Di bawah kuasa Kaisar Jian Feng yang dingin dan tak terpuaskan, Mei Lin hanyalah pelayan jelata yang menyembunyikan kecantikannya di balik masker. Namun, satu pertemuan di ruang kerja sang Kaisar mengubah segalanya. Aroma jasmine dan tatapan lugu Mei Lin membangkitkan hasrat liar sang Penguasa yang selama ini mati rasa. Kini, Mei Lin terjebak dalam obsesi berbahaya pria yang paling ditakuti di seantero negeri.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Alzahraira Nur, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
aliansi tak terduga dalam kegelapan
Mei Lin terus memuntahkan setiap kepedihan yang selama ini ia telan. Tangannya masih mencengkeram jubah Jian Feng, seolah ingin merobeknya. Wajahnya yang bengkak dan berlumuran air mata tidak mengurangi intensitas kemarahannya.
"Kau membunuh mereka semua, Jian Feng! Kau membunuh orang-orang tak bersalah di hadapanku hanya karena tuduhan palsu! Aku melihat darah mereka mengalir di aula istanamu! Aku melihat ketakutan di mata mereka!" teriak Mei Lin, suaranya kini lebih serak, namun penuh dengan keputusasaan.
"Aku pernah berharap padamu," lanjut Mei Lin, suaranya melemah menjadi isakan. "Aku berharap kau akan menjadi kaisar yang adil, yang memenuhi harapan rakyatnya. Aku berpikir mungkin kau hanya butuh waktu untuk berubah, untuk melihat bahwa kekejaman tidak akan pernah membawa kedamaian! Tapi itu semua sia-sia! Kau hanya semakin terperosok dalam kegelapanmu sendiri! Kekuasaan telah membutakan matamu!"
Setiap kata yang keluar dari bibir Mei Lin bagai cambuk yang mencambuk jiwa Jian Feng. Pria yang tak pernah menunjukkan kelemahan di hadapan siapa pun, yang tak pernah gentar oleh ancaman seribu musuh, kini berdiri membisu. Kata-kata Mei Lin, yang keluar dari hati yang terluka parah, berhasil menembus pertahanan kerasnya. Ia melihat keputusasaan di mata Mei Lin, kelelahan, dan kehancuran yang ia sendiri sebabkan. Jian Feng menyadari betapa jauh ia telah melangkah dalam obsesinya, betapa butanya ia oleh kekuasaan dan rasa takut kehilangan Mei Lin.
Tangannya yang semula menggenggam pedang, kini perlahan melonggar. Pedang itu jatuh ke lantai batu dengan bunyi berdentang yang memecah keheningan. Alaric, yang tergeletak lemah di sudut sel, menatap adegan itu dengan tak percaya.
"Mei Lin..." Jian Feng akhirnya bersuara, suaranya pecah, hampir seperti bisikan. Rasa bersalah dan penyesalan yang begitu dalam menggerogoti hatinya. Ia meraih tangan Mei Lin, namun Mei Lin menepisnya.
Melihat respons Mei Lin, Jian Feng menunduk. Ia tahu, kata-kata saja tidak akan cukup. Ia harus bertindak. Jian Feng berpaling ke arah Alaric yang masih terbaring. Dengan langkah berat, Kaisar berlutut di depan Alaric, sebuah tindakan yang belum pernah ia lakukan seumur hidupnya di hadapan siapa pun kecuali leluhurnya.
"Bangun," perintah Jian Feng, suaranya kini tanpa kemarahan, hanya ada penyesalan. "Kau benar. Dia tidak bersalah. Aku harus membersihkan namanya."
Alaric bangkit perlahan, memegangi rahangnya yang sakit. Ia menatap Jian Feng dengan curiga. "Bagaimana bisa aku percaya pada kata-kata seorang kaisar yang membiarkan istrinya disiksa?"
Jian Feng menatap tajam ke arah Alaric. "Aku membiarkannya karena ibuku mengancam akan membunuh keluarganya dan seluruh desanya! Aku terpaksa diam! Tapi tidak lagi. Kata-katanya... teriakannya... telah membuka mataku. Aku akan melakukan apa pun untuk membebaskannya dari sini dan membersihkan namanya. Apa yang kau katakan tadi tentang Petinggi Agung Gereja?"
Alaric menghela napas, menyadari bahwa Jian Feng tidak sedang berbohong. Mata Kaisar itu menunjukkan rasa sakit yang sama dengan Mei Lin. "Petinggi Agung Gereja, Yang Mulia. Dia adalah satu-satunya yang memiliki otoritas spiritual untuk membuktikan ada atau tidaknya sihir hitam. Kata-katanya mutlak, bahkan Ibu Suri tidak akan bisa membantahnya."
Jian Feng bangkit. "Baiklah. Aku akan mengirim pasukan terbaikku untuk menjemputnya. Tapi untuk saat ini... aku butuh kau. Aku butuh aliansi."
Mei Lin menatap Jian Feng dan Alaric secara bergantian. Ia tidak pernah membayangkan melihat dua pria yang paling berpengaruh di negeri itu, yang seharusnya saling bermusuhan, kini berdiri di hadapannya dan membentuk aliansi yang aneh.
"Aku terpaksa harus bekerja sama denganmu, Pangeran Alaric," ucap Jian Feng, memandang Alaric dengan tatapan serius. "Demi membebaskan Mei Lin dari penjara ini dan membersihkan namanya. Tapi setelah itu, kita akan kembali menjadi musuh seperti semula."
Alaric mengangguk. "Untuk saat ini, musuhku adalah fitnah dan kebohongan yang menjerat Mei Lin. Aku setuju. Aliansi sementara."
Mei Lin masih belum bisa mencerna semua ini. Ia tidak tahu apakah ia harus merasa lega, takut, atau justru semakin bingung. Pria yang telah menghancurkan hidupnya kini berjanji untuk menyelamatkannya, bekerja sama dengan pria asing yang ia kenal sebagai penolongnya. Penjara bawah tanah yang gelap itu kini menjadi saksi bisu sebuah perjanjian yang tak terduga, yang mungkin akan mengubah takdir seluruh kekaisaran.
Bersambung