Kayla dikenal sebagai Queen, seorang kupu-kupu malam yang terkenal akan kecantikan wajahnya dan bermata indah.
Suatu hari Kayla menghindar motor yang tiba-tiba muncul dari arah samping, sehingga mengalami kecelakaan dan koma. Dalam alam bawah sadarnya, Kayla melihat mendiang kedua orang tuanya sedang disiksa di dalam neraka, begitu juga dengan ketiga adik kesayangannya. Begitu sadar dari koma, Kayla berjanji akan bertaubat.
Ashabi, orang yang menyebabkan Kayla kecelakaan, mendukung perubahannya. Dia menebus pembebasan Kayla dari Mami Rose, sebanyak 100 juta.
Ketika Kayla diajak ke rumah Ashabi, dia melihat Dalfa, pria yang merudapaksa dirinya saat masih remaja.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Santi Suki, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 24
“Leu-leukemia?” suara Kayla nyaris tak terdengar.
Dokter mengangguk.
“Masih stadium awal. Kabar baiknya, masih bisa diobati dengan obat-obatan dan terapi. Tapi, biayanya tidak sedikit.”
Ashabi mengepalkan tangannya. “Berapa pun biayanya, kami akan usahakan,” ucapnya tegas tanpa ragu.
Kayla menatapnya dengan mata berkaca-kaca.
“Mas Abi, aku tidak punya uang sebanyak itu.”
Ashabi menatapnya lembut, suaranya rendah tetapi mantap. “Kamu tidak sendiri, Kayla. Nayla bukan hanya adikmu.”
Kalimat itu membuat Kayla semakin menangis.
Malam itu, Dalfa kembali ke rumah. Ia membuka laptop, menelusuri berbagai foto, berita, dan forum tentang dunia malam. Nama “Queen” muncul berkali-kali dalam kepalanya, selalu misterius, selalu tak terjangkau.
Di sudut layar, Dalfa membuka foto Kayla yang diam-diam ia ambil saat ia sedang bekerja di rumah. Ia memperbesar bagian matanya. Amber, sama persis, bahkan bulu matanya yang lentik pun sama.
Dalfa bersandar di kursinya, napasnya berat. “Apa kamu dan Queen adalah orang yang sama?” gumamnya pelan.
Ponselnya bergetar. Sebuah pesan masuk dari temannya.
[Masih penasaran sama Queen? Aku dengar dia menghilang karena ‘ditebus’ seseorang. Orang besar, katanya.]
Jantung Dalfa berdetak lebih cepat. ”Ditebus?
Oleh siapa?”
Tiba-tiba, satu nama melintas di kepalanya.
Ashabi. Dalfa menatap foto Kayla sekali lagi, lalu mengepalkan tangannya.
“Siapa kamu sebenarnya, Kayla?”
Dalfa menutup laptopnya perlahan, tatapannya dingin tetapi penuh tekad. Ia mengambil jaketnya.
“Kalau Queen memang Kayla, cepat atau lambat aku akan tahu.”
Di ruang perawatan, Nayla tertidur lemah dengan infus terpasang di tangannya. Kayla duduk di samping ranjang, menggenggam tangan kecil adiknya dengan air mata yang terus mengalir.
Di luar kamar, Ashabi berdiri menatap kaca jendela. Hatinya bergejolak antara rasa tanggung jawab, kasih sayang, dan tekad untuk melindungi Kayla dan adik-adiknya.
***
Nayla di rawat di rumah sakit selama tiga hari, selama itu juga Kayla tidak pergi kerja ke rumah Pak Ramlan.
Malam itu rumah kontrakan Kayla terasa lebih sunyi dari biasanya. Hanya suara detak jam dinding yang terdengar nyaring, bercampur dengan napas Nayla yang masih agak berat di ranjang kecil mereka. Lampu temaram menggantung di tengah ruangan, memantulkan bayangan tipis di dinding yang sudah mulai mengelupas catnya.
Kayla duduk bersila di lantai, memandangi buku tabungannya yang terbuka di hadapannya. Angka-angka di sana terasa menusuk matanya. Tiga juta, itu hasil jerih payahnya yang berhasil dikumpulkan selama ini.
Awalnya niat Kayla simpan uang itu sebagai modal membuka usaha kecil-kecilan nanti. Sebuah warung makan sederhana, atau mungkin katering rumahan. Mimpi yang ia peluk diam-diam agar ia tidak selamanya bergantung pada pekerjaan sebagai asisten rumah tangga.
Namun, sekarang mimpi itu terasa rapuh. Bayangan wajah Nayla yang pucat di ranjang rumah sakit kembali menghantui pikirannya.
“Biaya obat, kontrol rutin, kemungkinan terapi,” bisik Kayla mengulang kata-kata dokter di kepalanya. Air matanya menetes, jatuh membasahi kertas tabungan itu.
“Apa yang harus aku lakukan, Ya Allah?” Suara Kayla bergetar, hampir tak terdengar.
Kayla menutup buku tabungan itu perlahan, memeluknya ke dada. Di satu sisi, ia tahu tabungan itu tidak akan cukup. Di sisi lain, menyerahkan satu-satunya pegangan masa depannya terasa seperti melompat ke jurang tanpa tali.
Pintu kamar Nayla berderit kecil. Fattan mengintip, wajahnya masih mengantuk. “Kak, apa Nayla masih panas?” katanya pelan.
Kayla berdiri cepat, menghampiri ranjang Nayla. Ia menyentuh dahi adiknya, masih hangat.
“Sabar ya, Sayang. Kakak akan cari jalan,” gumam Kayla sambil mengusap rambut Nayla penuh kasih.
Pagi harinya, Ashabi datang lebih awal ke kontrakan. Tangannya membawa kantong berisi makanan dan beberapa buah.
Kayla menyambutnya dengan senyum tipis, meski matanya tampak lelah.
“Bagaimana keadaan Nayla sekarang?” tanya Ashabi tanpa basa-basi.
“Masih sama, tapi lebih stabil,” jawab Kayla sambil menunduk.
Ashabi menarik napas, lalu menatap Kayla serius. “Kayla, soal biaya pengobatan, biar aku yang tanggung.”
Kayla terdiam. Jantungnya berdegup kencang.
“Tidak perlu,” jawab Kayla cepat, nyaris refleks.
Ashabi mengerutkan kening. “Kenapa? Ini bukan masalah besar—”
“Mas Abi, tolong … jangan,” potong Kayla dengan suara gemetar.
Wanita itu menatap Ashabi, matanya berkaca-kaca. “Aku sudah terlalu banyak berutang budi kepadamu. Aku tidak ingin bergantung lagi. A-ku … aku harus berdiri di atas kakiku sendiri.”
Ashabi terdiam, menatap wajah Kayla yang keras kepala namun rapuh. “Kayla, ini bukan soal utang. Ini soal Nayla—”
“Tapi buatku, ini soal harga diri,” balas Kayla lirih. “Aku tidak mau nanti suatu hari merasa tidak punya apa-apa selain kebaikanmu.”
Hening menggantung di antara mereka. Ashabi mengepalkan tangannya, menahan kata-kata yang ingin keluar. Akhirnya ia menghela napas panjang.
“Baiklah, aku tidak akan memaksa. Tapi kalau kamu butuh apa pun, kamu harus bilang padaku.”
Kayla hanya mengangguk pelan.
Siang itu, Kayla berdiri di depan sebuah rumah besar bercat krem dengan pagar besi tinggi. Rumah itu dulunya milik almarhum ayah sambungnya, sebelum diambil alih oleh keluarga jauhnya setelah Pak Amran meninggal.
Tangan Kayla sedikit gemetar saat menekan bel.
Beberapa saat kemudian, pintu terbuka. Seorang wanita paruh baya menatapnya dingin—Bibi Dewi, adik sepupu Pak Amran.
“Kamu mau apa datang ke sini?” tanya Bibi Dewi ketus.
Kayla menarik napas. “Aku butuh bantuan. Nayla sakit parah dan butuh biaya pengobatan.”
Wajah Bibi Sri berubah sinis. “Bantuan? Memangnya kami ini bank?” balasnya tajam.
Seorang pria—Om Rafi—muncul dari belakang. “Masih berani kamu datang ke sini?” katanya dengan nada merendahkan.
Kayla mengepalkan tangannya.
dan ahh masih bikin bgg
trus duit dr mna dia apa g di lertanyakan sm org tuanya ya
nnti ada wktunya itu klo sudah autornya berkehendak 🙈🙈🙈
kemasa saja ini orang knp baru muncul aja
trus se enak nya ya
ini baru permulaan ya