Di malam gerhana darah yang terkutuk, Kerajaan Aethelgard kehilangan jantungnya. Putri Aurora Lyris Valerius, sang pewaris tunggal yang baru berusia satu tahun, diculik dalam kabut sihir hitam, meninggalkan tujuh kakak angkatnya dalam penyesalan abadi. Delapan belas tahun berlalu, sang Putri tidak tumbuh di atas ranjang sutra,melainkan di bawah cambukan dingin Kerajaan Noxvallys. Dikenal hanya sebagai "Ara", ia hidup sebagai pelayan rendahan yang disiksa oleh Putri Morena Valeska yang semena-mena.
Warning!!Cerita asli dan murni dari pikiran penulis.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon apel manis, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 21
Derap langkah kuda memecah kesunyian jalan setapak yang menghubungkan Hutan Terlarang dengan pusat Kerajaan Aethelgard. Aurora, Alistair, dan Gideon memacu kuda mereka hingga batas maksimal. Debu beterbangan di belakang mereka, menutupi jejak pelarian mereka dari kegelapan hutan. Namun, pemandangan di cakrawala membuat jantung mereka seakan berhenti berdetak.
Langit biru Aethelgard yang biasanya cerah kini tertutup oleh awan hitam pekat yang berputar-putar seperti pusaran raksasa. Dari kejauhan, menara-menara putih istana tidak lagi berkilau; kepulan asap hitam membumbung tinggi dari beberapa sudut benteng. Suara terompet perang terdengar bersahut-sahutan, nada-nadanya melengking panjang, menandakan bahwa pertahanan lapis luar telah ditembus.
"Mereka sudah sampai di gerbang utama!" teriak Alistair sambil menunjuk ke arah lembah. Dari ketinggian bukit, mereka bisa melihat ribuan prajurit Noxvallys yang berseragam hitam legam mengepung tembok kota. Makhluk-makhluk bayangan raksasa tampak sedang menghantamkan tubuh mereka ke pintu gerbang besi, menciptakan bunyi dentuman yang menggetarkan bumi.
"Bertahanlah, Kak Benedict! Kak Fabian!" Gideon bergumam penuh kecemasan. Ia memacu kudanya lebih kencang, mengabaikan ranting-ranting pohon yang menyabet wajahnya. "Jika mereka menyentuh Ayah dan Bunda, aku akan memastikan Malakor menyesal telah lahir ke dunia ini!"
Aurora menggenggam kendali kuda dengan satu tangan, sementara tangan lainnya memegang erat Tongkat Cahaya Bintang. Tiga permata di tongkat itu Safir, Berlian, dan Zamrud mulai berdenyut kencang. Ia bisa merasakan energi dari tanah, air, dan langit Aethelgard sedang memanggilnya, memohon untuk dibersihkan dari racun sihir Malakor.
Saat mereka mencapai pinggiran kota, pemandangan menjadi lebih mengerikan. Penduduk berlarian mencari perlindungan, sementara para ksatria Aethelgard berjuang mati-matian menahan gempuran pasukan Noxvallys di setiap gang.
"Alistair! Gideon! Kalian kembali!" teriak seorang komandan pasukan yang sedang menahan serangan di jembatan utama.
"Buka jalan!" perintah Alistair dengan suara menggelegar. Ia menghunus pedang emasnya, dan dalam satu gerakan cepat, ia menebas tiga prajurit bayangan yang mencoba menghalangi jalan mereka. "Putri Mahkota telah kembali! Bersiaplah untuk serangan balik!"
Mendengar nama Aurora disebut, semangat para prajurit yang hampir padam seketika menyala kembali. Mereka melihat sosok gadis di atas kuda putih dengan jubah perak yang berkibar, membawa tongkat yang memancarkan cahaya pelangi.
"Demi Putri Aurora! Demi Aethelgard!" sorak para prajurit.
Mereka menembus kerumunan musuh seperti anak panah yang melesat. Saat mereka mendekati gerbang istana, terlihat Benedict sedang bertarung sendirian melawan dua jenderal Noxvallys. Tubuh Benedict penuh dengan luka dan darah, namun ia tetap berdiri tegak seperti dinding karang, tidak membiarkan satu pun musuh melewati ambang pintu istana.
"Kak Benedict!" Gideon melompat dari kudanya sambil melepaskan tiga anak panah sekaligus, menjatuhkan musuh-musuh yang mengepung kakaknya.
Benedict menoleh sejenak, wajahnya yang garang pecah menjadi senyum lega yang langka. "Kalian... tepat waktu. Aku mulai merasa sedikit bosan sendirian di sini."
"Jangan sombong, Beruang Besar," sahut Alistair sambil mendarat di samping Benedict dan langsung membelah musuh yang mendekat. "Di mana yang lain?"
"Fabian dan Darian memimpin pasukan panah di atas tembok. Caspian dan Evander berada di aula utama, melindungi Ayahanda dan Bunda dengan perisai sihir. Tapi Malakor... dia sudah ada di dalam," bisik Benedict dengan nada serius.
"Dia menginginkan takhta, atau dia menginginkan aku," ucap Aurora sambil turun dari kudanya. Ia menatap pintu aula utama yang tertutup rapat, dari celah-celahnya merembes kabut hitam yang pekat.
"Kami tidak akan membiarkan dia menyentuhmu, Aurora," ucap ketujuh pangeran yang kini perlahan berkumpul mengelilingi adik mereka. Fabian dan Darian melompat turun dari tembok dengan sisa anak panah di tangan. Caspian dan Evander keluar dari aula dengan wajah pucat namun bertekad kuat.
Untuk pertama kalinya sejak perpisahan delapan belas tahun lalu, delapan bersaudara Valerius berdiri bersama dalam satu barisan. Tujuh naga pelindung dan satu cahaya pusat.
"Dengarkan aku," Alistair memulai strategi terakhirnya. "Kami akan membuka jalan dan menahan pasukan pengawal Malakor. Aurora, kau harus mencapai pusat aula. Gunakan kekuatan tiga permata untuk menghancurkan inti sihir hitam Malakor. Jika intinya hancur, semua makhluk bayangan ini akan musnah."
"Tapi Malakor sangat kuat, Kak," Aurora menatap satu per satu kakaknya. "Aku takut jika aku tidak cukup kuat..."
Gideon memegang tangan Aurora dan meremasnya pelan. "Kau bukan hanya putri yang kami temukan, Aurora. Kau adalah pejuang yang mengalahkan Danau, Gunung, dan Hutan. Kami tidak menjagamu karena kau lemah, kami menjagamu agar kau bisa melakukan apa yang hanya bisa dilakukan olehmu."
Aurora mengangguk, matanya berkilat dengan keberanian yang murni. "Mari kita akhiri ini."
"SERBU!" teriak Benedict.
Ketujuh pangeran menerjang pintu aula utama. Ledakan sihir hitam menyambut mereka, namun dengan koordinasi yang sempurna, mereka menangkisnya. Benedict dan Alistair menjadi tombak di depan, menghancurkan barisan ksatria hitam. Fabian dan Gideon melepaskan serangan jarak jauh yang mematikan, sementara Darian, Caspian, dan Evander memberikan perlindungan dari sisi samping.
Di ujung aula, di atas singgasana emas Raja Alaric yang kini tampak kusam tertutup kabut, duduklah Raja Malakor. Di sampingnya, Morena berdiri dengan wajah yang penuh dengan garis-garis hitam akibat mengonsumsi sihir terlarang.
"Jadi, serangga-serangga ini akhirnya berkumpul," suara Malakor menggema, dingin dan berwibawa. "Dan kau, Aurora... kau membawa mainan baru untukku?"
"Ini bukan mainan, Malakor! Ini adalah akhir dari kekuasaanmu!" Aurora melangkah maju, melewati kakak-kakaknya yang kini sedang sibuk menahan pasukan elit Malakor.
"Bunuh dia, Morena!" perintah Malakor.
Morena menjerit, suaranya bukan lagi suara manusia. Ia melesat ke arah Aurora dengan kuku-kuku hitam yang panjang. "Kau tidak akan pernah menang dariku! Aku adalah ratu yang sesungguhnya!"
Aurora tidak menghindar. Ia mengangkat tongkatnya. Permata Zamrud bersinar, menciptakan akar-akar cahaya yang muncul dari lantai marmer, melilit kaki Morena dan menghentikan gerakannya. Permata Safir kemudian menciptakan pusaran air yang menghempaskan Morena ke dinding hingga pingsan.
"Cukup, Morena. Tidurlah dalam kegelapanmu," bisik Aurora.
Kini, tinggal Raja Malakor. Ia berdiri dari singgasana, auranya begitu besar hingga membuat lampu-lampu di aula pecah. "Kau pikir permata-permata itu bisa mengalahkan dewa kegelapan?"
Malakor melepaskan gelombang energi hitam yang sangat dahsyat. Ketujuh pangeran serempak membentuk lingkaran di depan Aurora, menggunakan pedang dan perisai mereka untuk menahan serangan itu. Mereka berteriak menahan beban energi yang seolah ingin menghancurkan tulang mereka.
"Aurora! SEKARANG!" teriak Alistair, suaranya parau menahan ledakan sihir.
Aurora mengangkat Tongkat Cahaya Bintang setinggi-tingginya. Ia memusatkan seluruh ingatannya ingatan tentang pelukan bundanya, tawa Gideon, nasihat Alistair, dan harapan rakyat Aethelgard.
"Cahaya Bintang, bersatulah! Bumi, Langit, dan Air... bersihkan dunia ini dari kegelapan!"
Tiga permata itu bersinar bersamaan, menciptakan pilar cahaya putih yang begitu terang hingga seluruh kota Aethelgard sejenak menjadi putih bersih. Cahaya itu menembus kabut hitam Malakor, membakar setiap jengkal sihir gelap yang ada di ruangan itu.
"TIDAK! INI TIDAK MUNGKIN!" jerit Malakor saat tubuhnya mulai memudar, terbakar oleh kesucian cahaya yang tak bisa ia lawan.
Dengan satu dentuman terakhir, sihir hitam itu meledak dan lenyap. Raja Malakor hancur menjadi debu hitam yang tertiup angin. Kabut yang menyelimuti istana seketika hilang, digantikan oleh sinar matahari yang hangat yang masuk melalui jendela-jendela besar.
Hening.
Pasukan Noxvallys di luar istana seketika jatuh lemas, kehilangan sumber kekuatan mereka. Para pangeran jatuh terduduk, kelelahan namun dengan senyum kemenangan di wajah mereka.
Aurora berdiri di tengah aula, tongkatnya kini kembali menjadi pulpen cendana biasa. Ia menoleh ke arah singgasana, di mana Raja Alaric dan Ratu Elara akhirnya terbebas dari jeratan sihir.
"Bunda... Ayah..." bisik Aurora.
Ratu Elara berlari dan memeluk putrinya, diikuti oleh Raja Alaric. Ketujuh pangeran pun mendekat, mereka saling merangkul dalam satu lingkaran besar. Tidak ada lagi pangeran sulung atau bungsu, tidak ada lagi putri yang hilang. Hanya ada satu keluarga yang utuh.
Di luar, rakyat Aethelgard mulai bersorak-sorai. Perang telah berakhir. Cahaya telah menang, dan sang Putri yang dulu menjadi pelayan kini telah menjadi penyelamat bagi dunia yang pernah melupakannya.
apalagi ngebayangin 7 pangeran yang hebat, dan penasaran banget sama akhirnya gimana dan nasib putri jahat nya gimana.