Bagi Adrian Dirgantara, hidup adalah angka dan algoritma dari lantai 50 gedung pencakar langit. Namun, semua berubah saat ia mewarisi Dirgantara Tea Estates—perkebunan teh bangkrut yang penuh utang dan petani keras kepala.
Ambisi Adrian hanya satu: menjual tanah itu dan kembali ke kota. Tapi wasiat ayahnya mengikat: tanah tak boleh dijual sebelum ia berhasil memanen teh kualitas "Grade A".
Di tengah kabut pegunungan, Adrian berhadapan dengan Sekar, agronomis desa yang menganggapnya "hama kota". Terjepit antara debt collector dan lumpur perkebunan, Adrian harus memilih: memaksakan teknologi canggihnya, atau belajar bahwa tidak semua hal di dunia ini bisa diselesaikan dengan satu klik aplikasi.
Satu musim, satu panen, atau kehilangan segalanya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon indri sanafila, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 30: Cermin Retak di Dasar Laut
Suasana di dalam gua karang itu mendadak jadi dingin banget, tipe dingin yang bukan cuma bikin menggigil, tapi bikin hati kerasa beku. Di luar jendela, lautan cahaya perak yang tadi tenang sekarang bergejolak kayak air mendidih.
Raksasa bayangan yang mirip Adrian dewasa itu nggak lari atau menyerbu, dia cuma jalan pelan di atas permukaan air, tapi setiap langkahnya bikin suara dentuman yang ngebakar udara.
Sekar meluk Adrian kecil makin erat. Anak itu gemeteran, wajahnya disembunyiin di ceruk leher Sekar. Sementara itu, Aris udah standby di dalem bunker "Akar Sejati". Dia nangkring di kursi pilot yang udah somplak, tangannya sibuk mencet-mencet tombol radiator antar-dimensi yang tadi habis dioprek bareng si bocah.
"Aris! Siap-siap! Mereka makin deket!" teriak Sekar.
"Sabar, Kar! Gua lagi nyetel frekuensinya biar pas sama energi si bocah! Kalau meleset dikit, kita semua bisa jadi nasi goreng gosong!" bales Aris dari dalem bunker.
Tiba-tiba, suara raksasa bayangan itu menggema di dalem kepala Sekar. Suaranya berat, persis suara Adrian pas lagi mode The Shark dingin, penuh perintah, dan nggak punya perasaan.
"Sekar... kenapa kamu malah melindungi ampas itu?"tanya si Raksasa Bayangan. Dia berhenti tepat beberapa puluh meter di depan gua. Wajah bayangannya yang gelap perlahan ngebentuk senyum yang sangat sinis. "Lihat dia. Lemah. Penakut. Menangis cuma karena sedikit kegelapan. Apa itu yang kamu inginkan? Seorang beban?"
"Dia bukan beban! Dia adalah hati lu yang lu buang, Adrian!" Sekar teriak balik, meski suaranya sedikit gemetar.
Si Raksasa Bayangan ketawa, suaranya kayak logam yang bergesekan. "Hati? Hati nggak akan bisa bawa kamu balik ke bumi. Hati nggak akan bisa ngalahin The Watchers.
Ikutlah denganku. Serahkan anak itu biar aku serap kembali. Aku punya kekuatan buat bangun kembali Dirgantara Group di dimensi mana pun. Kita bisa jadi penguasa, Sekar. Kamu nggak perlu lagi nanem teh di tanah becek. Kamu bisa punya segalanya."
Sekar natap mata hitam pekat raksasa itu. "Lu nggak ngerti ya? Gua nggak pernah butuh harta lu. Gua cuma butuh Adrian yang bisa ngerasain wangi teh Malabar, bukan robot yang cuma mikirin angka!"
Pas omongan Sekar selesai, pasukan bayangan yang lebih kecil makhluk-makhluk hitam yang merangkak kayak laba-laba mulai nyerbu masuk ke dalem gua. Mereka nggak punya wajah, cuma siluet gelap yang haus akan cahaya.
"Wak Haji! Mereka masuk!" teriak Aris.
Wak Haji yang dari tadi cuma diem sambil megang tasbih kayu, tiba-tiba berdiri di depan tanaman teh yang baru ditanam Sekar. "Neng Sekar, jangan takut. Biarkan tanaman ini yang bicara. Ingat, ini tumbuh dari harapanmu."
Begitu pasukan bayangan itu mau nerkam Sekar, tanaman teh pelangi itu mendadak bereaksi. Daun-daunnya yang lebar mulai memanjang, bergerak lincah kayak cambuk tapi gerakannya halus banget.
Tapi tanaman ini nggak nusuk atau ngehancurin. Begitu daun-daun itu nyentuh makhluk bayangan, daun itu melilit mereka dengan lembut.
SREEEET...
Cahaya emas keluar dari urat-urat daun teh itu. Di dalem lilitan itu, makhluk-makhluk bayangan itu bukannya meledak, tapi malah kelihatan... tenang. Mereka mulai nampilin potongan-potongan memori. Ada yang nampilin memori seorang ibu lagi nina-boboin anaknya, ada yang nampilin tawa temen lama.
"Mereka itu bukan monster, Neng," bisik Wak Haji. "Mereka itu potongan emosi yang hilang. Tanamanmu lagi kasih mereka 'pulang' sebentar."
Begitu memori itu muncul, makhluk bayangan itu memudar jadi partikel cahaya dan ilang dengan damai. Barisan pertahanan pertama Sekar berhasil nahan serbuan itu tanpa harus ada pertumpahan darah.
Tapi si Raksasa Bayangan di luar makin marah liat anak buahnya ilang begitu aja. Dia ngangkat sabit merahnya tinggi-tinggi. "Main-mainnya cukup sampai di sini!"
Dia nebas sabitnya ke arah gua. Sebuah gelombang energi merah yang sangat kuat melesat, siap buat ngeratain gua karang itu jadi debu.
"SEKARANG, RIS!" teriak Sekar.
Aris di dalem bunker langsung narik tuas radiator. "MAKAN NIH, TEKNOLOGI BENGKEL MALABAR!"
ZZZZZTTTTT-BOOOOOM!
Sebuah perisai frekuensi warna biru transparan muncul di depan gua. Gelombang merah itu nabrak perisai itu dengan keras. Bunker Aris sampe goyang-goyang, baut-bautnya pada copot, tapi perisainya tetep kokoh.
Payoff dari perbaikan mesin tadi kerasa banget. Radiator yang tadinya cuma barang rongsokan, sekarang jadi jantung pertahanan mereka. Sinyalnya stabil banget karena Adrian kecil tadi nyambungin kabelnya pake insting "murninya".
"GILA! BERHASIL, KAR! SI BOCAH EMANG JENIUS!" Aris kegirangan di dalem kokpit, meski dia harus megangin kabel yang lagi korslet pake baju cadangannya.
Raksasa Bayangan itu kelihatannya makin nggak sabar. Dia mulai jalan nembus air, tiap langkahnya bikin perisai Aris bergetar hebat. Dia bener-bener mau masuk secara fisik.
Adrian kecil yang tadi sembunyi, tiba-tiba ngintip dari balik bahu Sekar. Dia liat raksasa yang mirip dirinya itu makin deket. Dia liat Sekar yang udah keringetan nahan takut, dia liat Aris yang berjuang di bunker, dan dia liat Wak Haji yang terus berdoa.
"Kakak... itu aku yang nakal ya?" tanya Adrian kecil pelan.
Sekar nengok, dia ngusap pipi Adrian kecil. "Itu cuma bagian dari kamu yang lagi lupa cara jadi baik, Dri."
"Dia mau sakitin Kakak?"
"Gua nggak bakal biarin dia, Dri."
Tiba-tiba, si Raksasa Bayangan udah nyampe tepat di depan perisai. Dia nempelin telapak tangan hitamnya ke perisai biru Aris. "Buka... ini adalah rumahku. Berikan anak itu kepadaku!"
Tekanannya gede banget. Perisai biru itu mulai retak. Aris di dalem bunker mulai panik karena radiatornya mulai ngeluarin api. "KAR! GUA NGGAK BISA NAHAN LAGI! ENERGINYA TERLALU GEDE!"
Pas perisai itu akhirnya pecah dengan suara kayak kaca hancur, si Raksasa Bayangan ngulurin tangan itemnya ke arah Sekar. Pasukan bayangan lainnya juga ikut merangsek masuk, kali ini jumlahnya ribuan.
Sekar terdesak ke pojok gua. Dia meluk Adrian kecil, nutup matanya, siap buat kemungkinan terburuk. "Dri, apapun yang terjadi, jangan lepasin tangan gua..."
Di saat Sekar udah pasrah, dia ngerasain sebuah tangan kecil megang telapak tangannya. Tangan itu mungil, tapi mendadak kerasa sangat hangat... panas... dan bergetar hebat.
"JANGAN... SAKITIN... KAKAK SEKAR!" teriak Adrian kecil.
WAUUUUMMMMM!
Sebuah ledakan cahaya emas murni keluar dari badan Adrian kecil. Cahayanya beda banget sama cahaya mesin atau cahaya alien. Ini cahaya yang rasanya kayak pelukan ibu, kayak sinar matahari jam 7 pagi di kebun teh, kayak rasa syukur yang luar biasa.
Cahaya itu ngerambat lewat tangan Sekar, terus meledak ke seluruh penjuru gua. Makhluk-makhluk bayangan yang tadi menyerbu langsung lenyap seketika, kayak embun yang kena matahari.
Si Raksasa Bayangan terpental jauh ke luar gua, terseret sampai ke lautan cahaya perak. Dia ngerungkes, badannya yang hitam pekat mulai kelihatan transparan karena nggak kuat nahan murninya energi "Sari Jiwa" dari Adrian kecil.
Sekar ngebuka matanya, kaget liat pemandangan di depannya. Seluruh gua karang itu sekarang bersinar emas. Dan yang paling ajaib, tanaman teh yang ditanam Sekar mendadak tumbuh raksasa, daun-daunnya ngebentuk singgasana pelindung di sekeliling mereka.
"Gila... si bocah... dia beneran The Singularity," gumam Aris yang keluar dari bunker dengan rambut jabrik kena setrum.
Adrian kecil napasnya tersengal-sengal. Dia kelihatan capek banget, matanya yang emas mulai meredup lagi, dan dia balik jadi anak kecil yang lemes. Dia ambruk di pelukan Sekar.
Wak Haji nyamperin, dia ngecek nadi Adrian kecil. "Dia cuma capek, Neng. Kekuatan jiwanya terlalu besar buat wadah sekecil ini. Tapi sekarang Si Tamu tahu... kalau ampas nggak akan pernah bisa menang lawan sari."
Suasana jadi tenang sebentar. Raksasa Bayangan itu masih ada di kejauhan, duduk di atas bangkai kapal alien sambil natap gua dengan benci. Dia nggak bisa masuk lagi untuk sementara, tapi dia juga nggak pergi. Dia nunggu.
"Kita aman sekarang, Wak?" tanya Aris sambil nyoba benerin radiatornya lagi.
"Untuk saat ini, iya. Tapi ingat, Menara Hitam itu masih punya banyak rahasia," jawab Wak Haji sambil natap ke jendela.
Tapi tiba-tiba, Jantung Emas yang melayang di tengah ruangan ngeluarin suara bip-bip yang aneh. Proyeksi hologram Ibu Adrian muncul lagi, tapi kali ini gambarnya keganggu sama garis-garis statis hitam.
"Sekar... Aris... dengarkan baik-baik..."suara Ibu Adrian terdengar terburu-buru. "The Watchers sudah bosan menunggu. Mereka akan mengirimkan 'The Eraser' (Penghapus). Kalian tidak punya waktu lagi untuk beristirahat. Kalian harus membawa Adrian ke puncak Menara Hitam sebelum matahari Sub-Root ini tenggelam."
"Tenggelam? Emangnya kenapa kalau tenggelam, Wak?" tanya Aris cemas.
Wak Haji wajahnya berubah jadi sangat pucat. "Kalau matahari di sini tenggelam, Sub-Root akan melakukan 'Flush' (Pembersihan).
Semua yang ada di sini, termasuk kita, akan dibuang ke ruang hampa yang nggak ada ujungnya. Kita bakal bener-bener ilang dari sejarah."
Sekar ngelihat ke arah langit luar. Cahaya biru laut yang tadi nenangin, sekarang pelan-pelan mulai berubah jadi warna abu-abu gelap. Matahari semesta mereka mulai turun nuju ke garis laut cahaya perak.
"Berapa lama lagi waktu kita?" tanya Sekar sambil berdiri, dia menggendong Adrian kecil di punggungnya pake kain sarung Wak Haji.
"Mungkin cuma satu jam bumi," jawab Wak Haji.
Tiba-tiba, dari arah Menara Hitam, suara lonceng raksasa kedengeran. TENG... TENG... TENG...
Setiap bunyi lonceng itu, lautan cahaya perak di bawah mulai surut dengan cepat, ninggalin lubang-lubang hitam besar di dasar laut. Semesta ini bener-bener lagi mau "dibuang".
Dan yang lebih parah lagi, di puncak Menara Hitam, Sekar liat ada sesuatu yang mulai turun. Bukan cuma raksasa bayangan, tapi ribuan pintu dimensi terbuka di udara, dan dari sana keluar mesin-mesin penghancur berbentuk kubus hitam yang sangat besar.
Itu adalah The Eraser.
"Aris! Paksa bunker itu jalan! Kita harus ke menara sekarang juga!" perintah Sekar. Ketangguhan Adrian seolah-olah udah pindah sepenuhnya ke dia. Dia nggak nunggu instruksi lagi, dia yang mimpin sekarang.
Aris langsung loncat ke kokpit. "Siap, Bos! Eh, maksud gua, Komandan Sekar! Kita gas pol sekarang!"
Tapi pas bunker baru mau jalan, lantai gua karang itu mendadak retak hebat. Dari bawah pasir putih, muncul tangan-tangan mekanik raksasa milik The Eraser yang mau narik bunker mereka jatuh ke lubang pembuangan.
"WAK! PEGANGAN!" teriak Sekar.
Mampukah bunker "Akar Sejati" keluar dari gua yang mulai runtuh sebelum ditarik oleh mesin The Eraser? Bagaimana cara Sekar membawa Adrian kecil mendaki Menara Hitam di tengah kejaran raksasa bayangan dan pembersihan dimensi yang sedang berlangsung?
Dan yang paling penting, apa yang akan terjadi jika Adrian kecil terpaksa menyatu dengan "Ampas Ego"-nya di puncak menara? Apakah dia akan kembali menjadi Adrian yang mereka kenal, atau justru menjadi ancaman yang jauh lebih besar bagi seluruh semesta?
semangat update terus tor..