NovelToon NovelToon
Balasan Seorang Istri Untuk Suami Dan Mertua Jahat

Balasan Seorang Istri Untuk Suami Dan Mertua Jahat

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Mengubah Takdir
Popularitas:7k
Nilai: 5
Nama Author: Eireyynezkim

Shafira Azzahra, tidak menyangka laki-laki yang dulu selalu baik dan royal berubah ketika dirinya sudah menikah dengan Aris Permana. Aris, suaminya menunjukkan sifat aslinya yang pelit dan perhitungan dengannya. Apalagi sikapnya yang lebih mengutamakan keluarganya dibandingkan dirinya yang sebagai istri.

Setiap hari Shafira akan dikasih jatah belanja 20 ribu sehari oleh suaminya, Aris. Setiap hari Shafira harus memutar otak, harus dibuat apa dengan uang 20 ribu rupiah. Jika lauk tak enak, Sharifa'lah yang akan mendapatkan makian dari mulut julid keluarga suaminya.

Akhirnya Shafira memanfaatkan waktunya dirumah dengan menulis novel dan berjualan online dengan nama pena dan nama tokonya memakai nama samaran agar suami dan keluarganya tidak tahu kalau Sahfira juga memiliki penghasilan.

Suatu hari Shafira tidak sengaja melihat sang suami sedang jalan dengan seorang wanita. Karena mencium bau bau perselingkuhan, Shafira pun mulai masa bodoh.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Eireyynezkim, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Dua

Setelah dari lapak bakso, mereka lanjut jalan-jalan ke mall. Sekedar cuci mata. Mereka berkeliling mamasuki toko pakaian satu ke toko pakaian lainnya.

Sebenarnya Shafira ingin sekali membeli pakaian, tapi jika ketahuan suami atau mertuanya, pastilah akan terjadi huru-hara. Bisa saja mertuanya mengira kalau uang belanja yang setiap harinya ia korupsi sebagian.

Padahal apanya yang mau dikorupsi, dengan uang 20 ribu dan dimakan 5 orang. Kadang ia sampai berpikir, mertuanya mungkin saja masih terbawa dikehidupannya jaman dulu, yang apa-apa masih serba murah.

"Kalau mau beli aja satu atau dua dulu, Ra. Ntar lo selipin dah tu baju ditengah-tengah pakaian lama lo. Atau lo simpen aja dirumah lo yang lama. Lo kan sering kesana buat bersih-bersih." saran Vinna, ia kasihan melihat Shafira yang terlihat sekali ingin membeli pakaian baru.

"Nanti ajalah, gue mau lihat-lihat dulu. Gue sih rencananya pengen renov rumah peninggalan orang tua gue dulu sedikit-sedikit."

"Apa gak ketahuan nanti sama suami lo?" tanya Vinna ragu.

"Kayaknya sih kagak, dia kan gak pernah kesana."

Brukk!

"Aduhh..." ringis Shafira pelan, ia hampir saja oleng jika saja Vinna tidak menahannya.

"Eh eh maaf mbak, maaf. Tadi saya jalannya buru-buru." ucap seorang pria yang tak sengaja menubruk bahu Shafira.

"Iya, gak apa-apa mas. Saya juga yang gak hati-hati." ucap Shafira pelan, ia masih merasakan bahunya sedikit berdenyut.

"Lo gak apa-apa, Ra. Mas 'nya lain kali hati-hati dong jalannya." semprot Vinna kesal.

"Iya sekali lagi, saya minta maaf mbak. Saya beneran gak sengaja." ucap si pria sambil mengatupkan kedua tangannya, ia melihat Shafira yang masih mengusap-usap bahunya.

"Iya, saya beneran gak apa-apa kok mas. Santai aja." sahut Shafira, ia tidak enak melihat pria itu terus meminta maaf.

"Ya sudah saya duluan ya mas." ucap Shafira lagi, lalu menarik tangan Vinna menjauh. Tak enak karena banyak pengunjung lain yang memperhatikan mereka.

"Lo beneran gak apa-apa kan, Ra?" tanya Vinna memastikan.

"Gak apa-apa. Meski masih sedikit nyut-nyutan sih. Tadi bahu gue kayak kesenggol batu, keras banget." ucap Shafira terkekeh.

"Eh, yang tadi cowoknya cakep bener ya." ucap Vinna sambil nyengir.

"Husst... Ingat, lo udah punya laki, punya anak!" seru Shafira sambil mendelikkan matanya.

"Hehee... Gue kan cuma bilang cakep doang, Ra." ucap Vinna cengengesan.

Shafira mendengus.

"Udah yuk, langsung pulang aja. Ntar nenek lampir ngereog lagi kalau gue keluarnya kelamaan."

"Lo sih, dulu gue saranin terima pak dokter. Eh malah terima si Aris kampr3t. Sekarang ketahuan kan sifat aslinya si Aris, mana dapat mertua kayak nenek gerandong, lagi!"

"Ya mau gimana lagi, emang udah jodoh kali. Lagian dulu mas Aris juga baik banget, royal lagi. Gak ada keliatan pelitnya. Eh, pas udah nikah, baru keluar sifat aslinya." dumel shafira.

"Itu namanya lu apes hahaa." timpal Vinna tertawa.

Setibanya dirumah...

"Udah keliling dunia, Bu Ratu? Udah puas kelayapan, baru pulang?" seperti biasa, ibu mertuanya sudah menunggu diteras, dan langsung merepet.

"Aku cuma keluar dua jam, Bu. Semua kerjaan rumah udah beresin sebelum berangkat. Nggak ada yang aku tinggal berantakan, kan?" jawab Shafira dengan nada tenang.

Bu Ratna mendengus, mendekat dengan langkah menghentak.

"Kerjaan rumah itu kewajiban kamu! Jangan mentang-mentang udah masak terus merasa bebas mau keluyuran. Harusnya kamu tahu diri. Hidup di rumah orang, makan dari uang anak saya, masa nggak bisa diem di rumah? Terlalu banget kamu!"

Shafira menatap bu Bu Ratna dengan wajah memerah. Sudah sangat sering ia mendengar perkataan itu keluar dari mulut ibu mertuanya. Tapi tetap saja, sebagai seorang wanita dan seorang istri, ia merasa tersinggung.

"Aku ini bukan gelandangan, Bu. Aku tinggal ikut suami. Dan seorang suami bukan hanya ngasih makan doang, tapi juga menyediakan tempat tinggal. Mas Aris juga ngasih makan ibu, Tia, dan dirinya sendiri juga dari uang dua puluh ribu yang dia kasih tiap hari."

Tatapan Bu Ratna menggelap.

"Kamu ngomong apa, hah?! Berani-beraninya kamu..."

"Berani, Bu." potong Shafira cepat.

"Karena dari awal aku masuk rumah ini, aku bukan jadi beban. Aku disini masak, nyuci, beresin rumah. Tapi jangan bawa-bawa kata belas kasihan, Bu. Aku menikah dengan Mas Aris, bukan numpang hidup. Dan semua yang aku kerjakan di rumah ini, aku lakukan karena tanggung jawab, bukan karena ngemis tempat tinggal."

Bu Ratna nyaris meledak, wajahnya sudah merah padam.

"Kamu itu wanita nggak tahu terima kasih! Kamu pikir Aris nikahin kamu karena kamu istimewa?! Jangan GR, ya! Anak saya itu kasihan sama kamu! Karena kamu itu sudah tidak punya siapa-siapa lagi didunia ini.

Shafira nyaris tertawa. Tapi tawanya bukan tawa geli, melainkan tawa getir yang tertahan.

"Kasihan?" ulang Shafira pelan, menatap Bu Ratna tajam.

"Kalau memang karena kasihan, kenapa sampai hari ini aku masih jungkir balik ngurus rumah? Kenapa bukan Ibu yang beresin semuanya, kalau aku cuma menumpang?"

Wajah Bu Ratna makin merah padam. Tapi kali ini, ia tak menjawab. Napasnya tersengal, matanya menyipit ke arah Shafira. Mungkin sedang berpikir cara balas yang lebih menusuk, atau mungkin kaget karena Shafira tak seperti dulu lagi, tak sudi lagi diposisikan sebagai objek belas kasihan.

Shafira membuka pintu rumah, lalu menoleh.

"Oh ya Bu, lain kali kalau mau marah, mending lihat dulu hasil kerja menantu ibu yang rajin ini.

Rumah rapi, masakan siap, cucian bersih. Kalau itu belum cukup bikin Ibu puas, mungkin Ibu butuh asisten rumah tangga. Bukan menantu."

Dan dengan langkah tenang, Shafira melenggang masuk ke kamarnya. Meninggalkan ibu mertuanya yang masih membatu didepan rumah dengan mulut terkunci oleh kebenaran yang baru saja ditamparkan dengan elegan.

"Assalamu'alaikum..."

"Wa'alaikumsalam..." jawab Shafira pelan, tetap menunduk menyetrika.

"Ris...!" Bu Ratna langsung menghampiri putranya itu, dan seperti biasa, ia akan mengadu pada putranya tentang Shafira.

Aris menoleh pada ibunya.

"Kenapa, Bu?"

Bu Ratna menatap Shafira sekilas, lalu langsung mengadu seolah menjadi korban kekejaman menantu.

"Ibu capek, Ris. Capek punya menantu nggak tahu diri. Baru dikasih tumpangan, baru dikasih makan, udah besar kepala. Berani ngelawan Ibu mentang-mentang udah dinikahin!"

Aris langsung menatap tajam ke arah Shafira.

"Maksud Ibu apa?!"

Bu Ratna makin semangat, dengan gaya seolah ditampar kenyataan.

"Dia itu, Ris... dari tadi nyolot, Ngebantah Ibu terus. Ibu ngomong baik-baik, dia malah balas nyindir, nyolot. Emangnya karena udah masak terus boleh ngatur-ngatur di rumah ini? Ini rumah orang tuamu, bukan rumah dia!"

Shafira diam. Ia menatap Aris, menunggu suaminya berpikir jernih, mungkin... sekedar bertanya dulu. Tapi tidak. Yang terjadi malah sebaliknya.

"Shafira!" bentak Aris lantang, membuat Tia yang duduk di sofa sampai kaget.

"Kamu kenapa sih selalu bikin ribut? Baru pulang kerja, udah disuguhi beginian! Kamu tuh tinggal di sini numpang, tahu diri dikit dong. Ibu ngomong baik-baik kok dibalas kasar?"

Shafira perlahan meletakkan setrikaan. Bukan karena takut, tapi karena kesabarannya sudah mulai menipis.

"Mas, kamu denger cerita cuma dari satu pihak. Sejak kapan aku bikin ribut duluan? Yang ada, aku cuma jawab kalau aku disindir terus-menerus. Mas pikir aku nggak punya perasaan disindir terus tiap hari?"

"Udah, Shafira. Kamu itu kalau jadi istri, tahu posisi dong! Jangan kayak preman!" Aris menunjuk-nunjuk, wajahnya memerah, nyaris tak peduli pada siapa ia kini bicara.

Shafira tertawa getir. Ia kemudian berdiri di hadapan Aris.

"Preman?" ulangnya pelan.

"Mas tau nggak, yang tiap hari masak, nyuci, beresin rumah ini siapa? Siapa yang tiap pagi harus muter otak buat bikin makanan dari uang dua puluh ribu? Tapi nggak pernah sekalipun aku ngeluh. Aku terima karena aku istri Mas. Tapi jangan suruh aku diam waktu harga diriku diinjak-injak!"

Aris terlihat terdiam sepersekian detik. Tapi Bu Ratna langsung maju lagi, tak mau memberi Shafira kesempatan.

"Udah lah, Ris. Liat tuh, dia yang lebih galak. Pantes aja nggak bisa akur sama Ibu dari awal.

Seharusnya dari awal kamu dengerin omongan ibu, jangan menikah sama dia!"

Kali ini Shafira benar-benar kehilangan simpati. Ia melangkah mendekati Bu Ratna, tetap dengan nada tenang tapi menusuk.

"Bu, saya nggak pernah minta dikasihani. Saya nikah sama putra ibu bukan karena minta saya yang merengek. Saya disini cuma minta dihargai. Dan saya udah cukup sabar. Tapi kalau saya terus dibentak dan dituduh macam-macam di rumah ini, jangan salahkan saya kalau suatu hari saya beneran pergi."

Aris mendelik.

"Maksud kamu apa?! Mau kabur, hah?!"

Shafira tersenyum sinis.

"Kalau aku terus diperlakukan seperti sampah di rumah ini, mungkin lebih baik aku benar-benar jadi tamu. Karena tamu aja masih bisa dihormati, kan?"

Ruangan hening beberapa detik. Aris tak menjawab. Tia mencibir pelan. Bu Ratna tampak sebal, tapi tak punya amunisi balasan yang cukup tajam.

Shafira melangkah pelan ke kamarnya, meninggalkan suami, mertua, dan ipar yang saling berpandangan dengan wajah kesal.

1
Desi Belitong
aku suka dia melawan bukan hanya bisa nangis💪💪
Aisyah Sabilla
THOR KAPAN UPDATE
Iry: kemungkinan bsk aku update langsung banyak yah
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!