NovelToon NovelToon
Ingat Aku Meski Kau Lupa

Ingat Aku Meski Kau Lupa

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Cintapertama / Teen
Popularitas:3.4k
Nilai: 5
Nama Author: jaaparr.

Hellowwww
Ini adalah novel pertama sayaa.
Semoga sukaa ya 😍🙏

Sinopsis:
Bercerita tentang dua pasangan yang bucin banget di sekolah. Namun, karena suatu hal menyebabkan hubungan mereka menjadi renggang hingga ada di pinggir jurang, bahkan setelah jatuh pun mereka masih dihadapkan pada ribuan masalah.
Masalah apa ya kira-kira?
Yuk dibaca langsung ajaa!

Donasi ke aku:
Saweria: parleti

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon jaaparr., isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 32. Anak Kecil Itu

Malam itu Arsa masih tidak bisa tidur. Kenangan tentang masa kecilnya terus bermunculan seperti air bah yang tidak bisa dibendung.

Ia menutup matanya dengan erat, tapi bayangan-bayangan itu semakin jelas.

Bayangan tentang rumah yang penuh pertengkaran. Tentang ibunya yang menangis. Tentang ayahnya yang marah.

Dan bayangan tentang... Hari itu.

Hari yang mengubah segalanya.

Hari yang menghancurkan dunia kecil Arsa.

🌷🌷🌷🌷

FLASHBACK - 10 TAHUN YANG LALU

Beberapa minggu setelah pertengkaran hebat antara ayah dan ibunya, kondisi di rumah semakin memburuk.

Ayahnya jarang pulang. Bahkan saat pulang, ia tidak berbicara dengan ibunya sama sekali.

Rumah yang dulu sesekali masih terdengar suara tawa, kini hanya dipenuhi keheningan yang mencekam.

Arsa kecil mulai menyadari bahwa ada yang sangat salah dengan keluarganya.

"Ibu... Kenapa Ayah gak pernah pulang lagi?" tanya Arsa kecil suatu sore saat ibunya sedang memasak di dapur.

Ibunya berhenti mengaduk masakannya. Tubuhnya terlihat kaku.

"Ayah... Ayah lagi sibuk kerja, sayang" jawab ibunya dengan suara yang sangat pelan.

Tapi Arsa kecil bisa melihat tangan ibunya yang bergetar. Bisa melihat punggung ibunya yang terlihat begitu rapuh.

"Tapi... Tapi Arsa kangen Ayah..." ucap Arsa kecil dengan suara yang pelan.

Ibunya berbalik dan langsung berjongkok di depan Arsa kecil. Ia memeluk anaknya dengan erat.

"Arsa, sayang... Dengerin Ibu ya..." ucap ibunya dengan suara yang bergetar.

"Kadang... Kadang dalam hidup ada hal-hal yang gak berjalan sesuai keinginan kita. Ada hal-hal yang... Yang harus kita terima meskipun sakit."

Arsa kecil tidak mengerti maksud ibunya. Ia hanya memeluk ibunya dengan erat.

"Tapi yang penting, Ibu akan selalu ada buat Arsa. Selalu sayang sama Arsa. Apapun yang terjadi" lanjut ibunya sembari mencium kening Arsa kecil.

Dan pada malam itu...

Arsa kecil terbangun di tengah malam karena mendengar suara keras dari kamar orang tuanya.

Ia keluar dari kamarnya dengan hati-hati dan berdiri di depan pintu kamar orang tuanya yang sedikit terbuka.

"Aku udah gak kuat lagi... Aku gak sanggup..." isak ibunya dengan suara yang sangat lemah.

"Terus lo mau gimana? Mau cerai? Lo pikir gampang? Lo pikir lo bisa hidup sendiri sama Arsa?" suara ayahnya yang dingin dan mengancam.

"Aku... Aku bisa kerja... Aku bisa cari nafkah sendiri buat Arsa..." jawab ibunya dengan suara yang bergetar.

"JANGAN MIMPI!" bentak ayahnya dengan keras. "LO GAK AKAN KEMANA-KEMANA! LO ADALAH ISTRI GW! DAN ARSA ADALAH ANAK GW!"

"Tapi kita gak bahagia... Arsa juga gak bahagia liat kita kayak gini..." isak ibunya semakin keras.

"GW GAK PEDULI! LO TETEP ISTRI GW! DAN LO GAK BOLEH NINGGALIN RUMAH INI!"

Suara barang yang jatuh terdengar. Arsa kecil semakin ketakutan.

"Mas... Please... Lepaskan aku... Sakit..." suara ibunya yang ketakutan.

Arsa kecil tidak tahan lagi. Ia membuka pintu kamar dengan tiba-tiba.

"AYAH! JANGAN SAKITIN IBU!" teriak Arsa kecil dengan air mata yang mengalir.

Ayahnya yang sedang memegang lengan ibunya dengan kasar langsung terkejut melihat Arsa.

Untuk sesaat, wajahnya terlihat menyesal. Tapi kemudian ia melepaskan ibunya dengan kasar dan berjalan keluar dari kamar.

"SIAL!" teriak ayahnya sembari membanting pintu.

Arsa kecil langsung berlari ke ibunya yang jatuh duduk di lantai sembari menangis.

"Ibu... Ibu gapapa?" tanya Arsa kecil dengan panik.

Ibunya memeluk Arsa kecil dengan erat sembari menangis sejadi-jadinya. "Maafin Ibu, sayang... Maafin Ibu..."

"Ibu gapapa? Ayah nyakitin Ibu?" tanya Arsa kecil dengan air mata yang terus mengalir.

Ibunya menggeleng sembari berusaha tersenyum di balik air matanya. "Ibu gapapa kok, sayang. Ayah cuma... Cuma lagi emosi aja."

Tapi Arsa kecil bisa melihat bekas cengkeraman di lengan ibunya yang mulai memerah.

"Arsa... Arsa benci Ayah..." ucap Arsa kecil dengan suara yang bergetar.

"Jangan, sayang... Jangan bilang kayak gitu. Ayah... Ayah cuma lagi stress..." ucap ibunya sembari mengelus kepala Arsa kecil.

"Tapi Ayah nyakitin Ibu! Arsa liat!" protes Arsa kecil dengan air mata yang semakin deras.

Ibunya hanya bisa memeluk Arsa kecil dengan semakin erat. Menangis dalam diam.

Esokan harinya, Arsa kecil bangun dan tidak menemukan ayahnya di rumah. Seperti biasa, ayahnya pergi entah kemana.

Ia turun ke dapur dan melihat ibunya sedang memasak sarapan meskipun matanya terlihat sangat sembab.

"Ibu... Ibu gak tidur semalam?" tanya Arsa kecil dengan khawatir.

Ibunya berbalik dan langsung tersenyum meskipun terlihat dipaksakan. "Ibu tidur kok, sayang. Ayo sarapan dulu."

Tapi Arsa kecil bisa melihat ibunya bergerak dengan pelan. Seperti orang yang kesakitan.

Mereka sarapan dalam diam. Suasana begitu berat dan mencekam.

"Arsa, sayang..." panggil ibunya tiba-tiba dengan suara yang pelan.

"Ya, Bu?" jawab Arsa kecil sembari menatap ibunya.

"Kalau... Kalau suatu hari nanti Ibu gak ada... Arsa harus jadi anak yang kuat ya..." ucap ibunya dengan air mata yang mulai berkumpul.

Arsa kecil mengernyit bingung. "Kenapa Ibu bilang kayak gitu lagi? Ibu mau kemana?"

Ibunya menggeleng sembari tersenyum. "Gak kemana-kemana kok. Ibu cuma... Cuma pengen Arsa janji sama Ibu."

"Arsa harus jadi anak yang kuat. Arsa harus sekolah yang rajin. Arsa harus jadi orang yang sukses. Janji sama Ibu ya?"

Arsa kecil mengangguk meskipun tidak begitu mengerti. "Arsa janji, Bu."

Ibunya bangkit dari kursinya dan memeluk Arsa kecil dengan erat. "Ibu sayang banget sama Arsa. Jangan pernah lupa itu ya, sayang..."

"Arsa juga sayang sama Ibu!" ucap Arsa kecil sembari membalas pelukan ibunya.

🌷🌷🌷🌷

DUA MINGGU KEMUDIAN

Kondisi ibunya semakin memburuk. Ia semakin kurus. Semakin pucat. Semakin pendiam.

Arsa kecil sering melihat ibunya menangis sendirian di kamar. Tapi setiap kali Arsa kecil mendekat, ibunya langsung menghapus air matanya dan berpura-pura tersenyum.

Ayahnya masih jarang pulang. Dan saat pulang, ia hanya tidur lalu pergi lagi tanpa berbicara dengan siapapun.

Suatu hari, Arsa kecil pulang sekolah dan menemukan ibunya terbaring di sofa dengan wajah yang sangat pucat.

"IBU!" teriak Arsa kecil dengan panik.

Ibunya membuka matanya dengan susah payah. "Arsa... Sayang..."

"Ibu kenapa?! Ibu sakit?!" tanya Arsa kecil dengan air mata yang mulai jatuh.

"Ibu... Ibu cuma pusing, sayang... Gapapa..." jawab ibunya dengan suara yang sangat lemah.

Tapi Arsa kecil bisa melihat ibunya berkeringat dingin. Wajahnya sangat pucat. Bibirnya kering.

"Arsa... Arsa telpon Ayah ya... Bilang Ibu sakit..." pinta ibunya dengan suara yang hampir tidak terdengar.

Arsa kecil langsung mengambil telepon rumah dan menelepon ayahnya dengan tangan yang bergetar.

"Ayah! Ayah! Ibu sakit! Ibu sakit banget!" teriak Arsa kecil saat sambungan tersambung.

"Hah? Sakit apa?" tanya ayahnya dengan nada yang terdengar tidak peduli.

"Arsa gak tau! Ibu pusing! Ibu pucat banget! Ayah pulang dong! Please!" mohon Arsa kecil dengan tangisan.

"Ayah lagi rapat penting. Nanti Ayah pulang" jawab ayahnya dengan singkat.

"TAPI IBU SAKIT SEKARANG! AYAH HARUS PULANG SEKARANG!" teriak Arsa kecil dengan frustrasi.

"JANGAN TERIAK-TERIAK! Udah, Ayah tutup dulu. Nanti Ayah pulang" ucap ayahnya sebelum menutup telepon.

Arsa kecil menatap telepon dengan mata yang terbelalak. Ia tidak percaya ayahnya tidak mau pulang.

"Ibu... Ayah... Ayah gak bisa pulang sekarang..." ucap Arsa kecil dengan suara yang bergetar.

Ibunya tersenyum lemah. "Gapapa, sayang... Ibu cuma butuh istirahat aja..."

Tapi kondisi ibunya semakin memburuk. Nafasnya mulai tersengal. Tubuhnya mulai dingin.

"IBU! IBU, JANGAN TIDUR! JANGAN TUTUP MATA!" teriak Arsa kecil dengan panik.

Ibunya membuka matanya dan menatap Arsa kecil. Tangannya yang dingin meraih pipi Arsa kecil dengan lembut.

"Arsa... Sayang... Ibu... Ibu sayang banget sama Arsa..." bisik ibunya dengan suara yang sangat lemah.

"Ibu juga! Makanya Ibu gak boleh tidur! Ibu harus tetep buka mata!" teriak Arsa kecil dengan tangisan yang semakin keras.

"Maafin Ibu... Yang gak bisa... Gak bisa jadi ibu yang baik buat Arsa..." ucap ibunya dengan air mata yang mulai jatuh.

"Ibu udah jadi ibu yang paling baik! Ibu yang paling sayang sama Arsa! Jangan bilang kayak gitu!" isak Arsa kecil.

Ibunya tersenyum. Senyuman terakhirnya yang begitu indah meskipun penuh dengan kesedihan.

"Jadi anak yang baik ya, sayang... Jadi... Jadi orang sukses... Jangan... Jangan kayak Ibu..." bisik ibunya dengan suara yang semakin pelan.

"IBU! IBU, JANGAN! JANGAN TUTUP MATA!" teriak Arsa kecil dengan histeris.

Tapi mata ibunya perlahan-lahan menutup. Tangannya yang menyentuh pipi Arsa kecil jatuh dengan pelan.

"IBU! IBU! BANGUN! BANGUN, BU!" teriak Arsa kecil sembari mengguncang tubuh ibunya.

Tapi ibunya tidak merespon lagi. Tubuhnya diam. Dingin. Tidak bergerak.

"IBU! JANGAN TINGGALIN ARSA! IBU! IBUU!" teriak Arsa kecil dengan tangisan yang memilukan.

Ia memeluk tubuh ibunya yang sudah tidak bernyawa dengan erat. Menangis sejadi-jadinya.

"Ibu... Ibu janji gak akan ninggalin Arsa... Ibu bohong... Ibu bohong..." isak Arsa kecil dengan suara yang sangat lemah. Ia menangis sendirian, bingung, tidak tau ingin meminta tolong kepada siapa.

Beberapa jam kemudian, Ayahnya akhirnya pulang saat hari sudah gelap. Ia menemukan Arsa kecil masih memeluk tubuh ibunya yang sudah dingin.

Mata pria itu membulat, tidak percaya dengan apa yang dia lihat. Tangannya itu menjatuhkan tas kantornya begitu saja, lalu berjalan ke arah Arsa dan Istrinya yang sangat pucat.

"Beneran..." gumam Ayah Arsa dengan wajah yang merasa bersalah.

Ia mengecek nadi istrinya tersebut, namun sama sekali tidak ada tanda-tanda kehidupan.

"Arsa... Arsa, lepaskan Ibu..." ucap ayahnya dengan suara yang bergetar.

Arsa kecil menggeleng keras sembari memeluk ibunya semakin erat. "JANGAN! IBU ARSA! JANGAN DIAMBIL!"

Ayahnya mencoba melepaskan pelukan Arsa kecil tapi anak itu memberontak dengan keras.

"JANGAN! JANGAN AMBIL IBU! IBU ARSA!" teriak Arsa kecil dengan histeris.

"Arsa... Ibu... Ibu sudah pergi..." ucap ayahnya dengan suara yang sangat pelan.

"BOHONG! IBU CUMA TIDUR! IBU GAK PERGI!" teriak Arsa kecil dengan tangisan yang semakin keras.

Ayahnya akhirnya berhasil melepaskan pelukan Arsa kecil. Ia memeluk anaknya yang terus memberontak.

"Arsa... Udah... Udah jangan nangis..." ucap ayahnya dengan suara yang juga mulai bergetar.

"INI SALAH AYAH! AYAH YANG BIKIN IBU SAKIT! AYAH YANG BIKIN IBU MATI!" teriak Arsa kecil dengan amarah yang luar biasa.

"ARSA GAK MAU LIAT AYAH LAGI! ARSA BENCI AYAH! ARSA BENCI!"

Ayahnya terdiam mendengar ucapan Arsa kecil. Wajahnya memerah. Air matanya jatuh untuk pertama kalinya.

Tapi Arsa kecil tidak peduli. Ia hanya terus menangis dan menangis.

Menangis untuk ibunya yang telah pergi. Menangis untuk kehilangan satu-satunya orang yang benar-benar mencintainya. Dia tidak pernah menyangka bahwa ibunya akan meninggalkannya.

🌷🌷🌷🌷

SETELAH PEMAKAMAN

Hari-hari setelah kematian ibunya adalah hari-hari tergelap dalam hidup Arsa kecil.

Ia tidak mau makan. Tidak mau bicara. Hanya terdiam di kamarnya sembari menatap foto ibunya.

Ayahnya mencoba mendekatinya beberapa kali, tapi Arsa kecil selalu menolak.

"Arsa... Ayah tau kamu benci sama Ayah. Tapi... Tapi kita harus tetap hidup. Kita harus move on..." ucap ayahnya suatu malam saat datang ke kamar Arsa.

Arsa kecil tidak menjawab. Ia hanya terus memeluk foto ibunya dengan erat. Selalu begitu setiap malam.

"Arsa... Tolong... Jangan kayak gini... Ayah... Ayah juga sedih..." lanjut ayahnya dengan suara yang bergetar.

"Pergi..." ucap Arsa kecil dengan suara yang sangat pelan tapi penuh kebencian.

"Arsa—"

"ARSA BILANG PERGI! ARSA GAK MAU LIAT MUKA AYAH LAGI!" teriak Arsa kecil dengan air mata yang jatuh.

Ayahnya terdiam. Ia berdiri di sana untuk beberapa saat sebelum akhirnya keluar dari kamar dengan langkah yang berat.

Sejak saat itu, hubungan Arsa dan ayahnya benar-benar rusak. Mereka tinggal di rumah yang sama tapi seperti orang asing. Sosok yang menyatukan rumah itu, kini benar-benar telah tiada.

Dan...

Ayahnya semakin sibuk dengan pekerjaannya. Jarang pulang. Dan saat pulang, ia tidak berbicara dengan Arsa sama sekali. Yang ada di dalam pikirannya hanyalah pekerjaan, pekerjaan, dan pekerjaan saja.

Rumah yang dulu masih ada suara ibunya, kini hanya dipenuhi keheningan yang mencekam.

Arsa kecil hidup dalam kesepian yang luar biasa. Ia merasa tidak punya siapa-siapa lagi.

Beberapa bulan telah berlalu sejak kematian ibunya, Arsa kecil kini menjadi anak yang sangat pendiam di sekolah. Ia tidak punya teman. Selalu sendirian.

Ia sering duduk di sudut kelas sembari menatap kosong keluar jendela.

"Arsa, lo gak mau main sama kita?" tanya salah satu teman sekelasnya.

Arsa kecil menggeleng pelan tanpa menatap temannya. "Gak mau."

"Kenapa sih lo jadi pendiem gini? Dulu lo gak kayak gini" ucap temannya lagi.

Arsa kecil tidak menjawab. Ia hanya terus menatap keluar jendela dengan tatapan kosong. Temannya akhirnya pergi meninggalkannya sendirian dengan penuh keheranan.

Arsa kecil merasakan air matanya hampir jatuh. Ia merindukan ibunya. Merindukan pelukan ibunya. Merindukan suara ibunya.

Tapi ibunya sudah tidak ada lagi. Dan ia... Ia harus hidup sendirian.

Tanpa ibu. Tanpa teman. Tanpa siapapun yang benar-benar peduli padanya.

🌷🌷🌷🌷

SUATU HARI SETELAH PULANG SEKOLAH

Arsa kecil berjalan pulang dengan langkah yang gontai. Ia melewati taman kecil dekat sekolahnya.

Tiba-tiba, ia mendengar suara tangisan dari balik semak-semak. Arsa kecil berhenti melangkah. Ia menoleh ke arah sumber suara.

Di sana, ia melihat seorang gadis kecil seumurannya yang sedang menangis sendirian. Seragamnya kotor dan rambutnya acak-acakan.

Untuk pertama kalinya sejak ibunya meninggal, Arsa kecil merasakan sesuatu di dadanya.

Bukan karena ia tertarik. Tapi karena... Karena ia melihat dirinya sendiri di dalam gadis itu.

Kesepian. Ketakutan. Sendirian.

Dengan langkah yang ragu, Arsa kecil berjalan mendekat ke arah gadis itu.

"Hei... Lo... Lo kenapa nangis?" tanya Arsa kecil dengan suara yang pelan.

Gadis itu mendongak dan menatap Arsa dengan mata yang sembab.

Dan di situlah... Di situlah untuk pertama kalinya sejak ibunya meninggal...

Arsa kecil merasakan ada sesuatu yang bergerak di hatinya yang sudah mati rasa. Pertemuan pertamanya dengan sosok yang menjadi cahaya kehidupannya ke depannya.

TO BE CONTINUED

🌷🌷🌷🌷🌷

HANCURRRR BANGET! 😭😭😭 Bab ini benar-benar menghancurkan hati!

Arsa kecil harus menyaksikan ibunya meninggal di pelukannya! Dia berteriak-teriak minta tolong tapi ayahnya gak mau pulang karena rapat! 💔

Dan saat ibunya meninggal, Arsa kecil menyalahkan ayahnya! Dia bilang "AYAH YANG BIKIN IBU MATI!" Dan sejak itu hubungan mereka benar-benar rusak...

Arsa kecil hidup dalam kesepian yang luar biasa. Gak punya teman. Gak punya siapa-siapa. Sampai suatu hari... Dia bertemu dengan seorang gadis kecil yang sedang menangis sendirian...

Siapa coba gadis itu? Hayoo ada yg bisa tebakk?

Penasaran kan kelanjutannya? Yuk stay tune terus dan jangan lupa follow ig author!

@Jaaparr

1
Maya Lara Faderik
Thor bisakah asha pergi menjauh terlebih dahulu terlalu Banyak ia tersakiti,..biarkan Arsha mengingatkan kembali ingatannya dan menyesali ,..dikemudian hari asha sudah move on
Maya Lara Faderik
sangat penasay..
tapi bikin Asha sungguh movie on Thor kalau bersama arsa itu menyakitkan jangan sia siakan airmataku ,..bahagiakan asha bersama orang lain juga supaya arsa merasakan kesakitan dan air mataku
jaaparr: Siapp kak
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!