Seorang wanita yang dikhianati dan dihancurkan hidupnya kembali ke masa kuliah 6 tahun lalu. Berbekal ingatan masa depan, ia bertransformasi dari si "Memey" yang naif menjadi Odelyn yang predator, demi menghancurkan pria yang pernah menghamilinya dan meninggalkannya begitu saja. Memiliki misi Glow Up dan pola hidup sehat secara ekstrem buat balas dendam. Tapi dia malah terjebak di tengah konflik keluarga konglomerat yang misterius.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ranu Kallanie Jingga, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Penjaga yang Terluka
Di ruang tengah yang megah namun dingin itu, Gavin Junior berdiri dengan dagu terangkat.
Alih-alih tertunduk malu, ia justru tertawa sinis menatap map yang diletakkan Odelyn.
"Bunda, Ayah... kalian terlalu naif," ucap Gavin Junior dengan nada meremehkan.
"Elise? Kalian tahu siapa dia di kampus? Dia bukan gadis polos dari desa. Kami sering ke klub malam bersama. Siapa yang bisa menjamin janin itu darah dagingku? Bisa saja itu anak salah satu pria di lantai dansa yang namanya pun dia tidak tahu."
Wajah Hediva memerah padam. Urat di lehernya menegang, tangannya mengepal begitu kuat hingga gemetar.
Odelyn kembali merasakan sesak di dadanya, penyakit asmanya seolah mengintai di balik tenggorokannya.
Mereka tidak menyangka putra mereka bisa bicara sekeji itu terhadap wanita yang sedang mengandung.
Tepat saat Hediva akan melangkah maju untuk memberikan "pelajaran" fisik, Zaidan bergerak lebih cepat.
Ia menahan lengan ayahnya.
"Ayah, Bunda... biar Zaidan yang bicara," ucap Zaidan dengan suara yang sangat tenang, namun memiliki kedalaman yang mampu meredam amarah di ruangan itu.
Malam itu, setelah ketegangan di ruang tamu mereda, Gavin Junior mendatangi kamar Zaidan.
Ia tidak lagi terlihat angkuh. Ia tampak seperti tikus yang terpojok.
"Zai... tolong aku," bisik Gavin Junior, suaranya parau.
"Kamu selalu jadi anak kesayangan Ayah dan Bunda. Kamu yang paling dekat dengan Elise. Kamu tahu dia orang baik, kan?"
Zaidan hanya diam, menatap saudaranya dengan pandangan yang sulit diartikan.
"Zai, kalau aku yang menikahinya, masa depanku di Vandermere hancur. Nenek akan membuangku. Tapi kalau kamu... kamu bisa bilang pada Ayah dan Bunda kalau kamu mencintainya. Kalian sering bertukar surat, kan? Bilang saja janin itu anakmu, atau bilang kamu bersedia menjaganya. Ayah pasti luluh kalau kamu yang minta,"
rayu Gavin Junior dengan licik.
Gavin Junior bahkan bersimpuh di kaki Zaidan.
"Tolong, Zai. Selamatkan kakakmu sekali saja. Aku berjanji akan berubah."
Zaidan tidak memberikan jawaban malam itu.
Selama seminggu penuh, ia menghabiskan waktunya di rumah sakit, duduk di samping tempat tidur Elise yang masih lemah.
Ia melihat bagaimana Elise menangis setiap kali mendengar nama Gavin Junior.
Dalam keheningan panjang di lorong rumah sakit, Zaidan merenung.
Ia melihat surat-surat Elise yang penuh dengan kejujuran dan luka.
Hati Zaidan yang murni merasa tidak tega melihat sahabat penanya dihina dan ditinggalkan.
"Elise... kamu tidak akan sendirian," bisik Zaidan pada suatu sore yang mendung.
Malam harinya, di meja makan, Zaidan mengangkat kepalanya. Ia menatap Hediva dan Odelyn secara bergantian.
"Ayah, Bunda... Zaidan sudah memutuskan," ucap Zaidan mantap.
"Zaidan yang akan menikahi Elise. Zaidan yang akan memberikan nama Vandermere pada anak itu secara sah."
Keheningan seketika menyelimuti ruangan. Bunyi denting sendok yang jatuh terdengar nyaring.
"Apa kamu bilang, Zaidan?!" Hediva berdiri, matanya membelalak tak percaya.
"Zaidan, jangan gila!" seru Odelyn, napasnya mulai tersengal lagi.
"Ini bukan kesalahanmu! Kamu punya masa depan yang cerah, kamu anak yang taat. Kenapa kamu harus menanggung dosa saudaramu yang tidak tahu malu itu?"
"Bukan soal menanggung dosa, Bunda," jawab Zaidan tenang.
"Ini soal melindungi nyawa.
Elise butuh perlindungan, dan bayi itu butuh seorang ayah yang tidak akan meragukannya. Kalau Gavin tidak mau, maka biarkan Zaidan yang maju."
Hediva mendekati Zaidan, memegang kedua bahu putranya.
"Tidak, Zaidan. Ayah tidak akan mengizinkanmu mengorbankan hidupmu untuk pengecut seperti dia. Ini salah! Ini bukan keadilan, ini adalah penghinaan bagi kejujuranmu!"
Odelyn pun ikut berdiri, air matanya jatuh.
"ayah mu benar, Zaidan. bunda tidak setuju. Bunda lebih baik melihat Gavin dipenjara atau dibuang dari keluarga ini daripada harus melihat kamu, putra Bunda yang paling berbakti, hidup dalam kebohongan besar."
Namun, Zaidan hanya menunduk. Ia tahu ini akan sulit.
Di sisi lain, Gavin Junior yang mengintip dari balik pintu tersenyum lega—sebuah senyuman penuh kemenangan yang sangat mirip dengan senyuman iblis yang dulu pernah menghancurkan hidup Odelyn.