Lanjutan novel kultivator pengembara
Jian Feng berakhir mati dan di buang ke pusaran reinkarnasi dan masuk ke tubuh seorang pemuda sampah yang di anggap cacat karena memiliki Dantian yang tersumbat.
Dengan pengetahuannya Jian Feng akan kembali merangkak untuk balas dendam dan menjadi yang terkuat.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Agen one, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 18: Kemenangan telak
Babak perempat final Turnamen Benua Gagak Hitam mempertemukan Jian Feng dengan Mo Yan, seorang jenius dari Sekte Bayangan Seribu.
Jika lawan-lawan sebelumnya mengandalkan kekuatan kasar, Mo Yan adalah definisi dari kelicikan.
Ia berdiri di arena dengan tubuh yang tampak kurus dan jubah yang dipenuhi kantong-kantong kecil berisi berbagai alat terlarang.
"Xiao Feng, kau memang kuat," ucap Mo Yan sambil memainkan belati kecil di jarinya. "Tapi di dunia ini, yang menang bukan yang paling kuat, melainkan yang paling licin."
Begitu pertandingan dimulai, Mo Yan tidak menyerang secara langsung.
Ia meledakkan beberapa bom asap yang menutupi seluruh arena dengan kabut berwarna ungu kemerahan. Penonton tidak bisa melihat apa pun, namun Jian Feng tetap tenang di tengah kabut tersebut.
Tiba-tiba, suara tangisan Lin Xue bergema di telinga Jian Feng. “Jian Feng, kenapa kau meninggalkanku?”
Jian Feng menyipitkan mata. "Ilusi suara? Teknik tingkat rendah."
Tiba-tiba, dari balik kabut, ratusan jarum beracun melesat dari berbagai arah.
Mo Yan menggunakan teknik Gema Bayangan, menciptakan pantulan suara dan visual untuk mengacaukan indra lawan.
STAB! STAB!
Beberapa jarum berhasil menggores lengan Jian Feng. Mo Yan muncul dari bayangan di belakang Jian Feng, tertawa sinis. "Jarum-jarum itu mengandung racun pelumpuh saraf. Dalam sepuluh detik, kau tidak akan bisa menggerakkan jarimu!"
Jian Feng tidak panik. Ia justru membiarkan racun itu merambat sebentar sebelum ia mengaktifkan Elemen Air murni di dalam pembuluh darahnya.
Air tersebut membekukan molekul racun sebelum mencapai jantung, lalu dengan dorongan Petir Emas, ia memuntahkan racun itu kembali melalui pori-porinya.
"Sepuluh detik?" Jian Feng berbalik, matanya berkilat emas menembus kabut. "Itu waktu yang cukup untuk membuatmu menyesal telah lahir."
Jian Feng menghentakkan kakinya ke lantai arena. Seni Rahasia: Konduksi Embun Guntur.
Uap air di udara—yang berasal dari bom asap Mo Yan sendiri—berubah menjadi konduktor listrik raksasa. Seluruh arena mendadak dialiri listrik tegangan tinggi.
Mo Yan yang sedang bersembunyi di dalam kabut berteriak histeris saat tubuhnya terpanggang oleh jebakannya sendiri.
"Kau menggunakan kabut untuk bersembunyi, tapi kau lupa bahwa kabut adalah air yang bisa kuhancurkan dengan satu percikan kilat," ucap Jian Feng dingin.
Jian Feng melesat, mencengkeram wajah Mo Yan, dan menghantamkannya ke lantai arena hingga retak.
Sebelum wasit sempat menghentikannya, Jian Feng merogoh paksa cincin penyimpanan emas di jari Mo Yan dan sebuah gulungan teknik rahasia dari balik jubahnya.
"Pemenang: Xiao Feng!" teriak wasit dengan gugup.
Jian Feng berdiri, memegang hadiah kemenangan babak perempat final: sebuah Inti Kristal Langit dan sebuah Pedang Giok Hitam tingkat tinggi.
Ia tidak peduli pada sorak-sorai penonton atau wajah bangga ayahnya. Baginya, turnamen ini sudah mencapai tujuannya untuk mengumpulkan sumber daya.
"Aku mengundurkan diri dari babak semifinal." ucap Jian Feng tiba-tiba, mengejutkan semua orang.
"Apa?! Kenapa?!" Xiao Zhen berteriak dari tribun. "Kau bisa menjadi juara utama!"
Jian Feng menatap ayahnya dengan pandangan yang membuat Xiao Zhen menggigil. "Aku sudah mendapatkan apa yang kubutuhkan. Sekarang, ada 'urusan keluarga' yang harus kuselesaikan."
Rombongan Keluarga Xiao kembali ke kediaman mereka dengan perasaan campur aduk.
Mereka disambut dengan perayaan besar sebagai "Keluarga Sang Jenius". Namun, Jian Feng tidak ikut berpesta. Ia langsung menuju paviliunnya yang terpencil.
Malam itu, di dalam kamarnya, Jian Feng duduk di depan cermin. Ia mengeluarkan semua harta yang ia rampas selama turnamen: puluhan cincin penyimpanan, ribuan batu energi tingkat tinggi, dan berbagai senjata pusaka.
Ia mulai meramu racun dan membentuk formasi pelindung di sekitar paviliunnya. Bukan untuk melindungi dirinya, tapi untuk mengurung "mangsa" yang akan datang.
Tok! Tok! Tok!
Pintu paviliunnya diketuk. Xiao Zhen masuk dengan wajah sumringah, membawa sebotol arak mahal. "Xiao Feng, putraku! Mari kita bicara tentang masa depan klan. Dengan kekuatanmu, kita bisa menelan klan-klan kecil di sekitar sini dan—"
Langkah Xiao Zhen terhenti. Ia melihat Jian Feng sedang mengasah pedang meteoritnya, namun yang membuatnya ngeri adalah aura yang menyelimuti ruangan itu.
Bukan lagi aura Penyatuan Roh, melainkan sesuatu yang jauh lebih gelap dan menekan.
"Duduklah, Ayah," ucap Jian Feng tanpa menoleh. "Aku baru saja selesai berdiskusi dengan 'Xiao Feng' yang asli. Dia ingin tahu... apakah kau masih ingat malam di mana kau membiarkan ibunya mati kedinginan karena tidak mau membuang-buang obat keluarga?"
Wajah Xiao Zhen mendadak pucat pasi. Arak di tangannya jatuh dan pecah berkeping-keping.
"A-apa maksudnya?"
Jian Feng berdiri, membalikkan badannya. Matanya kini sepenuhnya berwarna emas pekat, memancarkan kebencian murni yang ia serap dari sisa jiwa Xiao Feng.
"Aku adalah Aku, Ayah. Dan malam ini, aku akan membantumu bertemu dengan hantu-hantu dari masa lalumu."
Jian Feng mengunci pintu paviliun dengan lambaian tangan. Balas dendam yang dijanjikan pada jiwa asli Xiao Feng baru saja dimulai.
thor lu kaya Jiang Feng