NovelToon NovelToon
HATI EMAS

HATI EMAS

Status: sedang berlangsung
Genre:Transmigrasi / Cinta Istana/Kuno / Mengubah Takdir
Popularitas:2k
Nilai: 5
Nama Author: AinaAsila

Seorang wanita dari abad ke-21, dikenal sebagai President's Shadow-pemimpin tertinggi dunia gelap dan mafia internasional-terbangun setelah kecelakaan kecil. Bukan di rumah sakit modern, melainkan di dunia yang sangat asing: dunia sebuah buku yang sering dibaca oleh sahabatnya.
Ia kini hidup sebagai Anthenia Blackwood, putri tunggal Duke Blackwood-gadis bangsawan yang dulu dikenal lembut, ceria, penakut, dan mudah gemetar di hadapan siapa pun. Namun jiwa di dalam tubuh itu telah berubah.

Di balik wajah tenangnya, Anthenia kini menyimpan:

• kecerdasan strategi,
• naluri pembunuh,
• dan mental baja seorang pemimpin dunia gelap.

Sang ayah, Duke Kaelen Blackwood, terkenal kejam dan tak kenal ampun pada musuh, namun berubah sepenuhnya saat bersama putrinya. Tak seorang pun berani menyentuh Anthenia-hingga Permaisuri Lunara Aurelius melihat gadis itu sekilas dan langsung menginginkannya sebagai menantu kekaisaran.

Calon suaminya adalah William Whiston, Putra Mahkota Kekaisaran Aurelius-p

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon AinaAsila, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

34. Between Two Destinies

Paviliun timur diselimuti cahaya pagi yang lembut.

Anthenia berdiri di balkon kecil, menatap taman istana yang tertata rapi. Burung-burung berkicau, seolah dunia belum terguncang oleh keputusan besar yang diambil beberapa jam lalu.

Namun ia tahu.

Tak ada lagi jalan kembali.

Langkah kaki terdengar dari belakang.

Ia menoleh.

William Whiston berdiri beberapa langkah darinya, mengenakan pakaian sederhana—bukan seragam panglima, bukan busana resmi istana. Untuk pertama kalinya, ia tampak… hanya seorang pria.

“Maaf jika aku mengganggumu,” ucap William pelan.

“Aku hanya ingin memastikan kau baik-baik saja.”

Anthenia terdiam sejenak sebelum mengangguk.

“Aku baik,” jawabnya.

“Atau… setidaknya aku mencoba.”

William tersenyum kecil, lalu mendekat ke sisi balkon—menjaga jarak yang sopan.

“Aku tidak menyesali keputusanku,” katanya jujur.

“Namun aku juga tahu… keputusan itu menyeretmu ke pusat badai.”

Anthenia menggenggam pagar balkon.

“Kau tidak memaksaku,” katanya pelan.

“Aku memilihnya sendiri.”

Ia menoleh padanya.

“Yang menakutkan bukan pernikahannya, William.

Yang menakutkan adalah… aku mulai menyadari betapa pentingnya keputusan itu bagiku.”

William menatapnya lama.

Tatapan itu bukan tatapan seorang pangeran pada calon permaisuri—melainkan seorang pria pada perempuan yang ia pilih.

“Jika suatu hari kau menyesal,” katanya perlahan,

“katakan padaku.”

Anthenia terkejut.

William melanjutkan, suaranya mantap namun lembut.

“Aku tidak ingin berdiri di sisimu karena kewajiban.

Aku ingin berdiri karena kau menginginkannya.”

Hening menyelimuti mereka.

Angin pagi berhembus, menggerakkan rambut Anthenia.

“Aku tidak menyesal,” ucapnya akhirnya.

“Yang aku takutkan adalah… apakah aku cukup kuat untuk semua ini.”

William menoleh ke taman di bawah.

“Kekuatan bukan berarti tidak takut,” katanya.

“Kekuatan adalah tetap berdiri meski takut.”

Ia menatapnya kembali.

“Dan kau sudah melakukannya.”

Anthenia tersenyum tipis—senyum yang rapuh, namun jujur.

Untuk sesaat, dunia terasa sunyi.

Dari kejauhan, seorang pelayan memperhatikan mereka sebelum buru-buru menunduk dan pergi.

Berita akan menyebar.

Bukan tentang politik.

Bukan tentang aliansi.

Melainkan tentang kedekatan.

Di antara intrik dan tekanan,

dua hati mulai berbicara dengan bahasa yang jujur.

Bukan janji megah.

Bukan sumpah kekaisaran.

Hanya pengakuan sederhana—

bahwa mereka akan mencoba berjalan bersama.

Namun badai belum berlalu.

Dan ketika hari pernikahan semakin dekat,

tidak semua orang di Araluen

ingin melihat senyum itu bertahan.

Keheningan di balkon paviliun timur akhirnya pecah.

Seorang ksatria pengawal mendekat dan berlutut dengan sopan.

“Yang Mulia,” ucapnya pada William,

“Archduke Cedric memanggil Anda ke ruang audiensi kecil.”

William mengangguk.

“Aku akan segera ke sana.”

Ksatria itu menoleh pada Anthenia, lalu menunduk lebih dalam.

“Tuan Putri.”

Setelah ksatria pergi, suasana kembali hening.

William menatap Anthenia sejenak, seolah ingin mengatakan sesuatu—namun memilih diam.

“Sampai nanti,” katanya akhirnya.

Anthenia mengangguk pelan.

“Sampai nanti.”

Langkah William menjauh, meninggalkan Anthenia sendirian di balkon.

Namun perasaan yang tersisa bukanlah kesepian.

Melainkan kesadaran.

Mulai sekarang… setiap tatapan padanya akan memiliki arti, pikir Anthenia.

Lorong paviliun timur

Beberapa dayang berjalan beriringan, suara mereka tertahan namun penuh bisik.

“Itu benar-benar Putra Mahkota tadi, bukan?”

“Dan dia datang sendiri… tanpa pengiring.”

“Calon permaisuri Blackwood benar-benar istimewa.”

Bisikan-bisikan itu menyebar cepat, seperti angin menyusup celah pintu.

Tidak semuanya bernada kagum.

Tidak semuanya tulus.

Ruang audiensi kecil

Archduke Cedric berdiri dengan tangan bersedekap, menatap jendela saat William masuk.

“Kau datang cepat,” ucapnya tanpa menoleh.

“Aku tahu kapan harus mendahulukan panggilan,” jawab William tenang.

Cedric menoleh perlahan.

“Kedekatanmu dengan Anthenia sudah mulai dibicarakan,” katanya datar.

“Bahkan sebelum upacara pernikahan.”

William tidak terkejut.

“Aku mengharapkannya.”

Archduke menatapnya tajam.

“Ingat,” lanjutnya,

“mulai sekarang, setiap langkahmu mencerminkan kekaisaran.”

William mengangguk mantap.

“Dan aku siap menanggungnya.”

Cedric terdiam sejenak… lalu menghela napas pendek.

“Bagus,” katanya akhirnya.

“Karena beberapa pihak sudah mulai gelisah.”

Paviliun selir Heilen

Heilen menerima laporan dari seorang pelayan kepercayaannya.

“Putra Mahkota terlihat berbincang lama dengan calon permaisuri pagi ini.”

Tangan Heilen berhenti di udara.

“… begitu.”

Ia tersenyum tipis.

“Lebih cepat dari yang kuduga.”

Pelayan itu ragu.

“Apakah kita perlu—”

“Tidak,” potong Heilen lembut.

“Belum.”

Ia menatap ke arah jendela.

“Biarkan mereka merasa aman.”

Kembali ke Anthenia

Anthenia duduk di meja kecil, mencoba membaca—namun huruf-huruf di halaman tidak masuk ke pikirannya.

Bayangan William kembali muncul di benaknya.

Nada suaranya.

Tatapan matanya.

Keteguhannya.

“Kenapa aku bisa setenang ini bersamanya…” gumamnya.

Ia menutup buku.

Atau mungkin… karena aku sudah jatuh terlalu dalam.

Anthenia menatap cincinnya—belum resmi, namun sudah terasa berat.

Namun kali ini, ia tidak ingin melepasnya.

Penutup Bab 34

Di tengah bisikan istana,

kedekatan tumbuh tanpa izin.

Sebagian melihatnya sebagai kelemahan.

Sebagian sebagai ancaman.

Sebagian lagi… sebagai harapan.

Dan Anthenia kini mengerti—

menjadi calon permaisuri

berarti bukan hanya dicintai oleh satu orang,

tetapi diperhatikan oleh seluruh dunia.

Lorong marmer istana dipenuhi cahaya sore yang memantul dingin di lantai.

Beatrice Miller melangkah anggun di sisi kakaknya, Frederick Miller. Wajah Beatrice tetap tenang, namun sorot matanya tajam—seperti seseorang yang selalu waspada terhadap sekelilingnya.

“Keramaian istana semakin menyebalkan,” gumam Frederick pelan.

“Terlalu banyak wajah yang berpura-pura ramah.”

Beatrice mendengus kecil.

“Mereka selalu begitu.”

Langkah mereka terhenti sesaat ketika seseorang muncul dari arah berlawanan.

Edmund de Courcy dan Leopold Windsor.

Pangeran de Courcy berjalan dengan langkah malas, aroma anggur masih samar menempel di udara. Bibirnya melengkung membentuk senyum miring begitu melihat Beatrice.

Sedangkan disisi nya pangeran Leopold hanya diam dengan tatapan malas menatap Frederick Miller.

“putri Miller,” sapanya ringan, nyaris menggoda.

“Masih secantik biasanya.”

Tatapan Beatrice langsung berubah dingin.

Penuh jijik.

Ia tidak menjawab.

Bahkan tidak menundukkan kepala.

Hanya tatapan lurus—tajam, seolah Edmund adalah noda di lantai istana.

Senyum Edmund melebar, jelas menikmati reaksi itu.

“Ah… tatapan itu,” katanya santai.

“Aku hampir merindukanmu, kak.”

Frederick melangkah setengah langkah ke depan, bahunya menegang.

“Jaga sikapmu, Edmund,” ucapnya dingin.

“Kau berada di istana, bukan kedai minum.”

Edmund terkekeh pelan.

“Tenang saja. Aku hanya bersikap ramah.”

Namun sebelum ketegangan itu berubah menjadi pertikaian terbuka—

Langkah lain terdengar.

Anthenia Blackwood dan Nelia Whistona berhenti tepat di tengah-tengah mereka.

Lorong itu seketika terasa sempit.

Anthenia merasakan udara berubah—

tatapan yang bertubrukan, emosi yang tidak diucapkan.

Nelia mengerutkan kening ringan saat melihat Edmund.

“Edmund,” sapanya datar, tanpa senyum.

“Aku tidak menyangka melihatmu berkeliaran dalam kondisi… segar.”

Edmund tertawa kecil.

“Putri Nelia,” balasnya.

“Ucapanmu selalu menyegarkan.”

Tatapannya kemudian beralih ke Anthenia.

Sejenak—

senyum di wajahnya memudar.

Bukan karena hormat.

Melainkan karena menyadari sesuatu.

Calon permaisuri.

Beatrice melirik Anthenia, lalu menundukkan kepala dengan sopan.

“kakak ipar.”

Anthenia membalas anggukan itu.

“putri Miller.”

Frederick ikut memberi hormat singkat.

Sementara Edmund… hanya tersenyum miring.

“Siapa sangka,” katanya pelan,

“lorong ini mempertemukan begitu banyak orang penting.”

Tatapan Beatrice kembali menusuknya.

“Kepentingan tidak ditentukan oleh darah,” ucapnya dingin.

“Melainkan oleh sikap.”

Untuk sesaat, Edmund terdiam.

Lalu tertawa—lebih pendek, lebih kaku.

“Seperti biasa,” katanya.

“Kau selalu kejam dengan kata-kata.”

Anthenia melangkah setengah langkah ke depan, suaranya tenang namun jelas.

“Jika tidak ada urusan lain, kami akan melanjutkan jalan kami.”

Nada itu bukan permintaan.

Itu pernyataan.

Edmund mengangkat kedua tangannya ringan.

“Tentu, tentu,” katanya.

“Aku tidak ingin mengganggu.”

Ia melangkah pergi, namun sebelum benar-benar menjauh, ia menoleh sekali lagi—tatapannya singkat, penuh perhitungan.

Bukan pada Beatrice.

Melainkan pada Anthenia.

Setelah Edmund menghilang di tikungan lorong, keheningan tertinggal.

Beatrice menghembuskan napas perlahan.

“Maaf,” katanya singkat, dengan ekspresi tidak suka menatap Anthenia.

“Beberapa orang memang… sulit dihindari.”

Anthenia menggeleng.

“Aku mengerti.”

Nelia melirik arah Edmund pergi, lalu berkata pelan,

“Orang seperti dia tidak berbahaya karena apa yang mereka katakan,”

“melainkan karena apa yang mungkin mereka lakukan.”

Anthenia mengangguk pelan, tanpa mempermasalahkan ekspresi itu.

Dan untuk pertama kalinya hari itu, ia benar-benar menyadari—

bahwa tidak semua ancaman datang dengan wajah terbuka.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!