka statistik di atas kertas laporan.

Perlahan, Nida bangkit dari tempat tidur. Ia bergerak sangat hati-hati, tidak ingin gerakan sekecil apa pun mengusik mimpi indah suaminya. Ia berjalan menuju kamar sebelah, kamar di mana Syabila dan Syauqi terlelap dalam pelukan mimpi-mimpi masa kecil yang putih. Di sana, ia berdiri di ambang pintu, bersandar pada kusen kayu yang dingin. Cahaya lampu tidur yang remang menyinari wajah kedua buah hatinya. Syabila, putri sulungnya yang mulai beranjak remaja, tampak begitu mirip dengan Fandy saat sedang tidur. Sementara Syauqi, si bungsu yang masih sering mengigau tentang pahlawan super, memeluk bantal gulingnya dengan erat.

Dada Nida kembali terasa seperti dihimpit batu besar. Ia mendekat, lalu berlutut di samping tempat tidur Syauqi. Ia mengusap dahi putranya dengan ujung jari yang gemetar. Dalam benaknya, sebuah pertanyaan terus berulang: *Jika aku tak lagi ada di sini untuk menyelimuti kalian, siapa yang akan memastikan kalian tidak kedinginan? Jika aku tak lagi ada untuk membimbing kalian mengenal Rabb, siapa yang akan menjaga agar hati kalian tidak terseret arus dunia?* Air mata yang sejak tadi ia tahan, akhirnya luruh satu per satu, jatuh membasahi sprei motif kartun itu. Nida segera menyekanya dengan ujung mukena yang ia sampirkan di bahu. Ia tak boleh terlihat lemah, bahkan di hadapan anak-anak yang sedang tidur.

Nida kemudian melangkah menuju mushola kecil di sudut rumah mereka. Ruangan itu hanya berukuran tiga kali tiga meter, namun baginya, itulah tempat paling luas di jagat raya, tempat di mana ia bisa melepas semua beban yang menghimpit bahunya. Ia mengenakan mukena putihnya, warna yang melambangkan kesucian dan kepasrahan. Saat ia memulai takbiratul ihram, dunianya yang bising mendadak senyap. Ia hanya ingin berdua dengan Sang Pemilik Nyawa.

Dalam sujud yang panjang, Nida tumpah ruah. Ia membiarkan sajadahnya menjadi saksi bisu atas segala ketakutan yang tidak berani ia ucapkan pada manusia. Ia meratap dalam diam, memohon agar sel-sel jahat di dalam tubuhnya berhenti mencuri waktunya. Ia meminta keajaiban, namun di saat yang sama, ia juga meminta keikhlasan. "Ya Allah, jika Kau ingin aku pulang, kumohon jangan biarkan mereka tersesat. Jangan biarkan Fandy kehilangan imannya karena duka. Jangan biarkan anak-anakku kehilangan figur ibu yang mampu membimbing mereka ke jalan-Mu," bisiknya di sela isak.

Di dalam sujud itu pula, sebuah pemikiran radikal mulai menyelinap. Sebuah gagasan yang awalnya ia anggap sebagai bisikan keputusasaan, namun perlahan mulai terasa seperti sebuah solusi yang logis bagi seorang ibu yang mengkhawatirkan masa depan anak-anaknya. Jika ia pergi, Fandy akan menjadi duda yang kesepian. Syabila dan Syauqi akan menjadi yatim yang merindukan belaian. Fandy adalah pria tampan, CEO di perusahaan properti yang sukses, dan memiliki hati yang lembut. Tak butuh waktu lama bagi wanita lain untuk masuk ke dalam hidupnya. Namun, siapa wanita itu? Akankah wanita itu mencintai Syabila seperti anak kandungnya sendiri? Ataukah ia hanya akan mencintai harta dan posisi Fandy?

Pikiran Nida melayang pada Anita Sasmira, adik ipar Fandy dari jalur sepupu yang belakangan ini mulai menunjukkan perhatian berlebihan. Anita adalah wanita yang modis, ambisius, dan selalu tahu cara mengambil hati ibu mertua Nida. Namun, Nida pernah tanpa sengaja melihat bagaimana Anita memperlakukan pelayan di rumahnya dengan kasar, dan bagaimana ia menatap Syauqi dengan pandangan terganggu saat bocah itu tidak sengaja menumpahkan minuman di gaun mahalnya. Nida merinding. Ia tidak bisa membiarkan anak-anaknya jatuh ke tangan wanita seperti itu.

"Aku harus mencarikan mereka ibu," bisik Nida pada dirinya sendiri saat ia duduk di antara dua sujud. Suara itu terdengar asing di telinganya, namun mantap. Mencari istri untuk suaminya sendiri terdengar seperti skenario gila dalam novel-novel yang sering ia tulis, namun dalam kenyataan yang pahit ini, hal itu terasa seperti tugas terakhir yang paling mulia. Ia ingin memastikan bahwa penggantinya adalah wanita yang akidahnya kuat, yang hatinya seluas samudra, dan yang mencintai Allah lebih dari ia mencintai Fandy.

Nida menyelesaikan salatnya tepat saat azan subuh mulai berkumandang dari masjid di ujung jalan. Ia tidak segera bangkit. Ia tetap duduk bersimpuh, memutar butiran tasbih, mencoba mencari ketenangan di tengah badai ide yang baru saja lahir. Ia tahu, perjalanan ini akan sangat menyakitkan. Ia akan melihat suaminya berinteraksi dengan wanita lain atas pilihannya sendiri. Ia akan merasakan cemburu yang mungkin akan membakar sisa-sisa kekuatannya. Namun, bagi Nida, cinta bukan lagi tentang memiliki secara eksklusif, tapi tentang memastikan keselamatan orang yang dicintai di dunia dan akhirat.

Pagi itu, saat ia keluar dari mushola, ia mendapati Fandy sudah bangun dan sedang menyiapkan kopi di dapur. "Sayang, tumben salat malamnya lama sekali? Kamu terlihat pucat, apa kamu benar-benar hanya kecapekan?" tanya Fandy dengan nada cemas yang kian kentara. Ia menghampiri Nida, memegang kedua bahu istrinya dan menatap dalam-dalam ke matanya.

Nida memaksakan sebuah senyum. Senyum yang ia asah selama bertahun-tahun untuk menutupi keresahan. "Hanya ingin berdoa lebih lama, Mas. Banyak syukur yang harus kusampaikan karena keberhasilan buku baruku," jawabnya, kembali menggunakan topeng yang sama. Fandy tampak tidak sepenuhnya percaya, namun ia tidak ingin mendesak lebih jauh. Ia menarik Nida ke dalam pelukannya.

Di dalam dekapan Fandy, Nida memejamkan mata. Ia bisa merasakan detak jantung suaminya yang hangat. Dalam hati, ia berbisik, *Maafkan aku, Mas. Maafkan aku karena harus merencanakan sesuatu yang mungkin akan membuatmu marah besar. Namun, semua ini kulakukan karena aku terlalu mencintaimu, hingga aku tak sanggup melihatmu hancur saat aku tak lagi bisa menggenggam tanganmu.*

Hari itu, Nida memutuskan untuk mulai bergerak. Sambil menyiapkan sarapan untuk anak-anak, ia mulai mengingat-ingat kembali siapa saja wanita-wanita salehah di lingkungannya atau di kalangan penulis yang sekiranya memenuhi kriteria sebagai "pendamping surga". Ia butuh seseorang yang tidak hanya cantik secara fisik, tapi memiliki kedalaman spiritual. Seseorang yang mampu menggantikannya tanpa menghapus jejaknya.

Saat ia sedang menuangkan susu ke gelas Syauqi, tangannya mendadak lemas. Rasa nyeri yang tajam menghujam perut bagian bawahnya, membuatnya hampir menjatuhkan gelas kaca itu. Nida berpegangan pada pinggiran meja, wajahnya memucat seketika, peluh dingin membanjiri dahinya.

"Ibu! Ibu kenapa?" Syabila yang baru saja masuk ke dapur berteriak panik.

Fandy yang sedang membaca koran di ruang makan langsung berlari menghampiri. Ia menangkap tubuh Nida sebelum jatuh ke lantai. "Nida! Ada apa? Kita ke rumah sakit sekarang!" seru Fandy dengan suara bergetar.

Nida menarik napas pendek-pendek, mencoba menguasai rasa sakitnya. Ia menatap wajah suaminya yang penuh ketakutan. "Enggak apa-apa, Mas... cuma... cuma maag-ku kambuh. Aku belum sarapan," bohongnya lagi. Ia bisa melihat keraguan di mata Fandy, namun ia terus meyakinkan bahwa ia hanya butuh istirahat sebentar.

Di dalam kamar, setelah Fandy membantunya berbaring, Nida menyadari bahwa waktu yang ia miliki mungkin jauh lebih sedikit dari yang ia duga. Sel-sel jahat itu tidak akan menunggu sampai ia siap. Ia harus segera memulai "proyek" terakhirnya. Ia harus mulai mencari wanita itu, meski itu artinya ia harus merobek hatinya sendiri setiap hari. Rahasia dalam sujudnya kini telah menjelma menjadi sebuah misi hidup yang tak bisa ditawar lagi.

Nida menatap jendela kamar yang kini mulai disinari cahaya matahari pagi. Di luar, burung-burung berkicau, seolah tidak peduli dengan drama kehidupan yang sedang berlangsung di dalam rumah itu. Nida tahu, hari-hari ke depan akan menjadi medan perang batin yang luar biasa. Namun, di setiap sujudnya nanti, ia telah membulatkan tekad: ia akan menemukan "istri untuk suaminya", demi kebahagiaan mereka, dan demi ketenangannya saat harus kembali ke pelukan bumi.

---

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!