kehidupan seorang gadis yang dulu bergelimang harta, Dimanja oleh ayah dan kakak laki-lakinya, sekarang hidup sederhana, karena perbuatan masa lalunya bersama Mamanya ...Selena.
"Panas...., Papa tubuhku rasanya sangat panas" rintih Patricia sambil berlari.
" cepat nak, kalau tidak lari, kau akan menjadi santapan para pria iblis itu" ucap Papanya yang bernama Tono, Putrinya akan dijual, bahkan mereka memberikan obat perangsang
Duarrrrrr...
suara guntur menggelegar ,hujan turun begitu lebatnya,membuat jalanan licin...
" Aaahhhh"
Patricia terjatuh, karena terpeleset,...
" Ayo cepat nak, "
" Iya pah"....
mereka memasuki gedung tua yang tak berpenghuni, suasananya begitu gelap....
"Paaaa...panas, ... hiks... hiks..... Cia tidak kuat pah, sakit"
Patricia terus menyakiti dirinya sendiri...
" Ya Allah....ini sangat menyiksa Cia...Pa....".
" Jangan, sakiti diri sendiri nak...." ucap Tono dengan nada khawatir....
" Brakkkkk"
tak lama kemudian... seorang pemuda datang dengan korek api yang meny
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Siti Marina, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
9
Pagi itu, suasana di kediaman Suhadi yang biasanya tenang berubah menjadi tegang. Sebuah mobil mewah berhenti di depan gerbang, dan tak lama kemudian muncullah Hilman dan Rukayyah. Wajah mereka tidak menunjukkan sisa-sisa kegembiraan pasca liburan; sebaliknya, raut wajah Hilman tampak sangat keras, sementara Rukayyah terus menggenggam tasnya dengan cemas.
Berita dari Najwa melalui telepon semalam benar-benar menghantam mereka.mereka bahagia karena Najwa sudah melahirkan bayi kembar dengan selamat,namun kabar dari adiknya, Patricia begitu mengejutkan.
Bagaimana mungkin Patricia, adik yang mereka sayangi, meski bukan darah daging, bisa mengalami nasib setragis itu dan sekarang berada di rumah Alendra sebagai istri kedua?
Alendra dan Kirana menyambut mereka di ruang tamu. Kirana duduk dengan anggun, mencoba mempertahankan martabatnya sebagai nyonya rumah, namun tangannya yang dingin tak bisa menyembunyikan kegelisahannya.
Hilman tanpa basa-basi, suaranya rendah namun penuh penekanan "Mana Patricia, Alen? Aku ingin bertemu dengannya sekarang juga."
Alendra berdiri dengan sikap hormat namun tegas "Tenang dulu, Bang Hilman. Patricia ada di paviliun samping. Dia sedang beristirahat."
Mata Rukayyah berkaca-kaca, menatap Alendra dengan tatapan menuntut penjelasan "Alen... Najwa cerita semuanya. Apa benar kamu... kamu menikahinya karena kejadian di gudang itu? Bagaimana bisa, Alen? Patricia itu sudah berusaha bertaubat, kenapa takdirnya harus sesakit ini?"
Hilman mengusap bahu istrinya yang bergetar menahan tangis.
Mereka semua berjalan menuju paviliun. Saat pintu dibuka, terlihat Patricia sedang duduk di tepi ranjang, sedang berzikir memegang tasbih panjangnya.
"Kak Hilman... Kak Ruka..."
Rukayyah langsung berlari dan memeluk Patricia dengan sangat erat. Keduanya terisak dalam diam. Hilman berdiri di ambang pintu, rahangnya mengeras, matanya memerah menahan amarah sekaligus kesedihan yang luar biasa. Ia menatap Alendra yang berdiri di belakangnya dengan tatapan yang seolah ingin menghakimi.
Hilman mendekat, suaranya bergetar "Maafkan Kakak, Patricia. Kakak tidak ada di sini saat kamu butuh perlindungan. Kakak tidak tahu kalau bajingan-bajingan itu berani menyentuhmu kakak tidak akan membiarkan mereka hidup dengan tenang."
kirana memperhatikan bagaimana keluarga besar Effendi yang begitu memuja dan melindungi Patricia. Ia melihat bagaimana Alendra menatap Patricia dengan tatapan yang sangat bersalah namun penuh kerinduan.
Kirana menyilangkan tangan di dada, bibirnya tersenyum miring "Wah, dramatis sekali ya. Seperti adegan reuni keluarga yang hilang. Padahal Patricia di sini sudah dijamin semuanya oleh keluarga Suhadi. Tidak perlu berlebihan, tuan Hilman."
Hilman menoleh ke arah Kirana. Tatapannya tajam, membuat Kirana sedikit tersentak.
"Ini bukan soal jaminan materi, Kirana. Ini soal kehormatan adikku yang direnggut dalam kondisi tidak sadar. Dan suamimu... suamimu adalah pelakunya, terlepas dari alasan penyelamatan itu."
"Bang, aku sudah bertanggung jawab. Aku menikahinya secara sah di depan Allah. Aku tidak akan membiarkannya terlantar." ucap Alendra mantap.
Hilman maju selangkah, mencengkeram kerah kemeja Alendra "Menikahinya sebagai madu?! Kamu pikir itu kehormatan bagi Patricia? Kamu menjadikannya yang kedua di saat dia sudah kehilangan segalanya!"
Patricia berteriak lemah dari atas ranjang. "Cukup, Kak! Cukup! Tuan Alendra sudah menyelamatkan nyawaku. Kalau bukan karena dia... mungkin aku sudah mati atau lebih hina lagi sekarang. Tolong... jangan bertengkar."
Mendengar suara Patricia yang memohon, Hilman melepaskan cengkeramannya. Ia melihat adiknya yang dulu sombong dan manja kini tampak begitu rapuh dan rendah hati.
Rukayyah mengusap air mata Patricia, lalu menatap Alendra dan Kirana bergantian.
"Kami akan sering datang ke sini. Patricia mungkin istri mu sekarang, tapi dia tetap adik kami. Jika ada seujung kuku pun dia tersakiti di rumah ini, saya sendiri yang akan membawanya pergi."
Kirana membuang muka, hatinya terasa panas. Ia merasa posisinya sebagai nyonya rumah terancam oleh dukungan besar yang dimiliki Patricia. Sementara Alendra, ia hanya bisa menunduk, merasakan beban tanggung jawab yang semakin berat di pundaknya.
Di tengah haru itu, Alendra sempat mencuri pandang ke arah Patricia. Patricia membalas tatapan itu sesaat,tatapan yang mengandung rasa syukur, benci, sekaligus cinta yang belum selesai dari masa dua tahun lalu.
Hilman menarik lengan Alendra dengan kasar menuju taman belakang, jauh dari jangkauan pendengaran para wanita. Di bawah rimbunnya pohon kamboja, Hilman berbalik dan langsung mencengkeram bahu Alendra. Napasnya memburu, rahangnya mengeras hingga otot-otot lehernya menegang.
Suara Hilman begitu rendah namun mengancam "Katakan sejujurnya, Alen. Bagaimana kondisi Patricia saat kamu menemukannya? Dan apa yang sebenarnya terjadi di gudang itu? Jangan berani berbohong padaku!"
Alendra menatap Hilman dengan tatapan yang tidak kalah tajam, namun ada kilat kepedihan di sana. Ia tidak membalas cengkeraman Hilman, melainkan membiarkannya.
"Dia sudah di ambang maut, Bang. Suhu tubuhnya sangat tinggi, dia menyakiti dirinya sendiri... dia mencakar dinding, mencakar kulitnya sendiri karena pengaruh obat jahanam itu. Kalau aku tidak mengambil keputusan itu, dia bisa mengalami pecah pembuluh darah atau kerusakan saraf permanen."
Hilman melepaskan cengkeramannya, lalu memukul batang pohon di sampingnya dengan keras.
Brakkkkk!
"Dan kamu harus melakukannya dengan... sebrutal itu? Ardiansyah bilang ada banyak darah, Alen! Kamu menghancurkannya!"
Alendra menunduk, suaranya bergetar "Aku tidak punya pilihan! Itu bukan tentang nafsu, Bang. Itu tentang menyelamatkan nyawa istriku. Ya, dia istriku sekarang. Dan demi Allah, aku merasakan kesuciannya... Aku orang pertama, dan itu menghancurkan hatiku karena aku harus melakukannya dalam kondisi setragis itu ."
Sementara itu di paviliun, Kirana sengaja meminta Rukayyah untuk menemaninya mengambilkan minuman di dapur utama, meninggalkan Patricia sendirian sejenak. Namun, Kirana justru kembali ke paviliun lebih dulu dengan langkah yang angkuh.
Kirana berdiri di depan pintu, menatap Patricia yang sedang mencoba melipat kain selimut dengan tangan yang masih sedikit gemetar.
Kirana tersenyum sinis, matanya menyapu seluruh ruangan "Wah, rajin sekali. Tapi Patricia, kamu jangan berpikir tinggal di sini hanya untuk ongkang-ongkang kaki. Di rumah ini, tidak ada tempat bagi parasit."
Patricia menghentikan gerakannya. Ia menatap Kirana dengan tatapan sayu namun tetap berusaha tegar.
"Saya tahu posisi saya, Mbak. Saya akan membantu apa pun yang bisa saya lakukan." jawab Patricia pasrah. Menjadi orang baik memang ujiannya banyak,namun ia akan selalu belajar ikhlas.
"Bagus. Mulai besok, jangan biarkan pelayan menyentuh pakaian Mas Alendra. Kamu yang harus mencuci dan menyetrikanya dengan tangan. Dan satu lagi..." Kirana mendekat, membisikkan kata-kata tepat di telinga Patricia, "Setiap kali kamu melihat Mas Alendra, ingatlah bahwa dia menyentuhmu karena rasa kasihan, bukan karena cinta. Jangan pernah bermimpi untuk merebut posisiku."
Patricia hanya terdiam, jari-jarinya meremas pinggiran selimut. Ia merasakan nyeri di hatinya jauh lebih hebat daripada nyeri di tubuhnya.
Saat Hilman dan Rukayyah hendak pamit, Hilman menatap Alendra sekali lagi dengan tatapan peringatan.
"Aku menitipkan Patricia padamu bukan berarti aku memaafkanmu sepenuhnya, Alen. Jaga dia. Dan kau, Kirana..." Hilman melirik Kirana yang berdiri di samping Alendra, "Jangan pernah berpikir untuk menindasnya. Aku punya mata di mana-mana."
Kirana hanya tersenyum tipis, pura-pura tidak terintimidasi, namun tangannya meremas ujung bajunya sendiri. Ia merasa sangat terancam dengan perlindungan besar yang mengelilingi Patricia
Setelah tamu pulang, Alendra masuk ke dapur dan melihat Patricia sedang mencuci piring dengan gerakan yang sangat pelan. Ia segera menghampiri dan memegang tangan Patricia.
"Apa yang kamu lakukan? Kamu masih sakit, Cia... Biar pelayan yang melakukan ini."
Patricia menarik tangannya dengan cepat, tidak berani menatap Alendra "Tidak apa-apa, Tuan. Saya harus membiasakan diri. Mbak Kirana benar, saya tidak boleh menjadi parasit di sini."
Alendra menoleh ke arah ruang tengah, di mana Kirana sedang duduk menonton TV dengan tatapan yang sesekali melirik ke arah mereka. Alendra merasa terjepit di antara rasa tanggung jawab, rasa bersalah, dan cinta lama yang kini kembali membara dengan cara yang salah.
Alendra berbisik lembut "Masuklah ke kamar. Istirahatlah. Aku yang akan bicara pada Kirana, ingat....kau istri ku ,bukan pembantu ku."
Patricia hanya mengangguk pelan, berjalan terseok-seok menuju kamarnya di paviliun, meninggalkan Alendra yang menatap punggungnya dengan rasa sesak yang luar biasa.