Di bawah kaki Pegunungan Abu, terdapat sebuah desa kecil bernama Desa Qinghe. Desa itu miskin, terpencil, dan nyaris dilupakan dunia. Bagi para kultivator sejati, tempat itu tidak lebih dari titik tak berarti di peta Kekaisaran Tianluo.
Di sanalah Qing Lin tinggal.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon dyrrohanifah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
bab 13 - ujian tanpa darah
Pagi di Prefektur Yunhe datang dengan kabut tipis.
Qing Lin turun dari penginapan sebelum matahari benar-benar naik. Ia mengenakan pakaian abu-abu polos, pedang tergantung di pinggang—tidak mencolok, tidak mencurigakan.
Namun langkahnya sedikit lebih ringan dari kemarin.
Bukan karena percaya diri.
Karena ia sudah memutuskan.
Jika mereka menguji… aku akan bertahan.
Di menara pengawas gerbang dalam, Han Mu berdiri memandangi arus manusia. Ia tidak bergerak sejak fajar. Jubah hitamnya menyatu dengan bayangan.
“Pengawas Han,” sapa seorang petugas formasi. “Kami akan mengaktifkan Uji Jiwa ringan hari ini.”
Han Mu mengangguk.
“Aktifkan.”
Petugas itu ragu. “Tapi… banyak rakyat biasa.”
“Justru itu,” jawab Han Mu datar. “Ujiannya ringan. Tidak melukai. Hanya… membuka reaksi batin.”
Petugas itu menelan ludah, lalu mengaktifkan formasi.
Qing Lin melangkah ke area pasar dalam.
Saat kakinya menginjak ubin batu ketiga, udara berubah.
Tidak ada tekanan.
Tidak ada cahaya.
Namun di dalam dadanya—
ada sesuatu yang disentuh.
Sutra Darah Sunyi bergetar halus, seperti benang tipis yang diraba jari asing.
Formasi jiwa…
Pemandangan di sekitarnya buram sejenak.
Lalu—
Ia berdiri di Desa Qinghe.
Asap dapur mengepul. Suara ayam. Angin gunung.
Qing Lin terdiam.
Di depannya, bibinya duduk di bangku kayu, batuk pelan.
“Lin,” katanya lembut. “Kau capek?”
Qing Lin tahu ini palsu.
Namun dadanya tetap sesak.
Jika aku berhenti di sini…
Bayangan berubah.
Api.
Teriakan.
Desa Qinghe terbakar.
Sosok bersenjata berdiri di antara rumah-rumah, darah menetes dari pedang.
“Kenapa kau lari?” tanya suara tanpa wajah. “Bukankah kau kuat sekarang?”
Qing Lin menggenggam tangannya.
Tidak ada amarah.
Tidak ada kebencian.
Hanya keputusan.
“Aku tidak lari,” ucapnya pelan. “Aku berjalan.”
Sutra Darah Sunyi berputar.
Bukan menyerap.
Bukan melawan.
Melainkan… menenangkan.
Bayangan retak seperti kaca.
Di menara, Han Mu menegang.
“Reaksi nol?”
Petugas formasi memucat. “Mustahil. Bahkan kultivator Pengumpulan Qi pasti menunjukkan fluktuasi emosi!”
Han Mu menatap titik di mana Qing Lin berjalan.
“Aura jiwanya… stabil.”
Stabil bukan berarti kuat.
Namun tidak goyah—itulah yang berbahaya.
Qing Lin melangkah keluar dari area uji.
Keringat dingin membasahi punggungnya.
Ia tidak menoleh.
Ia tahu… dia lolos.
Namun di dalam dantiannya, Sutra Darah Sunyi berubah.
Lapisan baru terbentuk.
Bukan kekuatan.
Bukan kecepatan.
Melainkan sesuatu yang lebih sunyi—
Pengendapan Jiwa.
Setiap emosi ekstrem yang menyentuhnya akan “diratakan”, disimpan sebagai pemahaman, bukan gejolak.
Qing Lin merasakan itu… dan tidak merasa senang.
Ini membuatku… semakin jauh.
Di gang sempit dekat pasar obat, seorang pemuda disergap.
Tiga pria kasar menutup jalan, pisau terhunus.
“Serahkan tasmu,” geram salah satu.
Pemuda itu gemetar.
Qing Lin berhenti.
Ia melihat.
Ia ragu.
Satu langkah.
Dua langkah.
Pria itu menusuk.
Qing Lin bergerak.
Satu tebasan.
Pendek.
Bersih.
Darah menyentuh tanah.
Pria itu jatuh, nyawa padam sebelum teriakan keluar.
Dua lainnya membeku.
“Pergi,” kata Qing Lin dingin.
Mereka lari.
Pemuda itu menatapnya dengan mata membelalak. “T-terima—”
Qing Lin sudah pergi.
Di dalam dirinya, Sutra Darah Sunyi bergetar—
bukan lapar.
Melainkan mencatat.
Gerak. Niat. Keputusan.
Han Mu muncul di atap, terlambat satu napas.
Ia melihat mayat.
Melihat bekas tebasan.
Tidak ada kebrutalan.
Tidak ada pamer kekuatan.
“Hanya satu tebasan… untuk menghentikan ancaman.”
Han Mu menarik napas panjang.
“Dia memilih.”
Sore hari, pengumuman ditempel di papan kayu pusat kota.
Sekte Batu Awan membuka penerimaan murid luar.
Syarat: usia di bawah 20, lolos uji dasar.
Qing Lin membaca.
Ia tidak tertarik pada sekte.
Namun ia butuh tempat berlindung.
Dan… informasi.
Malam itu, Han Mu menulis laporan.
Subjek: Qing Lin
Status: Tidak bermusuhan
Ancaman: Potensial tinggi
Rekomendasi: Observasi jangka panjang
Ia menutup gulungan.
“Jika aku salah…” gumamnya, “…kekaisaran akan menyesal.”
Qing Lin duduk di kamar penginapan.
Ia memandangi tangannya.
Masih sama.
Masih manusia.
Namun dunia di sekitarnya terasa… lebih sunyi.
Ia berdiri.
Besok, ia akan menuju Sekte Batu Awan.
Bukan untuk bernaung.
Melainkan untuk belajar bertahan di antara mata yang mengawasi.
Dan jauh di dalam dirinya, Sutra Darah Sunyi berdenyut pelan—
seperti napas panjang sebelum jalan yang lebih berdarah.