NovelToon NovelToon
Satu Derajat Celcius

Satu Derajat Celcius

Status: tamat
Genre:Dikelilingi wanita cantik / Anak Genius / Diam-Diam Cinta / Fantasi Wanita / Cintapertama / Berbaikan / Tamat
Popularitas:2.2k
Nilai: 5
Nama Author: Daeena

Bagi Zayden Abbey, dunia adalah medan tempur yang bising dan penuh amarah, sampai suatu siang di perempatan kota, ia dipaksa berhenti oleh lampu merah. Di tengah deru mesin motor yang memekakkan telinga dan kepulan asap knalpot yang menyesakkan, Zayden melihatnya—Anastasia Amy.
Gadis itu berdiri tenang di trotoar, seolah memiliki dunianya sendiri yang kedap suara. Saat Amy menoleh dan menatap Zayden dengan pandangan dingin namun tajam, jantung Zayden yang biasanya berdegup karena adrenalin tawuran, tiba-tiba berhenti sesaat. Di mata Zayden, Amy bukan sekadar gadis cantik; dia adalah "hening yang paling indah." Dalam satu detik itu, harga diri Zayden sebagai penguasa jalanan runtuh. Pemuda yang tak pernah bisa disentuh oleh senjata lawan ini justru tumbang tanpa perlawanan hanya karena satu tatapan datar dari Amy. Zayden menyadari satu hal: ia tidak sedang kehilangan kendali motornya, ia sedang kehilangan kendali atas hatinya sendiri.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Daeena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Frekuensi Rindu

Libur panjang semester ganjil bagi kebanyakan murid adalah surga, tapi bagi Zayden dan Amy, ini adalah ujian nasional yang sesungguhnya.

Amy praktis menjadi tahanan rumah. Ayahnya memperketat penjagaan, bahkan asisten rumah tangga diperintahkan untuk mengawasi setiap gerak-gerik Amy di taman.

Satu-satunya jembatan antara dua dunia mereka hanyalah sebuah ponsel yang disembunyikan Amy di balik tumpukan buku sastra di kamarnya.

Pukul 23.00 WIB. Saat seluruh mansion sudah senyap, Amy menyusup ke bawah selimut. Layar ponselnya menyala, menampilkan nama kontak yang ia ganti menjadi "Toko Buku" demi keamanan.

Ponsel itu bergetar. Amy segera mengangkatnya.

"Halo?" bisik Amy pelan.

"Amy? Ini gue, cowok yang lagi kangen sampe mau meledak," suara berat Zayden terdengar dari seberang sana, diiringi suara jangkrik dari balkon apartemennya.

"Lo aman di sana? Nggak ada naga yang jagain kamar lo, kan?"

Amy terkekeh pelan, menahan suara agar tidak tembus ke kamar orang tuanya. "Aman, Zayden. Tapi saya bosan. Setiap hari hanya melihat tembok abu-abu dan jadwal makan yang kaku."

"Sabar ya, Sayang," Zayden menghela napas puitis. "Gue di sini juga menderita. Bengkel gue sepi karena mekanik utamanya, yaitu hati gue lagi dibawa kabur sama lo. Gue baru aja nulis sesuatu buat lo. Mau denger nggak? Kalau nggak mau, gue tetep bakal bacain sih."

"Bacakan saja, Zayden. Saya butuh asupan kata-kata aneh kamu."

Zayden berdeham, ia mulai membacanya dengan nada yang sok dramatis tapi penuh perasaan:

"Libur ini adalah spasi yang terlalu panjang dalam kalimat kita, Amy."

"Aku benci kalender, karena dia punya angka tapi tidak punya mata untuk melihatmu."

"Jika rindu adalah tawuran, maka malam ini aku sudah babak belur dikeroyok sepi."

"Dan jika jarak adalah aspal, aku akan menjadi roda yang tidak lelah berputar, hanya untuk memastikan... bahwa di ujung jalan sana, kamulah pemberhentian ku yang paling indah."

Amy terdiam. Ia memejamkan mata, membayangkan Zayden duduk di balkon apartemennya dengan jaket kulit yang aromanya masih ia ingat. "Zayden, kamu belajar dari mana kata-kata seperti itu? Itu... sedikit lebih baik dari yang di kantin kemarin."

"Belajar dari rasa sakit, Amy," canda Zayden, tapi kemudian suaranya melembut. "Gue beneran kangen. Gue bahkan sempet kepikiran mau nyamar jadi tukang paket atau tukang sedot tinja cuma biar bisa masuk ke mansion lo."

"Jangan konyol!" Amy tertawa tertahan. "Papa saya bisa langsung mengenali mata kamu. Mata kamu itu... terlalu berandal untuk jadi tukang paket."

"Tapi mata ini cuma natap lo, Amy. Sumpah. Gue nggak pernah liat cewek lain sejak kejadian lampu merah itu. Bahkan Chyntia kalau lewat depan gue, gue ngerasa kayak liat tiang listrik yang lagi ngomel."

Mereka terdiam sejenak, hanya suara napas masing-masing yang terdengar lewat speaker ponsel.

Jarak puluhan kilometer itu seolah terkikis oleh getaran sinyal.

"Zayden," panggil Amy.

"Ya?"

"Terima kasih sudah tidak menyerah pada suhu dingin saya."

"Gue nggak akan pernah menyerah, Amy. Gue ini Zayden Abbey. Gue biasa mainan api, masa sama es aja kalah? Tidur ya, Tuan Putri. Mimpiin gue yang lagi benerin mesin rindu di bengkel. Besok pagi gue telpon lagi sebelum penjaga lo bangun."

"Selamat malam, Zayden."

"Malam, Amy. I love you to the moon and back... eh, kejauhan deng. I love you to the mansion and back aja."

Amy menutup telepon dengan senyum yang tak kunjung hilang.

Ia menggenggam ponselnya di dada. Libur panjang ini mungkin menyiksa, tapi puisi-puisi konyol Zayden telah mengubah kamar yang dingin itu menjadi sedikit lebih hangat.

Besok siangnya, Amy dikagetkan oleh sebuah paket yang tiba di gerbang. Bukan atas nama Zayden, melainkan atas nama "Bima Food Delivery". Isinya adalah sebungkus martabak manis kesukaan Amy, namun di balik tutup kotaknya ada tulisan tangan yang sangat Amy kenali:

"Martabak ini manis, tapi tetep kalah sama senyum lo yang gue liat di foto profil WhatsApp. Makan ya, biar lo nggak pingsan nanggung rindu. - Panglima Z."

Amy memakan martabak itu di kamarnya, sementara di luar, salju imajiner dalam hatinya perlahan mulai mencair.

🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷

Happy Reading 🥰🥰😍

1
Marine
mantap kak buat chapter pembukaannya, janlup mampir yaww
Marine
mantap kak buat chapter pembukaannya, janlup mampir yaww
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!