Sahara adalah anak kandung yang terusir bersama dengan ibunya karena Fit-nahan yang di buat oleh wanita lain di hati ayahnya.
Mampukah Sahara memperjuangkan dan membersihkan nama ibunya dari fit-nah keji wanita yang tak lain adalah sahabat ibunya itu?
Akankah ayahnya percaya? baca terus kisah Perjuangan Sahara.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yam_zhie, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Sahara 18
"Kenapa sepi sekali? Apa gak ada orang lain yang bekerja disini selain dia?"seru Sahara saat tiba di lantai tiga puluh yang sepi. Tidak ada hiruk pikuk seperti di lantai bawah.
"Bodo amat lah. Gue kerja aja bersih-bersih. Daripada nanti kena semprot kan."ucap Sahara yang kemudian mulai membersihkan kaca yang ada disana.
"Kamu... Kemari..."panggil suara bariton di belakang Sahara. Sahara berbalik dan melihat siapa yang memanggilnya.
"Loh, bukannya itu pria yang tadi naik di lift yang sama denganku? Dan dia juga kan yang ada di tangga darurat tadi? Pria yang menyebalkan itu!Apa jangan-jangan dia CEO arogan yang di bicarakan itu. Alamat langsung di pecat baru juga diterima kerja."batin Sahara.
"Cepat... Kenapa Lelet? Kamu karyawan baru ya?" Teriak pria yang tak lain adalah Brian.
"Anda manggil saya pak?"tanya Sahara celingukan melihat ke kanan kiri dan belakangnya.
"Lah terus memangnya ada orang lain selain kamu dan saya disini?"jawab Brian kesal.
"Oh ya maaf, Pak. Jangan sewot-sewot, nanti darah tinggi. Ada yang bisa saya bantu?"tanya Sahara mendekat.
"Bawakan ini ke ruangan saya."ucap Brian.
Dia memberikan tas laptop miliknya dan juga map kepada Sahara kemudian mengambil ponsel dan menghubungi seseorang. Tapi Sahara masih disana menunggu Brian.
"Kenapa masih disini?" Tanya Brian.
"Maaf Pak. Ruangan bapak dimana ya? Bapak kan tau sendiri saya karyawan baru. Jadi tidak tau ruangan dan nama bapak."jawab Sahara sambil cengengesan membuat Brian mendengus.
Akhirnya dia berjalan didepan masuk kedalam ruangannya sambil tangannya sibuk dengan ponsel menghubungi seseorang yang tidak mengangkat panggilannya. Sahara mengikuti dari belakang langkah panjang Brian.
"Oh, CEO... Pantas saja bossy."batin Sahara saat masuk kedalam ruangan Brian. Dan di meja terlihat dengan jelas nama Brian.
Ruangan yang di dominasi warna abu-abu. Kemudian dia meletakan tas laptop juga map dengan pelan di meja milik Brian. Dia berbalik ke arah Brian yang masih sibuk dengan ponsel menghubungi orang yang tak mau dia hubungi sepertinya.
"Ada yang bisa saya bantu lagi Pak Brian? Jika tidak saya akan kembali bekerja di depan." Tanya Sahara pelan dan sopan.
"Tidak. Pergi saja, melihat wajahmu sedari tadi membuatku kesal saja! Seharian ini berkali-kali bertemu dengan kamu!" Jawab Brian membuat Sahara mencebikkan bibirnya kesal. Jika saja Brian bukan bosnya sudah dia pukul.
"Baiklah. Saya pamit Pak Brian."Sahara pergi dari ruangan Brian dan kembali berkutat dengan lap pel dan sapu.
"Cape juga baru juga satu jam. Pegal sekali pinggang dan tanganku."ucap Sahara lirih sambil meregangkan ototnya.
"Siapa namamu? Kamu Office girl baru kan?"tanya Raka yang baru saja keluar dari lift.
"Iya Pak. Nama saya Sahara, anda yang tadi di lift ya. Maaf saya salah masuk lift tadi,"jawab Sahara dengan sopan.
"Tidak apa-apa, lain kali tolong jangan di ulang dan membaut Pak Brian marah. bisa minta tolong buatkan dua kopi dan bawa ke ruangan Pak Brian. Kamu tau pantrynya dimana?"tanya Raka sopan.
Sahara a menggeleng. Karena memang dia tak sempat berkeliling dan langsung membersihkan koridor. Jadi dia tidak tau dimana letak Pantry khusus di lantai itu.
"Maaf saya belum sempat keliling di lantai ini. Karena langsung membersihkan koridor Pak."jawab Sahara sambil menggaruk tengkuknya.
"Kemarilah..!" Raka mengajak Sahara untuk ke pantry.
"Buat kopi dengan alat ini bisa kan?"tanya Raka. Sahara mengangguk.
"Takaran untuk Pak Brian jangan sampai salah. Satu setengah sendok teh gulanya dan sejumput garam. Dan untukku dua sendok teh tanpa garam. Faham?"tanya Raka kembali. Sahara mengangguk.
"Faham Pak? Maaf jika boleh tau nama Bapak siapa?" Tanya Sahara.
"Raka, Asisten Pak Brian."jawab Raka singkat dan pergi dari pantry.
"Ck... Gak Bos, gak Asistennya. Keduanya kaku dan suka marah-marah. Apa mereka tidak takut darah tinggi?" Kesal Sahara sambil tangannya sibuk membuat kopi untuk Brian dan Raka.
"Permisi Pak... Ini kopinya."Sahara datang dengan dua cangkir kopi dan menyimpan di atas meja.
"Tunggu...!"panggil Brian saat Shara akan pergi keluar dari dalam ruangannya.
Akhirnya dengan kesal, Sahara berbalik dan tersenyum kaku kepada Brian yang memanggilnya. Padahal sedari tadi dia ingin sekali segera pergi dari sana. Dan menghindar bertemu dengan pria yang menyebalkan itu.
"Ada lagi Pak?"tanya Sahara.
"Tunggu disana. Aku belum mencoba kopi buatanmu. Aku takut kamu adalah mata-mata dan meracuniku."ucap Brian membuat Sahara membolakan kedua matanya dengan malas.
Ada-ada saja kelakuan Bosnya. Apapun bebaslah kalau untuk seorang Bos. Brian meminum kopi buatannya.
"Kalau saya kesal biasanya saya akan taburkan sianida sekalian Pak."celetuk Sahara membuat Brian menatap tajam ke arahnya.
Tapi Sahara malah tersenyum dan mengangkat dua jarinya sambil nyengir kuda. Sedangkan Raka hanya geleng kepala, karena tingkah Sahara. Baru kali ini ada orang yang seberani itu kepada Brian.
"Aman kan Pak Brian? Tidak ada racun dan sianida. Takaran pas satu setengah sendok teh dengan sejumput garam tidak kurang dan tidak lebih."ucap Sahara saat menunggu beberapa menit dan Brian tidak komplain. Tapi malah sibuk dengan dokumen di depannya.
"Kamu bisa pergi Sahara."ucap Raka yang melihat Sahara masih diam di tempatnya.
"Baik terimakasih Pak Raka."jawab Sahara kemudian pergi.
"Wanita itu terlihat berani juga. Kita lihat berapa lama dia bertahan disini."ucap Brian.
Memang dia sangat tidak suka dengan pada OB atau OG yang berada di lantainya. Apalagi yang bekerja adalah OG. Karena kebanyakan dari mereka suka sekali menggoda dirinya dan juga ada salah satunya dari mereka yang merupakan mata-mata lawan bisnisnya. Dan mengambil berkas penting milik perusahaan. Padahal tidak semua seperti itu. Tapi karena sudah kesal maka Brian memukul rata semua kelakuan mereka. Sehingga tak ada yang bertahan di lantainya. Tak ada yang lebih dari satu Minggu.
"Kamu dengar percakapan dia saat di lift bersama dengan temannya kan?" Raka mengangguk.
"Iya. Dia tadi menyebut nama Galih. Ternyata dia satu kampus dengan Galih. Berarti dia harusnya dari kalangan orang berada. Karena bisa masuk kampus mahal dan unggulan."ucap Raka yang heran karena Sahara bisa masuk ke kampus itu. Tapi kenapa dia malah magang disini.
"Aku minta data wanita itu. Aku takut kalau dia adalah mata-mata."khawatir Brian.
"Baiklah nanti aku akan minta kepada bagian HRD."jawab Raka.
Sedangkan Sahara masih berkutat dengan perkerjaannya. Dia harus semangat agar bisa mendapatkan biaya tambahan untuk ibunya. Karena jika mengandalkan dari hasil balapan tidak selalu ada setiap saat. Sedangkan berharap dari Papanya. Adalah hal mustahil karena nenek sihir itu sudah lebih dulu mengambil uang hak dirinya. Dia ingin mewujudkan keinginan ibunya yang akan membuka usaha catering.
salam sehat selalu outhor syantik ku 🫶🫶🫶🫶