Ferdy Wicaksono, fotografer muda yang hidup pas-pasan di Jakarta, tak pernah menyangka darah yang mengalir di tubuhnya akan membangunkan cinta yang tertidur selama lima ratus tahun. Dasima, jin wanita cantik dengan aroma bunga yang tak pernah pudar, jatuh cinta padanya karena Ferdy adalah reinkarnasi pria yang dulu ia cintai—dan kehilangan karena pengkhianatan. Di antara mimpi aneh, perlindungan tak kasatmata, dan kehadiran wanita misterius yang membawa darah masa lalu, Ferdy terjebak dalam cinta lintas dunia yang tak pernah benar-benar selesai. Kali ini, akankah Dasima mencintai… atau kembali kehilangan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bp. Juenk, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Pengakuan Cinta 5 Abad
Kamar Kos Ferdy, Pukul 01.17
Kegelapan malam seharusnya menenangkan. Tapi bagi Ferdy, gelap itu justru menjadi kanvas bagi bayangan-bayangan yang kini hidup di kepalanya. Di layar laptop, foto itu masih terbuka—sebuah bukti digital yang tak terbantahkan bahwa pagi tadi bukan halusinasi. Sosok Dasima, terabadikan dalam piksel.
Dia mematikan layar, menenggelamkan kamarnya dalam kegelapan total. Hanya strip cahaya oranye dari lampu jalan yang menyelinap dari celah tirai tipis. Dia berbaring telentang, menatap langit-langit yang retak yang tak terlihat. Tapi yang ia lihat bukan retakan plester. Ia melihat wajah itu.
Wajah dengan mata madu dan senyum sedih. Wajah yang membuat dadanya sesak setiap kali mengingatnya.
"Dasima," suaranya pecah di keheningan, serak dan penuh beban. "Aku tahu kamu di sini. Aku bisa merasakanmu. Seperti selalu."
Dia berhenti, menelan ludah, mengumpulkan keberanian untuk mengucapkan apa yang telah menggelegak dalam hatinya sejak insiden di Kota Tua.
"Aku… aku nggak ngerti apa yang terjadi padaku hari ini. Waktu aku lihat kamu lewat lensa… itu bukan cuma kaget." Suaranya bergetar.
"Itu seperti… ditampar oleh perasaan. Bukan perasaan baru. Tapi perasaan yang udah lama banget… terkubur. Seperti kenangan yang bukan kenanganku."
Dia menarik napas dalam-dalam, mencoba menata kata-kata yang kacau.
"Aku ngerasa… cinta. Tapi bukan cinta kayak biasa. Ini… dalam. Sangat dalam. Sakit.
Seperti… kehilangan sesuatu yang paling berharga, tapi baru sekarang aku sadar kalau aku kehilangan. Dan yang lebih anehnya… itu adalah perasaan cinta buat kamu."
Pengakuan itu melayang di udara gelap. Ferdy menutup mata, membiarkan air mata mengalir di pelipisnya menuju bantal.
"Aku siapa bagimu, Dasima? Dan kamu siapa bagiku? Kenapa… kenapa perasaan ini begitu kuat? Seolah-olah kita punya sejarah yang panjang."
"Tapi aku cuma Ferdy. Ferdy Wicaksono, umur 23 tahun, dari Banyuwangi, anak petani, kuliah di UI, suka fotografi. Aku nggak pernah ke mana-mana sebelum kuliah ke Jakarta. Aku nggak mungkin kenal kamu."
Dia berhenti, mengepalkan tangan di atas selimut.
"Tapi wajahmu… begitu cantik. Dan familiar. Kayak… selalu ada di sini," tangannya mengepal di dadanya.
"Mengisi semua ruang kosong yang bahkan aku sendiri nggak pernah sadari ada. Selama ini, aku ngerasa ada yang kurang. Kayak hidupku nggak lengkap. Dan semenjak kamu datang… wangi melati, perasaan ditemenin, pelukan di malam hari… ruang kosong itu perlahan-lahan terisi. Dan waktu aku lihat wajahmu… rasanya lengkap. Tapi sekaligus… sakit. Karena aku tahu, kamu nggak di sini. Bukan secara… nyata."
Suara tangisnya kini tak terbendung. Dia menangis dalam gelap, untuk sebuah ikatan yang tidak ia pahami, untuk seorang wanita yang tidak bisa ia sentuh, untuk sebuah cinta yang terasa lebih tua dari usianya sendiri.
"Aku takut, Dasima. Takut kalau semua ini cuma imajinasi orang stress karena skripsi dan project. Tapi fotomu ada. Dan perasaan ini… terlalu nyata untuk dianggap bohong."
"Aku… aku cinta kamu. Tapi aku nggak tau caranya mencintaimu. Kamu bukan manusia. Kamu… apa? Hantu? Jin? Aku nggak peduli. Yang aku peduli, kamu ada. Dan perasaan ini ada."
Pengakuan cinta itu diucapkan dengan polos, penuh kebingungan, namun sangat tulus. Bukan cinta romantis yang penaih gairah, tetapi cinta yang berasal dari pengakuan jiwa—sebuah resonansi antara dua bagian yang terpisah.
"Aku cuma ingin kamu tahu. Bahwa apa pun yang terjadi, apapun yang kita alami di masa lalu yang aku nggak ingat… aku bersyukur kamu ada sekarang. Dan… aku sayang kamu. Lebih dari sekadar sayang."
Di sudut kamar yang paling gelap, di mana bahkan strip cahaya oranye pun tak mencapainya, sebuah kehadiran bergetar hebat. Dasima ada di sana, energinya yang baru pulih kini bergolak oleh badai emosi yang jauh lebih dahsyat dari kehabisan energi.
Dia mendengar setiap kata. Setiap getaran suara penuh rasa sakit dan cinta dari Raden-nya. Air mata energi emasnya mengalir deras, tak terbendung, memancarkan cahaya lembut keemasan yang sesaat menerangi sudut itu sebelum lenyap.
Tangisannya adalah tangisan yang tak bersuara, namun memenuhi seluruh ruang dengan getaran kepedihan dan kebahagiaan yang tak terperi.
Dengarkan itu, Raden. Kau mencintaiku. Meski kau tak ingat, jiwamu mengenaliku.
Dia ingin berlari, ingin memeluk Ferdy erat-erat, ingin berteriak bahwa ia juga mencintainya, bahwa ia telah menunggu lima abad hanya untuk momen seperti ini—di mana Raden-nya, dalam wujud apapun, mengakui cintanya.
Tapi dia tidak bisa. Hukum alam dan keadaannya membungkamnya. Dan ada bahaya. Jika dia terlalu banyak campur tangan, jika dia mengungkap terlalu banyak, konsekuensinya bisa menghancurkan keseimbangan.
Ferdy masih berbicara, kini lebih tenang. "Aku nggak minta kamu menjawab. Aku cuma… perlu ngomong. Karena kalau nggak, aku bisa gila. Perasaan ini terlalu besar buat ditahan sendiri."
Diam sejenak. Lalu, "Mungkin besok, atau lusa, atau kapan pun… aku akan coba cari tau. Siapa kamu sebenarnya. Siapa aku… bagimu. Tapi untuk malam ini… bisakah kamu… peluk aku lagi? Seperti biasa? Aku butuh itu. Butuh merasa kamu dekat."
Permintaan itu sederhana, namun menyayat hati Dasima. Dia mengangguk, meski tak ada yang melihat. Dengan sisa energinya, dia melayang mendekat ke tempat tidur.
Perlahan, dengan kelembutan yang tak terhingga, dia membaringkan wujud energinya di samping Ferdy. Dia melingkarkan "lengan"-nya di tubuh Ferdy yang masih terguncang oleh tangis. Dia mendekatkan "wajah"-nya ke punggung Ferdy, seolah menempelkan dahi di sana.
Dan untuk pertama kalinya, dia mencoba berkomunikasi lebih langsung. Bukan dengan kata-kata di pikiran, tapi dengan memproyeksikan perasaannya.
Dia memusatkan seluruh cinta, kerinduan, pengorbanan, dan kebahagiaannya saat ini menjadi satu gelombang energi murni, dan mengalirkannya dengan lembut ke dalam kesadaran Ferdy.
Ferdy, yang sedang menangis dengan mata terpejam, tiba-tiba merasakannya.
Bukan suara. Bukan gambar. Tapi sebuah banjir perasaan.
Sebuah cinta yang begitu dalam, begitu abadi, mengalir masuk ke dalam jiwanya. Cinta yang sabar. Cinta yang rela menunggu di dalam kegelapan selama berabad-abad.
Cinta yang melindungi tanpa pamrih. Cinta yang mengenali jiwanya di antara miliaran jiwa lainnya. Dan di balik semua itu, ada rasa sakit karena perpisahan, ada pengkhianatan yang pahit, ada darah dan air mata, dan sebuah janji yang dipegang hingga melampaui kematian.
Ferdy terkesiap, tangisnya berhenti. Dadanya sesak, tetapi kali ini oleh keagungan perasaan yang ia terima. Ini… dari Dasima. Ini jawabannya.
"Kamu…" bisiknya, terengah-engah. "Kamu mencintaiku juga. Dan kita… kita punya sejarah. Sejarah yang sakit."
Gelombang perasaan itu mengiyakan. Lalu, perlahan, mereda, berubah menjadi kehangatan yang menenangkan, sebuah pelukan energi yang semakin erat.
Ferdy membalikkan badan, menghadap ke arah ia merasakan kehadiran itu. Matanya berusaha menembus kegelapan. "Aku berjanji," ucapnya, suaranya tegas meski masih berair mata.
"Aku akan cari tahu kebenarannya. Dan apapun itu, aku nggak akan ninggalin kamu lagi. Aku mungkin nggak ingat, tapi perasaan ini nggak bisa bohong. Kamu adalah bagian dari aku. Dan aku… aku mau belajar untuk kembali jadi bagian dari kamu juga."
Itu adalah sumpah. Sebuah janji dari masa kini untuk masa lalu.
Dasima tak bisa menahan diri lagi. Dia membiarkan air mata energinya mengalir bebas, sambil "memeluk" Ferdy lebih erat. Dalam hatinya, dia menjawab janji itu: "Aku percaya padamu, Raden. Selalu. Dan aku akan menunggumu, seperti yang selalu kulakukan. Kini dan selamanya."
Malam itu, mereka tertidur dalam pelukan yang tak kasatmata, tetapi kali ini, dengan pengakuan cinta yang terucap dan diterima. Sebuah tembok antara dunia mereka mulai retak.
Dan meski Ferdy masih belum tahu cerita lengkapnya, satu hal yang ia pasti: cintanya pada Dasima adalah nyata. Dan cinta itu, rupanya, memiliki akar yang dalam dan berdarah-darah di suatu masa yang telah lama berlalu.
Ketika fajar menyingsing, Ferdy bangun dengan mata bengkak namun hati lebih ringan. Sebuah tekad baru terbentuk: ia harus mencari tahu siapa Dasima, dan siapa dirinya dalam hubungan dengan wanita dari masa lalu itu.
Perjalanan untuk mengungkap kebenaran yang tertunda lima abad, secara tak sengaja, telah dimulai dengan sebuah pengakuan cinta di kamar kos sempit di Lenteng Agung. Dan Dasima, dengan hati penuh harap dan cemas, siap membimbingnya—atau setidaknya, melindunginya—dalam pencarian itu.