Dengan nuansa mitologi Nusantara yang kental, Api Jatayu di Laut Banda adalah kisah epik tentang reinkarnasi, gairah terlarang, dan pengampunan di antara api dan ombak. Siapkah kau menyaksikan bagaimana sebuah bara kecil mampu menenggelamkan lautan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Cahya Nugraha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Asal dari Lumpur dan Cahaya
Mereka tidak langsung meninggalkan puncak Lawu setelah Naga Cahaya menghilang kembali ke dalam kuil. Bola cahaya emas yang terbentuk dari empat kristal masih melayang di antara mereka, berputar pelan seperti matahari kecil yang terperangkap di udara dingin pegunungan. Cahayanya hangat, tapi tidak lagi menyilaukan—seperti pelukan yang lembut, mengingatkan bahwa perang belum selesai, hanya tertunda.
Banda duduk di batu datar dekat pintu kuil, bola cahaya itu melayang di depannya. Jatayu duduk di sampingnya, bahu mereka bersentuhan, sementara Bayu berdiri agak menjauh, memandang ke bawah lembah yang masih berasap dari retakan Naga Tanah.
“Kita punya empat kristal sekarang,” kata Bayu pelan, suaranya masih serak karena duka atas Kirana. “Tapi Naga Cahaya bilang ini baru awal. Apa maksudnya ‘kegelapan di luar empat raja’?”
Jatayu menatap bola cahaya itu lama. “Aku tidak tahu pasti. Tapi aku ingat cerita lama dari klan Phoenix—cerita yang hanya diceritakan pada pewaris. Tentang asal mula kutukan… dan mengapa Naga Tanah begitu membenci segalanya.”
Banda menoleh. “Ceritakan. Kalau kita mau hadapi kegelapan itu, kita harus tahu dari mana semuanya dimulai.”
Jatayu menghela napas panjang. Matanya tertuju ke bola cahaya, seolah cahaya itu sendiri yang membantunya mengingat.
“Dulu, sebelum empat raja ada, dunia ini hanya kegelapan dan cahaya—dua kekuatan tunggal yang saling bertentangan. Kegelapan adalah kekosongan, dingin, tanpa bentuk. Cahaya adalah kehidupan, panas, tanpa batas. Mereka bertarung selamanya, tapi tidak ada yang menang karena keduanya saling membutuhkan: tanpa kegelapan, cahaya tidak punya tempat untuk bersinar; tanpa cahaya, kegelapan tidak punya apa pun untuk ditelan.
Lalu, dari pertarungan itu lahir empat anak: Naga Laut dari ombak yang lahir saat cahaya pertama menyentuh kegelapan, Naga Langit dari angin yang tercipta saat keduanya saling tarik-menarik, Naga Tanah dari lumpur yang mengeras saat cahaya membakar kegelapan, dan Naga Cahaya dari percikan terakhir yang lahir saat kegelapan hampir menelan cahaya.
Keempat naga itu seharusnya menjadi penjaga keseimbangan. Mereka membagi dunia: Laut menguasai air dan kehidupan bawah, Langit menguasai angin dan mimpi, Tanah menguasai kestabilan dan kekuatan fisik, Cahaya menguasai harapan dan keabadian.
Tapi Naga Tanah… dia berbeda.
Dia lahir dari bagian paling dalam pertarungan itu—dari lumpur yang tercemar darah kegelapan dan abu cahaya yang terbakar. Dia melihat saudara-saudaranya mendapat pujian: Naga Laut dicintai karena memberi kehidupan, Naga Langit dikagumi karena memberi kebebasan, Naga Cahaya disembah karena memberi harapan. Tapi dia? Dia hanya ‘tanah’—keras, dingin, tempat segalanya berdiri tapi tidak pernah dilihat.
Dia mulai iri. Iri yang lambat, tapi dalam. Dia melihat Naga Laut dan Phoenix pertama kali bersatu—cinta pertama antara api dan air—dan bagaimana persatuan itu menciptakan keseimbangan baru yang lebih indah daripada sebelumnya. Naga Tanah merasa tersisih. Dia ingin persatuan itu juga, tapi dia tidak tahu cara mencintai. Yang dia tahu hanya menelan, menghancurkan, dan menguasai.
Jadi dia menciptakan kutukan pertama: ‘Darah campuran antara api dan air akan menjadi racun bagi mereka sendiri. Yang hidup harus membunuh yang lain, atau dunia akan kembali ke kegelapan abadi.’ Kutukan itu bukan hanya untuk Naga Laut dan Phoenix—itu adalah cermin dirinya sendiri. Dia ingin membuktikan bahwa persatuan itu mustahil, bahwa cinta antara yang berbeda hanya akan menghancurkan.
Tapi kutukan itu balik menyerangnya. Setiap kali darah campuran lahir—seperti Garini dan ayah Banda—kekuatan Naga Tanah melemah. Dia menjadi semakin rapuh, semakin marah. Akhirnya, dia mengorbankan bentuk naganya sendiri untuk menjadi roh yang meresap ke tanah, menunggu saat darah campuran terakhir muncul—yaitu kau, Banda.
Naga Cahaya tahu semua ini. Dia adalah yang paling dekat dengan kegelapan asli, karena dia lahir dari percikan terakhir cahaya yang hampir padam. Dia tidak membenci Naga Tanah—dia kasihan padanya. Tapi dia juga tahu: kalau kutukan tidak dipatahkan, kegelapan asli akan kembali menelan semuanya, termasuk empat raja.”
Banda menatap bola cahaya emas itu. “Jadi Naga Tanah bukan penjahat murni. Dia… korban dari iri dan kesepian.”
Jatayu mengangguk pelan. “Dan itu yang membuatnya berbahaya. Penjahat yang tahu dirinya korban selalu lebih kejam daripada yang jahat karena kesenangan.”
Bayu menghela napas. “Jadi kalau kita mematahkan kutukan… apa yang terjadi pada Naga Tanah?”
Jatayu menatap ke bawah lembah yang masih berasap. “Mungkin dia akan lenyap. Mungkin dia akan kembali ke bentuk asli dan berdamai dengan kegelapan. Atau mungkin… dia akan menjadi bagian dari kegelapan luar yang Naga Cahaya sebut tadi. Kita tidak tahu. Yang kita tahu: kita harus selesaikan ini sebelum kegelapan itu datang.”
Banda bangkit pelan. Ia memegang bola cahaya emas itu dengan kedua tangan. Cahaya itu hangat, tapi juga berat—seperti tanggung jawab yang tak bisa dibagi.
“Kita lanjut ke tempat terakhir,” katanya. “Ke mana pun Naga Cahaya mengarahkan. Kita tidak akan biarkan Kirana mati sia-sia. Dan kita tidak akan biarkan Naga Tanah menang hanya karena iri.”
Jatayu berdiri di sampingnya, tangannya menggenggam tangan Banda. “Bersama.”
Bayu mengangguk. “Bersama.”
Bola cahaya berputar lebih cepat, lalu menunjuk ke arah timur—ke laut yang jauh, ke tempat di mana semuanya dimulai: Laut Banda.
Visi singkat muncul di benak mereka bertiga: pulau kecil yang tersembunyi, kuil terakhir di bawah air, dan kegelapan yang menunggu di baliknya—kegelapan yang lebih tua dari empat raja, yang menunggu kutukan dipatahkan supaya ia bisa bebas.
Perjalanan pulang ke Laut Banda dimulai.
Tapi di dalam dada Banda, suara Naga Tanah masih berbisik pelan:
“Aku bukan musuhmu, anak campuran. Aku adalah cermin yang kau tolak lihat. Kalau kau mematahkan kutukan… kau akan melihat siapa dirimu sebenarnya. Dan kau mungkin tidak suka apa yang kau lihat.”
Banda menutup mata sejenak, lalu membukanya lagi. Ia menatap Jatayu dan Bayu.
“Apa pun yang menunggu… kita hadapi bersama.”
Mereka melangkah turun gunung, meninggalkan makam Kirana yang masih segar.
Dan di kejauhan, ombak Laut Banda mulai bergulung lebih tinggi—seolah menyambut kembalinya Raja Laut… dan akhir dari segalanya.