Mutiara mengira kalau dikhianati oleh kekasihnya adalah hal yang terburuk di dalam hidupnya, musibah yang akan membuat di hidupnya terpuruk. Namun, ternyata hal itu merupakan berkah di dalam hidupnya.
"Kenapa kamu tega, Fajar? Kenapa aku hanya dijadikan lelucon saja di dalam hubungan kita ini?"
Bagaimana kehidupan Mutiara selanjutnya?
Kuy baca, jangan lupa kasih komen yang baik jika suka.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon cucu@suliani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
DMNB 2
Perusahaan yang sudah menjadi tempat dia bekerja biasanya memberikan semangat bagi Mutiara, tetapi hari ini suara ketikan keyboard di sekitarnya terasa seperti hantaman palu.
Sejak Fajar, kekasihnya sekaligus CEO di perusahaan ini memutuskannya secara sepihak dari kursi sekretaris utama dan memindahkannya ke divisi ini, dunianya terasa tidak lagi sama.
Alasannya sederhana, tetapi menyakitkan. Rena, wanita pilihan ayahnya Fajar yang kini menduduki kursi empuk yang dulu milik Mutiara. Dirinya seperti tidak dianggap lagi, karena status wanita itu jauh lebih tinggi dari dirinya.
Saat ini, Mutiara sedang menatap layar komputernya dengan mata yang mulai memanas. Ia mencoba fokus pada pekerjaannya, tetapi bayangan Fajar yang menghindari tatapannya saat pengumuman mutasi itu terus terngiang.
"Sebenarnya aku ini dianggap apa sama kamu, Jar?" tanya Mutiara dengan suaranya yang hampir tidak terdengar.
Di tengah usahanya menata hati, suara denting sepatu hak tinggi yang angkuh mendekat. Rena berdiri di sana, membawa tumpukan map tebal dengan senyum kemenangan.
"Mutiara, ini laporan keuangan dan jadwal meeting yang harus dirapikan sama kamu. Kerjakan sekarang," ucap Rena tanpa dosa.
Dia meletakkan beban itu di atas meja Mutiara yang sudah penuh. Mutiara tertegun, dia tidak menyangka wanita itu begitu sok berkuasa. Padahal baru satu hari bekerja.
"Maaf, Nona Rena. Saya sudah dipindahkan ke bagian divisi pemasaran. Tugas sekretaris itu sudah menjadi pekerjaan anda sekarang. Kenapa diberikan pada saya?"
Rena mengangkat bahu, lalu dia mencebikkan bibirnya.
"Mas Fajar bilang kamu sudah sangat ahli dalam hal ini. Jadi, tidak ada salahnya kan' kalau misalkan kamu membantu aku?"
Ada rasa sakit yang menusuk ke dalam hatinya, karena wanita yang ada di hadapannya itu tanpa ragu menyebut Fajar dengan sebutan 'mas'.
"Walaupun aku memang ahli dalam mengerjakan hal itu, tetapi nyatanya sekarang posisiku sudah diturunkan. Jadi, silakan anda kerjakan sendiri."
"Tidak bisa, aku tidak bisa mengerjakannya sendiri. Mas Fajar bilang harus kamu yang mengerjakannya, aku tidak boleh berpikir dengan terlalu keras dan juga tak boleh capek."
Geram dan tak terima, itulah yang Mutiara rasakan saat ini. Mutiara langsung beranjak menuju ruangan CEO. Ia masih punya sedikit harapan bahwa Fajar akan bersikap adil.
"Fajar, maksudnya apa ini? Kamu sudah menurunkan aku ke divisi pemasaran, tapi kenapa aku masih harus mengerjakan tugas Rena? Ini tidak adil!"
Fajar tetap tenang di kursi kebesarannya, bahkan tidak menoleh sama sekali ke arah Mutiara. Tatapan matanya hanya fokus menatap layar laptop yang ada di hadapannya.
"Hanya bantu sedikit, Tiara. Rena masih perlu belajar, sedangkan kamu sudah tahu seluk-beluknya."
"Tapi ini bukan lagi tugasku! Kamu memindahkanku karena perjodohan itu, kan? Kamu menyingkirkan aku untuk memberinya tempat, sekarang kamu menjadikanku asisten pribadinya secara tidak langsung tau gak?"
Fajar Berdiri dengan cepat, dia menatap Mutiara dengan dingin. Tatapan yang dulu selalu penuh cinta dan hangat, kini tidak ada lagi dan tidak dirasakan lagi oleh Mutiara.
"Cukup, Mutiara. Jangan bawa urusan pribadi ke kantor. Rena adalah tunanganku sekarang, dia butuh bantuanmu. sesulit itukah memberikan bantuan kepada orang yang belum paham?"
"Aku tidak mau, Fajar. Aku punya pekerjaan sendiri di bawah sana."
Berkali-kali mendapatkan penolakan dari Mutiara, pria itu semakin marah. Nada suaranya meninggi.
"Jangan pernah panggil aku dengan sebutan nama, aku adalah atasan kamu."
Fajar sengaja mengatakan hal itu, karena Rena kini berdiri di ambang pintu. Wanita itu memperhatikan dirinya.
"Maaf, Pak Fajar," ujar Mutiara dengan rasa di hatinya yang semakin perih.
"Oke, sekarang dengar baik-baik. Kalau kamu menolak tugas dari Rena, itu artinya kamu tidak lagi profesional. Dan aku tidak butuh karyawan yang tidak patuh. Kamu mau tetap bekerja di sini atau aku buatkan surat pemecatanmu sekarang juga?"
Hening menyelimuti ruangan. Mutiara merasa jantungnya berhenti berdetak sejenak. Pria yang dulu menjanjikan masa depan, kini mengancamnya demi wanita lain. Mutiara tersenyum getir, air mata mulai mengalir di pipinya.
"Jadi... hanya sejauh ini arti aku bagimu?"
"Kerjakan saja tugas itu, Mutiara." Fajar memalingkan wajahnya tanpa berani menatap wajah Mutiara lagi.
Mutiara menghapus air matanya dengan kasar, meski tetesan baru terus jatuh membasahi pipinya. Ia mengambil tumpukan berkas milik Rena dengan tangan gemetar.
"Baik... akan aku kerjakan," bisik Mutiara dengan suara parau. Ia menatap Fajar untuk terakhir kalinya sebelum berbalik. "Aku akan mengerjakannya dengan cepat. Sangat cepat. Agar aku tidak perlu berlama-lama melihat betapa asingnya kamu sekarang."
Ia melangkah keluar dengan bahu yang merosot, membiarkan air matanya jatuh bebas di atas kertas-kertas yang ia bawa, meratapi cinta yang kini berubah menjadi penindasan.
Mutiara kembali ke mejanya di sudut divisi pemasaran yang sempit. Ia mengabaikan tatapan aneh dari rekan-rekan kerjanya. Dengan jemari yang gemetar, tetapi tetap bergerak cepat di atas keyboard, ia mulai membedah laporan milik Rena.
Di setiap ketikan, ada amarah yang tertahan. Di setiap angka yang ia susun, ada rasa kecewa yang mendalam. Namun, di tengah isak tangisnya yang tertahan, sebuah tekad baru mulai tumbuh di hatinya.
"Harus kuat, Mutiara. Mungkin Fajar melakukan hal ini karena takut kalau Rena nantinya akan mengadu kepada kedua keluarga."
Mutiara menyadari satu hal, Fajar tidak hanya merendahkan posisinya, tapi juga meremehkan harga dirinya sebagai perempuan. Namun, walaupun seperti itu dia masih berharap kalau hubungannya dengan Fajar akan tetap baik-baik saja setelah melewati ujian.
"Selama tiga tahun ini hubungan kami selalu baik-baik saja, mungkin ini adalah ujian cinta kami sebelum kami bersatu."
Sambil menyelesaikan pekerjaan Rena dengan kecepatan luar biasa, Mutiara mulai membuka folder rahasia di laptopnya, folder berisi seluruh pencapaian, ide pemasaran yang belum sempat ia presentasikan dan data klien yang selama ini ia kelola secara personal.
Ia tidak akan membiarkan dirinya hancur begitu saja. Jika Fajar menginginkan dia menjadi 'asisten' Rena, maka Mutiara akan menunjukkan bahwa tanpa dirinya, perusahaan ini hanyalah cangkang kosong yang dikelola oleh orang-orang tidak kompeten.
"Ini sangat luar biasa," ujar Mutiara memuji hasil kerjanya.
Mutiara meregangkan otot-otot lelahnya, di saat yang bersamaan Rena datang menghampiri meja Mutiara. Dia membawa segelas kopi seolah-olah ia adalah bos besar.
Dia dengan tidak sopan bahkan duduk di atas meja sambil melipat kedua kakinya, lalu dia menyesap kopi itu dan menatap Mutiara dengan tatapan meremehkan.
"Sudah selesai? Lama sekali, ya. Padahal katanya kamu yang paling cekatan."
Mutiara Meletakkan berkas yang sudah rapi dengan hentakan pelan, matanya sembap. Namun, tatapannya terlihat tajam.
"Ini sudah selesai. Semuanya. Termasuk catatan tentang kesalahan fatal yang kamu buat di halaman tiga yang hampir membuat perusahaan rugi ratusan juta kalau tidak aku perbaiki."
Wajah Rena memucat, tetapi beberapa saat kemudian dia berdeham dan menatap Mutiara dengan angkuh.
"Baguslah. Memang itu tugasmu, kan?"
"Bukan, Nona Rena. Itu tugasmu. Dan mulai detik ini, aku tidak akan pernah menyentuh satu lembar pun pekerjaanmu lagi."
"Kamu berani melawan? Aku akan lapor pada Mas Fajar agar kamu dipecat!"
Mutiara tersenyum tipis, sebuah senyuman yang tidak mengandung ketakutan terhadap Fajar.
"Tidak perlu repot-repot mengancam aku, Nona Rena. Sampaikan pada mas Fajar-mu itu, kalau dia boleh memecatku kapan saja kalau dia berani."
Mutiara langsung pergi dari sana setelah mengatakan hal itu, Rena terlihat begitu kesal. Dia bahkan mengepalkan kedua tangannya sambil menghentakkan kedua kakinya.
"Sialan! Dasar wanita kampret, aku pasti akan membuat kamu dipecat!"