Setiap luka punya masa jeda, dan setiap kesabaran punya batas indah yang telah dijanjikan.
Ini adalah kisah tentang perjalanan panjang yang penuh air mata, tentang bagaimana hati dipaksa bertahan di tengah badai yang memilukan. Kadang, hidup terasa begitu tidak adil saat kehilangan dan rasa sakit datang bertubi-tubi tanpa permisi. Namun, Yani dan Ratih membuktikan bahwa ketabahan bukan sekadar menunggu badai berlalu, melainkan tentang bagaimana tetap melangkah meski kaki terasa berat.
Di balik setiap tawa canggung dan momen manis di persimpangan jalan, tersimpan kenangan pahit yang pernah menguji logika dan perasaan. Namun, bagi mereka yang bersedia mendekap luka dengan keikhlasan, semesta selalu punya cara untuk menyembuhkannya. Sebuah narasi tentang perjuangan, keluarga, dan keajaiban yang tumbuh dari benih kesabaran yang paling pedih.
Ternyata, bahagia tidak pernah datang terlambat; ia hanya datang di waktu yang paling tepat.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sherly, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Awal diperantauan
Langkah pertama di tanah rantau selalu terasa paling berat. Ada rasa cemas yang menyelinap di antara riuh rendah kota yang asing ini, namun ada juga tekad yang membara untuk mengubah nasib.
Aku datang bukan untuk sekadar mampir, tapi untuk menanam mimpi yang selama ini hanya berani aku bicarakan dalam doa.
Biarlah lelah menjadi teman akrabku hari ini, karena aku tahu ada senyum orang tua yang harus aku jaga dan ada harapan besar yang sedang aku panggul di pundak.
Kota ini mungkin belum mengenalku, tapi suatu saat nanti, ia akan menjadi saksi bisu atas keberhasilanku.
Meninggalkan rumah berarti siap untuk bertumbuh dengan cara yang paling paksa di sini, tidak ada lagi pelukan hangat mamak saat aku merasa gagal, atau wejangan bapak saat aku kehilangan arah.
Aku belajar bahwa dewasa itu artinya berani menghadapi masalah sendirian di balik pintu kamar kos yang sempit. Setiap sudut jalan yang asing ini adalah guru yang mengajarkanku arti kemandirian.
Perantauan ini bukan hanya tentang mencari materi, tapi tentang menemukan versi terbaik dari diriku yang selama ini tersembunyi di balik zona nyaman. Bismillah, mari memulai babak baru dengan keberanian yang tak terbatas.
Hari ini aku resmi menjadi orang asing di tempat yang baru. Melihat gedung-gedung tinggi dan orang-orang yang berlalu-lalang dengan kesibukannya sendiri membuatku sadar betapa kecilnya aku, namun betapa besarnya Tuhan yang menyertaiku.
Meski rindu rumah seringkali datang tanpa permisi, aku akan tetap berdiri tegak. Aku berjanji pada diri sendiri untuk tidak menyerah pada sepi dan tidak kalah oleh rasa lelah. Perjalanan jauh ini adalah investasi masa depan, tempat di mana keringat akan berubah jadi berkat dan air mata akan berubah jadi cerita indah saat aku pulang nanti.
Udara dingin jam lima pagi merayap masuk ke sela-sela baju, tapi aku tetap bergeming di balkon lantai empat mes perusahaan ini. Rambutku masih basah setelah mandi, dan pikiranku melayang jauh menembus kabut tipis yang menyelimuti area sekitar. Menjadi anak baru di perantauan ternyata membawa rasa yang campur aduk.
"Hayo! Melamun saja, pasti mikirin yang enggak-enggak ya?"
Suara bisikan itu mengagetkanku. Aku menoleh dan mendapati Mbak Puji sudah berdiri di sampingku dengan wajah jahil. Suaranya kecil, hampir berbisik, takut membangunkan teman-teman satu mes lainnya yang masih terlelap.
Aku terkekeh pelan, mencoba menetralkan degup jantungku. "Mbak ini ngagetin aku aja. Mandi sana, bau iler nih!" ejekku sambil pura-pura menutup hidung.
Mbak Puji ikut terkekeh, mencubit lenganku pelan. "Iya, iya, ini mau mandi dulu. Awas ya, jangan melamun terus!" selorohnya sebelum melenggang masuk ke dalam.
Sepeninggal Mbak Puji, suasana kembali sunyi. Tak lama, pintu balkon kembali berderit. Kali ini Mawar yang muncul. Senior di tempat kerja yang pembawaannya dingin dan sedikit judes, tapi katanya berhati lembut.
Di tangannya ada sebungkus rokok. Aku terdiam, hanya berani melirik sedikit demi sedikit saat dia mulai mencabut sebatang rokok, menyulut korek, dan menghisapnya dengan sangat mahir.
Ia sempat melewatiku begitu saja, lalu kembali lagi membawa secangkir teh susu hangat dan duduk di sampingku. Saat ia hendak menyesap tehnya, ia memergokiku yang sedari tadi mencuri pandang ke arah bungkus rokoknya.
"Kalau mau, ambil aja. Enggak apa-apa," ucapnya datar tanpa menoleh.
Aku tersenyum kecut, merasa tertangkap basah, lalu menggeleng cepat. "Tidak Mbak, makasih."
Mawar mengangguk pelan, matanya menatap lurus ke depan. "Kamu baru pertama merantau ya?"
"Iya Mbak," jawabku singkat.
"Oh, pantesan. Kelihatan dari logatnya, Jawanya masih medok banget," katanya lagi.
Aku hanya bisa tersenyum canggung sambil menggaruk kepala yang tidak gatal. Ternyata logatku memang sulit disembunyikan.
Di tengah obrolan itu, tiba-tiba sebuah kepala muncul dari balik pintu. Itu Ratih. Ia hanya melongokkan kepalanya saja tanpa menunjukkan badannya.
Mawar yang melihat itu langsung menegur, "Kenapa nongol kepalamu saja? Badanmu kau tinggal di mana?"
Ratih meringis, lalu melangkah keluar sepenuhnya. "Hehehe, jangan galak-galak lah, biasa aja Teh," sahutnya santai. Ia kemudian melirik ke arahku. "Oh iya, ini anak baru jangan diajak jahat ya!"
Mawar melongo, menatap Ratih dengan tatapan tajam. "Kepalamu itu!"
Ratih hanya meringis lebar menunjukkan deretan giginya yang putih. Tak lama, suara Mbak Puji terdengar memanggilku dari dalam.
"Yani...!! Ke sini sebentar kita ada tugas yook!"
Aku tahu maksud Mbak Puji. Itu kode buat kami untuk segera menghitung sisa total pengeluaran dan ongkos perjalanan kemarin agar tidak ada yang terlewat. Aku pun segera berpamitan.
"Mbak Ratih, Mbak Mawar, saya tinggal ke kamar dulu ya, Mbak Puji sudah manggil."
Mawar dan Ratih hanya mengangguk pelan. Begitu aku melangkah pergi, kulihat Ratih langsung maju dan pindah duduk di tempatku tadi, melanjutkan obrolan pagi bersama Mawar.
Perhitungan di Dalam Kamar (Revisi)
Sesampainya di dalam kamar, aku segera duduk.
Mbak Puji mengajak, "Ayo, kita totalin jumlah pengeluaran kita."
"Bentar ya, Mbak," kataku sambil meraih tas di samping kasur dan mengeluarkan uang receh yang aku pegang, sambil ngelihatin cara perinciannya.
Mbak Puji mulai merinci satu per satu pengeluaran dari uang 2 juta miliknya:
1. Tiket Bus: Per orang 230 ribu.
(2 juta - 230 ribu \= Sisa 1 juta 770 ribu)
2. Uang Makan: Diambil rata 30 ribu.
1 juta 770 ribu - 30 ribu \= Sisa 1 juta 740 ribu.
3. Taksi: Dibagi dua jadi 140 ribu per orang.
1 juta 740 ribu - 140 ribu. \= Sisa 1 juta 600 ribu.
4. Tiket Pesawat: Bayar bagian Mbak Puji ke aku 1 juta 125 ribu.
1 juta 600 ribu - 1 juta 125 ribu \= Sisa Akhir 475 ribu
"Jadi sisa uangku di tangan masih ada 75 ribu masih kurang 400 ribu ini total setelah dipotong semua bagianku. Berarti aku sudah nggak ada utang lagi ya sama kamu? Tinggal kamu ngasih aku 400 ribunya saja." Ujar Mbak Puji setelah selesai menghitung dengan mahir.
Aku pun mengangguk, "Iya, Mbak ok.."
Drama di Depan Kamar
"Yaudah, yuk kita beli peralatan mandi buat stok. Tadi aku pakai sabun dan handukmu, sekalian mau ke bank ambil uang," ajakku. Mbak Puji mengangguk, ia juga ingin membeli stok dapur dan pasta gigi.
Namun, saat hendak keluar, langkah kami dihadang oleh Lala. "Hayo, mau ke mana kalian?" tanya Lala penasaran.
"Mau ke supermarket sama ke Bank BRI ambil uang. Kenapa?" jawabku.
"Aku ikut! Mau belanja skincare juga. Tapi, emang kalian tahu lokasi supermarket sama bank di Pekanbaru?" Tanya lala
Aku dan Mbak Puji hanya bisa saling pandang, lalu nyengir sambil menggaruk kepala yang tidak gatal. Melihat itu, Lala langsung menepuk pantatnya sendiri dengan gemas.
Mawar yang kebetulan lewat langsung menegur, "La, itu pantat, bukan jidat!"
Lala menoleh polos, "Loh, jidatnya udah pindah toh? Kok aku baru tahu!?"
Aku dan Mbak Puji tertawa terbahak-bahak. Ratih yang juga lewat ikut menggelengkan kepala melihat tingkah sahabatnya yang ajaib itu. "Sejak kapan jidat lu pindah ke situ? Jidat itu di muka, Lala!"
Lala akhirnya hanya bisa terkekeh pasrah. "Udah ah, ayo berangkat! Keburu siang, nanti salon buka jam 11 atau jam 12. Mumpung sempat, kita jalan sekarang."
Kami pun mengikuti Lala keluar karena ternyata dia sudah memesan taksi untuk kami semua.
"Kami jalan dulu ya kakak-kakak cantik." Pamit lala dengan gaya mentelnya.
"Hati-hati yang ada kesandung jadi ayam panggang lu.." Pekik mawar Ratih yang mendengar itu pun sontak terkekeh
Bersambung....