NovelToon NovelToon
Diremehkan Kakaknya, Kunikahi Adiknya

Diremehkan Kakaknya, Kunikahi Adiknya

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO / Pengantin Pengganti / Kehidupan Manis Setelah Patah Hati / Cinta Seiring Waktu / Identitas Tersembunyi / Keluarga
Popularitas:52.6k
Nilai: 5
Nama Author: uutami

“Kamu mau lamar aku cuma dengan modal motor butut itu?”
Nada suara Dewi tajam, nyaris seperti pisau yang sengaja diasah. Tangannya terlipat di dada, dagunya terangkat, matanya meneliti Yuda dari ujung kepala sampai ujung kaki—seolah sedang menilai barang diskonan di etalase.

"Sorry, ya. Kamu mending sama adikku saja, Ning. Dia lebih cocok sama kamu. Kalian selevel, beda sama aku. Aku kerja kantoran, enggak level sama kamu yang cuma tukang ojek," sambungnya semakin merendahkan.

"Kamu bakal nyesel nolak aku, Wi. oke. Aku melamar Ning."

Yuda tersenyum lebih lembut pada gadis yang tak sempurna itu. Gadis berwajah kalem yang kakinya cacat karena sebuah kecelakaan.

"Ning, ayo nikah sama Mas."

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon uutami, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

bab 21 masakan Yuda? pernikahan Ridho

Pagi itu Ning terbangun oleh aroma yang asing tapi mengundang. Bukan bau mie instan, bukan juga wangi kopi sachet yang biasa Yuda seduh setengah mengantuk. Ini lebih… hangat. Seperti rumah.

Ia membuka mata perlahan. Sisi kasur kosong. Selimutnya ditarik rapi sampai dada. Ning bangun, mengambil kruk, lalu berjalan pelan ke arah dapur.

Dari ambang pintu, ia melihat Yuda berdiri membelakanginya. Kaos rumah, celemek tipis, rambut masih sedikit berantakan. Tangannya sibuk mengaduk sesuatu di wajan.

“Mas?” panggil Ning pelan.

Yuda menoleh cepat. Sekejap ada kepanikan kecil di wajahnya—yang langsung ia tutupi dengan senyum santai. “Eh. Udah bangun?”

“Iya,” jawab Ning. “Mas masak?”

“Iya,” Yuda mengangguk. “Sarapan.”

Ning melangkah mendekat. Matanya menyapu dapur kecil itu. Bersih. Terlalu bersih. Meja lapang, kompor mengilap, lantai tidak ada remah. Ia mengerutkan dahi.

“Kok rapi banget?” gumamnya.

Yuda berdehem kecil. “Aku bangun lebih pagi.”

Ning belum sempat bertanya, Yuda sudah menyodorkan sendok. “Sini. Nyicip.”

“Masakannya apa?”

“Rahasia,” jawab Yuda cepat. “Nyicip dulu.”

Ning menurut. Ia menyendok sedikit, meniup pelan, lalu mencicipi. Alisnya terangkat.

“Kurang asin,” katanya jujur.

Yuda mengangguk mantap. “Nah, kan.”

“Tapi enak,” lanjut Ning buru-buru. “Seger. Ini… sayur bening ya?”

“Hmm. Coba kamu benerin dulu," kata Yuda.

Ning tersenyum, lalu mengambil garam dan menuang sedikit ke olahan. Lalu koreksi rasa lagi.

"Udah," katanya. "Mas coba icip," sambungnya sambil menyendok kuah dan mendekatkan ke mulut suaminya.

"Dih, ini mah, enak banget Ning."

Ning tertawa. Lalu terdiam lagi, menatap dapur. “Mas…”

“Hm?”

"Makasih, ya?"

Kok makasih?"

"ya karena udah masak, beresin rumah..."

"Eiitts. Tapi itu engga gratis."

Ning mengerutkan alis.

"Bayarannya, nanti malam," yuda mengerling nakal. Ning tersenyum sekilas.

Mereka lalu makan bersama. Ning makan, Yuda sesekali memperhatikan—bukan makanannya, tapi cara Ning menyuap, cara Ning tersenyum kecil , atau cara Ning menyingkirkan anak rambut di belakang telinganya.

“Mas,” kata Ning setelah beberapa suap. “Makasih ya.”

“Kenapa lagi?”

“Udah mencintai Ning segede ini.”

Yuda menggeleng. “Ini enggak gratis, balasannya, cintai aku balik.”

ning terdiam, ia seperti kehilangan kata -katanya. Ia hanya bisa memaksakan senyumnya. Ia tak tau apakah cinta itu sudah muncul?

Di luar kontrakan, pagi berjalan seperti biasa. Tidak ada yang tahu bahwa sebelum Ning bangun, sudah ada langkah-langkah sunyi yang bekerja, sudah ada tangan-tangan yang membersihkan, memasak, lalu pergi tanpa suara. Semuanya seperti rahasia kecil yang hanya Yuda simpan sendiri.

****

Di sisi lain kota, pagi terasa lebih berat bagi Ridho.

Ia duduk di ruang tamu rumahnya, menatap lantai. Dewi duduk di seberang, rapi, wajahnya tegas tapi lembut—sebuah kombinasi yang selalu membuat Ridho bingung.

“Kita nikah aja, Mas,” kata Dewi akhirnya. “Pelan-pelan. Ingatan kamu bisa dibangun.”

Ridho mengangkat kepala. “Nikah?”

“Iya,” Dewi mengangguk. “Kita udah dekat. Kamu juga nyaman sama aku.”

Ridho terdiam. Nyaman. Kata itu terasa… aneh. Ia tidak yakin dari mana rasa itu datang. Apakah dari kebiasaan? Atau dari dorongan Dewi yang tak pernah surut?

Dari dapur, Bu Pur menghela napas panjang. “Dewi, ibu enggak setuju.”

Dewi menoleh. “Kenapa, Bu?”

“Ridho masih belum pulih,” jawab Bu Pur tegas. “Nikah itu bukan obat.”

“Tapi bisa jadi awal,” Dewi membalas, nada suaranya tetap halus. “Mas Ridho butuh pegangan. Butuh sesuatu yang nyata.”

Ridho menelan ludah. Ia menatap ibunya, lalu Dewi. Ada rasa tidak nyaman yang menggelitik di dada—seperti ada potongan puzzle yang tidak pas.

Namun Dewi menggenggam tangannya. “Percaya sama aku.”

Ridho mengangguk pelan. Mungkin… iya. Mungkin ini jalan satu-satunya.

Beberapa hari kemudian, rencana pernikahan mulai disusun. Cepat. Terlalu cepat. Undangan dicetak. Nama Ridho dan Dewi tercetak rapi di kertas tebal.

Satu undangan sampai di Rumi’s Salon.

Bu Rumi menerimanya dengan alis terangkat. “Oh?”

Ia membukanya. Membaca. Menarik napas pelan.

Ning yang sedang membereskan meja rias melirik sekilas. Tidak sengaja. Nama itu terbaca jelas.

Ridho.

Dadanya terasa nyeri sesaat. Seperti cubitan kecil yang datang tiba-tiba, lalu menghilang. Ning mengusap dada pelan, lalu menarik napas.

“Oh,” gumamnya nyaris tak terdengar.

Bu Rumi melirik Ning. “Kamu enggak papa?”

Ning tersenyum. “Enggak, Bu.”

Ia menunduk, melanjutkan pekerjaannya. Kuas dirapikan. Botol ditutup. Gerakannya tetap tenang.

Dalam hatinya, Ning mengingat satu hal sederhana: ia sudah menikah. Dengan Yuda. Dengan seseorang yang memilih diam-diam menjaga tanpa membuatnya merasa kecil.

Apa pun masa lalu Ridho—kalau pun pernah ada—itu bukan miliknya lagi.

Pelanggan berikutnya datang. Ning berdiri, tersenyum profesional. “Silakan, Mbak.”

Hari berjalan seperti biasa.

Pernikahan Ridho dan Dewi akhirnya digelar. Sederhana tapi ramai. Dewi tersenyum lebar sepanjang acara. Tangannya tak lepas dari Ridho.

Ridho tersenyum juga. Ia berusaha. Ia ingin percaya.

Namun di sela-sela tawa dan ucapan selamat, ada sesuatu yang mengganjal. Saat memandang Dewi, ia merasa… asing. Seperti sedang memerankan peran yang belum sepenuhnya ia pahami.

“Kamu seneng?” tanya Dewi pelan.

Ridho mengangguk. “Seneng.”

Ia mengatakannya dengan suara yang cukup keras untuk didengar orang lain—dan cukup pelan untuk menenangkan dirinya sendiri.

Di dalam kepalanya, pertanyaan itu berputar: kenapa rasanya tidak sepenuhnya benar?

Namun Ridho menepisnya. Ia memilih percaya. Pada Dewi. Pada janji-janji bahwa cinta bisa tumbuh pelan-pelan.

1
Sunaryati
Lalaki sekaligus suami yang bertanggungjawab, Nak Yuda, jangan luntur tapi tambah sampai end nanti. 💪💪👍👍🙏
Sunaryati
Alhamdulillah orang tua Mas Yuda baik semua, mau menerima Ning.
Sunaryati
Syukur ternyata Bu Anggun tidak marah, Nak Yuda menikahi Ning.
Sunaryati
Pinter kamu Mas Yuda, sebaiknya bawa Ning ke dokter tulang, untuk operasi tulang kaki, sekarang banyak dokter ahli dibidangnya pasti sembuh seperti sedia kala. Emak baru mampir langsung suka
Ma Em
Yuda akhirnya kebohonganmu terbongkar juga kan ,makanya dari dulu Yuda lbh baik berterus terang pada Ning .
Ariany Sudjana
Ning kamu jangan marah sama Yudha, kalau kamu marah, kesempatan buat Dewi merebut Yudha, apalagi tahu Yudha itu orang kaya, mau kamu seperti itu?
Sri Rahayu
maafkanlah Yuda Ning....emang dia berbohong...awal nya dia bohong utk Dewi tp keterusan sampe kini 😇😇😇 lanjut Thorr 😘😘😘
elief
lanjut thor, penasaran gimana reaksinya Ning🙏
Ma Em
Yuda pasti akan ketahuan sama Ning , apakah Ning akan marah sama Yuda karena sdh dibohongi .
Ariany Sudjana
jangan marah Ning, kalau kamu marah, yang ada Yudha akan disambar sama Dewi
Sri Rahayu
hahaha akhirnya ketahuan siapa sebenarnya Yuda...paling Ning marah bentar yp tdk sampe membenci Yuda...Ning kan baik hati, Yuda bkn jahat jahat hanya menyamar jd tkng ojek 🙃🙃🙃....lanjut Thorr😘😘😘
elief
kalo ketahuan, semoga ning mau ya memaafkan mas yuda yg sudah berbohong. dewi aja di maafkan hehehe
Ariany Sudjana
Ning itu terlalu polos, kamu pikir dengan maaf semua selesai, tidak seperti itu Ning. apa kamu tidak tahu kalau Dewi itu licik? dia akan menggunakan segala cara untuk menyingkirkan kamu
Ma Em
Ning orangnya terlalu baik , tapi orang seperti Dewi dan Bu Sumi tdk akan ada kapoknya pasti akan berbuat jahat lagi pada Ning , tapi benar kata Ning biar Allah yg balas perbuatan Dewi dan Bu Sumi pada Dewi akan dpt karmanya .
Sri Rahayu
bukan marah Ning...tp kesel gemes.. Ning baik hati bener, uda disakiti terus menerus tetap baik sama Dewi dan bu Sumi...lanjut Thorr 😘😘😘
Rahmawati
sudah salah tapi merasa paling menderita, hadeh
Ariany Sudjana
kamu berdalih terus kamu korban, kata siapa kamu korban Dewi? justru kamu pelakunya, gara-gara keserakahan dan kedengkian kamu , kamu tega menabrak Ning
Sri Rahayu
keras kepala luar biasa Dewi dan bu Sumi...uda salah ga mau minta maaf...se akan2 Dewi korban 😠😠😠..lanjut Thorr
Arin
Sudah salah aja susah minta maaf.... Susah memang hidup dengan orang seperti ini. Anggap dirinya paling bener, si paling menderita..... 😁😁😁
Ina Yulfiana
kan jujurnya cih Yuda nich p gk tku nantinya Ningsih mlh kecewa berat
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!