Hero dan Awan adalah dua sisi mata uang yang berbeda. Hero begitu hangat dan penuh kasih, sementara Awan sedingin es dan tak tersentuh. Namun, maut merenggut Hero terlalu cepat, meninggalkan Jasmine yang sedang hamil muda dalam kehancuran.
Sebelum napas terakhirnya, Hero menitipkan "warisan" yang paling berharga kepada Awan: istri dan calon anaknya.
Kini, Jasmine harus terjebak satu atap dengan pria yang paling ia hindari. Awan yang ketus, kaku, dan sudah memiliki kekasih matre bernama Celine. Bagi Awan, menjaga Jasmine adalah beban wasiat yang menyebalkan. Bagi Jasmine, melihat wajah Awan adalah luka yang terus terbuka.
Di tengah duka dan tuntutan harta, mampukah Awan menjalankan wasiat kembarannya? Ataukah kebencian di antara mereka justru berubah menjadi benih cinta yang tak seharusnya ada?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nadhira Ramadhani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 12
Semburat jingga matahari pagi baru saja menyapu lantai dapur yang bersih saat Jasmine sudah sibuk dengan celemeknya. Aroma rempah yang kuat—kayu manis, cengkeh, dan pala—mulai memenuhi udara, menciptakan suasana hangat yang sudah lama tidak terasa di rumah itu. Jasmine tampak lebih segar; pipinya yang semula kuyu kini mulai berisi, dan binar matanya kembali meski hanya sedikit.
Di atas kompor, panci besar berisi kaldu iga sedang mendidih pelan. Jasmine mengaduknya dengan gerakan lembut, sesekali mengusap keringat tipis di pelipisnya.
Tap. Tap. Tap.
Langkah kaki yang berat dan teratur terdengar menuruni tangga. Tanpa menoleh pun, Jasmine tahu siapa itu. Aura dingin dan wangi maskulin yang tajam sudah lebih dulu sampai ke dapur sebelum orangnya terlihat.
Awan berdiri di ambang pintu dapur, masih mengenakan kaus oblong hitam dan celana santai, rambutnya sedikit berantakan khas orang baru bangun tidur. Ia langsung mengernyitkan dahi begitu melihat Jasmine sedang memegang sudip.
"Gue kan udah bilang jangan sentuh dapur. Nanti kalo lo kecapekan gue yang repot," tegur Awan. Suaranya serak khas bangun tidur, namun nada judesnya tetap tidak ketinggalan.
Jasmine menoleh dan tersenyum tipis. "Eh Kak, maaf... tapi aku nggak pengen cuma duduk aja. Lagian aku kangen masak sop iga buat Mas Hero, eh—maksudku, buat Kakak juga."
Awan terdiam sejenak mendengar nama Hero disebut. Ia berdeham, mencoba mengalihkan rasa canggung yang tiba-tiba muncul. "Terserah lo lah. Tapi kalo capek, istirahat! Jangan maksain diri cuma buat sop doang. Gue bisa beli satu restoran kalau cuma mau makan sop."
Jasmine hanya terkekeh pelan. Ia tahu itu adalah cara Awan menunjukkan perhatian, meskipun bahasanya sekeras batu. Jasmine dengan cekatan menyiapkan semangkuk sop iga panas di atas meja makan, lengkap dengan nasi putih dan sambal ijo kesukaan Awan.
Pria itu duduk dan mulai makan dalam diam. Jasmine hanya memperhatikan dari seberang meja. Meskipun Awan terlihat cuek, ia menghabiskan makanannya tanpa sisa.
"Biar gue yang cuci piring. Duduk sana!" perintah Awan setelah meletakkan sendoknya. Ia berdiri dan membawa piring kotornya ke wastafel, tidak membiarkan Jasmine melakukan pekerjaan kasar apa pun.
Sekitar pukul delapan pagi, Awan sudah rapi dengan setelan jas hitamnya. Ia tampak seperti seorang panglima yang siap berperang di dunia bisnis. Namun, saat ia melangkah keluar rumah, ia tidak langsung menuju mobil.
Di depan rumah, sudah berjejer lima orang pria berbadan tegap dengan setelan safari hitam. Mereka adalah tim keamanan terbaik yang disewa Awan secara pribadi.
"Kalian tahu tugas kalian," ucap Awan pada kepala keamanan. "Jangan biarkan siapa pun masuk tanpa izin gue. Pantau setiap CCTV. Kalau ada gerakan mencurigakan di sekitar pagar, langsung lapor."
Awan berbalik, menatap Jasmine yang berdiri di ambang pintu.
"Nanti kalo ada apa-apa telepon gue. Gue pergi dulu," ucap Awan singkat.
"Iya Kak... hati-hati," jawab Jasmine lembut.
Awan masuk ke dalam mobilnya dan melesat pergi, diikuti oleh satu mobil pengawal yang menjaganya dari belakang. Jasmine menatap kepergian mobil itu sampai hilang di tikungan, namun entah kenapa, dadanya tiba-tiba terasa sesak. Sebuah firasat buruk merayap masuk ke dalam pikirannya, dingin dan tajam seperti es.
Jasmine masuk kembali ke dalam rumah. Sunyi. Suster Lastri sedang berada di lantai atas merapikan kamar, sementara para penjaga berada di luar. Namun, perasaan gelisah itu tidak mau hilang. Ia merasa seperti ada ribuan mata yang sedang mengawasinya dari kejauhan.
Jasmine kembali ke dapur. Ia melihat sisa cabai rawit merah yang sangat pedas di atas meja. Pikirannya melayang pada ancaman Celine dan sorot mata pria-pria asing yang tempo hari ia lihat di sekitar rumah sakit.
"Aku nggak boleh cuma diam," gumam Jasmine.
Ia mengambil segenggam besar cabai rawit merah paling pedas. Dengan tangan yang sedikit gemetar, ia mulai menggiling cabai itu hingga halus. Ia tidak menambahkannya ke masakan, melainkan mencampurnya dengan sedikit air dan perasan cuka yang ia temukan di lemari.
Cairan itu sangat pekat, merah menyala, dan hanya dengan menghirup aromanya saja sudah membuat hidung terasa panas terbakar. Jasmine mengambil sebuah botol semprotan kecil yang biasanya ia gunakan untuk menyiram tanaman hias di dalam ruangan. Ia mencuci botol itu bersih, lalu menuangkan cairan cabai pekat itu ke dalamnya.
Crot. Crot.
Ia mencoba menyemprotkannya ke udara sedikit. Seketika, ia terbatuk-batuk karena rasa pedas yang menusuk tenggorokan.
"Ini cukup buat bikin orang buta sementara," bisiknya.
Jasmine memasukkan botol kecil itu ke dalam saku dasternya. Ia merasa sedikit lebih tenang sekarang. Meskipun Awan sudah memberikan penjagaan ketat, Jasmine tahu bahwa dalam keadaan terdesak, ia harus bisa melindungi dirinya sendiri dan bayi yang ada di kandungannya.
Di luar sana, di dalam sebuah mobil box yang terparkir agak jauh dari gerbang rumah, dua orang pria suruhan Celine sedang memperhatikan monitor kecil. Mereka menggunakan drone kecil yang terbang sangat tinggi sehingga tidak terdeteksi oleh para penjaga.
"Penjagaannya ketat banget," ucap salah satu pria itu sambil menghisap rokoknya.
"Awan nggak bego. Tapi dia punya satu kelemahan," sahut pria lainnya dengan seringai licik. Ia mengambil ponselnya dan menghubungi seseorang. "Lakukan rencana B. Alihkan perhatian para penjaga di depan. Gue masuk lewat tembok belakang lewat jalur pipa yang udah kita sabotase semalam."
Di dalam rumah, Jasmine sedang duduk di sofa ruang tamu sambil membelai perutnya. Tiba-tiba, lampu di seluruh rumah padam. Suara alarm di gerbang depan berbunyi nyaring, disusul suara teriakan para penjaga yang tampaknya sedang menghadapi keributan di depan pagar.
Jasmine berdiri, jantungnya berpacu cepat. Ia merogoh saku dasternya, mencengkeram botol semprotan cabai itu erat-erat.
"Suster Lastri! Turun!" teriak Jasmine ke arah lantai atas.
Namun, tidak ada jawaban dari atas. Yang terdengar justru suara kaca jendela di dapur yang pecah berantakan.
Jasmine mundur perlahan, matanya menatap tajam ke arah dapur yang gelap. Ia tahu, mimpi buruknya baru saja dimulai. Ia segera merogoh ponsel di meja untuk menelepon Awan, namun sinyal di rumah itu mendadak hilang—pelaku tampaknya menggunakan jammer sinyal.
"Kak Awan... tolong..." bisik Jasmine, meski ia tahu ia harus berjuang sendiri sekarang.