persahabatan sederhana dari anak SMA ,yang mulai menumbuhkan benih cinta tapi ego masa muda mereka lebih tinggi dari pada rasa cintanya.ada hal yang ingin di sampaikan tapi tak mungkin Untuk di utarakan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fadhil Asyraf, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 22: Tentang Serpihan Kardus dan Lem yang Tidak Bisa Menempelkan Hati
Suasana kelas setelah kejadian di kantin itu rasanya seperti sebuah ruangan yang baru saja dihantam badai senyap. Tidak ada yang berani bicara keras-keras. Teman-teman sekelas hanya berbisik sambil sesekali melirik ke arah meja saya, lalu ke arah Arkan yang sedang sibuk mengelap sepatunya menggunakan tisu basah dengan wajah merah padam.
Kayla duduk mematung di bangkunya. Dia tidak bicara pada Arkan, tapi dia juga tidak berani menoleh ke arah saya. Saya sendiri duduk di barisan belakang, tempat Bangka biasanya nongkrong. Saya tidak mau duduk di depan lagi. Saya butuh jarak yang cukup lebar agar oksigen saya tidak tercemar oleh aroma kesombongan Arkan.
Di atas meja, saya menaruh sisa-sisa miniatur kamera kardus yang sudah penyok itu. Bentuknya menyedihkan. Salah satu bagian lensanya—yang dulu dibuat dari tutup botol mineral—sudah pecah.
"Jangan dilihatin terus, Bumi. Makin dilihatin, makin kerasa sakitnya," suara Senja terdengar dari samping.
Saya menoleh. Senja sudah duduk di sebelah saya, dia membawa sebuah tas kecil berisi perlengkapan prakarya; ada lem tembak, gunting, dan beberapa potongan karton baru yang warnanya hampir sama dengan miniatur saya.
"Ini sudah hancur, Senja. Arkan benar, ini cuma sampah kardus yang tidak ada harganya," kata saya sambil mencoba tersenyum pahit.
Senja tidak menjawab. Dia malah mengambil miniatur itu, meraba bagian yang penyok dengan jemarinya yang lentur. "Harganya itu bukan di bahannya, Bumi. Tapi di ingatan orang yang bikinnya. Kalau kamu buang, berarti kamu setuju sama Arkan kalau ingatan kamu itu sampah."
Senja mulai bekerja. Dia sangat telaten. Dia memanaskan lem tembak, lalu pelan-pelan menyatukan kembali bagian-bagian yang terlepas. Saya memperhatikan tangannya. Senja bekerja dengan keheningan yang menenangkan, sangat kontras dengan keributan yang baru saja terjadi di kantin.
"Kenapa kamu bantu saya, Senja? Padahal gara-gara saya, suasana sekolah jadi kacau begini," tanya saya.
"Karena saya tahu rasanya punya sesuatu yang berharga tapi dianggap remeh sama orang lain," jawab Senja tanpa menoleh. "Lagian, saya lebih suka memperbaiki barang rusak daripada melihat orang yang biasanya kuat mendadak jadi putus asa."
Tiba-tiba, Kayla berdiri dari bangkunya dan berjalan menuju meja kami. Dia berhenti tepat di depan saya dan Senja. Matanya masih merah.
"Bumi, aku mau bicara," kata Kayla. Suaranya sedikit bergetar.
"Bicaralah, Kay. Saya tidak menutup telinga," jawab saya tetap menatap Senja yang sedang menempelkan lensa baru ke kamera kardus saya.
"Aku minta maaf soal Arkan. Dia memang keterlaluan tadi. Tapi kamu juga tidak seharusnya siram dia pakai es teh, Mi. Sekarang dia jadi bahan omongan satu sekolah," Kayla bicara dengan nada yang seolah-olah saya juga bersalah dalam hal ini.
Saya tertawa pendek. "Oh, jadi masalah utamanya adalah Arkan jadi bahan omongan? Bukan fakta bahwa dia dengan sengaja menginjak barang yang dulu kita anggap berharga?"
"Itu kan cuma benda, Bumi! Kita bisa bikin lagi kalau kamu mau!" Kayla mulai emosi.
"Kita tidak bisa bikin lagi, Kay. Karena 'kita' yang dulu bikin kamera ini sudah tidak ada. Kamu yang sekarang tidak akan pernah mau duduk di teras kehujanan cuma buat nempelin kardus bekas," kata saya sambil berdiri.
Kayla terdiam. Dia melirik ke arah Senja yang masih sibuk dengan lemnya. "Dan kamu sekarang lebih milih diperbaiki sama Senja? Kamu pikir dia tahu apa tentang kita?"
"Dia tahu cara menghargai, Kay. Sesuatu yang sepertinya sudah hilang dari kamu sejak kamu kenal Arkan," jawab saya.
Kayla berbalik pergi dengan langkah yang sangat cepat. Saya melihat Arkan menghampirinya di pintu kelas, tapi Kayla menepis tangan Arkan. Rupanya, retakan itu bukan cuma ada di kamera kardus saya, tapi juga mulai menjalar ke hubungan mereka yang katanya sempurna itu.
Dara masuk ke kelas, dia melihat Senja yang sedang serius memperbaiki miniatur. Dia meletakkan sebuah es batu di atas meja saya. "Pakai ini buat kompres ego kamu yang baru saja meledak, Bumi. Menarik diri dari keramaian itu bagus, tapi jangan sampai kamu jadi lubang hitam yang menghisap kebaikan orang di sekitar kamu."
"Terima kasih, Dara. Saya akan usahakan tetap jadi planet yang ramah," jawab saya.
Nama saya Bumi. Dan hari ini, saya belajar bahwa meskipun sebuah benda sudah hancur, dia tetap bisa diperbaiki jika ada orang yang mau menyentuhnya dengan hati. Senja sedang berusaha mengembalikan bentuk kamera saya, dan di saat yang sama, dia secara tidak sadar sedang membantu saya memperbaiki poros saya yang sempat goyang.
miniatur kamera yang sudah tegak kembali, meskipun bekas lipatannya masih terlihat jelas. Tapi seperti kata Senja, bekas luka itu justru menunjukkan bahwa benda itu pernah berjuang untuk tetap ada.