Kaniya, seorang wanita muda yang berani, menolak perjodohan yang diatur oleh orang tuanya. Dia kabur dari rumah dan mencari perlindungan di perusahaan tempatnya bekerja. Di sana, dia bertemu dengan atasannya, Agashtya, yang juga kabur dari perjodohan orang tua. Mereka berdua bekerjasama untuk menjaga rahasia masing-masing, tapi suatu malam, mereka tak sengaja tidur bersama.
Beberapa bulan kemudian, mereka berdua terkejut ketika mengetahui bahwa orang yang dijodohkan oleh orang tua mereka tak lain adalah mereka sendiri. Kaniya dan Agashtya harus menghadapi kenyataan bahwa mereka telah jatuh cinta, tapi adakah kesempatan bagi mereka untuk bersama? Dan apa yang terjadi ketika adik mereka, Bintang dan Shanaya, juga saling jatuh cinta satu sama lain?
Kaniya dan Agashtya duduk di ruang kantor, mencoba memahami situasi mereka.
"Apa bapak percaya ini?" tanya Kaniya, suaranya hampir tidak terdengar
Agashtya menggelakkan kepalanya. "Saya tidak tahu apa yang harus dikatakan. Aku tidak pernah
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mutiara Wilis , isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Momen Makan Siang Romantis
Koridor belakang kantor lantai 18 sepi. Hanya suara AC mendengung dan detak sepatu Shalsabila yang menggema pelan. Tangannya gemetar saat ia merogoh ponsel dari saku blazer.
Kopi yang tadi pagi sudah ia campur sesuai perintah Sherly, gagal diberikan pada Kaniya. Keburu diberi teh jahe hangat oleh Agashtya sebelum Shalsabila sempat menyodorkannya. Tepat disaat ia akan memberikannya pada Kaniya dirinya justru tak sengaja bertabrakan dengan Bintang dan kopi itu pun tumpah.
Jari Shalsabila menekan nama "Sherly" di layar. Telepon diangkat bahkan sebelum nada sambung kedua.
“Gimana? Udah beres?” suara Sherly di seberang langsung tajam, merasa tak sabar
Shalsabila menelan ludah lidahnya terasa kelu, ia mundur ke sudut dekat tangga darurat.
“Kak…gagal, Kak. Kaniya nggak minum kopi yang gue siapin. Agashtya buru-buru bawain dia teh jahe. Gue nggak ada celah—”
“GOBLOK!” bentakan Sherly pecah, membuat Shalsabila spontan menjauhkan ponselnya dari telinga
“Disuruh ngasih kopi doang aja nggak becus! Loe tahu kan ini kesempatan satu-satunya hari ini?! Sekarang dia udah diem di ruangan Agashtya, dikunci dari dalem! Mau loe gagalkan hidup gue juga?!”
“Maaf, Kak…gue beneran udah coba. Tapi Agashtya nempel terus sama dia dari pagi. Gue—”
“Nggak ada tapi-tapian!” Sherly mendesis. Napasnya berat, tampak sekali dia sedang marah
“Denger ya, Shal. Kalau sampai janin itu lahir, habis loe sama gue. Gue yang tenggelamin nama loe di industri perfilman. Paham?!”
"Klik..." Telepon dimatikan sepihak.
Shalsabila merosot lemah, punggungnya membentur tembok dingin. Tangannya mencengkeram ponsel erat sampai buku jarinya memutih. Air matanya jatuh, bukan karena takut pada Sherly, tapi karena ia tahu, ia baru saja ikut dalam sesuatu yang buruk.
...****************...
Di ruangan lain, lima lantai di bawahnya, suasana bertolak belakang. Ruang kerja Agashtya yang biasanya kaku dan penuh dokumen, siang ini berubah jadi tempat paling hangat di seluruh gedung.
Meja kerjanya disingkirkan, diganti meja kecil dengan taplak linen putih. Di atasnya: nasi goreng seafood, sop buntut, salad buah, jus alpukat, jus jeruk, sampai cokelat truffle yang Kaniya suka.
Agashtya baru saja melepas jas, lengan kemejanya digulung sampai siku. Ia sibuk menyendokkan sop buntut ke mangkuk, lalu meniupnya pelan sebelum menyodorkan ke Kaniya yang duduk manis di sofa.
“Pelan-pelan, Sayang. Masih panas,” ucapnya, dengan senyum lembut
Tak ada lagi Agashtya CEO yang dingin ke semua orang. Di depan Kaniya, ia cuma calon ayah yang bucinnya minta ampun.
Kaniya tertawa, menerima mangkuk itu. Perutnya sudah mulai membuncit tipis, masih bisa ditutupi blazer, tapi tangannya refleks mengelus di atasnya.
“Kamu ini ya. Baru juga tunangan kemarin, udah manjain aku kayak ratu...”
“Emang ratu,” Agashtya duduk di sampingnya, menyomot satu udang dari nasi goreng Kaniya
“Ratunya anak gue. Sama ratu di hati gue. Jadi wajib dimanjain...”
Kaniya mencubit pipi Agashtya gemas. “Gombal. Tapi aku suka...”
Ia menyendok sop buntut, matanya memejam menikmati.
“Enak banget, Mas. Kamu pesen dari mana? Kayak masakan Mama...”
“Restoran langganan Mama. Sengaja. Biar kamu makan banyak. Biar dedek juga sehat,” Agashtya menaruh tangannya di atas tangan Kaniya yang ada di perutnys
“Dia nendang nggak tadi pagi?”
“Belum berasa nendang kan masih awal,” Kaniya bersandar di bahu Agashtya, menyuapi Agashtya sesendok nasi goreng
“Tapi katanya udah mulai gerak kalau udah 14 minggu. Bintang bilang minggu depan udah bisa USG 4D. Mau ikut kan?”
Agashtya menoleh, keningnya ditempel ke kening Kaniya.
“Gila ya kalau aku nggak ikut. Itu anakku. Anak kita. Jangankan USG, lahiran pun aku yang motong tali pusarnya kalau diizinkan...”
Kaniya tersipu, menyedot jus alpukatnya.
“Janji ya? Nggak boleh pingsan. Kan dokternya omnya sendiri nanti...”
“Janji,” Agashtya ngecup puncak kepala Kaniya
“Agashtya Vijaya nggak pernah ingkar janji. Apalagi ke kamu...”
Di luar jendela kaca, Jakarta siang ini terik. Tapi di dalam ruangan ini, dunia serasa berhenti. Hanya ada suara sendok beradu, tawa kecil, dan detak dua jantung yang sekarang saling bertemu ditambah satu detak kecil di dalam rahim Kaniya.
Hari pertama setelah mereka resmi bertunangan. Tak ada racun, tak ada Sherly, tak ada Shalsabila. Yang ada hanya Agashtya yang menyuapi Kaniya potongan melon sembari berkata.
“Buat vitamin, Bumil,”
Kaniya pun membalas menyuapi Agashtya cokelat sembari berbisik, “Buat calon Papa siaga...”
Indah. Dan untuk sementara, dunia memang hanya milik mereka berdua saat ini.
Siang ini, jam di dinding ruang kerja Agashtya sudah menunjuk pukul 13.40. Makanan di meja sudah setengah habis. Kaniya bersandar di sofa, kekenyangan, satu tangan mengelus perut, satu tangan lagi menggenggam tangan Agashtya yang tak lepas dari tadi.
“Aku ngantuk,” gumam Kaniya, matanya sayu
“Kamu kebanyakan nyuapinnya mas...”
Agashtya tertawa kecil, menarik selimut tipis dari laci dan menyelimuti kaki Kaniya.
“Tidur aja. Masih ada satu jam sebelum meeting. Aku jagain kamu kok...”
“Beneran boleh?” Kaniya melirik ke pintu kaca yang diburamkan
“Nanti kalau ada yang lihat gimana…”
“Biarin,” Agashtya mengusap rambut Kaniya, suaranya tegas namun lembut
“Ini ruangan aku. Kamu sekarang adalah tunangan aku. Calon ibu anak aku. Siapa yang berani ngomong macam-macam tentang kita emangnya?”
Kaniya tersenyum, memejamkan mata. Dalam hitungan menit, napasnya sudah teratur. Damai. Agashtya hanya duduk di karpet, bersandar di sofa, matanya tak lepas dari wajah Kaniya yang tertidur. Tangannya sesekali mengusap perut Kaniya pelan, seolah bicara pada janin di dalamnya.
“Hai, Nak,” bisiknya, nyaris tak terdengar
“Ini Papa. Papa janji ya, nggak bakal biarin siapa pun nyakitin Mama kamu. Sama kamu. Tidur yang pules ya...”
...****************...
Di lantai 18, Shalsabila masih di tangga darurat. Air matanya sudah kering, tapi tangannya masih gemetar. Ponselnya bergetar lagi. Nama Sherly muncul. Ia mengangkat dengan napas tertahan.
“Ke cafe depan. 10 menit. Ada tugas baru,” suara Sherly dingin, tak ada amarah meledak seperti tadi. Justru itu yang membuat Shalsabila merasa merinding
“Kak, gue…gue nggak bisa lagi. Ini udah kelewatan. Itu nyawa orang, Kak—”
“Nyawa loe juga bakal kelewat kalau loe nggak nurut, Shal,” potong Sherly
“Loe udah kecemplung. Basah bareng atau tenggelam sendiri. Pilih salah satunya...”
Klik. Lagi.
Shalsabila menutup mulutnya, menahan isak. Di tangannya, cangkir sisa kopi yang gagal ia berikan ke Kaniya tadi pagi masih ia bawa. Isinya sudah dingin. Seperti hatinya.
...****************...
Pukul 14.30, Kaniya terbangun. Yang pertama ia lihat adalah Agashtya yang tertidur duduk di lantai, kepala bersandar di sofa, tepat di sebelah perutnya. Tangannya masih memegang tangan Kaniya.
Kaniya menahan senyum. Ia meraih ponsel, mengabadikan momen itu diam-diam. Caption dalam hati: _Calon Papa terbaik versi aku._
“Mas,” bisiknya, ngusap pipi Agashtya
“Bangun. Udah mau jam setengah 3...”
Agashtya menggeliat, matanya terbuka. Begitu melihat Kaniya sudah bangun, senyumnya langsung melebar.
“Udah seger, Sayang? Dedek gangguin nggak?”
“Enggak,” Kaniya duduk, merapihkan rambut
“Malah kamu yang gangguin tidurku. Ngorok...”
“Bohong,” Agashtya berdiri, menarik Kaniya ke pelukannya
“Aku nggak pernah ngorok. Kecuali mimpiin kamu...”
Kaniya tertawa, nyubit pinggang Agashtya.
“Udah, yuk siap-siap. Aku mau keluar. Mau muntah kayaknya kalau kebanyakan manis di sini...”
“Manis apanya?” Agashtya ngangkat alis, menggoda Kaniya
“Makanannya apa orangnya?”
“Orangnya!” Kaniya menjewer telinga Agashtya, tapi tak lepas dari pelukan
Pintu diketuk. Asisten Pribadi Agashtya, Alex, melongok.
“Bos, mobil udah siap di basement. Sama…ini ada titipan dari Sherly katanya buat mbak Kaniya...”
Senyum Agashtya sedikit buyar. Ia melepas pelukan, maju menerima kotak kecil berlapis pita.
"Dari Sherly?”
Alex mengangguk gugup. “Iya, bos. Tadi dititip ke resepsionis. Katanya kue buat ucapan tunangan. Tapi saya curiga boss, rada aneh gak sih...”
Kaniya ikut berdiri, instingnya tidak enak.
“Mas, jangan dibuka dulu.”
Agashtya menatap kotak itu lama. Rahangnya mengeras. Tanpa berbicara panjang lebar, ia memberi kotak itu balik ke Alex.
“Buang. Dan bilang ke Sherly, kalau mau ngasih ucapan, ngomong langsung ke gue. Nggak usah lewat perantara. Nggak usah pake kue...”
Alex mengangguk cepat, lalu berpamitan pergi. Pintu ditutup lagi olehnya.
Kaniya menarik napas, memeluk Agashtya dari belakang.
“Mas…kamu tahu kan?”
“Iya aku tahu,” jawab Agashtya pelan, tangannya menangkup tangan Kaniya di perutnya
“Makanya aku nggak bakal lepas kamu sedetik pun. Sherly mau main apa, aku ladeni. Tapi kamu sama dedek, nggak boleh kenapa-kenapa...”
Di luar, langit Jakarta mulai terik. Di dalam, Agashtya menggenggam Kaniya lebih erat.
Hari pertama setelah bertunangan, memang indah. Tapi mereka berdua tahu, perang belum selesai. Sherly masih di luar sana. Dan Shalsabila, kini berdiri di lobby dengan kotak lain di tangannya, menunggu perintah selanjutnya.
Bersambooo...🌹🌹🌺💃
btw thor belum mau tamat kan yh? kok kyk bau2 mau ending gituh?