Pernikahan Zoya Ravendra dan Kalandra Dirgantara adalah perjodohan mutlak tanpa tanggal kadaluarsa. Bagi Kalandra, Kepala Unit Reskrim yang ditakuti, Zoya hanyalah istri pendiam yang membebani karena selalu mengurung diri di kamar.
Namun, pandangan itu hancur saat kasus pembunuhan berantai "The Puppeteer" menemui jalan buntu. Zoya tiba-tiba muncul di TKP, menerobos garis polisi dengan tatapan datar dan berkata:
"Singkirkan tangan kotormu dari leher korban, Komandan. Dia tidak dicekik. Ada residu sianida di kuku jari manisnya dan lebam mayat ini dimanipulasi."
Hanya dalam lima menit, Zoya memecahkan teka-teki itu. Kalandra terlambat menyadari bahwa istri yang ia abaikan ternyata adalah "The Scalpel," legenda forensik dunia. Kini, Kalandra tidak hanya harus memburu pembunuh, tapi juga mengejar cinta istrinya yang hatinya lebih sulit diotopsi daripada mayat manapun.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Savana Liora, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 5: Pulang ke Rumah & Ruang Rahasia
Bunyi beep digital dari kunci pintu elektronik terdengar nyaring, diikuti suara mekanis kunci yang terbuka. Kalandra mendorong pintu penthouse dengan bahunya yang terasa berat. Dia melangkah masuk, membiarkan tetesan air hujan dari jasnya mengotori lantai marmer yang biasanya licin mengkilap.
Pikirannya masih tertinggal di pelabuhan. Bayangan Zoya yang membedah fakta di bawah guyuran hujan, menunjuk titik suntikan yang luput dari mata ahli forensik terbaik kepolisian, terus berputar di kepalanya seperti kaset rusak.
Sarung tangan lateks bekas istrinya masih tergenggam erat di tangan kanannya, sudah lecek dan hangat karena suhu tubuhnya.
Rumah itu hening. Tidak ada suara omelan orang tua, tidak ada suara tangis, tidak ada drama.
Kalandra melepas sepatunya sembarangan. Dia berjalan menuju ruang tengah, mengharapkan istrinya sudah tidur atau mungkin menangis di kamar karena dimarahi di TKP tadi. Tapi, indra penciumannya justru menangkap aroma yang sangat tidak elit untuk ukuran penthouse mewah ini.
Wangi bumbu penyedap rasa. Kuah kari ayam.
Kalandra mempercepat langkahnya ke ruang TV. Di sana, di atas sofa kulit italia seharga ratusan juta, Zoya duduk bersila dengan santai.
Dia sudah berganti pakaian, kini memakai piyama katun longgar bermotif beruang kecil. Rambutnya yang tadi basah sudah dikeringkan dan digelung asal.
Tangan kanannya memegang garpu, menyuapkan gumpalan mie instan ke mulutnya, sementara matanya terpaku pada layar TV besar yang menayangkan reality show masak-memasak.
Sluuurp.
Suara seruputan kuah mie itu terdengar begitu kontras dengan kekacauan di otak Kalandra. Istrinya—wanita yang baru saja mempermalukan satu tim reskrim—sedang makan mie instan seolah tidak terjadi apa-apa.
"Kamu..." suara Kalandra tercekat. Dia berdiri di belakang sofa, masih basah kuyup.
Zoya tidak menoleh.
Dia mengunyah pelan, menelan, lalu menyahut tanpa nada, "Mas sudah pulang? Mau mie? Masih ada satu bungkus di lemari dapur. Bikin sendiri ya."
Kalandra tidak habis pikir. Dia berjalan memutar, berdiri tepat di depan TV, menghalangi pandangan Zoya.
"Minggir, Mas. Chef Juna lagi mau marah-marah itu," protes Zoya sambil memiringkan kepalanya ke kanan, mencoba mengintip layar.
"Matikan TV-nya!" bentak Kalandra. Dia menyambar remote di meja dan menekan tombol off. Layar menjadi gelap seketika.
Zoya menghela napas panjang, meletakkan mangkuk mienya di meja dengan bunyi tak pelan. Dia mendongak, menatap suaminya dengan ekspresi bosan.
"Kenapa lagi? Mas mau marah soal aku ke pelabuhan? Atau soal aku pakai sandal rumah ke luar?"
"Sejak kapan?" Kalandra mencondongkan tubuhnya, menatap tajam ke mata istrinya. "Sejak kapan kamu ngerti forensik? Sejak kapan kamu tahu soal petechiae, sianida, dan manipulasi mayat? Itu bukan pengetahuan umum yang bisa kamu dapat dari nonton drama Korea!"
Zoya menatap Kalandra lurus-lurus. Tidak ada rasa takut, tidak ada kegugupan.
"Dua tahun kita nikah, Mas," jawab Zoya tenang. "Apa pernah sekalipun Mas tanya aku lulusan apa? Apa pernah Mas tanya apa kegiatanku sebelum kita dijodohkan?"
Kalandra terdiam, lidahnya kelu. Dia mencoba mengingat-ingat. Saat perkenalan keluarga, dia terlalu sibuk main ponsel.
Saat malam pertama, dia langsung tidur membelakangi Zoya.
"Mas cuma tahu aku anak manja keluarga Ravendra," lanjut Zoya, suaranya tajam menusuk meski volumenya rendah. "Mas berasumsi aku cuma bisa belanja, ke salon, dan nunggu transferan uang. Mas nggak pernah tanya, jadi aku nggak pernah cerita."
"Tapi caramu memeriksa mayat tadi..." Kalandra menggeleng tak percaya. "Itu bukan level amatir, Zoya. Dokter Rudi saja gemetar, tapi tangan kamu stabil. Kamu bicara seolah mayat itu teman lama kamu."
Zoya mengangkat bahu acuh tak acuh, kembali mengambil mangkuk mienya. "Mungkin karena mayat lebih enak diajak bicara daripada suami sendiri. Mayat nggak pernah motong omongan orang."
"Zoya!"
"Aku ngantuk, Mas. Besok aku mau belanja tas baru, kan aku 'istri beban' yang cuma bisa habisin uang," sindir Zoya telak. Dia bangkit dari sofa, membawa mangkuk kotornya ke dapur, meninggalkan Kalandra yang berdiri kaku dengan ego yang remuk redam.
Kalandra mengusap wajahnya kasar. Rasa malunya bercampur dengan rasa penasaran yang membakar dada.
Siapa wanita yang dia nikahi ini?
Kenapa rasanya dia sedang tidur dengan orang asing selama dua tahun terakhir?
Dia mendengar suara air keran di dapur, lalu langkah kaki Zoya yang menjauh menuju kamar tidurnya di lantai atas.
Kalandra butuh jawaban. Dia tidak bisa tidur dengan sejuta tanya di kepala.
Perlahan, Kalandra menaiki tangga. Dia berniat menyusul Zoya, memaksanya bicara jujur.
Langkahnya terhenti di depan koridor lantai dua.
Kamar utama ada di ujung kanan. Tapi Zoya punya satu kamar pribadi di ujung kiri yang selalu terkunci rapat.
Zoya selalu bilang itu "gudang tas dan sepatu"-nya, tempat privasi di mana pembantu pun dilarang masuk. Kalandra yang tidak peduli mode, tidak pernah mau repot-repot mengecek.
Tapi malam ini berbeda.
Pintu kamar "gudang" itu sedikit terbuka. Mungkin Zoya lupa menutupnya rapat saat mengambil sesuatu tadi sebelum pergi ke pelabuhan.
Celahnya hanya selebar jari, tapi cukup untuk mengintip. Cahaya lampu putih terang—terlalu terang untuk sebuah kamar tidur—memancar dari celah itu.
Jantung Kalandra berdegup kencang. Naluri detektifnya mengambil alih. Dia mendekat tanpa suara, menahan napas.
Apa isinya? Koleksi tas Hermes? Sepatu Louboutin?
Kalandra menempelkan matanya ke celah pintu.
Matanya terbelalak lebar.
Tidak ada lemari kaca berisi tas mahal. Tidak ada rak sepatu mewah.
Ruangan itu dingin, didominasi warna putih steril.
Di tengah ruangan, sebuah meja stainless steel panjang berdiri kokoh. Di atasnya bukan kosmetik, melainkan sebuah mikroskop elektron canggih dengan layar monitor ganda yang menyala menampilkan grafik DNA.
Di dinding, tidak ada lukisan estetik. Yang ada adalah papan tulis kaca penuh dengan rumus kimia, foto-foto anatomi tubuh yang mengerikan, dan kliping koran tentang kasus-kasus pembunuhan lama yang belum terpecahkan.
Dan di sudut ruangan, berdiri tegak sebuah kerangka manusia asli yang digantung rapi, seolah sedang menyambut tamu.
Kalandra mundur selangkah, kakinya lemas. Ini bukan kamar istri sosialita.
Ini laboratorium.
"Sialan," bisik Kalandra gemetar. "Siapa kamu sebenarnya, Zoya?"