NovelToon NovelToon
Putri Yang Terlupakan Telah Kembali

Putri Yang Terlupakan Telah Kembali

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi / Balas Dendam / Romansa / Fantasi Wanita
Popularitas:4.7k
Nilai: 5
Nama Author: Riichann

Terlahir sebagai putri yang disayangi raja, hidupnya runtuh ketika istana berubah menjadi sarang pengkhianatan. Namanya dihapus, kebenaran dibungkam, dan ia dipaksa memikul dosa yang bukan miliknya.
Dibuang dari tanah kelahiran dan dilempar ke dunia yang kejam, ia belajar satu hal: bertahan saja tidak cukup. Dunia yang menghancurkannya harus dibalas dengan kekuatan yang sama.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Riichann, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Maerin Menghilang

"Seharusnya kau tak usah kembali jika ingin tetap aman!"

"Surat ancaman saat aku baru saja kembali." Theo tersenyum getir.

"Sebaiknya dilaporkan kepada yang mulia Raja." Kata kepala pelayan.

"Jangan, ayah pasti mengabaikannya. Bisakah kau panggilkan Silas Corven saja?" Ucap Theo pada kepala pelayan.

"Baik, Pangeran. Segera saya sampaikan pada tuan Silas. Namun, anda harus bertemu dokter terlebih dahulu untuk mengobati luka anda. Sebentar lagi dokter tiba." Kepala pelayan pergi menemui Silas.

Maerin menuntun Theo duduk di pinggir ranjangnya sambil menunggu dokter tiba.

Tak membutuhkan waktu lama untuk menunggu, dokter telah tiba bersama seorang pelayan yang menjeputnya. Dokter pun segera mengobati luka Theo. Beberapa saat setelahnya, Silas pun datang bersama kepala pelayan.

"Terima kasih telah mengobati saya, dokter. Dan saya minta tolong untuk merahasiakan kejadian ini. Saya tak ingin menimbulkan rumor ataupun semacamnya." Ucap Theo pada dokter yang telah lama dikenalnya itu.

"Baik Pangeran, tolong untuk selalu waspada dan berhati-hati. Saya memohon ijin untuk kembali." Kata Dokter istana.

"Silakan." Jawab Theo.

Silas yang semula menunggu kemudian berjalan mendekati Theo.

"Anda memanggil saya, Pangeran?" Tanya Silas.

"Ya. Coba lihatlah ini." Theo menyodorkan surat ancaman pada Silas. Silas menerima dan membacanya. Ia terdiam cukup lama seolah menerka kemungkinan pengirimnya.

"Sepertinya kau sedang memikirkan sesuatu setelah melihat isi ancaman itu." Ucap Theo.

"Ya, saya hanya memikirkan kemungkinan siapa yang melakukan hal ini. Namun saya tetap akan menyelidikinya." Kata Silas.

"Apakah mungkin dari pihak putri Mahkota Sylvaine? Sebelum ini kami sempat berbicara empat mata." Tanya Theo.

"Sepertinya bukan, Pangeran. Sebab hal ini tak menguntungkan beliau." Jawab Silas.

"Namun dalam pembicaraanku, ia memberiku waktu berpikir hingga besok pagi. Ia menawarkan untuk menikah. Namun aku menolaknya, dan dia mengatakan bahwa akulah yang harus menanggung konsekuensi jika memilih tak menikah dengannya." Theo menjelaskan.

"Putri Mahkota Sylvaine cukup kompeten dan logis saat berpikir. Kecil kemungkinan jika beliau terlibat dengan kejadian ini." Ucap Silas.

"Yah, kau ada benarnya. Lalu siapa?" Gumam Theo.

"Yang pasti orang yang tak menyukai anda yang kembali atau orang yang tak menginginkan anda naik tahta." Kata Silas.

"Aku kan lebih berhati-hati dan waspada." Kata Theo.

"Ya, itu keputusan bijak. Silakan anda berdua beristirahat. Saya akan melanjutkan kembali pekerjaan yang telah menumpuk selama saya meninggalkan istana." Ucap Silas.

"Maaf telah merepotkanmu. Tapi aku bisa membantumu untuk menyelesaikan pekerjaan menumpukmu itu." Kata Theo.

"Memang benar pekerjaan menumpuk ini sebagian besar pekerjaan mendiang Putra Mahkota. Untuk hari ini, silakan anda beristirahat terlebih dahulu. Selanjutnya dengan senang hati jika anda mengambil alih semua pekerjaan mendiang Putra Mahkota." Kata Silas dengan senang.

"Hahaha.. Baiklah. Sepertinya aku harus memulihkan serta menyiapkan banyak tenaga untuk mengemban pekerjaan mendiang kakakku." Theo tertawa lemas.

"Saya mohon ijin untuk undur diri." Ucap Silas.

"Baiklah." Jawab Theo.

Theo berbaring di ranjangnya, Maerinpun hanya terduduk di pinggir ranjang dekat Theo berbaring.

"Kau beristirahatlah juga, pasti kau merasa sangat lelah." Kata Theo.

"Saya baik-baik saja. Saya hanya mengkhawatirkanmu." Ucap Maerin sambil memegang tangan Theo.

"Kau sudah lihat sendiri bahwa aku baik-baik saja. Jadi jangan terlalu khawatir." Jawab Theo.

"Meskipun begitu, saya tetap merasa khawatir." Kata Maerin.

Theo menarik lembut Maerin hingga ia terbaring di samping Theo. Theo menyentuh pipi Maerin dengan lembut sambil menatap langsung mata Maerin, "Dengar, aku akan selalu melindungi dan menjagamu." Theo mencium Maerin. "Untuk sekarang mari beristirahat bersama." Ajak Theo.

Maerin pun terlihat lebih rileks daripada sebelumnya, ia memejamkan mata sambil memegang tangan Theo seolah tak ingin ditinggalkan.

***

Di sisi lain, Sylvaine cukup tegang. Meskipun ia yakin bahwa pada akhirnya Theo akan menikah dengannya. Namun, kegigihan Theo yang tetap menolak untuk menikahinya, cukup membuatnya terganggu. Ia merasa tak tenang sampai batas waktu yang telah ia sebutkan. Dia mulai membuat rencana lain jika kemungkinan terburuk terjadi. Meskipun pada akhirnya Raja tetap akan menikahkan Sylvaine dengan Theo, tetap saja ada kemungkin Theo bisa menemukan solusi untuk memilih tak menikahinya walaupun itu sangat kecil. Hari itu Sylvaine melewati hari dengan banyak pikiran.

***

Keesokan harinya, Theo dan Maerin berpenampilan lebih rapi. Para pelayan dengan antusias mendandani mereka. Pelayan yang mendandani Maerin cukup terkejut karena kecantikan Maerin. Meskipun mereka terlihat sedikit tak terbiasa dengan rambut hitam Maerin. "Nona, apakah nona ingin menggerai atau mengikat rambut nona?" Tanya pelayan.

"Ikat saja agar terlihat rapi." Jawab Maerin dengan ramah.

"Baik, nona." Pelayan itu segera mengikat rambut Maerin.

Setelah selesai bersiap, Theo mengajak Maerin berkeliling di kediaman Theo. Mengajak Maerin di taman untuk sedikit bersantai sambil meminum teh. Beberapa pelayan ataupun tukang kebun menyapa mereka dengan hangat.

"Semua orang sangat ramah di sini." Ucap Maerin.

"Yah pekerja di kediamanku memang ramah, namun aku tak begitu tahu dengan pekerja di bangunan-bangunan lain. Jadi kau jangan terkejut jika mendapat tatapan kurang menyenangkan atau sakit hati mendengar ucapan tak mengenakkan. Aku mengatakan ini sebab sudah terbiasa mendapatkan tatapan seperti itu." Kata Theo.

"Akan kuingat perkataanmu ini." Maerin mengambil cangkir teh dan meminumnya sedikit.

Maerin cukup menikmati dan ingin melihat-lihat bunga yang bermekaran di taman. "Aku ingin melihat bunga-bunga lebih dekat."

"Baiklah mari kita lihat bersama." Ucap Theo.

Mereka pun berkeliling hingga berpapasan dengan Silas, "Salam, Pangeran Theo dan nona Maerin." Silas memberi salam. "Kebetulan sekali bertemu anda di sini."

"Ada apa?" Tanya Theo.

"Baginda Raja ingin segera bertemu anda, beliau ingin membicarakan perihal pengangkatan anda sebagai putra Mahkota." Silas memang terlihat tergesa-gesa.

"Baiklah aku akan segera menemui ayah setelah mengantarkan Maerin kembali." Ucap Theo.

"Sebaiknya anda segera menemui Yang Mulia Raja terlebih dahulu. Saya akan kembali sendiri." Kata Maerin.

"Kalau begitu tunggulah di sini sebentar, akan kupanggilkan pelayan untuk menemanimu." Ucap Theo.

"Baiklah." Maerin menjawab dengan tersenyum. Sambil menunggu pelayan tiba, ia melihat-lihat bunga-bunga yang bermekaran.

Theo memanggil pelayan dan menyuruhnya untuk menemani Maerin, setelah itu ia menuju kediaman Raja.

***

Setibanya di kamar Raja, Theo cukup terkejut melihat kondisi ayahnya yang berubah drastis. Ayahnya terlihat sangat lemah dari kemarin.

"Salam Yang Mulia Raja, saya datang untuk menghadap." Ucap Theo.

Raja hanya menoleh dan mengisyaratkan Theo untuk duduk di kursi dekat ranjangnya. "Pelantikanmu sebagai putra Mahkota akan dipercepat jadi besok." Raja terlihat cukup kesulitan untuk bernapas. Entah kenapa Theo tak merasakan apapun saat melihatnya.

"Ada hal lainnya lagi yang ingin anda sampaikan?" Tanya Theo.

"Kau harus menikahi Sylvaine untuk membuat posisimu stabil." Kata Raja.

Theo hanya diam dan tak merespon sama sekali. Lalu berkata, "Jika tak ada hal lain lagi, saya mohon ijin untuk undur diri." Theo langsung berjalan keluar.

"Dasar bocah... Uhuk uhuk." Raja batuk-batuk dengan keras. Ajudannya langsung masuk ke dalam bersama dokter istana yang telah berjaga-jaga.

Theo yang mendengar ayahnya batuk sekeras itu tak menoleh ke belakang sama sekali, ia keluar dari ruangan dengan perasaan kesal. Silas yang menunggu di luar ruangan hanya mengikuti dari belakangnya tanpa bertanya apapun. Tiba-tiba pelayan yang menemani Maerin berlari menemui Theo dengan napas tak beraturan.

"Pangeran, maafkan saya. Nona Maerin tiba-tiba menghilang saat saya kembali setelah membantu pelayan lain. Beliau meminta saya untuk membantu pelayan lain yang kesusahan membawa barang. saat saya kembali, beliau telah tiada. Saya sudah meminta pengawal untuk mencari beliau, tetapi belum ada kabar."

Bersambung...

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!