NovelToon NovelToon
Perfect Lies

Perfect Lies

Status: tamat
Genre:Wanita Karir / Pengganti / Diam-Diam Cinta / Percintaan Konglomerat / Cinta Seiring Waktu / Cintapertama / Tamat
Popularitas:5k
Nilai: 5
Nama Author: Daena

Perasaan Kaylee Lumiere didasari oleh kasih sayang yang begitu besar sehingga ia rela menomorduakan kebahagiaannya sendiri.
Ia lebih memilih mendengarkan cerita cinta Atlas Theodore dengan wanita lain daripada mengambil risiko menyatakan cinta dan kehilangan kehadiran Atlas selamanya. Baginya, "memiliki Atlas sebagai sahabat" jauh lebih baik daripada "kehilangan Atlas karena cinta yang ditolak."

Kaylee Sudah ahli Menekan rasa cemburu, sesak napas, dan teriakan di dalam hati yang ingin mengatakan, "Seharusnya aku yang ada di posisi itu."

Kaylee merasa seperti berdiri di balik kaca bening. Ia bisa melihat Atlas dengan sangat jelas, menyentuhnya, dan mengetahui setiap rahasia terkecilnya, namun ada penghalang tak kasat mata yang mencegahnya untuk melangkah lebih jauh. Ia adalah orang paling dekat, sekaligus orang paling jauh dari hati Atlas.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Daena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Rindu yang Tak Berbalas

Tiga tahun telah berlalu, namun waktu seolah berhenti di hati Kaylee. Di sebuah rumah asri di pinggiran Helsinki yang jauh dari hiruk-pikuk media, seorang anak laki-laki berusia dua tahun lebih sedikit sedang berlari kecil di atas rumput.

Garniel Michel Theodore, atau yang akrab dipanggil Niel.

Wajahnya adalah replika sempurna dari Atlas. Mata yang tajam namun dalam, rambut gelap yang sedikit berantakan, hingga cara dia mengerucutkan bibir saat sedang serius, semuanya milik Atlas. Niel adalah alasan Kaylee tetap bernapas setiap harinya.

Selama tiga tahun ini, kesunyian adalah satu-satunya teman Kaylee. Sejak pesan suara terakhir itu, tidak ada lagi panggilan rahasia, tidak ada lagi pesan singkat yang masuk. Atlas Theodore seolah lenyap dari muka bumi, hanya menyisakan bayangannya di majalah-majalah bisnis dan gaya hidup Italia yang memperlihatkan kebahagiaannya bersama Bianca.

Kaylee seringkali tertangkap basah oleh Niel sedang menatap foto Atlas di ponselnya. Anak itu, meski masih sangat kecil, memiliki kepekaan yang luar biasa.

"Papa?" tanya Niel kecil suatu sore, menunjuk foto Atlas yang sedang mengenakan tuksedo hitam.

Kaylee tersenyum getir sambil mengusap kepala putranya. "Iya, Sayang. Itu Papa. Papa hebat, Papa sedang bekerja sangat jauh untuk kita."

Niel kemudian memeluk kaki ibunya, seolah mengerti bahwa ibunya sedang menahan badai rindu yang luar biasa. "Niel sayang Mama. Niel tunggu Papa."

Ayah dan Ibu Atlas menjadi pendukung utama bagi Kaylee. Mereka tidak pernah membiarkan Kaylee merasa sendirian. Setiap minggu, mereka datang membawa tumpukan hadiah untuk Niel, mulai dari mainan arsitektur kecil hingga pakaian bermerek.

Namun, di balik hadiah-hadiah itu, wajah mereka tetap menyimpan duka. Mereka juga tidak memiliki akses untuk berkomunikasi dengan Atlas. Keluarga Valerius benar-benar menutup akses komunikasi Atlas dengan dunia luar demi menjaga rahasia besar mereka.

"Dia masih hidup, Kay. Hanya itu yang bisa kami pastikan lewat koneksi bisnis kami di Italia," ujar Ayah Atlas dengan suara berat setiap kali Kaylee bertanya tentang kabar suaminya.

Suatu malam, saat Kaylee sedang menidurkan Niel, sebuah pemberitahuan muncul di tabletnya. Itu adalah berita tentang pembukaan gedung pencakar langit terbaru di Milan yang didesain oleh Atlas Theodore.

Kaylee melihat cuplikan videonya. Atlas berdiri di sana, tampak lebih dewasa, lebih dingin, dan jauh lebih kuat. Di sampingnya, Bianca berdiri dengan anggun seperti biasa. Namun, saat kamera melakukan zoom-in ke wajah Atlas, Kaylee menyadari sesuatu.

Atlas mengenakan sebuah jam tangan, jam tangan yang pernah Kaylee hadiahkan saat mereka masih remaja. Jam tangan yang sebenarnya sudah tidak cocok dengan setelan jas mahalnya.

Air mata Kaylee jatuh. "Kamu masih ingat, At... kamu masih ada di sana."

Tiba-tiba, ponsel pribadi Kaylee yang sudah tiga tahun tidak pernah menerima pesan dari nomor asing, bergetar sekali.

Sebuah pesan suara masuk tanpa nama pengirim, hanya berisi titik koordinat sebuah lokasi di pinggiran pantai Italia dan satu kalimat pendek yang membuat jantung Kaylee berhenti berdetak.

"Bunga Lili akan segera mekar. Bawa Niel pulang."

Suara itu. Suara yang selama tiga tahun ini hanya bergema dalam ingatan dan mimpi-mimpinya, kini terdengar nyata melalui pengeras suara ponsel.

Kaylee jatuh terduduk di sisi ranjang Niel, tangannya bergetar hebat hingga hampir menjatuhkan ponselnya.

Pesan suara itu terdengar sangat rendah, seolah Atlas sedang berbisik di tengah kegelapan yang sunyi. Namun, ada getaran emosi yang jauh lebih kuat dari tiga tahun lalu.

"Ay... Sebentar lagi sayang, kumohon kuat lagi... Aku selalu membayangkan anakku mirip denganmu, Ay. Bianca tidak lagi mengawasi kalian, aku sudah berhasil mengalihkan perhatiannya. Aku sangat bahagia mendengar kau baik-baik saja melalui informanku."

Ada jeda sejenak, suara Atlas terdengar sedikit tercekik, seolah ia sedang menahan tangis.

"Niel... Garniel... Aku baru tahu hari ini nama anak kita Niel. Nama yang indah, seindah dirimu. Aku bahkan belum mendapatkan foto anak kita, aku hanya bisa menebak-nebak wajahnya dari bayanganku tentangmu. Aku berharap kau masih dengan pipi chubby-mu yang menggemaskan itu, Ay. Aku mencintaimu... Mommy Niel."

Kaylee menangis tanpa suara, bahunya terguncang hebat. Nama "Mommy Niel" yang diucapkan Atlas terasa seperti oksigen yang baru saja ditiupkan ke paru-parunya yang selama ini sesak. Atlas tidak melupakan mereka. Atlas berjuang. Dan yang paling penting, Atlas akhirnya tahu keberadaan putranya.

Ia menatap Niel yang tertidur lelap dengan mulut sedikit terbuka. "Niel... Papa tahu namamu," bisik Kaylee sambil mencium kening putranya.

Di belahan bumi lain, Atlas duduk di ruang kendali rahasia yang ia bangun di bawah kantor arsitekturnya di Milan. Selama tiga tahun, ia telah menjadi anjing setia keluarga Valerius sambil diam-diam menyuntikkan virus ke sistem keuangan mereka dan memetakan semua jalur distribusi ilegal mereka.

Bianca mulai lengah karena ia merasa telah berhasil menjinakkan Atlas. Ia terlalu sibuk dengan dunianya sendiri, memberikan Atlas ruang gerak yang akhirnya ia gunakan untuk menghubungi Kaylee.

Atlas menatap layar komputer yang menampilkan data-data korupsi Ayah Bianca yang siap ia kirimkan ke otoritas internasional. Namun, pikirannya melayang pada satu hal, Bagaimana rupa Niel? Apakah dia punya mata sepertiku? Apakah dia sudah bisa memanggilku Papa?

Atlas tahu waktunya sudah sangat dekat. Ia telah menyiapkan sebuah jet pribadi dan tim keamanan bayaran yang tidak terafiliasi dengan mafia Italia.

"Satu minggu lagi, Kay," gumam Atlas sambil memegang jam tangan pemberian Kaylee. "Aku akan menjemput kalian, atau aku akan mati mencoba."

Namun, di tengah persiapannya, pintu ruang rahasia itu terbuka. Bukan Bianca yang berdiri di sana, melainkan salah satu tangan kanan Ayah Bianca yang menatap Atlas dengan pandangan curiga.

"Tuan Theodore, Nona Bianca memanggil Anda. Ada paket yang datang dari Helsinki atas nama Anda, dan Nona Bianca ingin Anda membukanya di depannya."

Jantung Atlas berdegup kencang. Paket dari Helsinki? Ia tidak pernah meminta dikirimkan apa pun. Ini bisa jadi awal dari akhir segalanya.

🌷🌷🌷🌷

Happy Reading Dear 😍

1
falea sezi
uda end kahh
falea sezi
bagus np sepi like
falea sezi
baguss
falea sezi
berarti uda nganu belom kok Bianca gini
falea sezi
mending pergi jauh lah ngapain masih di situ
falea sezi
dih kucing di kasih ikan jelas di embat laki. kayak gini g ccok di jadiin suami
Desti31
Izin mampir Thor😍🙏
Ridwani
👍👍👍👍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!