NovelToon NovelToon
Dendam Baskara: Kembali Ke Awal

Dendam Baskara: Kembali Ke Awal

Status: sedang berlangsung
Genre:Mengubah Takdir / Kelahiran kembali menjadi kuat / Konflik etika / Balas Dendam
Popularitas:1.4k
Nilai: 5
Nama Author: asep sigma

Rajendra Baskara, putra sulung keluarga konglomerat, dikhianati oleh adik angkatnya dan istrinya sendiri demi warisan keluarga. Setelah dibunuh, ia terbangun kembali di usia 20 tahun—sebelum pernikahan dan sebelum kehancuran hidupnya. Dengan ingatan masa depan, kecerdasan, dan pengalaman pahit, Rajendra memilih memutus hubungan keluarga dan membangun kerajaan bisnisnya sendiri, sambil menyiapkan balas dendam yang perlahan, menyakitkan, dan tak terhindarkan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon asep sigma, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Retakan Pertama

Kamis pagi, hujan turun sejak subuh.

Rajendra duduk di pinggir kasur, menatap jendela kamar kos yang berembun. Air hujan mengalir di kaca, membentuk garis-garis tak beraturan yang turun perlahan.

Ia tidak tidur semalaman.

Bukan karena insomnia. Bukan karena mimpi buruk.

Tapi karena otaknya tidak bisa berhenti bekerja—menghitung, merencanakan, mengantisipasi.

Kemarin sore ia bertemu Hartono Wirawan di rumah tua pengacara itu di kawasan Menteng. Rumah bergaya kolonial dengan taman depan yang dipenuhi pohon mangga tua. Hartono menyambutnya dengan ramah—membawa kopi tubruk pahit dan kue kering dalam toples plastik.

Mereka bicara hampir tiga jam.

Hartono membaca semua dokumen—surat wasiat, akta notaris, bukti kepemilikan saham. Matanya yang sudah tua itu membaca dengan teliti, sesekali berhenti untuk mencatat sesuatu di buku catatan lusuh.

"Kasus ini kuat," kata Hartono waktu itu. "Surat wasiat dibuat dengan prosedur yang benar. Ada saksi sah. Notaris kredibel. Tidak ada cacat hukum."

"Tapi ayah saya bilang kakek tidak sehat mental."

"Omong kosong. Saya bisa buktikan Pak Dimas sehat. Saya punya rekam medis dari dokter keluarga waktu itu—beliau rutin check up sampai seminggu sebelum meninggal. Semua normal. Tidak ada indikasi demensia atau gangguan mental."

Rajendra merasa sedikit lega waktu itu. Tapi Hartono melanjutkan dengan nada yang lebih serius.

"Tapi Anda harus tahu—proses hukum itu panjang. Dan ayah Anda punya uang. Dia bisa perpanjang proses ini bertahun-tahun kalau dia mau. Bisa bikin Anda lelah, kehabisan dana, menyerah."

"Saya tidak akan menyerah."

Hartono menatapnya—ada sesuatu di mata tua itu yang sulit dijelaskan. Mungkin rasa hormat. Mungkin kekhawatiran.

"Bagus. Tapi ingat—kadang menang di pengadilan bukan berarti menang dalam hidup. Anda akan kehilangan banyak waktu, banyak energi, banyak ketenangan. Pastikan Anda siap."

Rajendra hanya mengangguk waktu itu.

Sekarang, duduk sendirian di kamar kos dengan suara hujan di luar, ia mulai merasakan apa yang Hartono maksud.

Berat.

Beban ini berat.

Ponselnya bergetar.

Pesan dari Arief:

     "Bro, gue udah di kantor. Komputer datang. Mau mulai setup. Lu kapan datang?"

Rajendra menatap jam dinding—pukul tujuh lewat sepuluh menit.

Ia terlambat.

Ia mengetik balasan:

    "Sebentar lagi."

Lalu ia bangkit—tidak mandi, hanya cuci muka seadanya—pakai kemeja yang tergantung di kursi sejak kemarin, celana yang sama, sepatu yang sama.

Keluar kamar.

Hujan masih turun.

Ia tidak bawa payung.

Kantor LokalMart sudah ramai waktu Rajendra tiba—basah kuyup, rambut menetes air hujan, sepatu becek.

Arief sedang membongkar kardus besar berisi tiga unit komputer desktop. Rian—programmer baru yang baru bergabung dua hari lalu—duduk di lantai sambil merakit kabel-kabel. Dina berdiri di dekat jendela, menelepon seseorang dengan nada suara ceria.

Mereka semua berhenti begitu melihat Rajendra masuk.

"Anjir, basah banget lu," komentar Arief. "Gak bawa payung?"

"Lupa."

Dina menutup teleponnya, berjalan mendekat, menatap Rajendra dengan tatapan khawatir.

"Lu gak tidur semalam ya?"

"Kenapa?"

"Keliatan. Mata lu merah. Pucet."

Rajendra tidak menjawab. Ia hanya berjalan ke sudut ruangan yang masih kosong, duduk di lantai dingin, bersandar ke dinding.

Arief dan Rian saling pandang sebentar. Dina duduk di lantai juga—tidak terlalu dekat, tapi cukup dekat untuk bicara tanpa harus teriak.

"Ada masalah?" tanya Dina pelan.

Rajendra menatap langit-langit—ada bekas rembes air di sudut kanan, warnanya coklat tua seperti kopi tumpah.

"Bokap gue gugat gue," jawabnya pelan. "Mau batalin surat wasiat kakek."

Hening sebentar.

Dina tidak langsung kasih nasihat—tidak langsung bilang "pasti bisa" atau "tetap semangat" atau kalimat-kalimat klise lainnya.

Ia hanya duduk diam. Mendengarkan.

"Lu udah dapat pengacara?" tanya Arief dari seberang ruangan—tanpa henti merakit komputer.

"Sudah."

"Bayarnya mahal?"

"Gratis."

Arief berhenti sebentar—menatap Rajendra dengan tatapan bingung.

"Gratis? Pengacara mana yang mau gratis?"

"Pengacara lama kakek. Dia bilang ini balas budi."

Rian—yang dari tadi diam—tiba-tiba bicara. Suaranya pelan, agak ragu.

"Gue... gue pernah denger cerita temen yang orangtuanya berantem soal warisan. Prosesnya panjang banget. Sampe lima tahun. Dan endingnya mereka gak saling ngomong lagi."

Rajendra menatapnya.

Rian melanjutkan—masih pelan, masih ragu.

"Yang gue mau bilang... kadang keluarga itu lebih penting dari uang. Tapi gue juga gak tahu situasi lu gimana. Jadi... ya... terserah lu aja sih."

Rajendra tersenyum tipis—senyum pahit.

"Keluarga gue udah gak ada yang penting dari uang. Mereka udah buktiin itu."

Hening lagi.

Hujan di luar semakin deras—suara air hujan memukul atap seng gedung sebelah terdengar seperti drum.

Dina bangkit—berjalan ke tas ranselnya yang tergeletak di pojok—mengeluarkan handuk kecil—lalu melemparnya ke Rajendra.

"Keringin rambut lu. Nanti masuk angin."

Rajendra menangkap handuk itu. Menatapnya sebentar. Lalu mengusap rambutnya yang masih basah.

"Thanks."

"Jangan thanks. Kerja aja. Lu bilang kita launch tiga bulan lagi kan? Sekarang udah jalan sebulan. Tinggal dua bulan. Lu mau buang waktu mikirin orang-orang yang udah gak peduli sama lu, atau mau fokus bikin sesuatu yang bisa buktiin lu lebih baik dari mereka?"

Rajendra menatap Dina.

Matanya yang bulat itu menatap balik—serius, tidak main-main.

"Gue join startup lu bukan karena gaji. Gaji gue sekarang dua kali lipat dari tempat lama, tapi itu bukan poin utama. Gue join karena gue percaya sama ide lu. Sama visi lu. Jadi jangan buang-buang waktu buat mereka yang gak worth it."

Rajendra diam.

Lalu ia mengangguk pelan.

"Lu bener."

"Emang."

Arief tertawa dari seberang ruangan.

"Dina emang selalu bener. Makanya gue takut debat sama dia."

Rian ikut ketawa—suasana ruangan sedikit mencair.

Rajendra berdiri—handuk masih di tangan—lalu berjalan ke tengah ruangan, melihat komputer-komputer yang sedang dirakit.

"Kapan bisa jalan?"

"Besok," jawab Arief. "Hari ini setup hardware. Besok install software, setup server, testing koneksi. Lusa udah bisa mulai coding."

"Bagus. Dina, gimana social media?"

Dina membuka laptopnya—menunjukkan layar ke Rajendra.

"Akun Facebook LokalMart udah jadi. Twitter juga. Blog masih setup—domain udah beli, hosting udah jalan, tinggal install WordPress sama bikin template."

"Konten?"

"Gue udah draft sepuluh artikel. Tentang UMKM Indonesia, tentang kenapa belanja lokal itu penting, tentang cara belanja online yang aman. Tinggal lu review, approve, terus gue publish."

Rajendra mengangguk—pikirannya mulai kembali fokus.

"Bambang gimana? Udah kontak?"

"Belum. Lu yang handle kan?"

"Oke. Gue telepon dia nanti. Kita butuh finalisasi sistem logistik sebelum launch."

Mereka semua mengangguk.

Lalu kembali kerja—Arief dan Rian merakit komputer, Dina ngetik di laptop, Rajendra duduk di lantai sambil telepon Bambang.

Suara hujan di luar masih deras.

Tapi entah kenapa, di dalam ruangan ini, Rajendra merasa lebih tenang.

Sore itu, hujan reda.

Rajendra duduk sendirian di kantor—yang lain sudah pulang.

Lampu neon di langit-langit berkedip-kedip—sepertinya butuh diganti tapi belum sempat beli yang baru.

Laptopnya terbuka—layar menampilkan email dari Hartono:

Subjek: Update Kasus - Gugatan Julian Baskara

    Rajendra,

    Saya sudah submit jawaban gugatan hari ini. Pengadilan akan jadwalkan sidang pertama dua minggu lagi. Saya     akan hadiri dan represent Anda.

    Satu hal yang perlu Anda tahu—ayah Anda hire pengacara senior dari firma hukum besar. Namanya Daniel     Kusuma. Dia terkenal agresif dan suka main kotor. Jangan kaget kalau nanti sidang dia coba provokasi Anda     atau buat Anda kelihatan buruk di depan hakim.

    Saran saya: jangan emosi. Jawab pertanyaan dengan tenang. Jangan terpancing. Kita menang dengan fakta,     bukan dengan drama.

    Salam,

Hartono Wirawan

Rajendra membaca email itu dua kali.

Daniel Kusuma.

Ia ingat nama itu dari kehidupan pertamanya—pengacara yang menang hampir semua kasus keluarga besar, yang terkenal bisa bikin saksi menangis di pengadilan, yang bisa memutar fakta jadi terlihat seperti kebohongan.

Ayahnya serius.

Ini bukan cuma soal uang.

Ini soal kontrol.

Ponselnya berdering—panggilan dari nomor tak dikenal.

Rajendra ragu sebentar—tapi akhirnya mengangkat.

"Halo?"

Suara di seberang—suara wanita, lembut, familiar.

"Rajendra. Ini Jessica."

Rajendra terdiam.

Jessica.

Suara yang dulu selalu bikin dia luluh. Suara yang dulu selalu bikin dia percaya apapun yang dia bilang.

Sekarang cuma terdengar seperti suara asing.

"Gue tahu lu blokir nomorku. Makanya gue pinjam nomor temen. Please, jangan tutup telepon dulu. Gue cuma mau ngomong sebentar."

Rajendra tidak menjawab. Tapi ia tidak tutup telepon.

Jessica melanjutkan—suaranya gemetar sedikit.

"Gue... gue dengar lu digugat bokap lu. Dan gue dengar lu keluar dari keluarga. Rajendra... kenapa? Kenapa tiba-tiba lu berubah kayak gini?"

"Gue gak berubah. Gue cuma berhenti jadi bodoh."

Hening di seberang.

Lalu Jessica bicara lagi—nadanya lebih pelan sekarang.

"Gue gak ngerti. Dulu lu gak pernah kayak gini. Lu baik. Lu selalu dengerin orang. Lu—"

"Lu sama Dera udah berapa lama?" potong Rajendra—nadanya datar, dingin.

Hening total.

Jessica tidak menjawab—tapi Rajendra bisa mendengar napasnya yang tiba-tiba cepat.

"Gue... gue gak tahu lu ngomong apa—"

"Jangan bohong. Gue udah tahu. Udah lama."

"Rajendra, please, ini bukan apa yang lu pikir—"

"Tutup telepon sekarang, Jessica. Dan jangan hubungi gue lagi. Kita gak ada urusan lagi."

"Rajendra—"

Ia tutup telepon—lalu blokir nomor itu juga.

Menaruh ponsel di meja—menatap layar laptop yang masih menyala.

Dadanya sesak.

Bukan karena sakit hati.

Tapi karena marah.

Marah pada dirinya sendiri yang di kehidupan pertama terlalu bodoh untuk lihat semua ini. Terlalu percaya. Terlalu naif.

Ia menutup laptop—mematikan lampu kantor—lalu keluar, mengunci pintu.

Jakarta malam hari terlihat lebih tenang setelah hujan—jalanan basah, lampu-lampu kota memantul di genangan air.

Rajendra berjalan ke halte bus terdekat—tangan di saku jaket—pikiran kosong.

Tidak mau mikir soal keluarga.

Tidak mau mikir soal pengadilan.

Tidak mau mikir soal apapun.

Cuma mau pulang, tidur, bangun besok, dan lanjut kerja.

Satu hari dalam satu waktu.

Itu saja yang bisa dia lakukan sekarang.

Malam itu, di rumah keluarga Baskara, Dera duduk di ruang tamu sendirian—lampu redup, TV menyala tapi tanpa suara.

Jessica duduk di sebelahnya—wajahnya pucat, tangan gemetar.

"Dia tahu," bisik Jessica. "Entah bagaimana, tapi dia tahu."

Dera menatap lantai—rahangnya mengeras.

"Gak mungkin. Kita selalu hati-hati."

"Tapi dia bilang—"

"Dia cuma nebak. Cuma coba-coba. Rajendra gak mungkin tahu apa-apa."

Jessica menatap Dera—matanya berkaca-kaca.

"Terus kenapa dia kayak bisa baca pikiran kita? Kenapa dia tiba-tiba berubah kayak orang lain?"

Dera diam.

Ia juga tidak tahu.

Tapi ada sesuatu yang mengganggu pikirannya sejak seminggu lalu—sejak rapat keluarga itu.

Rajendra bicara seolah-olah dia tahu masa depan.

Seolah-olah dia sudah pernah lihat semua ini terjadi.

Dan itu tidak masuk akal.

Kecuali...

Tidak.

Tidak mungkin.

"Dera," panggil Jessica pelan. "Aku takut. Aku takut dia bakal—"

"Dia gak akan ngapa-ngapain," potong Dera—nadanya tegas tapi tidak yakin. "Dia cuma bluffing. Cuma coba nakut-nakutin kita. Kita tetap jalan sesuai rencana. Kita tunggu dia kalah di pengadilan. Kalau dia kalah, dia gak punya apa-apa lagi."

"Terus kalau dia menang?"

Dera menatap Jessica—lalu tersenyum tipis.

Senyum yang tidak sampai ke mata.

"Dia gak akan menang."

[ END OF BAB 8 ]

1
aidios
ror
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!