Axlyn mengira ia akan selamanya menjadi sosok yang terlupakan oleh seorang Kayvaran Cano Xavier sejak kejadian 5 tahun yang lalu di Kota Xennor. Namun, siapa sangka takdir malah mempertemukan mereka kembali hingga tanpa sengaja bibit kembar Kay kini tumbuh di dalam perutnya.
Dimana Axlyn malah terjebak menjadi pengawal pribadi dari gadis kecil yang ia kira sebagai putri kandung Kay. Axlyn dituntut untuk melindungi anak dari pria yang menjadi ayah dari dua janin yang tengah dikandungnya.
“Kay, apa yang harus aku lakukan dengan dua janin yang tidak berdosa ini? Haruskah aku kembali memasuki hidupmu demi anak kita atau tetap menjadi yang terlupakan?”
Akankah Axlyn memberitahukan tentang kehamilannya? Ataukah Kau yang lebih dulu mengingat kembali tentang Axlyn? Atau mungkin takdir kembali mempermainkan kisah mereka?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Phopo Nira, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 26
“Dia merasa kesakitan di bagian perutnya. Periksa sekarang,” jawab Kay tegas. Tidak ada nada CEO dingin di sana. Hanya… ketakutan dan kekhawatiran yang terlihat sangat nyata di mata Axlyn kala itu.
Kay kemudian meletakkan tubuh Axlyn di atas ranjang periksa. Saat tangannya terlepas dari tubuh Axlyn, entah kenapa Axlyn merasakan udara terasa lebih dingin. Dokter mulai melakukan tugasnya, memeriksa tubuh Axlyn dengan teliti dan hati-hati mencari sumber lukanya. Sampai akhirnya pandangan sang dokter tertuju pada bercak darah di celana yang Axlyn kenakan saat itu.
“Ini bukan hanya sakit biasa, Tuan,” kata dokter pelan namun serius. “Sepertinya Nona ini sedang—”
Perkataan sang dokter seketika terhenti saat Axlyn menggenggam tangannya kuat. Kepalanya menggeleng seolah meminta pada dokter itu untuk tidak mengatakan yang sebenarnya. Untuk sesaat sang dokter kebingungan, hingga akhirnya ia mengerti posisi Axlyn dan memilih membantunya.
“Sedang apa, Dok?” desak Kay yang penasaran bukan main. “Kenapa kau tidak melanjutkan ucapanmu?”
“Maaf, Tuan! Sebaiknya anda keluar lebih dulu agar saya bisa memeriksa dan merawatnya dengan fokus.”
Bukannya menjawab, Dokter itu malah langsung meminta Kay keluar dari ruang pemeriksaan. Dan tanpa menunggu tanggapan dari Kay, Dokter itu langsung mendorongnya keluar. Dan bahkan mengunci pintunya dari dalam.
“Kenapa anda tidak memberitahukan tentang kehamilan anda ini, Nona? Sangat berbahaya bekerja sebagai pengawal dengan keadaan anda yang sedang mengandung dengan usia kandungan yang masih sangat muda ini,” ceramah sang Dokter mulai memasangkan infus dipergelangan tangan Axlyn, ditambah beberapa obat untuk mencegah pendarahan yang sedang Axlyn alami.
“Terima kasih, Dok! Sudah mau membantuku menyembunyikan hal ini,” ucap Axlyn mengabaikan ceramah panjang sang dokter.
“Aku sudah memberikan obat untuk menghentikan pendarahannya,” jelas sang dokter. “Namun, untuk lebih memastikan keadaan bayinya… Aku akan melakukan USG. Kau tidak keberatan, bukan?”
Axlyn hanya menganggukkan kepalanya sebagai jawaban. Rasa nyeri itu belum juga mereda saat dokter mulai membersihkan darah yang mengalir disela pahanya. Setiap sentuhan kapas dan cairan antiseptik membuat tubuhku menegang.
Tapi yang membuat Axlyn benar-benar gemetar bukanlah rasa sakitnya. Melainkan pikiran yang sejak tadi berputar liar di kepalanya. Dua bulan, seperti kata dokter usia kandungannya baru dua bulan. Usia yang masih sangat muda dan rawan keguguran.
Tangan Axlyn refleks berpindah dari sisi ranjang ke perutnya sendiri seraya berkata, “Bertahan ‘lah, Sayang! Maaf, mamah membuat kalian berada dalam bahaya seperti ini.”
“Ada pendarahan,” ujar dokter itu dengan tenang namun tegas. “Tapi beruntung suamimu membawamu ke sini tepat waktu.”
Axlyn menelan ludah. Andai saja, Kay menjadi suaminya sungguhan maka ia tidak akan menanggung semua ini sendirian. Sayangnya, Kay melupakan tentangnya dan Axlyn sendiri tidak ingin mengganggu kehidupan Kay hanya karena kehamilannya ini.
Ingatannya melompat pada pertarungan tadi dimana kilatan pisau, pukulan yang menghantam sisi tubuhnya, rasa sakit yang sempat ia abaikan. Namun rasa nyeri ini berbeda. Lebih dalam seolah mengancam dua nyawa yang kini berlindung di dalam rahimnya.
“Anak saya…?” bisiknya hampir tak terdengar.
Dokter itu menatap monitor ultrasonografi, lalu tersenyum tipis. “Dua bulan ‘yah? Dan bukan satu.” Ia menggeser layar agar Axlyn bisa melihat dua denyut kecil yang berkedip seperti bintang. “Kembar. Keduanya masih bertahan, tapi detak jantung salah satunya sedikit melemah.”
Air mata Axlyn mengalir tanpa bisa ia tahan. “Masih… hidup? Mereka masih ada ‘kan, Dok?”
“Ya. Kami akan berikan penanganan untuk menghentikan pendarahannya dan obat penguat kandungan. Kamu harus istirahat total setelah ini. Tidak ada lagi pertarungan, tidak ada stres berlebihan.” Nada suara dokter berubah lebih lembut. “Kamu beruntung kali ini, tapi mungkin tidak lain kali. Sebaiknya anda berhenti dari pekerjaan anda ini, Nona. Setidaknya sampai kedua anakmu lahir jika memang kau menginginkan anak ini ada.”
“Dok, aku mohon rahasiakan tentang kehamilanku ini dari semua orang, terutama pria yang saat ini berada di luar itu,” pinta Axlyn dengan wajah memohon. “Dia bukan suamiku, meski dia ayah kandung dari anak ini. Hubungan kami… cukup rumit untuk—”
“Baiklah, aku mengerti, Nona! Kau tenang saja, aku akan membantu anda merahasiakan tentang ini,” potong sang Dokter yang merasa kasihan kepada Axlyn yang tampak putus asa.
“Terima kasih, Dok!” ucapnya lirih.
Axlyn memejamkan mata, membiarkan tangisnya tumpah dalam diam. Sherin—kakaknya memang benar, tidak seharusnya ia menerima tugas ini sejak awal. Kini rasa penyesalan mulai menyelinap di benaknya, ia merasa bersalah pada dua janin yang kini hanya bisa menggantungkan hidupnya kepadanya.
...****************...
Di luar ruang pemeriksaan, Kay berdiri dengan kedua tangan terkepal. Noda darah di kemeja putihnya baru ia sadari sekarang. Ia menatap pintu bertuliskan “Dilarang Masuk” seolah bisa menembusnya dengan tatapan saja.
“Apa lukanya parah?” Kay bertanya pada dirinya sendiri, karena ia hanya sendirian di sana,
“Aku yakin sekali dia tidak terkena serangan itu sama sekali,” gumamnya singkat. Rahangnya mengeras. “Aku yakin dia tidak tersentuh oleh mereka, tapi kenapa dia berdarah dan kesakitan?”
Kata berdarah dan kesakitan itu membuat jantungnya berdegup tak beraturan. Semua orang mengatakan bahwa dirinya tidak mengenal wanita itu sebelumnya, tapi entah mengapa hatinya selalu mengatakan yang sebaliknya. Ia yakin mereka saling mengenal, bahkan lebih dari sekadar teman. Ditambah dengan perkataan Noah sebelumnya dan juga ingatan yang beberapa kali masuk ke dalam kepalanya.
Meski di kepalanya kini masih hanya ada ruang kosong tentang Axlyn. Anehnya, ketika Axlyn terluka, dadanya terasa seperti diremas tangan tak terlihat. Seolah tubuhnya mengingat sesuatu yang otaknya tak mampu jangkau.
Kay menunduk, mengusap wajahnya dengan frustasi. “Kenapa rasanya… seperti kehilangan sesuatu yang bahkan tidak kuingat pernah kumiliki…” gumamnya.
“Kenapa lama sekali…” Kay menjadi tidak sabaran. Ia tidak mengerti mengapa jantungnya terasa diremas seperti ini. Perasaan khawatir, takut dan sedih tidak bisa ia gambarkan lagi dengan kata-kata.
Kay menyandarkan punggung ke dinding, mengusap wajahnya kasar. Bayangan Axlyn tersenyum padanya… senyum yang terasa begitu familiar muncul sekilas dalam benaknya. Bayangan yang tidak memiliki konteks, namun penuh emosi.
“Jangan kenapa-kenapa… aku mohon,” bisiknya tanpa sadar.
Bersambung ….
𝘔𝘢𝘢𝘧 𝘺𝘢𝘩 𝘒𝘢𝘬, 𝘳𝘦𝘢𝘥𝘦𝘢𝘳𝘴 𝘮𝘶 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘴𝘢𝘵𝘶 𝘪𝘯𝘪 𝘮𝘦𝘮𝘢𝘯𝘨 𝘣𝘢𝘯𝘺𝘢𝘬 𝘮𝘢𝘶𝘯𝘺𝘢... 🤭😭
slalu menyimpulkan sendiri,,jgn sampai anak mu knp knp Baru kamu nangis nangis,dan bilang maafkan mamah yg tidak bisa menjaga kalian,, padahal dirimu yg slalu salah paham dan bisa di egois
malah si dispenser yang duluan nemuin siapa wanita yang selama ini di cari keluarga Xavier🤭🤭
𝘛𝘢𝘱𝘪, 𝘣𝘶𝘬𝘢𝘯𝘬𝘢𝘩 𝘚𝘱𝘦𝘯𝘤𝘦𝘳 𝘶𝘥𝘢𝘩 𝘮𝘦𝘯𝘺𝘦𝘭𝘪𝘥𝘪𝘬𝘪𝘯𝘺𝘢? 🤔
𝘒𝘦𝘮𝘶𝘯𝘨𝘬𝘪𝘯𝘢𝘯 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘥𝘦𝘯𝘥𝘢𝘮 𝘢𝘯𝘢𝘬 𝘥𝘢𝘳𝘪 𝘮𝘢𝘯𝘵𝘢𝘯 𝘢𝘯𝘢𝘬 𝘣𝘶𝘢𝘩𝘯𝘺𝘢 𝘌𝘷𝘢𝘯 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘵𝘦𝘳𝘴𝘪𝘴𝘢, 𝘢𝘵𝘢𝘶 𝘣𝘢𝘩𝘬𝘢𝘯 𝘤𝘶𝘤𝘶𝘯𝘺𝘢..
𝘏𝘶𝘩, 𝘣𝘦𝘯𝘦𝘳-𝘣𝘦𝘯𝘦𝘳 𝘮𝘦𝘯𝘺𝘦𝘣𝘢𝘭𝘬𝘢𝘯 😌😌😌