DI LARANG MENJIPLAK CERITA INI!!!
"Jangan pernah berpikir buat bisa keluar dari dunia gue! Kalau sampai lo nekat kabur, berantakan hidup lo.
Ngerti?"
"Who are you? Siapa lo berani ngancam gue?"
"Kalau lo nggak amnesia, gue suami lo sekarang. Gue cuma mau lo nurut. Gampang, kan?"
_____________________________________
Fattah Andara Fernandez-badboy utama SMA Taruna Jaya Prawira yang memegang bidak king. Di kenal kasar dengan karisma menindas.
Fattah memiliki segalanya. Membuat dia dengan mudah mengikat sesuatu dan menghancurkan apapun yang dia mau.
Kecuali satu...
Aqqela Calista.
Karena pembalasan dendam atas kematian Sandrina -kekasihnya, ayah Aqqela tewas. Tidak puas, Fattah justru menarik Aqqela dan menjeratnya dalam ikatan pernikahan yang sama sekali tidak dia inginkan.
Membawa Aqqela ke Jakarta Selatan dan meninggalkan segalanya di Jakarta Pusat termasuk Oliver Glenn Roberts-pacarnya sekaligus musuh Fattah.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kapten cantik, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 17 Mengajak Pulang
Tubuh Aqqela masih membeku dan terpaku di tempat, sama sekali tidak mampu di gerakkan.
Dia syok luar biasa, memandangi pemuda berkaca mata hitam yang berdiri angkuh di depannya.
Fuck...kenapa Fattah bisa menemukannya secepat ini?
Bodoh, bodoh, bodoh.
Harusnya dia kabur keluar kota sekalian, supaya Fattah tidak bisa menemukannya.
Fattah mendesah berat, memandangi Aqqela dengan kerlipan berubah, "Pulang, yuk! Nggak capek kabur terus?"
Aqqela menggigit bibir dengan bola mata bergerak gelisah. Otaknya tiba-tiba blank.
Lari!
Satu kata yang muncul di kepalanya sekarang.
Tangannya dengan cepat meraih tangan Iben dan mengajak anak kecil itu berlari.
"Ben, ayo!"
"Loh-loh, kak? Kita mau kemana?" pekik Iben yang tertarik kaget saat di ajak berlari.
"Shit!" umpat Fattah geram, "Dia kenapa, sih?" Decaknya sambil mengejar Aqqela yang berlari agak jauh.
Aqqela sendiri mempercepat laju larinya dan terpaksa menerobos hujan sambil menarik tangan kecil Iben.
Dia takut luar biasa sekarang.
"Kak, cowok tadi emangnya siapa?"
"Orang jahat. Makanya kita harus lari," kata Aqqela, kemudian berteriak kaget saat tangan kirinya di raih oleh seseorang.
"Aza, berhenti menghindar terus!" kesal Fattah, dengan tubuhnya sudah basah kuyup sekarang.
"Apaan, sih? Gue nggak mau pulang," kata Aqqela meronta, tetapi tangannya masih di cengkram kuat oleh Fattah, "Fattah, lepasin!"
"Nggak akan," kata Fattah tegas.
Iben kali ini maju dan memukuli perut Fattah dengan tangan kecilnya.
"Om, lepasin tangan kakak aku!" teriaknya cempreng.
"Om?" Fattah mendelik geram, "Sejak kapan gue nikah sama tante lo?" omelnya.
"LEPASIN KAK AQQELA!" teriak Iben sambil menggigit tangan Fattah keras-keras.
"Aghrrrrbrengsek!" umpat Fattah kesakitan, membuat Iben menciut, "Lo tuh anak kecil nggak usah ikut campur anj-"
"Elo nggak usah kasar sama anak kecil!" seru Aqqela langsung menarik Iben ke belakang tubuhnya.
Fattah melengos keras, menatap sengit anak kecil yang bersembunyi di belakang tubuh Aqqela takut-takut.
"Ya udah, ayo masuk mobil, kita pulang!" kata Fattah.
"Pulang aja sendiri," kata Aqqela menghempaskan tangan Fattah kasar dan berbalik pergi.
Fattah mendecak dan mengekori cewek itu.
"Za, udah dong marah-marahnya!" katanya sudah lelah, sambil menahan tangannya.
"Apa lagi?" tanya Aqqela.
"Apanya yang apa lagi? Ayo pulang! Di sini bukan tempat lo. Elo punya rumah, elo punya suami, ngapain di sini?" katanya serak.
Aqqela mendesah kasar, "Gue kan udah bilang nggak mau. Gue udah seneng sama kehidupan gue yang sekarang. Nggak usah maksa terus kenapa, sih?"
"Gue yang nggak suka," kata Fattah sewot.
"Kenapa lo nggak suka?"
"Ya gue pengen bareng elo. Emangnya apalagi?" katanya kesal, lalu tersentak menyadari ucapannya barusan.
Alis Aqqela terangkat sebelah dan mendecih sinis, "Biar apa? Biar lo bisa siksa gue lagi?"
"Kapan gue nyiksa elo?"
Aqqela ternganga, "Masih nanya lo, ya?"
semprotnya galak, "Udah lah Ka, berhenti usik gue terus! Gue capek. Muak tau nggak?"
Fattah mendecak, "Gimana bisa gue berhenti gangguin elo, kalau lo aja istri gue," protesnya tak senang.
"Ceraiin gue!"
Fattah langsung menatapnya tajam, "Bilang apa lo?"
"Gue mau cerai," kata Aqqela.
Fattah mendesis dingin, "Itu nggak akan pernah terjadi."
Aqqela mengalihkan wajah.
"Elo mau cerai biar bisa nikah sama Oliver lo itu, kan? Iya?" tanyanya membuat Aqqela mendongak.
"Kenapa lo jadi bawa-bawa Oliver?"
"Karena elo suka dia. Emangnya apalagi?"
"Oh."
"Oh?" Fattah nyaris menonjok pohon saking kesalnya, lalu menatap Aqqela sengit, "Dimana alamat rumah Oliver? Biar gue anterin lo ke sana, gue bantuin lo kawin sama dia. Puas kan lo?"
"Oke kalau itu mau lo. Alamat rumah Oliver di peruma-"
"Aza, udah dong!" kata Fattah benar-benar kesal karena Aqqela menganggapnya serius, "Gue ngomong gitu karena lagi kesel, nggak beneran."
Aqqela mendengus dan menatap Iben, "Ayo Iben, kita pulang aja!"
"Ayo!" Iben mengangguk walau sempat-sempatnya memeletkan lidah ke Fattah yang mendelik.
"Aza!" panggilnya kembali mengejar.
"Kenapa sih, Fat?" tanya Aqqela sudah lelah.
"Ayo kita pulang!" Fattah menatapnya dengan kelopak mata menyayu, membuat gadis cantik itu jadi mengatupkan bibir.
"Gue bingung harus gimana lagi biar lo mau pulang..." kata Fattah dan perlahan maju meraih tubuh Aqqela.
"Sini peluk dulu!" lanjutnya dan langsung memeluk tubuh Aqqela begitu saja.
Gadis cantik itu tersentak dan terjatuh kaget di dada tegap Fattah. Sementara pemuda itu semakin memeluk tubuhnya dan mengeratkan dekapan, sambil menaruh dagunya di bahu kiri Aqqela.
"Maaf...!" pintanya serak membuat Aqqela melebarkan mata, "Harusnya gue nggak sekeras itu sama lo."
Fattah mengusap kepala Aqqela lembut, lalu melepas pelukan dan menangkup pipi Aqqela,
"Jangan marah lagi, ya!"
Aqqela menggigit bibir.
"Gue nggak boleh di sini aja? Gue lebih bahagia di sini."
Rahang Fattah langsung mengeras begitu saja-merasa tersinggung dan marah.
Dia bahagia di Jakarta Pusat, karena bisa dekat sama Oliver?
Anjing!
Aqqela terlonjak saat tangannya di cengkram kuat oleh Fattah.
"Fattah, apaan sih?"
"Pulang! Gue nggak suka lo di sini."
Aqqela tersentak saat tangannya di tarik kasar oleh Fattah supaya mau masuk ke mobil.
"Fattah, sakit!" teriaknya terseok-seok mengikuti langkah lebar Fattah.
"Kak Aqqela!" Tangis Iben langsung pecah di sana sambil berlari ingin menyusul.
"Kalian urusin anak kecil itu!" kata Fattah.
"Baik tuan muda!"
"LEPAS!" teriak Aqqela histeris, tetapi tubuhnya kini melayang di udara saat Fattah tiba-tiba menggendongnya di bahu, membuat Aqqela menjerit dan memukul-mukul punggungnya.
"Fattah, gue nggak mau. Please, turunin gue!"
"Gue udah bilang nggak akan lepas elo," kata Fattah tegas dan langsung memasukkan Aqqela ke dalam mobil.
"IBEN!" Aqqela menjerit saat melihat Iben di masukkan ke mobil yang ada di belakangnya.
"Dia nggak akan kenapa-napa," kata Fattah.
"LO JAHAT TAU NGGAK!?" bentaknya murka, membuat Fattah terdiam.
"Buka pintunya, gue pengen keluar!" teriak Aqqela memunggungi Fattah dan sibuk menggedor-gedor jendela mobil, "BUKAIN!"
Tangis Aqqela langsung pecah dan memukul-mukul kaca jendela mobil, ingin keluar dari sana.
Fattah menelan ludah tercekat dan segera maju mendekati Aqqela yang tampak histeris, lalu memeluk tubuh gadis itu dari belakang.
"Sssshhh, udah-udah! Maaf, ya!" katanya sambil mendekap tubuh Aqqela agar dia berhenti menangis, lalu melihat pergelangan tangan Aqqela yang memerah, "Sakit?" tanyanya cemas.
Aqqela semakin terisak di sana.
"Gue cuma pengen lo nurut. Gue nggak akan jahat lagi kalau lo nurut."
"Lo bohong." Aqqela menggeleng, berusaha menepis tangan Fattah yang memeluknya.
Fattah mengeratkan pelukan sambil meraih pipi dingin Aqqela agar gadis itu menoleh ke arahnya, membuat Fattah mendesah berat melihat mata memerah Aqqela.
"Nggak bohong. Kali janji. Ya?" pintanya sambil mencium kening Aqqela dengan lembut.
Tangan Fattah bergerak menyeka air mata di pipi Aqqela, sementara gadis itu kembali memandang jendela dengan perasaan sesak.
Fattah menerima selimut dari ajudannya yang duduk di depan, kemudian menutup seluruh tubuh basah Aqqela dengan itu.
"Udah dong, jangan nangis terus!" katanya serak.
***
lalu. Hujan sudah berhenti sekitar satu jam yang
Fattah terlihat mengobrol di teras depan dengan pak Hadi-selaku pengurus Panti Asuhan Sarawasti.
Ceklek!
Pintu depan terbuka, menampilkan Aqqela yang baru selesai mandi dan menggendong tas ranselnya. Wajah gadis itu tampak murung.
"Udah siap?" Fattah berdiri menghampiri, "Sini, aku aja yang bawain tas kamu," katanya manis.
Aqqela mendelik sinis, walau diam-diam jadi merinding.
"Nggak usah," katanya dingin sambil merebut tasnya lagi.
Fattah gemas ingin mencakar mukanya, tapi dia mencoba sabar.
"Jangan marah lagi, dong! Kan aku udah jelasin sama kamu, aku sama dia cuma temenan.
Udah ya, jangan cemburu-cemburu lagi!"
itu. Aqqela hampir melotot karena fitnah dakjal
Tapi cewek itu memilih diam saja melihat drama Fattah di depan pak Hadi.
Ibu Anis dan pak Hadi hanya bisa tersenyum melihat pasangan muda itu.
"Saya masih nggak nyangka loh, kalau den Fattah sudah menikah. Sama mbak Aqqela pula," kata pak Hadi.
Fattah tersenyum dan merangkul pundak Aqqela, "Lebih cepat lebih baik. Ya kan sayang?"
Aqqela menepis tangannya kesal dengan wajah keruh.
"Mbak Aqqela kayaknya masih marah banget ya mas Fattah?" kata bu Anis tersenyum geli.
"Iya nih. Masih ngambek dia," kata Fattah mengacak-acak rambut Aqqela sok gemas.
"Nggak usah sok asik!" ketus Aqqela sambil menggeplak tangannya.
Pemuda itu mendengus, lalu tersenyum lebar ke bu Anis dan pak Hadi.
"Kalau gitu, saya sama Aqqela pulang dulu ya, pak, buk! Terimakasih sudah menjaga istri saya!" katanya hangat.
"Iya den Fattah. Hati-hati ya pulangnya! Titip salam buat pak Jordan dan ibu Amanda!"
Fattah mengangguk, "Kami permisi dulu, ya! Ayo, Za!"
Aqqela mendesah pelan saat melihat anak-anak panti yang kini memenuhi depan panti asuhan dengan wajah bersedih.
"Bunda, pak Hadi, Aqqela pulang dulu, ya! Makasih udah di rawat dan di izinin tinggal di sini!" kata Aqqela sambil mencium punggung tangan mereka satu-satu.
"Iya. Yang rukun ya sama suaminya! Jangan sering berantem, apalagi kabur dari suaminya gitu! Nggak baik," kata pak Hadi mengusap kepalanya.
"Tuh dengerin," kata Fattah membuat Aqqela melirik datar.
Aqqela kemudian menatap anak-anak panti.
Mata Aqqela kembali memerah dengan perasaan berat akan meninggalkan mereka.
"Kakak pulang dulu, ya! Kapan-kapan kakak main ke sini lagi. Bye kalian!"
"Bye-bye kak!" Mereka melambaikan tangan dengan mata berkaca-kaca.
"Ayo!" kata Fattah menggandeng tangannya dan membawa gadis itu ke dalam mobil, setelah pintu mobil di buka oleh ajudannya.
"DADAH KAK AQQELA!" teriak mereka kompak, bersamaan dengan mobil itu mulai bergerak meninggalkan halaman panti.
Aqqela meneteskan air matanya dan tersenyum-melambaikan tangannya ke mereka, terutama Iben yang lagi menangis.
"Iben jangan nangis, ya!" kata Aqqela mencoba ceria.
Mobil perlahan menjauh pergi, bersamaan dengan jendela kaca di naikkan.
Aqqela hanya diam, memandang ke arah luar dengan wajah murung sambil menyeka air matanya berkali-kali.
Fattah yang melihat itu jadi merasa bersalah.
"Mau balik aja?" tanya Fattah tak tega.
Aqqela menggeleng pelan tanpa melihatnya.
"Kenapa?"
"Buat apa? Mau gue balik ke sana juga lo nggak akan biarin gue tenang," jawabnya serak.
Fattah menipiskan bibir, "Laper nggak? Mau makan dulu?"
Aqqela menggeleng.
Fattah menjulurkan tangan mengusap-usap kepala Aqqela, "Masih marah? Harusnya gue yang kesel sama lo."
Aqqela menepis pelan tangan Fattah dan memilih menyandarkan punggungnya ke jok mobil.
"Jangan bikin gue lebih marah dari kemarin!
Gue bisa ngelakuin banyak hal jahat, supaya lo tetep di samping gue," kata Fattah serius.
Tidak menjawab, Aqqela memilih memejamkan mata.
"Dan jangan kabur-kaburan lagi! Gue nggak suka," lanjut cowok itu.
Aqqela tetap diam.
"Aza, denger nggak?" Fattah mengguncang pelan lengan gadis itu.
Aqqela mendesah berat dan membuka matanya, "Iya-iya gue denger. Berisik lo!" tukasnya tajam.
Fattah langsung diam. Entah kenapa jadi kelimpungan sendiri menghadapi Aqqela yang ngambek padanya.
Hening.
Keduanya sama-sama diam, memandang ke arah luar jendela di sisi terdekat mereka.
Fattah menggigit bibir-kembali melirik Aqqela yang matanya mulai berkaca-kaca lagi sambil menatap ke arah luar mobil.
Fattah membungkuk ke depan meraih sapu tangan, lalu meletakkannya di pipi kanan Aqqela, membuat gadis itu memejamkan mata dengan kedua sudut bibirnya tertarik ke bawah dan terisak lagi.
"Elo kenapa sih sebenarnya?" kata Fattah khawatir dan menarik tubuh Aqqela ke dalam pelukannya, "Udah ya, jangan nangis terus! Gue minta maaf!"
Tangis Aqqela semakin tumpah di dada Fattah dengan tangannya mencengkram kaos cowok itu.
Rasanya melelahkan.
Semua hal yang di lakukan Fattah terasa menyakitkan untuknya.
Bahkan Oliver satu-satunya yang dia percaya-tidak berbeda jauh dengan Fattah.
"Istri itu harus ikut terus sama suaminya.
Mami sering bilang," kata Fattah pelan, mengusap punggung Aqqela naik turun menenangkan.
"Elo yang jahat, makanya gue pergi. Walaupun elo nggak sayang gue, suami harusnya nggak boleh kasar kayak gitu ke istrinya," katanya terisak di pelukan Fattah.
Fattah menggigit bibir, menahan senyum saat Aqqela mengakui bahwa Fattah suaminya.
"Iya," katanya menahan girang.
"Papa yang salah, kenapa gue yang jadi pelampiasannya? Gue nggak tau apa-apa soal Sandrina. Jadi, jangan di marah-marahin terus! Gue nggak suka..." adunya menangis, tak tahan mengeluarkan segala unek-uneknya.
Fattah sendiri juga bingung bagaimana menghilangkan sifat tempramental-nya karena ini murni gen dari papanya Jordan Davian Fernandez.
"Iya bocah, iya. Maaf, ya!" Fattah menopangkan pipinya di kepala gadis cantik itu, "Habis ini nggak akan di marah-marahin lagi. I'm really sorry!"
Aqqela kali ini diam, sementara tubuhnya di rengkuh makin erat oleh Fattah.
Fattah menaruh dagunya di bahu Aqqela, "Jangan pergi lagi! Elo nggak boleh pergi kemana pun kalau itu buat ninggalin gue."
Karena selamanya, tempat lo ada di samping gue. Aqqela Calista, elo milik gue, satu-satunya.
Fattah melepaskan dekapan dan menangkup pipi Aqqela, kemudian menyeka air matanya, membuat Aqqela mendongak dengan mata bulatnya yang memerah.
Fattah mengalihkan wajah, mendadak gugup sendiri melihat sepasang mata bulat itu.
"Hapus ingus lo, cengeng banget!" kata Fattah jutek, membuat Aqqela mendelik.
Aqqela mengusap air matanya dengan punggung tangan.
"Elo yang bikin gue nangis terus," balas Aqqela sengit.
Fattah hampir mengumpat, "Elo Oliver-Oliver terus. Gue suami lo nggak pernah di peduliin," katanya membela diri.
"Karena lo suami jahat," tukasnya.
"Bisa aja jawabnya," kesal Fattah menjepit bibir Aqqela yang langsung memukulnya kesal.
Fattah meringis kesakitan.
Cowok itu mengalihkan wajah. Dia berdehem pelan, kemudian menyodorkan telapak tangannya yang terbuka ke Aqqela sambil membuang muka agak malu.
"Khem, maaf, karena gue udah jahat sama lo!" katanya singkat.
Alis Aqqela terangkat, "Minta maaf masa buang muka gitu? Nggak tulus?"
"Cerewet. Elo juga minta maaf lah ke suami lo. Kan sama-sama salah juga."
Aqqela mendengus sinis dan membuang muka. Mengalah, dia menyodorkan telapak tangannya, menjabat tangan Fattah, terpaksa.
"Bilang apa dulu? Masa diem aja?" Fattah mengangkat sebelah alis.
"Maaf!" katanya mencuatkan bibir, agak malu.
"Minta maaf kenapa, nih?" tanya Fattah iseng.
Aqqela mendengus jengkel, "Maaf, karena udah kabur. Padahal harusnya itu nggak masuk dosa, karena elo juga kejam."
Fattah memutar bola matanya, "Gue nggak KDRT."
"Ck, di maafin nggak sih? Bawel ya lo," katanya mengamuk lagi.
"Ikhlas nggak, sih? Masa minta maaf kayak begitu?"
"Ya udahlah nggak jadi," katanya menepis tangan Fattah, membuat cowok itu mendelik.
"Iya-iya, di maafin." Fattah mengulum senyum, "Nah, gini dong! Sekali-kali baikan.
Nggak capek war terus?" katanya menjewer telinga Aqqela pelan.
Wajah Aqqela mengeruh, "Elo yang suka cari gara-gara."
"Dih, elo." Fattah mendorong tubuh Aqqela dengan tubuhnya.
Cewek itu hampir terjungkal ke samping dan mendorongnya balik, "Enak aja, elo duluan gobs."
"Heh-heh, yang sopan ya sama suami!"
Sopir dan ajudan yang duduk di depan cuma bisa menghela napas sabar berkali-kali.
Gini nih kalau anak kecil udah di nikahin.
***