Yohan, seorang pemuda urban, mewarisi rumah bobrok di Yalimo dan bertekad menjualnya. Rencananya terhalang oleh roh ibunya, Sumiati, yang terikat pada tanah itu oleh 'Janji Darah'. Dalam upaya investigasi yang membawanya jauh ke pedalaman Papua, Yohan harus mengorbankan identitas modernnya (Pertukaran Jiwa) demi membebaskan Sumiati. Setelah berhasil, ia secara tidak sengaja melepaskan Kutukan Primordial yang lebih tua—energi jahat yang sebelumnya ditahan Sumiati—dan dipaksa menjadi 'Penjaga Pusaka' sejati. Yohan memimpin komunitas melawan serangan hukum dan militer korporat, yang berpuncak pada kemenangan spiritual atas kekayaan. Perjalanannya berakhir ketika ia menyadari bahwa pengorbanan terbesar bukanlah aset, melainkan kemampuan untuk memimpin dengan kerendahan hati dan tanpa kepastian diri, mengubahnya dari pewaris sinis menjadi pemimpin spiritual yang utuh.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Laila ANT, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Keputusan di Tengah Jalan
Dunia Yohan, yang baru saja direbut kembali oleh kearifan Ina, runtuh total. Ia merasa seperti baru saja menemukan obat penawar, hanya untuk diberitahu bahwa penawar itu adalah bom yang akan menghancurkan kotanya. Kakinya lemas, lututnya nyaris menyentuh tanah basah.
Yutiman berdiri terkejut. Kengerian itu terasa lebih fisik daripada ancaman roh Sumiati manapun. Kutukan Primordial. Sebuah entitas yang telah tidur di Yalimo jauh sebelum Marta, jauh sebelum Yosef, mungkin jauh sebelum Sumiati lahir.
“Sumiati… dia menahannya? Dia jadi penyangga?” Yohan berbisik, rasa hormat yang mendalam merayap melalui kepanikannya. Ia tidak lagi melihat Ibunya sebagai roh dendam atau martir yang tersiksa, tetapi sebagai pahlawan spiritual yang terpaksa.
Ina mengangguk perlahan. Wajahnya yang tua menua lima tahun hanya dalam beberapa detik.
“Yosef mengikat dia—cinta pertamanya—di Patung itu, berharap ikatan cinta yang murni akan mengendalikan Patung Pusaka agar tidak jatuh ke tangan korporat, yang ia takutkan akan menodai Jangkar itu. Tetapi saat ikatan cinta itu dikhianati dan Sumiati tewas, ikatan itu rusak dan berubah menjadi penjara kehendak paksa, terikat pada batas. Dan celakanya, Sumiati secara tak sengaja menjadi penyangga untuk mencegah entitas Pusaka itu lepas. Jika kamu membebaskannya, yang kamu bebaskan bukanlah dirimu. Tapi kehancuran elemental yang sesungguhnya.”
“Tapi jika Pusaka itu dibiarkan, korporasi akan datang,” kata Yutiman.
“Korporasi akan datang dengan pedang besi. Pusaka yang marah akan datang dengan tanah yang hancur, air yang mendidih, dan jiwa yang beku,” jawab Ina tanpa berkedip.
“Pilih kehancuran lambat, atau kehancuran cepat, Yohan. Pilihlah.”
“Aku harus menukarnya, Ina,” kata Yohan, kini suaranya terdengar seperti sebuah gema di dalam goa, tegas dan final.
“Ibuku harus bebas. Dia tidak boleh menahan beban Ayah dan tetua desa seumur abadi. Biarlah kutukan yang sejati datang. Aku sudah memutuskan. Aku tidak bisa hidup normal di Jakarta, mengetahui ibuku terus tersiksa. Harga Pertukaran Jiwa adalah seluruh sisa hidupku, dan kebebasan Ibuku yang kini paling penting.”
Ina dan Yutiman hanya terdiam, terpesona oleh ketulusan yang baru muncul dari jiwa Yohan. Kerendahan hati seorang pria kota, yang baru saja menerima takdirnya sebagai medium spiritual paling penting di Yalimo.
Ina mengangguk, kali ini tanpa rasa takut. Hanya penghargaan mendalam.
“Pilihanmu membuat Pusaka tidak melihatmu lagi sebagai musuh, tetapi sebagai kuncinya,” ujar Ina.
“Tapi Yohan, kamu hanya setengah jalan. Janji Darah Yosef tetap cacat. Untuk berhasil dalam ‘Pertukaran Jiwa’ ini, yang paling berharga dan harus kamu tanyakan—selain jati dirimu—adalah kebenaran terakhir Ayahmu.”
Ina meraih Jimat Perunggu di leher Yohan.
“Ayahmu bertekad baik. Tapi kamu belum memahami seluruh konsekuensi perbuatan Ayahmu, dan kenapa Marta dan tetua membunuhnya. Carilah kebenaran ayahmu sebelum kamu memberikan jiwamu ke dalam Pusaka. Tanpa memahami siapa Ayahmu, kamu tidak akan tahu betapa murninya pertukaranmu nanti.”
“Aku tidak punya waktu, Kutukan itu akan datang cepat, bukan?”
“Kehancuran elemental selalu punya ritme yang purba. Ia akan mendengarkan keheninganmu saat kau melepaskan ikatan ibumu. Ia tidak tergesa-gesa. Pergi ke sana, pahami Marta. Jangan gunakan emosi kota—gunakan kearifan tanah yang kamu pelajari ini,” perintah Ina.
“Jika kamu bertarung tanpa pengetahuan total, kamu akan jatuh, persis seperti Yosef.”
Ina melepaskan cengkeramannya dari Jimat Perunggu dan menyerahkan ‘Kunci Tulang’ kepadanya.
“Sekarang, ambillah makanan secukupnya dan kembali. Patung Pusaka Yalimo menunggu di Balik Air Terjun Terlarang.”
***
Tugas itu telah selesai. Babak baru telah dimulai. Setelah perpisahan yang singkat namun mengharukan dengan Yutiman dan perpisahan penuh wibawa dari Ina, Yohan meninggalkan Desa Api. Ini bukan lagi perjalanan yang didorong rasa panik, melainkan misi yang diperhitungkan.
Yohan mengamati lembah-lembah saat ia berjalan. Langkahnya lebih mantap dari sebelumnya, rasa sakit di kaki fisiknya seolah menjadi hal yang fana. Kelelahan yang seharusnya membebaninya digantikan oleh urgensi yang jelas.
Kebenaran Ayahku. Marta dan sesepuh membunuhnya. Lalu menggunakan kematian ibuku sebagai ritual agar Pusaka tertahan dari dijual kepada korporat. Yosef yang gagal, dan aku harus memulainya kembali dengan pertukaran yang tulus.
Di masa lalu, pengorbanan terbesarnya mungkin adalah mengakhiri pekerjaan yang ia cintai atau menjual apartemen. Kini, pengorbanan terbesarnya adalah Kepastian. Kepastian bahwa ia dapat membangun kehidupan baru di tempat lain, di mana aturan adalah hukum, dan bukan jiwa purba.
Yohan mengeluarkan kartu kreditnya yang sudah hampir mati dari dompet tipisnya. Jimat yang kosong dari identitas Jakarta. Ia merobeknya dengan air mata, yang lebih terasa seperti air mata pelepasan, daripada kesedihan. Tidak ada jalan kembali.
Perjalanan beberapa hari yang seharusnya penuh bahaya kini berjalan anehnya mulus dan damai.
Hutan menyambutnya kembali. Cabang-cabang yang dulu ia rasakan mengancam, kini terasa seperti jari-jari lembut. Binatang buas yang sebelumnya menakutkannya, kini tampak hanya mengawasinya dengan rasa ingin tahu. Yohan mengira dirinya sedang berhalusinasi sampai ia menyadari hal yang Ina katakan tentang roh pendahulu di Yalimo.
Aku melihat bayangan-bayangan simpati.
Sepanjang perjalanannya di pedalaman Yalimo, ia mulai melihat bentuk-bentuk halus, roh-roh nenek moyang suku, yang sejenak mengintip dari balik pohon besar. Mereka tidak mengganggu. Mereka juga tidak menyerangnya. Mereka mengawasinya dengan kekhidmatan—seolah menyambut pewaris yang akhirnya telah memilih jalannya.
Ini adalah ikatan sukarela pertama Yohan dengan alam spiritual Yalimo. Yalimo telah mengakui niatnya.
Ia bahkan tidak lagi memerlukan kompas yang basah. Jurnal Ayahnya, Jimat Perunggunya, dan Tulang Kunci dari Ina bergetar secara harmonis di tas punggungnya. Perjalanannya terasa seperti menembus kenangan kuno, di mana rasa hormatnya kepada Ayah dan cintanya pada Ibu menjadi mantra. Setiap langkah memurnikan ingatan dan menjauhkan keangkuhannya yang lama.
“Aku anakmu, Ibu. Aku tidak peduli dengan kutukan yang datang. Aku hanya ingin kamu beristirahat.” Yohan bergumam, yakin bahwa roh Sumiati sedang mendengarkannya.
Dia juga menemukan ketenangan baru di dalam pikirannya. Ketika dia mulai berpikir tentang Rima, seorang wanita yang ingin dinikahinya di kota, yang pernah menjanjikan hidupnya—ia merasakan sakit yang sangat tajam.
Pengorbananku juga tentang janji untuk hidup normal dengan Rima. Aku menukar kemungkinan kebahagiaan itu dengan ikatan Yalimo ini.
Saat inilah dia sepenuhnya memahami kedalaman harga Pertukaran Jiwa. Tidak ada kekayaan yang bisa menukar kemungkinan hidup yang dicintai di dunia normal. Itu adalah perpisahan abadi dengan jati dirinya yang dulu.
Yohan tersenyum miris. “Ya, aku sudah siap, Ina. Ini adalah pengorbanan paling berharga yang bisa kubawa. Jati diri yang lama telah mati dalam perjalanan ini.”
***
Beberapa hari kemudian, Yohan tiba di perbatasan Desa Yalimo. Sinar matahari senja tumpah, menciptakan ilusi merah keemasan di rumput liar. Udara di Desa Yalimo kini terasa asing baginya. Tidak ada ketenangan dari Desa Api, tetapi ada keheningan yang tegang. Itu seperti udara sebelum badai—ketika badai belum datang, tetapi udara telah mati dan tidak bergerak.
Ia menyadari Desa Yalimo yang ia benci, kini adalah rumah dan penjara abadinya.
Di pinggiran desa, ia melihat gerak-gerik Marta dan beberapa sesepuh lain yang cemas, memperhatikan Yohan yang berjalan dengan pakaian compang-camping namun wibawa yang terpancar, seolah bukan orang yang sama yang kabur beberapa hari lalu.
Mata Yohan membalas tatapan mereka tanpa rasa takut. Ia telah melangkah ke dunia yang tidak mereka pahami—dunia spiritual Desa Api—dan kini ia tahu tentang pengkhianatan dan motif mereka di balik Janji Darah Ayahnya.
Ia tiba di depan rumah warisan yang terasa kaku dan mati. Ia tidak terkejut melihat gembok di pintu kamar Sumiati telah dibuka secara misterius.
Yohan mengambil jeda sebentar di ambang pintu depan. Dia melihat kekacauan di ruang tamu yang dibuat Sumiati tempo hari. Benda-benda tergeletak di lantai. Dia menghela napas. Dia bukan lagi pria yang sinis dan ingin bergegas membakar warisannya.
Ia menyentuh daun pintu kayu yang sudah tua, sebuah sentuhan rasa sayang dan pengampunan. Dia masuk. Kegelapan dan bau lumut kamboja busuk dari masa lalu telah kembali, terasa begitu nyata.
Aku kembali. Aku membawa penebusan dan harga yang kau pinta, Ibu.
“Aku sudah kembali, Ibu. Kita akan bebaskan kau. Aku akan mengambil tugas itu darimu, apa pun risikonya,” kata Yohan, suaranya pelan tapi bergetar. Dia berjanji di depan rumah, bukan di kuburannya.
Yohan hanya berencana melewati lorong, menuju kamar Ibunya—tempat Jimat Batu Pusaka yang disembunyikan Yosef ada di belakang dinding. Namun, di ujung lorong itu, Yohan merasakan suhu udara menurun secara drastis, jauh lebih tajam daripada malam manapun.
Bukan hanya hawa dingin, tapi ketakutan dan kebencian kolektif membanjiri indra Yohan. Roh Sumiati tahu Yohan tidak kembali hanya untuk disiksa; Yohan kembali sebagai pembawa takdirnya, dan dia membawa 'Kunci Tulang' Ina.
Manifestasi Sumiati muncul.
Yohan berdiri membeku, hanya satu meter di hadapan Roh yang penuh keputusasaan ini. Wajah roh Sumiati tidak lagi menyiratkan kesedihan, melainkan cerminan ngeri tentang apa yang Yohan bawa kembali: harga spiritualnya, kematian jati dirinya.
Roh Sumiati melolong pelan, sebuah suara tanpa volume yang menghantam kepala Yohan. Kata-kata yang tidak ia dengar, tapi ia rasakan maknanya:
“Kau tidak akan! Jangan sentuh yang pusaka! Pergi, Anakku, pergi!”
Lalu, roh itu mengangkat tangannya. Tangan panjang Sumiati seolah menggapai tulang di dada Yohan—Kunci dari Ina. Dia marah, menuntut agar Yohan melepaskan Kunci Tulang itu dan pergi.
“Tidak, Ibu,” kata Yohan, suaranya serak namun tegas.
“Aku tidak bisa meninggalkanmu seperti ini.”
Roh Sumiati maju satu langkah, mengisi ruang sempit koridor dengan intensitas amarah yang begitu murni, mencoba secara paksa membuat Yohan takut akan kehidupan barunya, agar ia menyerahkan Pengorbanannya. Yohan menahan napas, siap menghadapi konfrontasi spiritual terakhir sebelum Ritual.