NovelToon NovelToon
Rahasia Kakak Ipar

Rahasia Kakak Ipar

Status: tamat
Genre:One Night Stand / CEO / Hamil di luar nikah / Cinta Terlarang / Cinta Seiring Waktu / Konflik etika / Tamat
Popularitas:1.8M
Nilai: 5
Nama Author: Mommy Ghina

Satu malam yang kelam … mengubah segalanya.

Lidya Calista, 23 tahun, gadis polos, yang selama ini hanya bisa mengagumi pria yang mustahil dimilikinya—Arjuna Adiwongso, 32 tahun, suami dari kakaknya sendiri, sekaligus bos di kantornya—tak pernah membayangkan hidupnya akan hancur dalam sekejap. Sebuah jebakan licik dalam permainan bisnis menyeretnya ke ranjang yang salah, merenggut kehormatannya, dan meninggalkan luka yang tak bisa ia sembuhkan.

Arjuna Adiwongso, lelaki berkuasa yang terbiasa mengendalikan segalanya. Ia meminta adik iparnya untuk menyimpan rahasia satu malam, demi rumah tangganya dengan Eliza—kakaknya Lidya. Bahkan, ia memberikan sejumlah uang tutup mulut. Tanpa Arjuna sadari, hati Lidya semakin sakit, walau ia tidak akan pernah minta pertanggung jawaban pada kakak iparnya.

Akhirnya, gadis itu memilih untuk berhenti kerja, dan menjauh pergi dari keluarga, demi menjaga dirinya sendiri. Namun, siapa sangka kepergiannya membawa rahasia besar milik kakak iparnya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mommy Ghina, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 10. Tiba-tiba Datang

 

Waktu berlalu. Jam dinding menunjukkan pukul lima sore ketika Mama Riri mengetuk pintu kamar anaknya.

“Lidya, sayang … udah sore, bangun dulu ya. Makan dulu biar nggak masuk angin,” panggilnya lembut.

Tidak ada jawaban.

Mama Riri mengerutkan dahi, lalu membuka pintu perlahan. Udara dingin menyambutnya, dan pandangannya langsung tertuju pada sosok Lidya yang masih tergolek di ranjang—wajahnya pucat, rambut berantakan menutupi sebagian dahi.

“Lidya?” panggil Mama Riri lagi, kali ini lebih keras. Ia mendekat, menyentuh kening anaknya—dan langsung tersentak.

Panas.

Terlalu panas.

“Ya Allah, Lidya!” serunya panik. “Kamu demam tinggi banget!”

Ia segera berlari keluar kamar. “Bik Nur! Tolong ambilkan air hangat sama obat penurun panas! Cepat! Kalau bisa belikan bubur ayam yang ada di depan.”

“Siap, Bu!” sahut Bik Nur dari lantai bawah.

Mama Riri kembali ke kamar Lidya, mencoba membangunkan putrinya. “Sayang, bangun dulu, kamu harus makan dan minum obat dulu ya. Aduh, kok bisa panas begini.”

Lidya menggeliat lemah. Matanya membuka sedikit, pandangannya kabur. “Ma … aku cuma … kecapean aja, jangan khawatir,” gumamnya hampir tak terdengar.

Mama Riri menatapnya cemas. “Kamu tuh dari tadi siang belum makan, hanya tidur saja, badanmu pasti drop. Nih, minum air putih dulu.” Ia membantu Lidya duduk setengah badan, tapi gadis itu hanya menggeleng.

“Nanti aja, Ma. Aku masih mau tidur lagi,” ucapnya pelan.

“Ya enggak bisa gitu dong, Nak. Minum dulu, ya sayang.  Bi Nur nanti bawain bubur.”

Tak lama kemudian, Bik Nur masuk membawa nampan berisi bubur ayam dan segelas air putih. “Aduh, kasihan Neng Lidya. Panasnya tinggi banget, Bu.”

“Iya Bi.”Mama Riri menyeka keringat di leher anaknya dengan handuk basah. Wajahnya cemas, hatinya tak tenang.

Lidya akhirnya menuruti, meneguk sedikit air putih, lalu makan beberapa suap. “Aku cuma butuh tidur, Mama,” ujarnya pelan sebelum kembali merebahkan kepala.

Mama Riri duduk di tepi ranjang, mengusap rambut anaknya dengan lembut. “Iya, nanti tidur lagi. Mama jaga di sini, ya.”

Namun di balik wajah lembut itu, ada kekhawatiran besar. Lidya jarang sekali sakit—apalagi sampai demam setinggi ini.

Sementara itu, di rumah lain yang tak begitu jauh dari sana, Arjuna berdiri di balkon kamarnya. Langit Jakarta sudah berwarna oranye tua, dan dari kejauhan, terdengar suara azan Magrib menggema.

Ponselnya bergetar. Ia menatap layar. Sebuah pesan dari Eliza:

“Mas, aku udah di resto. Jangan lupa makan malam, ya. Dan, makasih transferan uangnya ❤️”

Arjuna membaca pesan itu, tapi tak membalas. Sebaliknya, matanya justru menatap ke nomor lain di daftar kontak—Lidya.

Ia tidak tahu apa yang mendorongnya, tapi jari-jarinya mengetik cepat.

“Sudah sampai rumah, kan?  Tadi kamu jadi mampir ke rumah temannya?”

Kali ini ia benar-benar menekan send.

Layar menampilkan tanda delivered, tapi tidak ada balasan. Detik-detik berlalu, berganti menit, tapi tetap sunyi.

Rasa gelisahnya semakin kuat.

Ia akhirnya mengambil kunci mobil. Suara mesin terdengar pelan, dan tanpa memberi kabar pada Eliza, Arjuna keluar dari rumah.

***

Malam mulai turun ketika mobil hitam itu berhenti di depan rumah Mama Riri. Lampu teras menyala, tapi suasana tampak hening.

Arjuna turun, membawa sebuah tas kecil berisi barang-barang yang “katanya” tertinggal oleh Lidya di koper mereka di Yogya—padahal hanya alasan agar ia punya pembenaran datang.

Begitu bel ditekan, tak lama pintu dibuka.

“Assalamualaikum, Ma.”

“Waalaikumsalam, Arjuna?” Suara Mama Riri terdengar terkejut. “Lho, kok malam-malam ke sini, sendirian? Eliza mana?” Mata Mama Riri melirik ke kanan kiri.

Arjuna tersenyum sopan. “Maaf, Ma. Aku cuma mau ngantar barang Lidya yang ketinggalan di koperku. Tadi baru sadar pas cek. Eliza sedang arisan sama teman-temannya.”

“Oh, gitu. Masuk aja, Arjun. Lidya lagi istirahat di atas, badannya panas tinggi dari tadi sore,” jawab Mama Riri sambil berjalan mendahului.

Arjuna menahan langkahnya sejenak. “Sakit?” tanyanya cepat.

“Iya, demam. Mungkin kecapean,” ucap Mama Riri sambil menatap ke arah tangga. “Masih tidur. Tapi panasnya tinggi sekali. Mama baru mau telepon dokter kalau belum turun panasnya juga.”

Arjuna terdiam, jemarinya mengepal. “Boleh aku lihat ke kamarnya, Ma? Sekalian mau kasih barangnya.”

Mama Riri menimbang sejenak, lalu mengangguk. “Ya sudah, tapi pelan-pelan aja, jangan ganggu tidurnya.”

Arjuna menaiki tangga perlahan, langkahnya hati-hati. Setiap anak tangga terasa menegangkan. Begitu sampai di ambang pintu kamar, ia mengetuk pelan.

Tak ada jawaban.

Ia membuka pintu sedikit—dan aroma balsem serta air hangat langsung menyapa.

Di ranjang, Lidya terbaring dengan wajah merah, napasnya berat. Handuk dingin terlipat di dahinya.

Arjuna mendekat tanpa suara.

Detik itu juga, dadanya serasa diremas.

“Lidya,” panggilnya hampir tak terdengar.

Mata Lidya bergerak sedikit di bawah kelopak, lalu terbuka perlahan. Pandangan samar itu bertemu dengan sosok di depannya. “Ka … kak Arjuna?” Suaranya serak, lemah. “Kenapa ada di sini? Sama Kak El?”

Arjuna menelan ludah, mencoba tetap tenang. “Kamu sakit, ya. Dari kapan panasnya? Aku sendiri, El ada acara. Kenapa kamu nggak kasih kabar ke aku?”

Lidya tersenyum lemah. “Tadi … sore. Nggak apa-apa, cuma kecapean.”

“Ini bukan cuma kecapean,” ujar Arjuna pelan. Ia duduk di tepi ranjang, meraba keningnya. Panasnya masih tinggi. “Kamu harus dibawa ke dokter, mungkin ini efek sakit yang kemarin belum sembuh total.”

“Nggak usah, Kak. Aku bisa istirahat aja di rumah.”

Arjuna menghela napas, nadanya terdengar dingin tapi sarat kepedulian. “Kamu keras kepala, seperti biasa.”

Lidya menutup mata, suaranya hampir tak terdengar. “Aku cuma nggak mau merepotkan siapa pun. Sebaiknya Kakak pulang aja. Lagian, kok tiba-tiba datang ke sini.”

Arjuna menatapnya lama. Ada luka halus di dada yang sulit dijelaskan. “Lidya, kamu bukan orang lain,” katanya akhirnya.

Ucapan itu membuat Lidya membuka mata lagi. Pandangannya kabur, tapi ia sempat melihat sesuatu di mata Arjuna—sesuatu yang bukan sekadar perhatian kakak ipar, tapi ia buang dugaan tersebut.

Suasana hening. Hanya bunyi detak jam dan napas berat Lidya yang terdengar.

“Arjun …,” panggil Mama Riri dari luar pintu. “Bisa bantu ambilkan air hangat tambahan di bawah buat Lidya?”

Arjuna segera berdiri. “Iya, Ma. Tunggu sebentar.”

Namun sebelum ia benar-benar melangkah, tangan Lidya yang lemah sempat menyentuh pergelangan tangannya. “Kak ....”

Arjuna menoleh cepat. “Kenapa?”

Lidya menatapnya kabur, suaranya hampir tenggelam. “Pulanglah.”

Arjuna menatapnya lama. Ada sesuatu di dalam dada yang bergolak. “Kenapa? Aku memangnya tidak boleh ada di sini?”

Bersambung .... ❤️

1
Ani Kurniati
bagus
Kukun Sabarno
semasa masih sehat Elisa maunya foya foya,muda berjaya tua menderita kasian
Kukun Sabarno
bahagianya berdua👍
Kukun Sabarno
lanjut👍
Kukun Sabarno
akhirnya lidya berterus terang
Kukun Sabarno
ayo lidya hadapi camermu🤣
Kukun Sabarno
semua marah dengan Elisa bukan berubah malah semakin merajalela. mau terima karma seperti apa dia nanti🤭
Kukun Sabarno
Elisa emang mau kalau dicerai atau dipoligami???
Kukun Sabarno
bikin Juna yang mabok mual dan muntah. biar rasa dia
Kukun Sabarno
masalah saling berkaitan rumta Arjuna dan Elisa sedang tidak baik baik saja sementara urusan dengan lidya tambah ruwet
Kukun Sabarno
kalau lidya hamil gimana ya
Kukun Sabarno
sebagai isteri suruh hamil gak mau takut tubuhnya jelek tapi maunya shopping. harusnya ada bakti dn kewajiban
Kukun Sabarno
Elisa itu type orang yang selalu menuntut
Irizka RA Yusuf
Aaah ceritanya bagus, tidak bertele" dengan part yg panjang. Terimakasih ya kakak😍
Siti Aisyah
iiih kang arjun...face nya idola ku banget...😍😍
Lisna Wati
bagus banget
Siti Aisyah
wiiih...jiwa miskin ku abrug.abrugan....thooor gak kira.kira yaa....uang mut'ah nya 5M...brner bener ngehalu nyaa....masya Allah...🤭🤣😇
Siti Aisyah
wiiihh...arjuna kata.kata nya bikin meleot hati ku ajaaahh....🤭😍
Siti Aisyah
aaah jadi gemes...bacanya terlalu di slow motion cerita nya...
Siti Aisyah
apa kabar dengan eliza..??
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!