Chen Li, pemuda desa yang tampak biasa-biasa saja, sebenarnya bukan anak miskin pada umumnya. Terpelajar dan cerdas, ia mengelola pabrik teh besar untuk Tuan Sun, sambil memahami kehidupan keras orang miskin. Ayahnya, seorang pemimpin pemberontakan, menghilang tanpa jejak, meninggalkan Chen Li dengan pelajaran hidup tentang keadilan, kemiskinan, dan batas-batas yang harus ia terima. Di sisi lain, ada Yun Xiao, gadis pemberani yang menentang ketidakadilan. Ia membenci mereka yang memanfaatkan kekuasaan untuk menindas orang lemah, dan tindakannya yang berani membuat para pejabat kekaisaran terus memperhatikannya. Suatu hari, puisi yang ditulis Yun Xiao diterbangkan angin hingga menarik perhatian putri bungsu kekaisaran. Putri itu langsung datang untuk menahannya, tapi Chen Li menghadangnya dengan berdebat hingga akhirnya Membuatnya di bawah ke istana, memaksanya memahami kekuasaan dan permainan politik yang rumit, penuh tipu muslihat bak catur hidup dan mati untuk hidup, tentang ayahny
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Made Budiarsa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Festival sungai langit
Dia melihat telapak tangannya dan burung phoenix tinta emas muncul dan berkedip-kedip seolah-olah ada energi di dalamnya yang berdenyut.
Gadis itu mungkin umurnya sekitar 16-17 tahun dan sangat anggun.
Ketika cahaya bulan meneranginya dia terlihat bersinar.
Setelah melihat sejenak telapak tangannya dia berkata, “Sebelumnya aku telah kalah, tapi hari ini tidak boleh lagi.”
Ketika dia selesai berbicara, gambar burung di tangannya perlahan-lahan menghilang seperti pasir yang di terbangkan angin lalu masuk ke dalam tanah. Qi di gadis itu keluar dari titik-titik dantiannya, menyembur seperti api yang melesat ke luar. Itu seperti bagaimana api memakan minyak tanah. Asap ungu perlahan-lahan muncul dari tubuhnya dan dengan tatapan tajam dia mengayunkannya kedua tangannya ke depan, menyatukan kedua jari telunjuk dan ibu jarinya di bawah, segera Qi di tubuhnya meledak lalu memenuhi tubuhnya.
Pandangan gadis itu melesat ke depan, melewati orang-orang dan berakhir pada tuan Putri. Dia tersenyum dan berkata, “Saatnya menyelesaikan ini! Formasi, aktif!”
Energi Qi melonjak dan masuk ke dalam tanah seperti cacing dan perlahan-lahan melenyapkan gadis itu hingga tidak tersisa.
Lalu tidak lama suasananya menjadi hening dan hanya embusan angin yang lewat, seolah-olah tidak terjadi apa pun di sana sebelumnya.
Sementara di bibir sungai ketika tuan putri muncul, semua orang membungkuk memberi hormat. Ada sedikit ketakutan dan kecanggungan di wajah mereka. Tuan putri adalah orang kekaisaran dan menyinggungnya berarti kematian bagi para penduduk ini, sehingga mereka membungkuk hormat dan bahkan menyuruh anak-anak patuh, dan tidak akan memberi toleransi jika mereka nakal.
Pandangan tuan putri menyapu sebentar para penduduk yang membungkuk. Dia lalu melihat sungai yang bersih dan seperti tempat suci yang di jaga oleh penduduk dan sepertinya mengotori sama saja dengan mencari masalah dengan dewa.
Dengan cahaya rembulan tuan putri bisa melihat awan-awan di permukaannya dan bagaimana bayangan bintang-bintang bergoyang-goyang lembut.
Ada banyak lampion lotus merah yang memenuhi permukaan air dan anak-anak sangat antusias menaruhnya dengan kedua tangannya.
Tuan putri ingat jika lampion-lampion ini memiliki doa dari semua penduduk dan mereka merasa jauh lebih bersemangat dengan melakukan ritual seperti ini.
Tuan putri menikmatinya dengan tenang, namun pelayannya memiliki tatapan yang tajam. Dia menoleh ke arah jalan utama desa dan memiliki perasan mencurigakan. Lalu berpikir apa ini benar-benar desa yang sebelumnya di lewati? Kenapa ramai sekali?”
Pelayan itu memejamkan matanya sebentar lalu tiba-tiba terbuka lebar seperti mendapatkan mimpi buruk. Mengeluarkan pedang dari lengan bajunya segera melangkah pergi.
Tuan kusir yang sering tidur itu sudah tidak ada di tempatnya, bahkan botol labunya juga tidak di tinggalkan. Dia telah pergi dan tidak ada yang tahu, bahkan pelayan dan tuan putri itu juga tidak mengetahuinya.
Tidak lama kapal besar yang terbuat dari kayu yang dihiasi karangan bunga mulai melintasi sungai. Para penduduk bersorak-sorak, bahkan orang-orang yang ada di sekitar tuan putri tidak tahan melakukanya. Berbagai bunga segera di lemparkan.
Kapal itu punya atap dan dipenuhi buah-buahan hasil panen desa. Dua orang gadis ada di ujungnya, berdiri dan membaca doa-doa yang sering digunakan untuk ritual ini. Suaranya jernih dan enak di dengar, terlebih gadis-gadis itu cantik.
Bunga-bunga yang di lemparkan para penduduk memenuhi permukaan air dengan berbagai warna dan terbelah lagi ketika kapal kedua lewat. Di dalamnya dipenuhi keramaian; sekitar enam hingga tujuh penari melakukan tarian lembut. Tubuh mereka ramping dan gerakan mereka juga lembut.
Dua orang gadis cantik duduk memainkan zhiter di belakang para penari. Suaranya bagus, tegas dan sedikit lembut, sangat cocok untuk mengiringi tarian tersebut.
Tuan putri sedikit tersenyum dan baru rasanya dia bisa menikmati dunia.
Lalu setelah keduanya lewat, kapal besar muncul lagi dan dipenuhi karangan bunga yang indah. Seorang pria berapkai mewah berdiri di atasnya. Dari penampilannya, dia terlihat seperti orang penting dan mungkin seorang kepala desa.
Wajahnya tenang dan berdiri tegap. Kemudian menatap semua orang lalu berhenti. Membungkuk memberi hormat pada semua orang lalu berkata, “ Aku Wang Hao, sebagai kepala desa, sekaligus pembuka hari ini...” Katanya dengan suara tegas. Semua orang memperhatikannya dan tidak ada yang berbicara. Wang Hao diam sebentar, meletakan kedua tangannya di belakang lalu melanjutkan, “Sejak bertahun-tahun leluhur kita percaya dengan dewa sungai dan anugerahnya telah mengalirkan air ke sawah dan perkebunan kita semua. Kita telah hidup dari Sungai ini dan leluhur kita memberinya nama sungai langit. Dari generasi ke generasi, hingga hari ini, sungai ini telah mengalirkan air yang tidak terhitung jumlahnya dan sudah tidak terhitung berapa banyak kehidupan yang telah ditolong olehnya. Sudah sepatutnya kita menghormatinya dan akan terus berlangsung hingga akhir hayat. Aku Wang Hao, sebagai perwakilan kalian semua.... Dengan ini festival sungai langit telah di mulai!”
Wang Hao mengeluarkan gunting dan dua orang wanita tiba membawa pita. Dia segera ingin memotongnya dan segera keributan pecah, bunga semakin banyak di lempar dan orang-orang berseru, ‘Mengalir terus sungai langit! Bersihkan semua kotoran dan hidupkan semua kehidupan! Kami menbutuhkanmu dan kami selalu menjagamu!”
Suara mereka seperti perpaduan suara yang merdu dan tuan putri merasakan semangat, energi kehidupan dari semuanya. Dia merasa merinding mendengar itu dan baru kali ini mendengar seluruh kepercayaan orang-orang mengalir dari kata-katanya.
Tuan Wang Hao membungkuk terima kasih. Dia mengambil gunting dan segera ingin memotong pita itu. Namun, tiba-tiba getaran mulai muncul di permukaan air. Tuan Wang merasa ada yang salah. Orang-orang di sekitarnya juga begitu. Sementara orang-orang yang ada di pinggir sungai bertanya-tanya mengapa Tuan Wang berhenti. Tuan putri sedikit mengerutkan keningnya.
Lalu tidak lama getaran kembali muncul dan lebih intes. Tidak membiarkan reaksi orang-orang di kapal, getaran itu semakin kuat dan lebih kuat. Pada akhirnya kapal di sungai retak dan terangkat. Orang-orang di atasnya panik dan segara berteriak. Mereka menggapai apa saja yang dapat di gapai. Kepanikan tiba-tiba pecah. Kapal-kapal yang lain terombang-ambing dan ombak besar muncul menghantam kedua bibir sungai. Orang-orang jadi panik dan menyelamatkan diri masing-masing sembari bertanya apa yang terjadi.
Tuan putri dengan lembut mendorong kaki kanannya ke tanah dan dengan pelan melompat ke belakang sembari mengerutkan keningnya yang indah dan bertanya apa yang sebenarnya terjadi.
Tidak lama, ombak besar kembali muncul dan perlahan-lahan kepala hewan seperti angsa muncul lalu di ikuti dua sayapnya yang warna-warni. Muncul dari kedalaman sungai dan perlahan-lahan terbang.
Ketika orang-orang melihat ini, mata mereka terblalak dan terkejut.
Salah satunya berseru, I-itu burung phoenix!!”
Semua orang menjadi tegang. Beberapa berlarian menjauh dan sebagian memilih diam menyaksikan burung itu muncul.
Ukurannya kira-kira tiga puluh kaki dan seluruh tubuhnya dipenuhi api warna-warni. Suhu meningkat tajam dan membakar rerumputan, pohon-pohon dan orang-orang. Teriakan kesakitan seperti terbakar di neraka meramaikan suasana. Dan membakar orang-orang menjadi debu.
Tuan putri menjentikan jarinya dan pelindung trasparan muncul melindunginya dari panas.
Burung itu punya mata yang berapi, berteriak nyaring dan membuat api warna-warni menyebar ke seluruh sungai. Kemudian dia terbang ke langit dan berteriak nyaring.
Ketika itu perlahan-lahan rumah-rumah penduduk, pohon-pohon dan orang-orang lenyap sebagaimana seperti debu yang di tiup angin lalu menyatu ke dalam tubuh burung itu dan membuatnya tumbuh semakin ganas dan menyeramkan.
Monster itu kemudian memandang Tuan putri dengan kebencian dan berteriak nyaring. Angin kecang berhembus, suhu meningkat dan di sekitar tuan putri hanya ada tanah tandus dengan langit berbintang yang menonton.
Suara lembut kemudian muncul, “Tuan putri, apa kamu menyukai burungku?”
Itu suara seorang gadis dan suaranya jernih dan indah, tapi tidak tahu dari mana sumbernya, seolah-olah berasal dari langit.