Seruni (20 tahun) adalah kembang desa cantik, lugu dan polos yang tinggal di wilayah terpencil daerah Tapal Batas.
Pernah bertunangan dengan salah satu pemuda dari kampung sebelah. Berujung putus dan gagal menikah karena ditikung adik tirinya bernama Rasti.
Suatu hari, Seruni dijodohkan dengan seorang pria dari kota. Musibah datang menerpa, di mana rombongan bus calon pengantin laki-laki mengalami kecelakaan, lalu terbakar hebat. Semua penumpang tewas di TKP termasuk calon suami Seruni.
Kepercayaan masyarakat setempat, jika sampai seorang gadis gagal menikah dua kali maka dianggap pembawa sial. Pastinya tak ada pemuda yang akan sudi menikahi Seruni.
Pak Tono selaku Kades yang berstatus sebagai ayah kandung Seruni, terpaksa menerima laki-laki asing bernama Bastian Fernando Malik yang mendadak bersedia menjadi suami Seruni. Tanpa diketahui semua orang bahwa Bastian tengah lari dan bersembunyi dari kasus pembunuhan yang menjeratnya.
Bagian dari Novel : Maafkan Mama, Pa🍁
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Safira, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 8 - Di Luar Ekspektasi
"Saya pernah sekali bertemu dengan wanita bernama Kirana. Hanya saja yang saya tau, hubungan Tuan Bastian dengan Kirana tak berlanjut."
"Maksudmu?"
"Kirana belum berstatus janda seperti yang dikatakan Tuan Bastian. Wanita itu masih berstatus istri orang. Suaminya bernama Aldo, putra sulung dari seorang komandan batalyon cukup ternama."
"Apa? Bastian jadi pebin0r begitu maksudmu, Lex?"
"Boleh dikatakan begitu, Nyonya."
"Ya ampun, anak itu!" geram Mama Elsa. Lihat saja nanti kalau dia pulang ke rumah, aku setrap sampai tobat!"
"Ada kabar buruk, Nyonya."
"Kabar apalagi, Lex?"
"Para pemegang saham sibuk menanyakan kabar yang beredar di kalangan terbatas tentang kasus yang menjerat Tuan Bastian saat ini,"
"Bagaimana mereka bisa tau? Bukankah aku sudah menyuruhmu membayar wartawan agar kasus Bastian tidak mencuat ke publik maupun banyak orang!" cecar Mama Elsa.
"Maaf, Nyonya. Saya sudah berusaha semaksimal mungkin membungkam media. Tapi tetap saja ada yang luput dan akhirnya tersebar,"
"Ya ampun, pasti Mas Surya marah besar ke Bastian kalau sampai dengar kabar ini."
"Tuan besar sudah mendengar kabar ini," ucap Alex.
"APA ??" Mama Elsa semakin terkejut mendengarnya.
Akhirnya Alex berbicara apa adanya pada Mama Elsa bahwa mantan suaminya yakni Tuan Suryawan Malik yang notabene ayah kandung Bastian, telah mendengar kabar kasus pembunuhan Rossa.
Surya sedang berada di Singapura saat mendengar kabar tersebut. Ia tengah sibuk meeting dengan investor di sana. Jantung pria yang berusia 57 tahun ini langsung mendapat serangan. Terpaksa dilarikan ke rumah sakit terdekat.
☘️☘️
Seruni dan Bastian telah tiba di tempat pengasingan dengan mengendarai motor butut. Motor itu milik Seruni yang dibeli dari hasil berladang cabai.
Ada Mamat yang juga mengendarai motor usang milik Pak Tono untuk membantu sang pengantin baru dalam membawa perlengkapan ke gubuk pengasingan.
Mamat menurunkan kasur lipat yang tadi digulung di atas motornya bersama bantal dan guling serta sprei. Sedangkan Seruni membawa beberapa perlengkapan dapur, baju dan keperluan pribadi lainnya.
"Mbak, kasurnya langsung saya bawa ke kamar ya." Tukas Mamat.
"Iya, Mat." Sahut Seruni.
Mamat yakni pemuda berusia sembilan belas tahun. Hanya berbeda usia satu dengan Seruni. Mamat adalah anak dari Pak Giman, salah satu pekerja ayah Seruni di ladang dan terkadang membantu urusan rumah.
"Run!" teriak Bastian.
"Hah, iya Bang!" sahut Seruni yang terkejut mendengar teriakan Bastian.
Seruni berjalan terg0poh-g0poh masuk ke dalam bilik. Bastian tak ada di kamar. Seruni melangkah cepat hingga ke dapur dan pintu belakang rumah. Matanya menatap Bastian berdiri di samping kamar mandi.
"Ada apa, Bang?" tanya Seruni dengan nafas tersengal akibat berlarian.
"Apa di sini gak ada P A M ?" balas Bastian balik bertanya.
"Gak ada, Bang."
"Di rumah bapakmu ada. Jadi pas mandi langsung buka keran air. Walaupun gak ada air panas dan dingin secara otomatis,"
"PAM memang hanya sampai di desa saja. Itu pun tidak semua rumah di desa kami dialiri pipa PAM. Dominan masyarakat desa pakai air sumur dan air dari sumber telaga,"
"Air minum di rumah bapakmu bukan dari air galon?"
"Bukan, Bang. Di desa kami tidak ada yang jual air galon untuk minum. Orang-orang minum pakai air telaga atau air PAM yang dimasak," jelas Seruni.
"Terus kita nanti di sini mandi dan minum pakai air apa?"
"Mandi pakai air sumur ini," jawab Seruni seraya menunjuk sumur yang ada di sampingnya. "Kalau minum nanti kita pakai air telaga. Biasanya dua hari sekali ada orang yang keliling kampung berjualan air telaga di dalam jerigen. Ading udah suruh Mamat buat anter jerigen berisi air telaga ke rumah kita ini tiap dua hari sekali sesuai kebutuhan," imbuhnya.
"Jadi setiap mandi harus ambil air dulu dari sumur ini ditaruh ke bak itu," ucap Bastian seraya menunjuk bak berukuran cukup besar yang terbuat dari plastik dan ada di dalam kamar mandi mereka.
"Iya, Bang. Jadi nanti airnya timba dulu dari sumur terus taruh di bak itu buat mandi,"
"Aku gak biasa nimba beginian, Run. Apalagi kamar mandi terbuka begini apa gak ada yang intip?"
"Di sini sangat jauh dari permukiman warga, Bang. Sebelah-sebelah cuma ada ladang dan hutan. Gak ada orang lain," ucap Seruni.
"Bagian nimba air sumur, biar ading yang lakukan. Abang tak perlu cemas,"
"Mana bisa gitu. Kamu perempuan, Run. Nanti kamu capek,"
"Ading udah biasa kok. Setiap hari ading nimba di sumur dekat ladang apak buat siram tanaman di sana,"
"Biar Mamat saja nanti aku suruh nimba!" putus Bastian.
"Mamat kan gak ke sini tiap hari, Bang. Nggak apa-apa biar ading saja,"
"Caranya gimana? Coba kamu contohin ke abang," pinta Bastian yang penasaran dengan cara menimba air sumur.
Seumur hidupnya Bastian belum pernah melakukan hal ini. Jadi dia sangat gaptek perkara hal-hal berbau kehidupan desa seperti ini. Benar-benar jadul, pikirnya.
Seruni pun akhirnya mempraktekkan cara menimba air sumur yang benar. Tak ada ke_rek an. Semua serba manual.
Beberapa menit kemudian, setengah bak mandi sudah penuh oleh air yang berhasil ditimba oleh Seruni.
"Gimana? Apa abang udah mengerti caranya?"
"Lumayan," jawab Bastian. "Sini aku mau coba," pintanya.
Seruni tersenyum bangga melihat Bastian mau mencoba hal baru dan gigih berusaha. Walaupun dalam prakteknya Bastian sering mengeluh capek dan lain sebagainya. Seruni sangat memaklumi hal itu.
"Abang hebat," puji Seruni seraya bertepuk tangan kecil di depan Bastian.
"Hebat apanya? Tanganku merah gini gara-gara nimba air doang!" gerutu Bastian seraya menunjukkan telapak tangannya yang memerah dan sedikit bengkak terkena tali timba sumur.
"Nanti ading kompres,"
"Bajuku juga basah semua!" keluh Bastian.
"Abang mau mandi sekalian?" tawar Seruni.
"Nggak !!" bentak Bastian tanpa sadar.
Pria itu berjalan pergi terlihat tak sabaran untuk masuk ke dalam rumah dan meninggalkan Seruni. Bastian benar-benar sedang kesal atas jungkir balik hidupnya seratus delapan puluh derajat.
Ia tak mampu membayangkan, apakah dirinya sanggup tinggal di bilik pengasingan selama satu tahun ke depan bersama Seruni ?
Semuanya benar-benar di luar ekspektasinya.
Padahal sebagian besar kondisi tempat pengasingan dan sekitarnya semalam telah diceritakan Seruni pada Bastian apa adanya. Seruni bercerita hal itu dengan tujuan agar Bastian tidak kaget saat melihat secara langsung.
"Mas," panggil Mamat saat berpapasan dengan Bastian yang hendak masuk ke dalam kamar.
"Hem,"
"Kasurnya sudah aku tata. Perabotan dapur juga sudah aku letakkan di tempatnya. Apa ada lagi yang bisa Mamat bantu?"
"Udah cukup. Makasih ya, Mat."
"Sama-sama, Mas. Selamat pengantin baru. Titip Mbak Seruni ya, Mas." Ucap Mamat.
"Hem," balas Bastian seraya menepuk pundak Mamat.
Bastian mengantar pemuda itu hingga ke area depan rumah.
"Mbak Seruni mana, Mas? Aku mau pamitan,"
Bastian seketika teringat akan istrinya. Rumah mereka sangat kecil dan saat keluar kamar tadi pandangannya bisa langsung melihat area dapur dan ruang tamu, tapi tidak tampak keberadaan Seruni.
"Apa jangan-jangan dia masih berdiri di dekat sumur?" batin Bastian mendadak gelisah.
Bersambung...
🍁🍁🍁
Gambar hanya ilustrasi.
Bentukan kamar Bastian bersama Seruni. Jangan membayangkan ada adegan apa nanti di ranjang itu ya.
hei laki-laki inget baik baik ya wanita modal ngangkang merebut suami orang bukan wanita baik2 sehina hina nya wanita adalah modelan begitu semoga para pelaku perselingkuhan kalau tidak bertobat azab dunia dan akhirat menimpanya dengan sangat tragis Aamiin
Sungguh ngeri kalo baca sepak terjang pelakor zaman ini....,,