17 Agustus 1996.
Bagi Julian "Lian" Pratama, hari ini seharusnya menjadi titik akhir. Di balik senyum sempurna sang Ketua OSIS, jiwanya telah lama kosong. Ia menaiki rooftop sekolah, siap untuk pergi selamanya.
Namun, alih-alih keheningan, yang terdengar hanya bunyi "KLIK" dari sebuah Walkman tua.
Lian terbangun kembali di pagi yang sama. Upacara yang sama. Kebosanan yang sama. Terjebak dalam loop waktu yang tak berujung, dunia Lian perlahan memudar menjadi hitam-putih. Hingga ia menemukan satu anomali: Kara Anjani.
Gadis pecinta musik grunge itu adalah satu-satunya yang tetap berwarna di mata Lian. Anehnya, setiap kali hari berulang, ada detail kecil pada Kara yang tidak ikut terhapus.
Apa hubungan Kara dengan putaran waktu ini? Dan jika Lian berhasil menekan tombol Stop pada kaset misterius itu, apakah ia akan bebas... atau justru kehilangan segalanya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Vorlagh, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Dipo Lokomotif
Yogyakarta, Sabtu Sore. Pukul 17:30 WIB.
Matahari terbenam di ufuk barat, melukis langit di atas Stasiun Lempuyangan dengan warna ungu lebam dan oranye karatan.
Di area belakang stasiun, jauh dari peron penumpang yang bersih, terhampar Dipo Lokomotif—kuburan bagi kereta api tua yang sudah pensiun.
Lian dan Kara menyelinap masuk lewat lubang pagar kawat yang sudah dijebol.
Langkah mereka hati-hati, menghindari kerikil rel yang berbunyi krek-krek saat diinjak. Mereka harus waspada terhadap petugas Polsuska (Polisi Khusus Kereta Api) yang patroli membawa anjing herder.
"Itu," bisik Kara, menunjuk ke ujung rel buntu yang ditumbuhi ilalang setinggi dada orang dewasa.
Di sana, teronggok sebuah gerbong penumpang kelas Bisnis buatan tahun 80-an.
Cat oranyenya sudah mengelupas parah, memperlihatkan besi hitam di bawahnya. Jendelanya sebagian pecah, sebagian ditutup triplek. Roda-rodanya sudah menyatu dengan tanah dan rumput liar.
Gerbong itu tampak seperti bangkai hewan raksasa yang dibiarkan membusuk.
"Serem banget, Ra," gumam Lian, bulu kuduknya meremang.
"Gratis," jawab Kara singkat. Standar hidupnya sudah turun drastis. Yang penting ada atap dan dinding.
Mereka mendekat.
Pintu gerbong itu terbuka separuh, miring karena engselnya patah.
Bau oli, kencing, dan apek menguar dari dalam.
"Halo?" Lian memberanikan diri mengetuk bodi besi gerbong itu.
Teng-teng.
Hening.
"Kosong kayaknya," kata Lian.
Mereka memanjat naik. Lantai bordes gerbong itu sudah bolong-bolong dimakan karat.
Bagian dalam gerbong itu gelap. Kursi-kursi busanya sudah robek, isinya berhamburan. Debu tebal menyelimuti segalanya.
Tapi saat mata Lian beradaptasi dengan kegelapan... dia melihat mereka.
Di bagian ujung gerbong, ada cahaya remang dari lampu tempel minyak tanah (teplok).
Sekelompok anak duduk melingkar di atas lantai gerbong yang dilapisi kardus.
Ada lima orang.
Tiga anak laki-laki dengan rambut mohawk kaku (yang ditegakkan pakai lem kayu atau sabun), memakai jaket kulit penuh paku (studs) dan rantai.
Satu anak perempuan kecil yang kumal memegang boneka tanpa kepala.
Dan satu sosok yang terlihat paling tua—mungkin seumuran Lian—sedang menghitung uang receh.
Mereka menoleh serentak.
Mata mereka tajam. Tatapan liar.
Salah satu anak punk bertindik di bibir langsung berdiri. Dia mencabut sebilah pisau lipat kecil dari saku celana jins ketatnya.
"Siapa lu?!" bentaknya. Suaranya serak berat, efek rokok dan debu jalanan.
"Mata-mata Polsuska?!"
Lian reflek merentangkan tangan, melindungi Kara di belakangnya. Rusuknya yang memar kembali berdenyut karena gerakan tiba-tiba.
"Bukan! Kita bukan polisi! Kita cuma cari tempat tidur!"
"Tempat tidur nenek moyang lu!" Anak punk itu meludah. "Ini wilayah Anak Gerbong. Cabut sekarang atau gue bolongin perut lu!"
Kara mencengkeram kaos belakang Lian ketakutan. Situasi ini lebih buruk dari preman Sarkem. Anak-anak punk ini tidak punya aturan.
Sosok pemimpin yang tadi menghitung uang berdiri perlahan. Dia menyingkirkan anak buahnya yang memegang pisau.
Rambutnya gondrong gembel (dreadlock) alami, bukan karena gaya, tapi karena tidak pernah disisir. Wajahnya keras, penuh bekas cacar. Namanya Gogon.
Gogon berjalan mendekat, aroma alkohol murahan menguar dari mulutnya. Dia menatap Lian dari ujung kaki sampai ujung kepala.
Menatap kaos Lian yang kucel, celana Lian yang bolong lututnya, dan mata Lian yang lebam.
"Cari tempat tidur?" tanya Gogon pelan tapi mengintimidasi.
"Iya, Bang," jawab Lian, mencoba mengatur napas. "Duit kita abis. Kita diusir dari losmen. Kita nggak punya siapa-siapa."
"Bayar pake apa?"
"K-kita nggak punya duit..."
"Nggak ada yang gratis di dunia ini, Bro. Bahkan oksigen di sini pun rebutan sama tikus," potong Gogon.
Kara memberanikan diri mengintip dari balik punggung Lian.
Dia melihat sesuatu di sudut gerbong, dekat lampu teplok.
Ada tumpukan barang elektronik rongsokan. Radio transistor tua, tape recorder, kabel-kabel putus. Harta karun anak jalanan yang dipungut dari tempat sampah orang kaya.
"Kak Lian bisa benerin barang," cicit Kara pelan.
Gogon menaikkan alisnya yang ditindik peniti. "Hah?"
Lian menatap Kara bingung, lalu menatap tumpukan rongsokan itu. Ide menyala di kepalanya.
"B-bener, Bang. Gue... gue mekanik," Lian berbohong demi nyawa. "Gue bisa benerin elektronik. Radio, tape, apa aja."
Gogon menyeringai. Dia berjalan ke tumpukan rongsokan itu, mengambil sebuah Walkman Sony warna merah yang kondisinya mengenaskan. Tutup baterainya hilang diselotip, tombol Play-nya macet.
Gogon melempar Walkman itu ke Lian.
Lian menangkapnya.
"Ini barang dapet mulung dari tong sampah Malioboro Mall," kata Gogon. "Mati total. Padahal di dalemnya ada kaset Slank. Kalau lo bisa bikin ini bunyi... lo berdua boleh tidur di pojokan situ. Kalau nggak bisa..."
Gogon memberi isyarat menggorok leher.
"...lo tidur di rel. Biar kelindes kereta Argo Lawu entar malem."
Tantangan diterima.
Ini bukan sihir Time Loop. Ini Fisika dasar dan Elektronika arus lemah.
Lian duduk di lantai gerbong yang dingin. Dia mengeluarkan kaset Slank dari dalamnya (pitanya aman).
Dia tidak punya obeng.
"Ada pisau?" tanya Lian.
Anak punk tadi melemparkan pisau lipatnya. Menancap di lantai kayu, satu senti dari lutut Lian. Gemetar Lian, tapi dia mencabutnya.
Lian membuka baut kecil di belakang Walkman dengan ujung pisau. Tangannya cekatan, meski berkeringat dingin.
Dia memeriksa bagian dalam mesin (motherboard hijau kecil).
Dia melihat masalahnya.
Karet pemutar dinamo (belt) putus. Itu penyakit umum Walkman tua.
"Karetnya putus, Bang. Mesinnya masih idup," diagnosa Lian.
"Terus?"
"Gue butuh karet gelang. Karet bungkus nasi."
Anak kecil perempuan yang memegang boneka itu mendekat. Dia mengambil karet gelang merah dari rambutnya yang dikuncir. Menyodorkannya ke Lian tanpa bicara.
"Makasih," kata Lian lembut.
Lian memasang karet gelang itu dengan hati-hati. Mengganti belt yang putus. Dia harus melipatnya dua kali agar tegangannya pas. Teknik darurat montir jalanan.
Lalu dia membersihkan karat di terminal baterai dengan menggesek-gesekkan ujung pisau (amplas manual).
"Coba batere," pinta Lian.
Gogon melempar dua baterai AA bekas yang sudah digigit-gigit (biar isinya keluar).
Lian memasang baterai. Memasukkan kaset Slank lagi.
Dia memasang headphone (yang busanya sudah rontok) ke telinga.
Menekan PLAY.
Roda berputar.
Lampu merah menyala redup.
Suara serak Kaka Slank terdengar menyanyikan Mawar Merah di telinga Lian.
Lian melepas headphone, mencabut colokannya supaya suaranya keluar lewat speaker internal kecil (sumber suara cempreng).
Memang ku tak mampu... membelikanmu... perhiasan mewah...
Lagu itu mengalun di gerbong yang sunyi.
Mata Gogon melebar. Anak-anak punk lain melongo.
Barang rongsokan itu hidup lagi. Bagi mereka, ini sihir. Mereka sudah mau membuangnya besok, tapi di tangan "anak kucel" ini, benda itu jadi hiburan mahal.
Gogon tertawa terbahak-bahak. Giginya kuning dan ompong satu.
"Wah! Ajaib juga tangan lu, Bos!"
Gogon merampas Walkman itu, mengangguk-angguk menikmati lagunya.
Dia menepuk bahu Lian keras-keras (sakit lagi).
"Oke. Lu lulus. Pojokan itu punya lu."
Gogon menendang tumpukan kardus di sudut gerbong, membersihkan area 2x2 meter.
"Mulai sekarang, nama lu Obeng," kata Gogon, membaptis Lian dengan nama jalanan.
"Dan cewek lu... siapa namanya?"
"Kara," jawab Kara pelan.
"Kara. Hm. Oke, Kara. Lu boleh gabung sama si Cempluk," Gogon menunjuk anak kecil perempuan tadi. "Tapi jangan macem-macem. Di sini aturannya satu: Bagi rata. Dapet nasi satu, bagi rame-rame. Dapet rokok sebatang, hisap giliran."
Lian mengangguk. Dia menghela napas panjang, beban berat di dadanya terangkat sedikit.
Mereka punya tempat tidur malam ini. Gratis.
Dibayar dengan ilmu Fisika.
...----------------...
Tengah Malam. Di Sudut Gerbong.
Suara jangkrik bersahutan dengan dengkuran anak-anak jalanan.
Gerbong itu berbau oli dan keringat, tapi anehnya... hangat.
Lian dan Kara berbaring beralaskan kardus mie instan. Jaket kulit usang milik Gogon (yang dipinjamkan) jadi selimut mereka.
"Lian..." bisik Kara, memainkan jari Lian yang kotor oli hitam. "Kamu hebat tadi."
"Cuma benerin karet putus, Ra. Anak TK juga bisa," jawab Lian merendah.
"Nggak. Bukan itu." Kara menatap mata Lian dalam gelap.
"Kamu tadi ngelindungin aku pas mereka ngeluarin pisau. Terus kamu mikir cepet."
Lian tersenyum getir di kegelapan.
Dulu dia pikir jadi Ketua OSIS adalah prestasi tertinggi. Ternyata, bisa menghidupkan musik di tengah tumpukan sampah lebih dihargai di sini.
Mungkin ini takdir Sisi B mereka. Menemukan makna di barang rusak.
"Ra, maafin gue soal kemarin malem ya. Soal Aga. Soal gue mabuk," kata Lian akhirnya, mengutarakan penyesalan yang tertunda. "Gue cuma... ngerasa nggak guna. Liat Aga nyanyi keren, gue ngerasa kecil."
Kara menggeleng, merapatkan tubuhnya.
"Lagu Mas Aga bagus, tapi dia nggak tau cerita di balik liriknya. Cuma kamu yang tau arti 'Pintu' dan 'Rooftop'. Kamu co-writer hidup aku, Kak. Nggak ada yang bisa gantiin."
Kalimat itu sederhana, tapi menyembuhkan luka ego Lian lebih ampuh daripada pujian apa pun.
"Tidur, Ra. Besok kita mulai hidup baru," bisik Lian.
"Sebagai apa?"
"Sebagai... Obeng dan Kara."
Lian menatap atap gerbong yang berkarat. Di sela-sela lubang paku rivet, dia bisa melihat sepotong bintang di langit malam Yogya.
Bintang yang sama yang dilihat Riko di Bandung.
Lian menyentuh saku celananya. Ada obeng kecil yang dia simpan.
Senjata barunya.
Besok, dia tidak akan mengamen. Dia tidak akan mengemis.
Dia akan menawarkan jasa "Servis Panggilan Barang Rusak".
Kipas angin, setrika, radio, lampu teplok.
Apa pun yang rusak di pasar Beringharjo, dia akan perbaiki.
Dunia boleh hancur, batin Lian. Tapi selama gue pegang obeng, gue bisa benerin sedikit demi sedikit.
Di luar, kereta api Argo Dwipangga melintas cepat, getarannya menggoyang gerbong tua itu seperti buaian raksasa, meninabobokan dua pelarian yang akhirnya menemukan kawanannya.