"Manut yo, nek gak manut koe mau jadi anak durhaka!?"
"Perempuan iku musti ayu! musti lues! musti biso sekabehane! Koe ndak perlu berpendidikan tinggi, cukup jadi perempuan yang cantik, semua materi datang padamu, nduk."
Lahir dari keluarga miskin, tinggal di rumah gubuk, tapi memiliki orang tua yang berambisi tinggi untuk menjadi kaya. Rukmini, di tempa menjadi anak yang serba bisa. Dia anak satu - satunya tapi tercekik oleh ke egoisan orang tuanya, sehingga tumbuh dendam dan kebencian pada orang tua nya.
Dia melawan aturan, melawan takdir bahkan melawan Tuhan nya, dengan membuat ikatan perjanjian darah dengan yang gelap hanya agar dia bebas dari orang tua nya, tidak peduli apa konsekunsinya..
"WANI TEKO WANI MATI!"
[Novel RUKMINI ini adalah kisah lengkap tentang Rukmini, Sosok ibu yang ada di novel SUARA]
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ratna Jumillah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
EPS. 7. Darah yang tumpah pertama kali. [RUKMINI]
Ayah Rukmini itu gelap mata, dia berkali - kali membacok wa Parto sampai wa Parto bersimbah darah dan tidak bergerak. Tangan, pundak, punggung, dada, perut, kaki, semua nya kena amukan parang ayah Rukmini, Rukmini yang melihat itu menangis sesenggukan di semak - semak. Rukmini kecil menyaksikan ayah nya membunuh wa Parto, di depan mata nya sendiri.
"Hiks! Hiks! Hiks!"
Yang terakhir bahkan ayah Rukmini melayangkan parang nya itu ke leher wa Parto dengan kuat - kuat sampai akhir nya kepala dan badan wa Parto terpisah, Setelah melakukan itu ayah Rukmini terengah - engah dan seolah baru sadar dirinya telah menghabisi nyawa Parto.
"Bapak, Hiks.. hiks.." Rukmini kecil menangis, ayah Rukmini jatuh terduduk. Dia menatap jasad Parto yang tanpa kepala itu dengan nanar.
"Aku mateni (bunuh) Parto." Gumam nya dengan tangan gemetar.
"Rukmini, koe di sini saja. Bapak mau kubur bajingan iki, ojo nangis!" Ucap ayah Rukmini, Rukmini tentu hanya bisa diam saja.
Ayah Rukmini pergi dari sana dan tak lama dia membawa cangkul, dia menggali tanah yang lumayan dalam lalu dia menendang tubuh Parto tadi hingga jatuh di dalam gaian tanah yang ayah Rukmini gali tadi, barulah ayah Rukmini melemparkan kepala wa Parto yang mata nya terbuka itu lalu ayah Rukmini menimbun tubuh Parto.
Saat itu tiba - tiba langit menjadi mendung dan turun gerimis, setelah mengubur jasad Parto, ayah Rukmini juga mencangkuli semua tanah di sekitar agar tidak terlihat ada galian baru. Semua tanah di sekeliling kuburan Parto itu di tanami batang - batang pohon singkong, jadi yang melihat akan mengira ayah Rukmini baru menanan singkong.
Setelah selesai, ayah Rukmini lalu melirik Rukmini yang masih duduk ketakutan di tempat yang sama, ayah Rukmini tidak mengatakan apapun dan pergi meninggalkan Rukmini.
"Bapak.. hiks.. hiks.." Rukmini menangis, dia takut sekarang karena ayah nya sudah tau dirinya di lecehkan wa Parto.
Tapi, Rukmini yang semula menunduk ketakutan itu menatap ke arah gundukan tanah dimana Parto di kuburkan, entah kenapa dia malah lega karena Parto mati, itu artinya tidak akan ada yang mengganggu nya lagi di masa depan.
Rukmini lalu bangun dari duduk nya, dia kemudian menghampiri gundukan tanah itu dan menginjak - injak gundukan itu, seolah dia menginjak - injak Parto. Seolah tumbuh dendam di hati anak berusia 12 tahun itu..
Rukmini pulang ke rumah nya, terlihat bapak nya sedang merokok di depan rumah dan ibunya duduk sambil memegangi gitik (tongkat bambu kecil) wajah kedua nya tidak ramah sama sekali. Rukmini menelan ludah nya, dia tahu dia akan di marahi bahkan di pukuli.
"Sini kamu!" Panggil ibunya, Rukmini menunduk dan kemudian berjalan menghampiri ibunya.
"Duduk!" Ucap ibunya, Rukmini duduk di tanah dengan masih menunduk.
"Gak isin (malu) koe, hah!?" Ucap ibunya, Rukmini tidak mengerti arah pembicaraan ibunya.
"Maksud nya gimana, bu?" Tanya Rukmini bingung.
"Rukmini, koe sudah rusak! Nanti koe ndak bisa menikah sama perjaka, siapa yang mau sama koe?!" Ucap ibunya, marah.
"Kok bisa koe di gitukan sama wa Parto!?" Tanya bapak nya, Rukmini seperti di introgasi.
"Wa Parto paksa Mini, pak." Jawab Rukmini, air matanya meleleh..
"Koe kan bisa teriak! Koe ndak bisa lawan memang!?" Ucap ibunya, Rukmini hanya bisa menunduk sambil menggeleng.
Bagaimana mungkin dia yang tubuh nya jauh lebih kecil itu bisa melawan pria dewasa yang tubuh nya jauh lebih besar dan kuat darinya, selain itu.. Dia juga takut jika ketahuan oleh orang tua nya.
"Goblok!" Bentak ibunya, lalu sabetan dari stik bambu itu akhir nya mengenai tubuh Rukmini.
Dia korban, tapi dia juga yang mendapat pukulan berkali - kali. Rukmini sama sekali tidak melawan, dia hanya diam saja sambil menangis tanpa suara. Pundak, punggung, lengan, paha semua kena sabetan.
"Bu, sakit." Ucap Rukmini, saat tubuh nya benar - benar tidak kuat lagi menahan pukulan.
"Baru ngerti sakit sekarang, koe!?" Ucap ibunya Rukmini, dia berhenti memukul.
"Apa koe beneran sudah hilang perawan, Rukmini?!" Tanya bapak nya, karena dia memergoki Parto sedang menggauli Rukmini, Rukmini mengangguk.
"Wa Parto bilang nek Mini teriak nanti mau di aduin ke bapak, jadi nya Mini ndak berani teriak tiap kali wa Parto maksa Mini." Ucap Mini, kedua orang tua nya tertegun.
"Opo maksude?" Tanya ibunya.
"Koe sudah berkali - kali sama wa Parto?!" Tanya bapak nya, Mini mengangguk.
"AARGH!!!" Bapak Rukmini membanting gelas berisi teh manis nya sampai Rukmini terlonjak kaget.
"Pancen bajingan!" Umpat bapak Rukmini, dia marah sekarang. Ibunya Rukmini sudah tidak bisa berkata - kata lagi.
"Ayo melu (ikut)!!" Ucap ibunya, dia menarik Rukmini masuk kedalam rumah.
"Koe mandi, bersih - bersih. Ibu panggil wa Minten dulu." Ucap ibunya, Rukmini hanya mengangguk.
Rukmini patuh, dia mandi dan sudah duduk di kamar nya lagi, tapi sekarang dia jadi melamun karena memikirkan nasib nya. Tak lama ibunya datang membawa perempuan tua yang mulut nya merah menyala karena memakan kinang, dialah wa Minten atau lebih di kenal dukun bayi atau paraji.
"Koe manggil aku mrene mau meriksa sopo? Koe hamil lagi, tah?" Tanya wa Minten pada ibunya Rukmini.
"Bukan mbak, tolong periksa Rukmini. Dia sudah hamil apa belum." Ucap ibunya Rukmini, wa Minten terkejut.
"Lho! emang nya Rukmini sudah di nikahkan?" Tanya wa Minten, ibunya Rukmini menggeleng.
"Dia di perkosa." Ucap ibunya Rukmini, wa Minten makin terkejut lagi.
Akhir nya wa Minten mendekat, Rukmini juga seolah sudah tau harus bagaimana dia merebahkan dirinya di ranjang. Wa Minten lalu mengurut perut Rukmini, tapi ya jelas tidak ada apa - apa, Rukmini bahkan baru sembuh dari menstruasinya.
"Kosong kok." Ucap wa Minten.
Ibunya Rukmini sendiri juga lupa Rukmini baru mengalami menstruasi, saking tidak perhatian nya pada anak sendiri. Setelah di nyatakan tidak hamil, ibunya Rukmini lalu mengantar wa Minten itu pulang.
Rukmini kembali menangis di kamar nya sendiri, dia sangat takut. Tapi setidak nya ke khawatiran nya sedikit berkurang karena wa Minten menyatakan dirinya tidak hamil..
________________________________________________
Setelah hari itu, hari - hari selanjut nya Rukmini jadi anak yang murung. Dia tidak mau keluar rumah sampai hampir satu bula karena malu, padahal bahkan kabar dirinya di perkosa tidak sampai ke siapapun kecuali wa Minten.
Rukmini sering melamun, tidak mau bekerja jauh - jauh karena trauma, alhasil Rukmini jadi anak rumahan. Dia hanya menggarap ladang sekitaran rumah, seperti kebun pisang nya dan sayur - sayuran yang dia tanam. Dan karena itu, ibunya semakin sering memarahi nya.
"Memang nya koe iki tuan putri?! Nyuci di kali sana! Jangan sok manja - manja! Ndak ngalem!" Ucap ibunya, Rukmini menangis.
"Nangis! Nangis! Nangis! Bisa nya mung cuma nangis!!" Ucap ibunya.
"Bapak ibumu iki orang miskin, Rukmini! Koe ndak mau bantu bapak ibumu, hah!!" Bentak ibunya.
"Mini takut bu." Ucap Rukmini, ibunya berkacak pinggang.
"Paling - paling di perkosa! Toh koe sudah ndak prawan, memang nya apa lagi yang mau di jaga?!" Bentak ibunya.
"DEG!!" Rukmini menatap ibunya dengan tatapan tidak percaya, ibunya tega sekali mengatakan demikian.
"Ibu kok ngomong nya gitu." Ucap Rukmini, dia menangis.
"Supaya koe sadar! Koe sudah ndak perawan ndak akan ada yang mau sama kamu!"
BERSAMBUNG!
menarik dan makin penasaran...🤔🤔